SMS Premium, Dipuja dan Dicerca

Belakangan ini para operator banyak menuai protes mengenai layanan SMS premium. 
Layanan itu dianggap merugikan konsumen karena adanya pemotongan pulsa tanpa 
seizin pengguna. Meski begitu, ada juga jenis konten yang disukai pelanggan dan 
membuat mereka betah berlangganan. "99% pelanggan yang terdaftar dalam program 
SMS premium mengeluhkan masalah tentang cara berhenti berlangganan," kata 
Suanta P. Bukit, GM Marketing VAS & Product Development Excelcomindo Pratama 
(XL), ketika dihubungi detikINET, Senin (31/7/2006).

"Lucunya, banyak pesan keluhan yang dikirim pelanggan ke nomor shortcode (nomor 
singkat SMS Premium-red). Mereka mengira ada orang di balik itu yang langsung 
membaca dan menerima keluhan mereka. Padahal nomor itu kan dijawab mesin," 
imbuhnya. Oleh sebab itu, dia merasa perlu mensosialisasikan lebih jauh lagi 
mengenai layanan SMS premium, agar pelanggan tidak dirugikan dengan adanya 
layanan tambahan tersebut.

SMS Premium
SMS premium sendiri merupakan layanan pesan singkat berbayar dengan harga di 
atas SMS biasa, yang disediakan oleh penyedia konten (content provider) dari 
hasil kerjasama dengan para operator. Bila dilihat dari isinya, SMS yang 
dikirim oleh content provider biasanya berupa kuis, informasi, gosip, dan 
lainnya. Dan biasanya diikuti pula dengan iming-iming hadiah bagi para 
pesertanya.

Secara teknis, layanan itu tersedia berkat dipasangnya server dari content 
provider pada jaringan yang telah terinterkoneksi dengan sistim Serving GPRS 
Support Note (SGSN) milik operator. Sedangkan model bisnis yang digunakan 
biasanya berdasarkan bagi hasil dengan komposisi yang disepakati atau dari lalu 
lintas SMS yang masuk. Selain beriklan di berbagai media, metode promosi yang 
digunakan biasanya juga dengan SMS broadcast. Pesan yang dikirimkan berisi 
jenis layanan yang ditawarkan, tarif, dan cara berhenti berlangganan.

Timbul Permasalahan
Suanta menjelaskan, biasanya permasalahan akan timbul setelah pelanggan 
menyadari layanan SMS premium tersebut mengurangi pulsa secara reguler. Dan 
tidak mengetahui kata kunci yang tepat, ketika ingin menghentikannya. Oleh 
sebab itu, pihaknya telah meminta mitra content provider-nya agar menyeragamkan 
kata kunci tentang cara berlangganan dan berhenti dari layanan, serta melarang 
pengiriman layanan tanpa seizin pelanggan.

"Semua operator sudah sepakat dengan aturan penulisan tentang cara ikut 
berlangganan dan berhenti dari layanan," ujarnya. Untuk berlangganan, aturan 
penulisannya yakni: REG spasi [Nama Layanan], lalu dikirim ke shortcode. 
Sedangkan untuk berhenti, pelanggan cukup menambahkan kata UN di depan kata 
REG, menjadi UNREG spasi [Nama Layanan], lalu dikirim ke shortcode layanan.

Suanta juga mengimbau pelanggan agar lebih teliti saat mengikuti program SMS 
premium tersebut, dan tetap waspada dalam meletakkan ponsel agar tidak 
disalahgunakan pihak yang bertanggungjawab untuk ikut dalam layanan itu.

Sulit Dikontrol
Suanta mengakui kesulitan untuk mengontrol setiap isi pesan yang dikirimkan 
content provider, meskipun sudah ada kesepakatan. Dan biasanya pada saat-saat 
terakhir sering terjadi perubahan tanpa diketahui operator. "Pertama kali sih 
kita screening, tapi setelah itu kita percayakan pada mereka. Repot juga kalau 
musti screening ratusan content provider," jelasnya.

"Oleh sebab itu, untuk mengetahui apakah mereka benar-benar melakukan 
programnya, kadang kita menyamar sebagai pelanggan misterius. Kalau kita 
menemukan ada pelanggaran bisa kita blokir," ujarnya menambahkan. XL juga 
memiliki hak untuk bisa masuk ke dalam sistem perangkat layanan pelanggan 
(customer service tools) untuk membantu menangani keluhan pelanggan seperti 
berhenti berlangganan (unreg) dan mendorong permintaan konten yang tak kunjung 
terkirim (push content).

Siap Blokir
Menanggapi kemungkinan pemblokiran, Suanta mengatakan pihaknya siap menjalankan 
karena selama ini hanya sekitar 15 dari 130 content provider rekanan XL yang 
biasanya dikeluhkan pelanggan. "Sudah ada yang kita blokir karena melanggar. 
Ada beberapa content provider yang kita suspend, shortcode-nya kita 
nonaktifkan. Biasanya kita tutup kurang lebih sebulan, tergantung pelanggaran," 
ujarnya.

Hukuman model itu, lanjut dia, sudah cukup membuat jera para content provider 
nakal karena tak ada pendapatan masuk. XL pun nampaknya tak ingin mengambil 
risiko bermitra dengan sembarang penyedia konten. "Karena itu, XL selalu 
mensyaratkan setiap content provider yang ingin menjadi mitra harus memenuhi 
beberapa kriteria," ujarnya.

Kriteria yang dimaksud ialah kepemilikan izin lengkap sebagai badan usaha yang 
punya SIUPP dan NPWP, customer service 24 jam, serta dukungan teknis yang 
lengkap pada data center-nya. "Content provider yang menjadi mitra kami juga 
musti punya target revenue yang lumayan, kalau cuma Rp 50 juta per bulan, kami 
menganggap mereka tidak serius dalam bisnis ini," tandasnya.

Hingga saat ini, XL memiliki 130 rekanan content provider. "Kontribusi layanan 
ini bagi perusahaan sebenarnya tak lebih dari 5%. Tapi musti diingat juga, 
meskipun ada yang mengeluh ternyata banyak juga yang suka," selorohnya. Dari 
banyaknya keluhan yang masuk, layanan yang sering menuai komplain ialah kuis 
dan horoskop. Sedangkan yang banyak disukai ialah konten rohani dan berita. 
"Biasanya, mereka berlangganan karena memang menginginkan layanan itu," tandas 
Suanta. (rou)(nks)

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Senin, 31/07/2006 12:15 WIB
© 2006 detikcom



------------------------------------------------------
Baca berita-2 terbaru seputar seluler via WAP:
http://tagtag.com/SMSMania

Untuk keluar dari milis, silahkan kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------------ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/SMSMania/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke