Apapun partainya.... caranya mirip2.....

Salam,
Morry Infra
---------- Forwarded message ----------
From: Dani Rosyadi <>
Date: 2012/5/27
Subject: Menu Para Jawara Pemburu DKI-1

Dapet link cukup lengkap dari  process pemilihan cagub di partai... .
sehingga menghasilkan  4 calon cagub and cawagub  dari partai.....
Terkesan ada  calon-calon  yang  di usung  saat2 terakhir.. karena  deal2
politiknya  menemui  jalan buntu :)

Semoga Pemenang Pilkada 2012 dapat membawa DKI JAYA menjadi tempat yang
lebih baik :)

____________________________________________________________________________________________________________________________________
Menu Para Jawara Pemburu DKI-1
http://www.gatra.com/nasional-cp/1-nasional/10397-menu-para-jawara-pemburu-dki-1

*Persaingan calon Gubernur Jakarta bakal tajam. Bermunculan figur tangguh
penantang gubernur incumbent. Kalkulasi elektabilitas figur lebih menonjol
ketimbang produk kompromi elite parpol. Isu utama berpusar pada agenda
kerja dan pembenahan Ibu Kota ketimbang agenda politik dan uji kekuatan
partai pra-Pemilu 2014.* ---

Bursa pencalonan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta berlangsung
dinamis dan penuh kejutan pada hari terakhir pendaftaran, Senin lalu. Dari
10 parpol pemilik kursi DPRD DKI, hanya Demokrat dan PKS yang cukup syarat
minimal 15 kursi untuk mengusung jagoan sendiri tanpa koalisi. Demokrat
punya 32 kursi (34,1%). PKS mengoleksi 18 kursi (19,1%). Tapi justru dua
partai terbesar ini yang paling akhir mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum
(KPU) Provinsi DKI Jakarta.

PKS jadi pendaftar bontot dengan mengusung duet figur kondang: Hidayat Nur
Wahid, mantan Ketua MPR, dan Didik J. Rachbini, ekonom yang juga mantan
anggota DPR Fraksi PAN. Pasangan ini baru ditetapkan Senin malam, empat jam
sebelum pendaftaran ditutup. Langkah itu diambil setelah upaya PKS mentok
dalam mengajukan kader berduet dengan Fauzi Bowo, jagoan Demokrat, atau
Joko Widodo (Jokowi), usungan PDIP.

Hidayat muncul sebagai plan B. Semula, Tri Wisaksana, Ketua DPD PKS DKI
Jakarta, yang digadang-gadang sebagai calon wakil gubernur (wagub), baik
untuk Fauzi maupun Jokowi. Wajah Bang Sani, panggilan Tri Wisaksana, sudah
lama tebar pesona lewat sejumlah spanduk di berbagai jalanan besar sampai
gang sempit Jakarta. Munculnya Didik J. Rachbini juga kejutan. Semula,
Hidayat diskenariokan berduet dengan Sani.

Langkah PKS jadi pendaftar terakhir ini kontras dengan pemilihan Gubernur
Jakarta lima tahun silam, saat PKS paling awal menuntaskan pasangan calon.
Ketika itu, PKS yang menang di Jakarta pada Pemilu 2004 dengan 22% kursi
DPRD memastikan calon gubernur, Adang Daradjatun, enam bulan sebelum
penutupan pendaftaran, Juni 2007. Wakilnya, Dani Anwar, ditetapkan tiga
bulan sebelum tenggat waktu.

Sebelum PKS, Senin malam lalu, pendaftar bontot kedua adalah Demokrat, yang
mengajukan duet Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli. Pasangan ini juga
mengejutkan. Dua putra Betawi ini sebelumnya bersaing tajam memperebutkan
restu Majelis Tinggi Demokrat untuk maju jadi DKI-1.

Nachrowi, Ketua DPD Demokrat Jakarta, sejak November 2010 resmi diputuskan
dalam Musyawarah Daerah Demokrat Jakarta sebagai calon gubernur. Ketua Umum
Demokrat, Anas Urbaningrum, mendukung. Fauzi Bowo, anggota Dewan Pembina
Demokrat, didukung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ketua Dewan Pembina,
meskipun SBY pernah mengeluhkan secara terbuka ihwal penanganan kemacetan
Jakarta.

Duet Fauzi-Nachrowi juga menjadi kejutan karena sebelumnya Fauzi diumumkan
Anas Urbaningrum akan berpasangan dengan Adang Ruchiatna, kader PDIP, yang
di-back up Taufiq Kiemas, Ketua Dewan Pertimbangan DPP PDIP. Pasangan
Fauzi-Adang ditetapkan Majelis Tinggi Demokrat, Jumat malam 16 Maret lalu.

Tapi Minggu pukul 16.00, dua hari kemudian, Demokrat menerima kabar, Ketua
Umum DPP PDIP Megawati tidak merestui Adang. "Kami dikasihtahu pukul empat
tadi," tutur Andi Nurpati, juru bicara Demokrat, kepada Gatra di Cikeas,
Minggu malam. Minggu sore itu, Adang sedang menghadiri Rakerdasus PDIP
Jakarta untuk membulatkan pencalonan Jokowi, Wali Kota Solo yang banyak
memperoleh penghargaan. PDIP, peraih kursi terbesar ketiga (11,7%)
berkoalisi dengan Gerindra, peringkat keenam perolehan kursi parlemen
daerah (6,3%).

***

Keputusan PKS, Demokrat, dan PDIP ternyata saling berkaitan. Satu sama lain
saling menunggu peluang koalisi. Demokrat baru memutuskan Fauzi-Nachrowi
setelah Adang Ruchiatna dipastikan tak disetujui Megawati. Sejumlah elite
PDIP sendiri sempat menjalin kontak dengan Fauzi Bowo. Tapi, ketika
Gerindra datang dengan tawaran mau bergabung kalau Jokowi diusung, mereka
pun melepas Fauzi.

Sikap PKS, sampai Senin siang lalu, masih menunggu Fauzi. Calon gubernur
petahana (incumbent) yang kinerjanya dikeluhkan secara luas ini rupanya
jadi primadona. PKS menyiapkan Tri Wisaksana sebagai calon wagubnya Fauzi.
Komunikasi Fauzi dengan PKS telah dibangun secara intens enam bulan
terakhir.

Fauzi dinilai sudah lama ditinggalkan partai koalisi penopangnya dan lebih
banyak bekerja sama dengan PKS, meski pada pemilihan gubernur 2007 mereka
berseberangan. Fauzi secara pribadi dan informal sudah bertemu KH Hilmi
Aminuddin, Ketua Majelis Syuro PKS, di rumahnya, Lembang, Bandung.

Beredar kabar, duet Fauzi-Sani gagal karena PKS minta "mahar" kelewat
mahal. Tapi politisi PKS menyangkal. Kendalanya justru karena Fauzi tidak
bisa memutuskan sendiri, tapi tergantung elite Demokrat. Fauzi yang justru
pertama minta dipinang PKS. Kemelut internal Demokrat, antara pilihan ke
Nachrowi dan Fauzi, turut mempengaruhi sikap PKS.

"SBY maunya nomor dua dari militer," kata Yudi Widiana, Ketua Pemenangan
Pemilu PKS untuk Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. "SBY tak mau Foke
(panggilan Fauzi) dipasangkan dengan PKS yang mengusung sipil." Padahal,
kata Yudi, Foke sendiri tidak cocok dipasangkan dengan Nachrowi, teman satu
angkatan SBY di Akabri dan lulus tahun 1973.

Bang Nara --demikian Nachrowi biasa disapa-- lebih banyak berkarier di
dunia intelijen hingga menjadi Kepala Lembaga Sandi Negara Republik
Indonesia pada 2002-2008, dengan pangkat terakhir mayor jenderal. Dengan
terbentuknya duet Foke-Nara, menurut Yudi, proses pencalonan di PKS jadi
hampir macet.

PKS sempat menawari Fauzi agar maju dari pintu PKS saja, meninggalkan
Demokrat. Kursi PKS cukup untuk mencalonkan sendiri. Saat semuanya
menggantung, muncul opsi PKS menyiapkan skenario mengajukan calon gubernur
sekalian. Nominasinya dua kader skala nasional: Hidayat Nur Wahid dan Anis
Matta, Sekjen DPP PKS yang juga Wakil Ketua DPR. Hidayat menyanggupi,
sedangkan Anis menolak.

Senin siang lalu, saat Gatra berbincang dengan Yudi, ia masih menerima
pesan pendek (SMS) dari koleganya tentang peluang berduet dengan Jokowi.
Muncul pula tawaran istilah "Joni": Jokowi-Sani. Peluang itu pupus karena
cepat disusul kabar bahwa Jokowi dipastikan maju bersama bekas Bupati
Belitung Timur, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, yang diusung PDIP dan
Gerindra.

Sampai Senin sore lalu pun, PKS masih sabar menanti kepastian kabar dari
Fauzi. Setelah petang muncul berita bahwa Fauzi akan melakukan deklarasi
dengan Nachrowi, sejumlah elite PKS merapat ke kantor DPP di Tb.
Simatupang, Jakarta Selatan. Mereka menyiapkan skenario kedua. Pukul
setengah enam petang, seperti dilaporkan Ageng Wuri R.A. dari Gatra,
Hidayat Nur Wahid terlihat datang.

Setengah jam kemudian, disusul Nur Mahmudi Ismail, Wali Kota Depok,
presiden pertama Partai Keadilan. Disusul oleh beberapa petinggi PKS
lainnya. Bakda isya, menjelang pukul 20.00, rapat selesai. Kepada pers,
Hidayat mengumumkan bahwa dirinya dicalonkan sebagai kandidat gubernur. Ia
berdampingan dengan Didik J. Rachbini, politikus dari PAN yang pada Pemilu
2009 gagal maju ke Senayan lagi dari daerah pemilihan Depok-Bekasi.

Nama Didik ditemukan, kata Yudi, dari hasil eksplorasi terakhir. Setelah
ketemu nama Didik, PKS bicara dengan petinggi PAN, Hatata Rajasa. Meski PAN
resmi tidak mendukung, Didik tak dilarang. Yudi yakin, akar rumpun PAN
mendukung. Di sebuah televisi, Hidayat bilang, karena Didik asal Madura,
diperkirakan jaringan tukang sate asal Madura di Jakarta akan kompak
mendukung.

***

Demokrat baru membuat keputusan final memasangkan Fauzi-Nachrowi pada rapat
Majelis Tinggi, Senin lalu. Hal ini dilakukan setelah pencalonan Adang
Ruchiatna sebagai pendamping Fauzi, sehari sebelumnya, tidak disetujui
Megawati. Adang dicoret dari nominasi. Menurut Ahmad Mubarok, anggota Dewan
Pembina Demokrat, Adang muncul dari usulan Taufiq Kiemas.

"Tapi ada problem. Internal PDIP mengusung Jokowi. Lalu muncul Gerindra
menawarkan sesuatu. Bu Mega akhirnya pilih Jokowi dan Ahok," ungkap
Mubarok. Pilihan pada Nachrowi sebagai pengganti Adang, kata Mubarok,
paling realistis. Tentara seangkatan SBY ini sudah lama diberi kesempatan
untuk menyosialisasi diri. Tapi elektablitasnya masih di bawah Fauzi.

"Foke (Fauzi) malah tertinggi, maka Foke tampil," kata Mubarok. Fauzi
sendiri baru diputuskan sebagai calon pada Jumat pekan lalu. Tim sukses
Foke-Nachrowi, Ma'mun Amin, menyebutkan bahwa semula ada lima calon
pasangan usulan Foke: Adang Ruchiatna, Nachrowi Ramli, Tri Wisaksana,
Aviliani, dan satu nama perempuan, yang ia lupa. Aviliani, analis ekonomi,
dimunculkan sebagai wujud keadilan gender. "Karena 50% pemilih adalah
perempuan," kata Ma'mun.

Rencana koalisi Demokrat-PDIP itu bukan sekadar rumor. Jumat pekan lalu,
saat Gatra bertemu salah stau petinggi Demokrat, mereka masih yakin bahwa
PDIP tak akan mengusung Jokowi dan Ahok. "Tidak mungkinlah, kami sudah ada
komunikasi dengan PDIP," katanya. Mega dikabarkan sudah menelepon langsung
Marzuki Alie, Wakil Ketua Dewan Pembina Demokrat, dan mengajukan Adang
Ruchiatna sebagai pendamping Fauzi. Komunikasi Mega-Marzuki itu
ditindaklanjuti Pramono Anung.

Alasan lain, petinggi Demokrat ini meragukan peluang Jokowi diusung karena
kapasitas Jokowi yang baru sebatas Wali Kota Solo. Meski Jokowi dinilai
berprestasi mengatur Solo, sumber Gatra ini mengatakan, "Kapasitasnya nggak
berkelaslah untuk menjadi Gubernur Jakarta." Solo hanya menaungi beberapa
kecamatan dan tidak sekompleks Jakarta. "Di Solo gampang mengaturnya. Kota
kecil, bukan seperti DKI," katanya.

SBY memilih Fauzi, kata Ma'mun, karena kalkulasi rasional. Survei
menunjukkan, elektabilitas Fauzi konsisten, bahkan cenderung naik. Menurut
Ma'mun, kantong suara Fauzi merata di atas 40% di seluruh wilayah Jakarta.
Ia juga merujuk pada survei Jaringan Suara Indonesia, yang menyebut
elektabilitas Fauzi 52%. Bila dipasangkan dengan Nachrowi, di atas 45%.

Nachrowi sendiri sudah lama bertekad maju. Kalau tidak terpilih, saat pekan
lalu Gatra bertemu tim suksesnya, Nachrowi tak akan menyerah. "Saya akan
tanya langsung, kenapa saya tidak dipilih, alasannya apa dan bagaimana?
Karena saya tidak akan terima jika alasannya tidak masuk akal," tutur
Nachrowi, seperti ditirukan sumber Gatra. "Kalau tidak jelas argumennya,
bisa saja saya tidak mau tanda tangan." Sebagai Ketua DPD Demokrat DKI
Jakarta, proses pengusulan calon memang berada di tangan Nachrowi.

Jadwal deklarasi Fauzi sendiri termonitor terus molor. Semula Minggu.
Berubah Senin siang. Bergeser Senin pukul 18.00, akhirnya terwujud pukul
20.40. Acara ini berlangsung di parkiran kompleks Metropole, Megaria,
Menteng, Jakarta, di samping kantor Fauzi Center. Gedung bioskop bersejarah
itu pun harus menutup aktivitas.

Tersedia tenda besar berbalut kain cokelat-putih memayungi ratusan kursi
putih yang berjejer rapi. Dihiasi lampu berkelip mirip diskotek. Tulisan
nama Nachrowi terlihat baru saja ditempel. Saat deklarasi, Fauzi dan
Nachrowi, mengedepankan isu putra daerah.

Pasangan ini berangkat ke KPU Provinsi DKI Jakarta sekitar pukul 21.22 WIB.
Dikawal polisi, keduanya berangkat dengan bus tiga perempat berpelat nomor
B-7942-IW. Seisi bus dipenuhi fungsionaris delapan partai pendukung
koalisi: Demokrat, PAN, PKB, Hanura, PBB, Partai Matahari Bangsa, PDS, dan
Partai Kasih Demokrasi Indonesia. Satu bus berikutnya diisi para pendukung.

***

Proses terpilihnya Jokowi di PDIP lumayan berbelit, terkait dinamika
internal dan antarpartai. Friksi internal pun terkait konteks lokal
Jakarta, Jawa Tengah, dan agenda nasional 2014. Dari penelisikan Gatra,
faksi Taufiq Kiemas, lewat operatornya, Ahmad Basarah, berusaha berkoalisi
dengan Demokrat, dengan mendukung petahana, Fauzi Bowo, mirip skenario
pemilihan gubernur 2007. Skenario ini memunculkan nama Adang Ruchiatna
sebagai pasangan Fauzi.

Adang sendiri secara terbuka, baik kepada pers maupun dalam Rakerdasus PDIP
Jakarta, Minggu lalu, menyangkal telah dihubungi sebagai cawagub. Tapi
sumber Gatra di PDIP menyebutkan, Adang sudah mengambil formulir. Situasi
bergeser ketika Anas Urbaningrum tiba-tiba mengumumkan duet Fauzi-Adang.

Pada saat bersamaan, di basis PDIP Jakarta makin kuat suara penolakan pada
Fauzi Bowo. "Di bawah itu, yang penting jangan Foke," kata Boy Sadikin,
Wakil Ketua PDIP Jakarta. PDIP kecewa pada kepemimpinan Fauzi. Perhitungan
lain, kata Boy, koalisi dengan Demokrat saat ini tidak menguntungkan untuk
Pemilu 2014. Apalagi, SBY sedang disorot soal BBM. "Kalau koalisi, makin
ancur kita," kata Boy kepada Gatra.

Fungsionaris PDIP yang lain mengakui, sebenarnya masih ada faksi lain di
PDIP yang ingin bersama Fauzi Bowo. Tapi sebagian besar DPC menolak, yakni
Jakarta Pusat, Selatan, dan Timur. Jakarta Barat dan Utara masih
fifty-fifty. Pengurus PDIP yang menolak Fauzi umumnya kompak mendukung
Jokowi.

Dalam situasi demikian, ada tawaran koalisi dari Gerindra. "Gerindra mau
bergabung asalkan yang diusung Jokowi," kata Ribka Tjiptaning, Ketua DPP
PDIP. Makin kuatlah dukungan pada Jokowi. Menguatnya suara Jokowi,
khususnya pasca-ledakan berita mobil Esemka, membuat kubu Taufiq Kiemas
kurang nyaman. Sedangkan Jokowi sendiri tidak cukup berambisi. "Orang
seperti Jokowi ini harus didorong. Dia sempat ragu," kata Ribka.

Pintu masuk Jokowi ke DPP PDIP hingga akhirnya lolos sebagai calon, menurut
sumber Gatra, lewat Tjahjo Kumolo, Sekjen DPP PDIP, dan Ketua PDIP Jakarta,
Djarot Saiful Hidayat. Mereka pasang badan membela Jokowi di depan Mega.
Kalau Jokowi terpilih di Jakarta, ada perhitungan, lumayan bisa meredakan
ketegangannya dengan Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, yang juga kader
PDIP.

Beredar pula analisis lain bahwa Tjahjo Kumolo mengincar pos Gubernur Jawa
Tengah. Kalau Jokowi lolos di Jakarta, peluang Tjahjo kian mudah. Sebagian
pendukung Jokowi berpandangan, sebaiknya Jokowi di Jawa Tengah saja yang
penduduknya 30 juta ketimbang Jakarta yang hanya sekitar 9 juta. "Tapi,
untuk melawan Foke, tidak ada sosok lain kecuali Jokowi," kata fungsionaris
PDIP yang dari awal getol memperjuangkan Jokowi.

Tampilnya Jokowi bukan hanya bersinggungan dengan friksi lokal PDIP,
melainkan juga reputasi nasional tokoh PDIP yang lain. Bila Jokowi diberi
jalan masuk ke Jakarta, lalu menang dan namanya terus harum, ada analisis,
bisa menjadi saingan bagi promosi Puan Maharani, putri Megawati, sebagai
penerus trah politik. Berbagai kalkulasi macam inilah yang membuat
pencalonan Jokowi berliku dan baru ditetapkan Minggu sore lalu.

Gagalnya rencana koalisi PDIP dengan Demokrat, sehingga memunculkan duet
Jokowi dan Ahok, peraih penghargaan tokoh antikorupsi 2006, membuat pemilih
Jakarta justru tersajikan alternatif wajah baru yang segar. Begitu pula
akibat gagalnya koalisi PKS dan Demokrat, yang memunculkan sosok Hidayat
dan Didik.

Suasana pemilu kepada daerah (pilkada) DKI kali ini jadi berbeda dari
pemilihan gubernur 2007 yang membosankan. Saat itu, sebagian besar parpol
utama memilih jalan aman dengan cara keroyokan mendukung Fauzi Bowo.
Sehingga pemilih hanya disodori dua pilihan pasangan: Fauzi-Prijanto dan
Adang Daradjarun-Dani Anwar.

Kini menu pilihan lebih beragam. Selain empat pasangan usulan parpol, juga
ada dua pasangan dari jalur independen: Faisal Basri-Biem Benyamin dan
Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria. Bagi pemilih Jakarta yang cenderung
rasional dan kritis, tersajinya banyak alternatif segar ini berpeluang
membangkitkan adrenalin baru partisipasi pilkada.

*Asrori S. Karni, Sandika Prihatnala, Gandhi Achmad, Rach Alida Bahaweres,
dan Birny Birdieni*

*(Laporan Utama Majalah GATRA edisi 18/20, terbit Kamis, 22 Maret 2012)*

Kirim email ke