copas artikel lawas, tapi tetap menarik.
 
Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!  
http://nugon19.multiply.com/journal

-=-=-=-=-=-

http://kebumen.muhammadiyah.or.id/artikel-pendidikan-sebenarnya-by-prof-rhenald-kasali-detail-265.html 


Pendidikan Sebenarnya 
By Prof. Rhenald Kasali

>>>>>>>
>10 Juli 2012 18:48 WIB
>Dibaca: 39
>Penulis : Copas by Rief Ndut


LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah 
tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.Masalahnya, karangan berbahasa 
Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) 
yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di 
Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya 
dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan 
itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki 
kembali,sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan 
diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? 
Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai 
tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru 
yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari 
Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.



BUDAYA MENGHUKUM


Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah 
saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya 
mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik 
itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya 
dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. 
Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk 
merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan 
argumentasinya. “Saya sudah 20 tahun mengajar.

Setiap anak berbeda beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara 
yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya 
yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. 
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur 
prestasi orang lain menurut ukuran kita. Saya teringat betapa mudahnya saya 
menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga 
doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai 
ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor 
saya pun dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan mereka memang sangat serius 
dan membuat saya harus benar-benar siap.Namun suasana ujian dibuat sangat 
bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, 
melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka 
menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya 
sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa 
depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke 
Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan.

Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang 
duduk di bangku ujian. * Etika seseorang penguji atau promotor membela atau 
meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita 
tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat 
mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, 
yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan 
encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan 
rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang 
tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada 
semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya 
berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah 
yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang 
pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang 
membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru 
mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan 
kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk 
verbal. Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun 
rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya 
untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan 
berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan 
kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah 
tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa 
salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat 
menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi saya mengatakan 
“gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.



MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan 
rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta 
ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan 
penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan 
seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; 
Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas 
ujian dan rapor di sekolah. Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin 
telah membuat kita menjadi lebih disiplin.

Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan 
semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia 
tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat 
tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang 
didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia 
dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada 
orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi juga ada orang 
yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan 
mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah 
orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang 
menakut-nakuti.

Copas Dari salah satu Artikel Prof. Rhenald Kasali, Semoga menginspirasi..

Kirim email ke