http://us.sorot.news.viva.co.id/news/read/362467-jr-saragih---membangun-ala--anak-terminal
-

 JR Saragih: Membangun Ala 'Anak Terminal'
<http://us.sorot.news.viva.co.id/news/read/us.sorot.news.viva.co.id>

*VIVAnews -* Senin, 19 Desember 2011 menjadi hari tak terlupakan bagi 109
pejabat eselon III dan IV di jajaran Pemerintah Kabupaten Simalungun,
Sumatera Utara. "Hanya" gara-gara tak ikut upacara Hari Kesadaran Nasional,
mereka kehilangan pekerjaan, alias dicopot dari jabatan masing-masing.

Bupati Simalungun Jopinus Ramli (JR) Saragih marah besar hari itu, lantaran
anak buahnya tak disiplin. Dia bekas militer, tentu gerah melihat disiplin
pegawai negeri sipil (PNS) yang rendah. "Padahal itu adalah hari kesadaran
nasional. Seharusnya mereka terlebih dahulu harus menyadarkan dirinya,"
kata bupati yang biasa disapa JR ini dalam perbincangan dengan *VIVAnews*,
Rabu 24 Oktober 2012. Pria kelahiran 10 November 1968 itu masih belum bisa
menyembunyikan rasa kesalnya.

Tak hanya 109 PNS saja yang jadi sasaran disiplin sang Bupati. Dua hari
sebelumnya, 17 Desember 2011, JR juga mencopot Kepala Dinas Kesehatan
Simalungun, Saberina Tarigan. Simalungun sempat geger dengan berbagai
pencopotan ini. JR beralasan, Kadinkes tak datang saat dia panggil rapat
karena sedang berada di Medan. "Pejabat eselon II itu tidak boleh
meninggalkan daerahnya tanpa sepengetahuan bupati."

Tanpa tedeng aling, JR pun pernah mencopot Kepala RSUD Raya gara-gara
keluhan masyarakat. "Saya pun sidak pagi-pagi, rumah sakit tidak terurus,
atap-atap bocor dibiarkan. Seharusnya rumah sakit itu bersih," kata dia
seraya menambahkan bahwa dirinya sangat peduli pada kesehatan.

Tapi, amarah JR kepada 109 PNS yang bolos upacara tak lama. Berselang
sehari, dia memanggil kembali anak buahnya itu bekerja. Sebagai hadiah
Lebaran. "Sekaligus peringatan kepada para pejabat agar memberikan contoh
yang baik. Dan kalau itu berulang lagi, pencopotan jabatan pasti akan
mereka terima."

Tak heran jika gaya kepemimpinan JR keras dan disiplin. Dia pernah bertugas
di Korps Polisi Militer, komandan sub Detasemen Polisi Militer, komandan
Detasemen Polisi Militer. Bahkan, dia pernah bergabung sebagai salah satu
personel pengamanan presiden.

Selain dunia militer, masa kecil suami Erunita Tarigan Girsang ini pun
turut membentuk karakter JR yang tangguh dan keras.  Tak seperti bocah
kebanyakan, dia harus berjibaku untuk membiayai sekolahnya sendiri.

Ayahnya, R Saragih, meninggal saat dia baru berusia satu tahun. Sang Ibu
lalu menitipkan JR di rumah nenek di Desa Hapoltakan Pematang Raya karena
perekonomian yang morat marit. Sejak SD, JR membantu neneknya memetik kopi
di ladang. Tapi, duka kembali menggelayut. Sang Nenek juga meninggal. JR
kembali ke rumah ibunya, N boru Sembiring Meliala, di Tanah Karo.

Karena ekonomi tak memungkinkan, JR terpaksa berhenti sekolah saat duduk di
kelas 6. Tak mau lama-lama dirundung sedih, JR memutuskan merantau ke
Pematang Siantar. Di sana JR melakoni pekerjaan apapun untuk mendapat uang.

Dia menjadi tukang semir sepatu di terminal, dan juga tukang bersih-bersih
bus antar kota. Dua tahun JR harus membanting tulang dengan pekerjaannya
itu.
Dia kembali ke bangku sekolah setelah seorang supir menyarankannya sekolah.

Dia berhasil menyelesaikan sekolahnya hingga SMP sambil bekerja memperbaiki
alat-alat elektronik dan beternak ayam. Sampai di situ, penderitaan rupanya
belum mau melepas JR.

Dia kesulitan membayar uang sekolah untuk melanjut ke SMA. JR kembali
merantau. Kali ini, tujuan rantauannya jauh dari kampung halaman, Jakarta.
Di Ibukota, JR bekerja sebagai penggali pasir. Dari uang itu, dia bisa
mendaftar ke SMA swasta Iklas Prasasti di Kemayoran. Saat bersekolah di SMA
ini lah hidup JR menemui titik balik.

Sambil bersekolah, JR mendapat tawaran bekerja paruh waktu di pusat Primer
Koperasi Mabes TNI AD di Jakarta. Keuletan dan kegigihan JR mencari uang
untuk sekolah mendapat simpatik dari petinggi angkatan TNI AD. JR pun
diberikan kesempatan mengikuti tes masuk Akademi Militer, dan berhasil.

*Minder lihat baju dinas*
Di luar disiplin ala militernya dalam memimpin Simalungun, ada satu
kebiasaan JR yang sudah diketahui warga. Dia kerap blusukan ke
daerah-daerah dengan sepeda motor trail miliknya, tanpa pengawalan.
Mengenakan baju kaus biasa, JR juga sering terlihat nongkrong di
warung-warung kopi.

"JR itu sosok nyentrik. Dia sering ke warung kopi untuk membaur dengan
warga," kata Enrico, penggiat lembaga swadaya masyarakat (LSM) Lembaga
Cegah Kejahatan Indonesia. Sekilas, kata dia, perjalanan dengan motor ke
kampung-kampung itu terlihat seperti pencitraan. "Tapi, tidak. Dia memang
begitu. Langsung turun untuk bertanya kebutuhan warganya itu apa," imbuhnya.

Saat ditanya soal kebiasaannya itu, JR punya alasan sendiri. Sebelum
dirinya menjabat sebagai bupati, menurut JR, jalanan di Simalungun sudah
kacau, terutama di pedalaman. Masih banyak yang belum diaspal. "Ada yang
sampai tak bisa dilalui. Itulah kenapa saya lebih senang pakai motor trail.
Kalau pakai mobil nanti susah sendiri karena sebagian jalanan di dalam
tidak bisa dilalui mobil," kata JR.

Soal kaus olahraga saat kunjungan kerja? "Kalau pakai dinas saya terlalu
kaku. Dari pengalaman, masyarakat merasa minder melihat baju dinas pejabat
yang hadir di kampungnya," kata JR. Seolah-olah, imbuhnya, pejabat itu
orang hebat.

Padahal, dia datang justru mau jadi tempat curhat warga. Dengan kaus biasa,
tak hanya warga, staf pun tak canggung lagi. "Inilah yang saya inginkan.
Jadi mereka bisa lebih terbuka dan merasa bersahabat dengan saya. Tentunya
kerjasama lebih berguna." Warga pun lebih berani mengajaknya duduk di
warung kopi jika tak mengenakan baju dinas.

Mengenai prioritas pembenahan, JR punya dua hal: kesehatan dan pendidikan.
Dua bidang ini, menurut JR, adalah hal paling penting dalam kehidupan.
"Sekolah tinggi kalau tak sehat juga susah. Begitu juga sebaliknya. Nah,
keduanya ini harus menjadi nomor 1 di Simalungun," kata dia.

Beberapa sekolah, kata dia, sudah dibangun sehingga menambah tempat bagi
generasi muda menimba ilmu. Dia berharap pembangunan pendidikan ini terus
berkembang sebab pendidikan adalah salah satu cara memajukan bangsa. Hal
ini diakui Enrico. "*Basic* dia kesehatan. Awalnya, dia punya rumah sakit.
Jadi dia lebih dominan kesehatan. Tapi, pendidikan pun jalan, terbukti
bertambahnya sekolah di Simalungun," jelas Enrico.

Selanjutnya, prioritas JR adalah infrastruktur. "Perlahan, Kota Raya sudah
berkembang menjadi kota baru. Padahal dulu, kota ini seperti kota mati.
Meskipun sudah menjadi kabupaten Simalungun," imbuhnya. Indikasi kota mati,
kata dia, orang susah cari penginapan, warnet, dan layanan publik lainnya.

Jalanan pun, menurutnya, sudah kian lebar. Investor pun mulai melirik Raya,
di luar Siantar untuk berinvestasi. "Landasan pacu pun sudah ada di Raya,"
kata dia. Penerbangan pertama dari landasan pacu itu terjadi pada 2011
lalu. Tapi, dia akui memang masih kurang investor. "Susi Air sering
berkunjung ke sini."

Di sektor pertanian, JR belum bisa berjanji muluk-muluk. Paling tidak, kata
dia, Simalungun tidak perlu mengimpor beras dari luar. Simalungun, kata
dia, merupakan daerah pertanian sehingga padi pun jadi andalan wilayah yang
dia pimpin.

Bupati Simalungun sejak 28 Agustus 2010 itu juga pernah mendapat
penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena berhasil
meningkatkan produksi padi pada 2011 lalu. Penghargaan ini diberikan
melalui Menteri Pertanian Siswono MM di Jakarta. Dibandingkan 2009,
Simalungun surplus produksi padi sebanyak 134.156 ton pada 2011.

Kirim email ke