---------- Forwarded message ---------- From: Adi Prasetyo <[email protected]> Date: 2012/11/19 Subject: Kegalauan antara Mentalitas Entrepreneurship dan Peasant
ini mungkin alasan mengapa kita tidak pernah mendengar ada TKW malaysia atau TKW singapura. :-) di riyadh atau di jakarta. *Jakarta/16/nov/2012* - Dalam pertemuan Komite Ekonomi Nasional (KEN) terakhir, sejumlah pembicara memaparkan keprihatinannya. Mereka ‘galau’ dengan jumlah entrepreneur Indonesia yang terbilang minim yakni, 1,56 persen saja dari jumlah penduduk. ** Sedangkan jumlah persentase wirausahawan di negeri jiran, seperti berada pada angka yang lebih tinggi. Jumlah pengusaha di Malaysia mencapai 4 persen, Thailand (4,1%), dan Singapura 7 persen. Kecilnya jumlah entrepreneur di Indonesia lantaran kurangnya *fighting spirit* dari bangsa ini. Hal ini dipertegas dengan sedikitnya dari kaum muda Indonesia yang bersedia menghadiri pendidikan motivasi entrepreneurship dan sejenisnya yang kini mulai ramai dihelat berbagai institusi. Tak kurang pemerintah dan sejumlah partai politik pun gencar berkampanye menumbuhkan semangat kewirausahaan. Hasilnya? Hmm…kita cukup tersenyum guna menghalau keprihatinan. Berbeda halnya dengan event-event bursa kerja. Perhelatan yang kerap digelar di beberapa kota besar ini selalu saja sukses. Animo masyarakat , khususnya para pemburu kerja, begitu tinggi. Puluhan bahkan ratusan ribu pengunjung memenuhi arena perhelatan setiap harinya. Dari sinilah kita bisa memandang, bangsa ini lebih bermental sebagai pekerja, buruh, atau pun karyawan, ketimbang sebagai pengusaha/ wirausahawan atau seorang enterpreneur. *Pembentukan Karakter dan Mindset.* ‘Enterpreneur itu bukanlah profesi, melainkan mindset’. Begitu kalimat tulisan seorang rekan di akun twitternya. Tampaknya, bunyi kalimat tersebut ada benarnya. Perubahan mindset dan karakter memang membutuhkan waktu panjang, tidak dapat dilakukan secara serta merta. Pantas saja jika pertumbuhan persentase dan jumlah entrepreneur di Tanah Air tertatih-tatih. Perihal ini mungkin bisa kita runut jauh ke belakang. Sebab, boleh jadi kondisi mental seperti di atas pun terbentuk dalam kurun yang terbilang cukup lama. Pada abad ke-16, Raden Patah mendirikan kerajaan Demak. Kerajaan ini berpengaruh luas ke berbagai wilayah pesisir pulau Jawa. Di masa inilah, penguasa politik mendorong berkembangnya budaya pesisir yang kental dengan keterbukaan, kemandirian, dan jiwa kewirausahaan. Mereka sangat *welcome*terhadap kehadiran bangsa asing yang datang dengan seperangkat budaya. Masyarakat Demak dan wilayah pesisir juga siap berinteraksi dengan para pendatang, termasuk dalam aktifitas ekonomi. Dengan begitu terciptalah persaingan ekonomi yang sehat, serta berkembangnya semangat entrepreneurship di kalangan masyarakat saat itu. Tak pelak, Demak pun menjadi sebuah kerajaan tumbuh dan berkembang. Rupanya, perkembangan Demak dan negeri pesisir membuat kerajaan pedalaman, Mataram, sebagai kerajaan induk, cemburu. Raja Mataram, Sultan Agung, kuatir, kerajaan Demak dan wilayah pesisir lainnya bisa lepas dari hegemoni politik Mataram. Syahwat politik Sultan Agung pun membara. Ia mengerahkan pasukannya menyerang, menduduki, serta menguasai Demak dan sekitarnya. Sejak saat itulah, di abad ke-17, budaya pesisir mengalami pengerdilan. Sebaliknya, budaya masyarakat pedesaan/pertanian berkembang. Mendasarkan pada pola kebudayaan masyarakat pedesaan, beberapa ahli mengklasifikasikan masyarakat pedesaan sebagai “masyarakat peasant”, yaitu masyarakat yang cara hidupnya berorientasi pada tradisionalitas, terpisah antara pusat perkotaan tetapi memiliki keterkaitan dengannya, yang mengkombinasikan kegiatan pasar dengan produksi subsisten. Selain itu, masyarakat pedesaan ditandai dengan cenderung kurang responsif serta sulit menerima dan menerapkan ide dan hal hal yang baru. Rendahnya tingkat inovasi pedesaan, menurut Rogers (1969), setidaknya berkaitan dengan tiga hal. Antara lain, pola hidup yang cenderung menggunakan cara cara yang mereka tahu pasti akan menghasilkan (takut gagal). Dengan begitu, mereka merasa kuatir akan terasing dengan budaya-budaya luar yang masuk. Pola hidup seperti inilah yang terus tertanam dan ditanamkan para penguasa politik lokal. Para penguasa terus memelihara pola sosial patron-client. Sifat ketergantungan ini diteruskan, dipelihara, serta dipupuk pemerintah kolonial Belanda. Beruntung, berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa serta didorong keinginan luhur, penjajahan Belanda pun dapat disingkirkan. Dengan hengkangnya kolonialis, sepatutnya bangsa ini juga segera *hijrah* dari masyarakat peasant menjadi masyarakat entrepreneur yang memiliki *fighting spirit*yang tumbuh subur. source; inilah/news
