artikel yg berbobot utk menganalisa kondisi rakyat Irian.
mari menganalisa Irian, dari berbagai perspektif.

mohon maaf bila kurang berkenan.
Wassalam - Nugon 

Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!  
http://nugon19.multiply.com/journal


-=-=-=-=-=-

http://serbasejarah.wordpress.com/2012/07/04/dilema-papua-ke-papua-an-versus-ke-indonesia-an/ 


Dilema Papua : Ke-papua-an versus Ke-indonesia-an
Pada tanggal 1 Juli 1971 di suatu tempat di Desa Waris, Kabupaten Jayapura, 
dekat perbatasan Papua New Guinea, yang dijuluki (Markas) Victoria, yang 
kemudian dijuluki dalam kosakata rakyat Papua Barat sebagai “Mavik” 
“dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan Papua Barat. Proklamasi ini dicetuskan 
oleh Seth Jafet Rumkorem  sebagai Presiden Papua Barat, dan didampingi oleh 
Jakob Prai  sebagai Ketua Senat (Dewan Perwakilan Rakyat), Dorinus Maury 
sebagai Menteri Kesehatan, Philemon Tablamilena Jarisetou Jufuway sebagai 
Kepala Staf Tentara Pembebasan Nasional (TEPENAL ), dan Louis Wajoi sebagai 
Komandan (Panglima) TEPENAL Republik Papua Barat.
“Tidak pernah orang Papua diterima sebagai bagian dari rakyat Indonesia. Warga 
Papua dianggap sebagai binatang. Saya tidak jamin, warga Papua masih 
menginginkan jadi bagian Indonesia. Lihat saja, bagaimana orang Papua ditembak 
atau dibunuh,” tegas Ketua Gereja Baptis Papua, Pendeta Socrates Sofyan Yoman 
kepada itoday (18/6).
Masalah Papua tak juga kunjung selesai sampai sekarang. Belakangan, berbagai 
peristiwa penembakan terhadap warga dan aparat sering kali terjadi. Keamanan 
dan stabilitas di Papua belum juga tercipta. Pendekatan militer yang ditempuh 
pemerintah Indonesia rupanya justru makin meningkatkan militansi dan perlawanan 
kaum separatis seperti yang dulu dicurigai sebagai Organisasi Papua 
Merdeka(OPM). Namun, ketika pendekatan ini perlahan-lahan diubah dengan memberi 
Papua otonomi khusus, ternyata masalah juga tak kunjung selesai. Mengapa Papua 
terus bergolak?
Sebuah kajian historis tentang Papua dengan rentang waktu 1925 – 1962 yang 
dikupas secara mendalam oleh sejarawan Bernada Meteray dalam buku yang berjudul 
“Nasionalisme Ganda Orang Papua“. Buku yang diangkat dari disertasi penulis 
bertema sejarah ini, mencoba menemukan jawabannya. Beliau mengupas sejarah 
Papua sejak pertama kali Kerajaan Sriwijaya (abad VIII) menginjakkan kakinya di 
sini, disusul Majapahit (abad XIV), lalu Ternate dan Tidore (abad XVI). Suatu 
keterangan yang dapat menunjukkan bahwa Papua pernah merupakan daerah kekuasaan 
Sultan Tidore dan Bacan sebagaimana yang dikatakan oleh Koentjaraningrat dan 
Prof.Dr.Harsya W.Bachtiar dalam penelitiannya yang diungkapkan didalam buku 
yang berjudul : “ Penduduk Irian Barat “ bahwa pertemuan pertama antara orang – 
orang pribumi Irian Barat dengan orang – orang dari luar daerah terjadi ketika 
Sultan Tidore berusaha memperluas wilayah. Pada abad XVI Pantai Utara sampai 
Barat daerah
 Kepala Burung sampai Namatota ( Kab.Fak-fak ) disebelah Selatan, serta pulau – 
pulau disekitarnya menjadi daerah kekuasaan Sultan Tidore. , kemudian datanglah 
Belanda (VOC), Jepang, hingga pemerintah Indonesia.
Istilah “Papua” asal-usulnya masih kontroversi, kata ini tidak dapat dikaitkan 
dengan suku-suku tertentu di Papua, tetapi hanya sebutan orang Maluku bagi 
penduduk disebelah timur. Kata papua berasal dari bahasa Melayu, poea-poea, 
yang artinya “keriting”.  Menurut M. Amir Sutaarga, di Papua terdapat 
keanekaragaman latar belakang ras, yaitu Negroid, Melanosoid, Mikronesia dan 
Mongoloid. Keanekaragaman Papua juga tampak dari 250 bahasa yang mereka 
gunakan. Di beberapa daerah, penduduk menggunakan bahasa lokal dengan dialek 
berbeda-beda. Misalnya, masyarakat Biak menggunakan satu bahasa, sedang Waropen 
dua bahasa (hal 3).
Bernada Meteray, mengurai benang pangkal dinamika pergolakan rakyat Papua dari 
beberapa aspek yaitu historis, ideologis dan politis yang bermuara pada satu 
titik yaitu nasionalisme. Nasionalisme Papua dan Nasionalisme Indonesia, 
masalah ke-papua-an dan ke-indonesia-an menjadi pangkal dinamika yang 
melahirkan pergolakan rakyat Papua sampai hari ini.
Munculnya dua nasionalisme di Papua, yaitu nasionalisme Papua dan nasionalisme 
Indonesia, merupakan situasi yang dilematis dalam pemahaman sejarah Papua 
sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena itu, buku ini 
berupaya menjawab pertanyaan umum :” Apakah generalisasi tentang nation dan 
nasionalisme yang selama ini bermuara pada nasionalisme Indonesia dalam 
penulisan sejarah Indonesia tidak bertentangan dengan fakta historis di Papua?” 
(hal 259)
Melalui Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia mewarisi wilayah 
Hindia Belanda. Dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 
18 Agustus 1945 ditegaskan bahwa Indonesia mewarisi wilayah Hindia Belanda. 
Wilayah yang dimaksud meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa 
Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Pada masa itu Papua merupakan 
bagian dari Provinsi Maluku.
Papua memiliki pengalaman sejarah yang berbeda dengan daerah lain. Perbedaan 
ini ditandai dengan masih berkuasanya Belanda di Papua hingga 1962. Itulah 
sebabnya, perkembangan nasionalisme Indonesia di provinsi ini berbeda corak. 
Perbedaan ini mulai tampak sejak proses tersemainya nasionalisme Papua pada 
tahun 1925 dan nasionalisme Indonesia pada tahun 1945 di bumi Papua. (hal 11)
Menurut Audrey Kahin (1985), akibat dari batasan wilayah negara Indonesia yang 
didasarkan pada bekas wilayah Hindia  Belanda, sering dibuat generalisasi dalam 
sejarah Indonesia. Begitu banyak generalisasi yang dibuat berdasarkan tingkat 
revolusi sejarah nasional dan sejumlah pengalaman pemimpin Republik Indonesia 
di pusat pemerintahan yang menciptakan ketidakseimbangan gambaran tentang 
pengalaman revolusi. Menurut dia, generalisasi yang sering dilakukan para 
sarjana tidak dapat diterapkan untuk seluruh Indonesia. Memang, harus diakui 
bahwa Indonesia merupakan satu bangsa dari Sabang sampai Merauke, tetapi harus 
juga diakui adanya pendapat bahwa bangktinya nasionalisme di Indonesia 
bervariasi dari satu daerah ke daerah lain. (hal 16)
Nasionalisme di Papua ?
Secara resmi Pemerintahan Belanda menguasai Papua pada 1828 setelah mendirikan 
benteng di Lobo, Teluk Triton (Skr wilayah Kabupaten Kaimana) sementara pos 
pemerintahan Hindia Belanda baru didirikan pada tahun 1898. Sistem 
administratif yang diterapkan Pemerintah Belanda di Papua berbeda dengan sistem 
administrasi yang diterapkan di daerah lain dalam wilayah Hindia Belanda. 
Biasanya Pemerintah Belanda menunjuk pemimpin lokal sebagai pejabat pemerintah. 
Di Papua, kelompok sosial terdidik sangat sedikit sehingga memanfaatkan dari 
Maluku, khususnya Ambon, untuk bidang pemerintahan. Sebagai akibatnya muncul 
dua lapis sistem kolonial di dalam masyarakat Papua. (hal 25)
Sistem pemerintahan yang bersifat dual colonialism yang diperankan kelompok 
atas, yakni segelintir orang Belanda, dan kelompok bawah, yaitu mayoritas orang 
Indonesia yang melakukan kontak dengan orang Papua menjadi akar masalah yang 
akhirnya menimbulkan perasaan saling berbeda antara orang Papua dan orang 
Indonesia. Dalam berbagai konflik, Orang Papua cenderung memusuhi orang 
Indonesia daripada orang Belanda. (hal 29)
Menurut Meterey, bersemainya kesadaran kepapuaan sebagai suku bangsa tidak 
lepas dari peran misi Katolik dan zending Protestan yang sudah dimulai sejak 
tahun 1855, jauh sebelum pos pemerintah Belanda didirikan pada tahun 1898. 
Mereka memperkenalkan penggunaan bahasa Melayu dan budaya Melayu serta ide 
Barat kepada orang Papua. (hlm 31).
Ini berlangsung hingga Jepang menginjakkan kakinya di Hindia pada April 1942 
yang selanjutnya menguasai Merauke. Berbeda dengan sikap orang Papua terhadap 
Belanda, sikap mereka terhadap Jepang lebih cenderung menentang karena Jepang 
kejam. Karena itu, ketika Sekutu mendarat di Hindia pada April 1944, dianggap 
sebagai pembebas dari Jepang. Mereka membantu Sekutu mengusir Jepang. 
Kedatangan Sekutu, menurut Lagerberg (1979), memotivasi masyarakat Papua 
memikirkan kembali identitas mereka (hlm 49).
Sementara itu, nasionalisme Indonesia di Papua disemai tokoh-tokoh nasionalis 
mulai akhir 1945 ketika residen Van Eechoud merekrut beberapa orang Indonesia 
sebagai pegawai pemerintah, di antaranya Soegoro Atmoprasodjo yang ditunjuk 
sebagai pengajar dan direktur asrama pada Kursus Singkat Pamong Praja di Kota 
Nica. Kesempatan ini digunakan Soegoro untuk meyakinkan para siswanya untuk 
berpikir bahwa mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia Beberapa orang yang 
menempuh pendidikan Eechoud dan kemudian menjadi terkemuka dalam aktivitas 
politik antara lain: Markus dan Frans Kaisepo, Nicolaas Jouwe, Herman Wajoi, 
Silas Papare, Albert Karubuy, Moses Rumainum, Baldus Mofu, Eliezer Jan Bonay, 
Likas Rumkorem, Martin Indey, Johan Ariks, Herman Womsiwor dan Abdulah 
Arfan. (hlm 55).
Strategi Belanda Menghancurkan Impian Indonesia Pasca- KMB
Sebagai konsekuensi dari hasil KMB yang berlangsung pada 27 Desember 1949, 
Papua akan diserahkan kepada pemerintahan Indonesia setahun sesudah konferensi 
melalui negosiasi. Dengan demikian, penyerahan kedaulatan mencakup seluruh 
bekas jajahan Hindia Belanda tanpa Papua. (hal 143)
Memanfaatkan momentum, J.P.K van Eechoud mengeluarkan proklamasi yang 
menyatakan bahwa warga bekas Keresidenan Nederlands Nieuw Guinea alias Papua 
telah menjadi penduduk Gubernemen Nederland Nieuw Guinea, “yang pemerintahannya 
akan dijalankan oleh gubernur atas nama ratu kita semua“. Dengan proklamasi 
ini, secara administratif Papua tidak mempunyai hubungan dengan pemerintahan 
pusat di Jakarta. Van Eechoud (seorang Katolik) inilah sejak ditunjuk sebagai 
pejabat residen tahun 1945 telah menumbuhkan kesadaran nasionalisme kepapuaan.  
Resident J. P. K. van Eechoud yang terkenal dengan nama “Vader der Papoea’s” 
(Bapak Orang Papua) mempunyai misi khusus untuk menanamkam Nasionalisme Papua 
dan membuat orang Papua setia kepada Pemerintah Belanda.
Tidak ada itikad dari Belanda untuk menyerahkan Papua ketangan pemerintahan 
Indonesia. Justru sebaliknya, Belanda berupaya untuk menghalangi dukungan 
rakyat di Papua kepada pemerintahan Indonesia, sejak 1950 Belanda menindak 
tegas kegiatan yang dilakukan rakyat, baik yang asli Papua maupun non-Papua 
dengan menangkap dan menahan para aktivis pro-Indonesia. (hal 163)
Selama periode 1945 – 1962 Indonesia tidak memiliki wewenang untuk 
mengindonesiakan orang Papua secara terbuka. dapat dikatakan proses 
pengindonesiaan orang Papua yang dilakukan tidak tuntas, baru tahap awal, dan 
tidak menjangkau sebagian besar masyarakat Papua di pedalaman.
Sebaliknya, berdasarkan pengalaman Belanda di Indonesia atau Hindia-Belanda 
dalam kemerdekaan tahun 1945, maka Belanda didalam menjajah Papua sangat 
hati-hati sekali dalam meningkatkan kehidupan Masyarakat di berbagai bidang, 
dan Belanda sengaja memperlambat perkembangan di Papua/Nieuw Guinea sesuai 
dengan permintahaan dan kebutuhan orang-orang Papua. Katakanlah bahwa ini suatu 
bentuk “Etis-Politik Gaya Baru”. Termasuk didalamnya usaha untuk membentuk 
“Nasionalisme Papua”. Cara Belanda yang demikian itu menyebabkan orang-orang 
Papua tidak merasa bahwa mereka sedang dijajah sebab mereka hidup dalam suatu 
keadaan perekonomian yang baik dan tidak merasakan adanya penderitaan dan 
tekanan dari Belanda.
Sampai di sinilah masyarakat Papua terbelah menjadi dua: yang pro-Indonesia dan 
Belanda. Babak selanjutnya adalah “perebutan” Papua oleh Indonesia dan Belanda 
yang berakhir secara resmi melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 
1969 yang menggambarkan sebagian besar masyarakat Papua ingin berintegrasi 
dengan Indonesia.
Penutup
Walaupun hasil Pepera menunjukan bahwa Papua merupakan bagian yang sah dari 
wilayah NKRI, masalah Papua masih terus bergolak hingga dewasa ini. Munculnya 
keraguan terhadap hasil Pepera 1969 pada sebagian masyarakat di Papua mungkin 
dikaitkan dengan pernyataan Amir Mahmud sekembalinya dari peninjauan Pepera 
1969, bahwa sebagian besar rakyat Papua belum sadar politik, maka penduduknya 
cukup menyebut “Soeharto, Merah Putih, dan Indonesia“. Dia juga menegaskan, 
“kenyataan menunjukan bahwa sebagian terbesar dari penduduk tidak bersimpati 
kepada RI”.
Kini nasionalisme Papua dan nasionalisme Indonesia masih sebuah dilematis bagi 
rakyat Papua. IRIAN (Ikut Republik Indonesia Anti Nederland) adalah persoalan 
pengindonesian rakyat Papua yang tidak pernah tertuntaskan sampai sekarang 
sehingga dilema yang terjadi bukan lagi “ikut RI” atau “ikut Nederland” tetapi 
sudah pada mencari pilihan lain yaitu  hak menentukan nasib sendiri alias 
MERDEKA. Sebuah pelajaran yang berharga atas nama Indonesia………..
********
Judul : Nasionalisme Ganda Orang Papua
Penulis : Bernarda Meteray
Penerbit : Kompas, Jakarta
Cetakan : I, Mei 2012
Tebal : xxx+302 halaman
ISBN : 978-979-709-644-1
NB : Terima kasih kepada Sociopolitica yang telah memberikan saran untuk 
membaca buku yang bagus ini. 

Kirim email ke