Pagi teman-teman..
 
Pagi Esti,
 
Maaf baru menyapa sapaan dari UK. Tadinya sih pengen balas emailnya dari rumah 
saja. Cuman kok beberapa hari ini Depok (tempat kami tinggal) berikut Jakarta 
diguyur hujan yang gak ada habis-habisnya, jadi bawaannya pengen cepet tidur, 
pake selimut tebal (ah...untung masih di Depok, bukan di UK, jadi gak perlu 
pemanas ruangan, selimut saja cukup). Pagi ini sampe kantor masih pagi banget, 
6.40 dari jam kerja normal 7.00, jadi masih sempat jawab dari meja kerja.
 
Tentu saja saya masih ingat Esti, teman dari sejak SMP 1. Saya masih ingat soal 
ke D3 Nuklir itu, soalnya saya sendiri sempat ingin daftar kesitu, cuma 
orangtua tidak terlalu setuju, dan berhubung saya sendiri lebih berminat untuk 
studi Ilmu Perpustakaan, jadi ya OK aja untuk sejalan dengan ketidaksetujuan 
orangtua. Saya jatuh cinta setengah mati pada program studi yang rasanya 
terdengar aneh, apalagi pada saat itu, tahun 1993. Beruntung orangtua saya 
tidak kolot (atau entah saya yang dengan enteng bilang, yang sekolah kan aku), 
jadi saya dilepas, untuk pertama kalinya keluar dari rumah ortu, tinggal di 
Bandung, yang satu kenalanpun tidak ada, untuk belajar sebuah ilmu yang 
sepertinya tidak menjanjikan untuk cari duit (belakangan berpapasan secara 
tidak sengaja dengan Indrasanjaya di Kampus Unpad Dipati Ukur pas mau pelajaran 
agama). SPP Unpad masih terbilang murah, 120rb/semester (dibandingkan dengan 
Undip yang saat itu sudah 280-an). Berhubung ortu saya juga cuma PNS biasa, 
bedanya dengan Esti mungkin hanya karena saya dan adik-adik berjarak usia cukup 
jauh, jadi orang tua saya hanya ngos-ngosan mikir satu orang kuliah, saya 
berusaha keras mendapatkan beasiswa. Praktis ortu membayar uang sekolah saya 
hanya setahun, selebihnya saya bisa membayar sendiri dari beberapa kali 
beasiswa, bahkan saat sudah lulus masih punya tabungan, yang nantinya dipakai 
untuk ongkos daftar kuliah S2 Ilmu Perpustakaan di UI (berhubung saya masih 
ingin sekolah lagi, dan ortu tidak mungkin dong dimintai ongkos, jadi sadar 
dong...), sekaligus berburu beasiswa berikutnya yang akhirnya membawa saya 
tinggal dan bekerja di Jakarta sampai sekarang. Beasiswa itu pula yang membuat 
saya serasa sudah bekerja, kerjanya disuruh sekolah, bahkan masih bisa dipakai 
untuk membayari kuliah adik saya yang saat itu sudah masuk Brawijaya, Malang. 
Lumayan sih duitnya he..he.. dan tanpa ikatan dinas.
 
Saya menikah dengan Krist Haksa tahun 2000, resepsi di Gedung SKB yang sekarang 
jadi universitas itu. Mestinya Esti masih di rumah Perumnas saat itu, tapi saya 
tidak ingat lagi apakah undangannya sampai juga ke Esti atau tidak, dan sampai 
sekarang masih berdua saja, belum berencana untuk memiliki keturunan. Membaca 
email Esti-Andy soal selonjor di kereta, saya jadi ingat, dulu menjelang kami 
menikah, kami harus sering bolak-balik Demak-Jakarta dengan kereta butut itu, 
berhubung kami manikah di Gereja dan catatan sipil, jadi prosedur agak ribet. 
Kalau dipikir-pikir, kok ya tahan ya... Kalau Esti dan Andy cuma dengar koor di 
Cirebon, eh malah Mas Krist sempat ketumpahan nasi gorengnya restorasi pas lagi 
enak tidur gara-gara petugas keretanya kesandung orang yang pada selonjor itu 
tadi (untung nasi goreng, bukan nasi rawon ha..ha..). Kalau Krist Sapta alias 
adik iparku yang dulu pernah pacaran sama Erik, Kauman, sekarang sudah menikah 
dengan 2 anak, tinggal di Sidoarjo, kerja di Surabaya (sempat kerja di Jakarta 
dan Bogor tahun 2000-an, malah pernah ketemu suaminya Puji Hastuti Tanubayan). 
Saya sendiri bekerja di the Library of Congress, Jakarta mulai saat 
tengah-tengah bikin thesis (soalnya beasiswa sempat nyangkut entah dimana saat 
UI mulai otonomi kampus, jadi harus kerja dong biar kuliah jalan terus. 
Ndilalah kersaning Gusti Allah kok ya pas cari kerjaan karena kepepet, saya 
diparingi kesempatan untuk bekerja di perpustakaan, sesuai dengan cita-cita, 
mana perpustakaannya yang sudah mbah-nya perpustakaan, dan di bagian yang 
sangat saya sukai, yang tidak akan mungkin ditemukan di perpustakaan manapun di 
Indonesia. Mungkin yang nonton National Treasure-nya Nicholas Cage akan tahu 
seperti apa tempat saya kerja). Saya masih ingin melanjutkan studi, tetapi 
sayang, masih kepentok karena di Indonesia belum ada program doctoral 
degree-nya. Jadi mesti keluar dari Indonesia. Cuma kalau untuk keluar sekarang 
kok masih sayang, soalnya kami masing-masing sedang enjoy dengan pekerjaan. 
Ya... hidup kan harus ada prioritas, dan saat ini kami masih asyik kerja dan 
jalan-jalan.
 
Esti, kalau pulang ke Perumnas, kontak lah. Karena orangtuaku sekarang tinggal 
di Perumnas, tapi di Perumnas II, sejak ibuku pensiun tahun lalu. Kalau soal 
Fahmi Hartari, yang puteranya Pak Mustari, sekarang ikut suaminya di Solo kalo 
gak salah. Ibunya Amik (nama panggilan Fahmi) sekarang di rumah saja, berhubung 
habis kena stroke. Jadilah Ibunya Amik yang tidak pernah punya pembantu 
sekarang dibantu rewang. Aku dapat cerita ini dari ibuku, yang sempat nengok ke 
rumahnya. Barangkali pas kami pulang, bisa ketemu. Ketemuan di Jakarta juga 
boleh kalau pas transit. Kami pasti pulang saat Natal. Tapi diluar Natal sering 
pulang juga, kapanpun kami pengen he..he... (cuma gak sanggup lagi dengan 
kereta butut itu).
 
Esti bisa juga visit di facebook, cuma aku nebeng aja pakai nama Krist Haksa. 
Kami berdua masih punya mimpi keliling Eropa, mungkin baru bisa tahun depan. 
Pasti kami kontak Esti, setidaknya untuk cari info lokasi wisata yang wajib 
dikunjungi dan hotel mana yang lokasinya baik (soalnya kami gak suka pake group 
tour dari sini, sukanya pake seat in coach kalo sudah sampai di tujuan aja). 
Jadi, ceritanya tahun ini menambah tabungan, baik tabungan uang maupun tabungan 
cuti, dan memperpanjang paspor dulu. Ya...berhubung orang perpustakaan, jadi 
sebelum pergi ya baca dulu, biarpun kalau sekarang yang dibaca bukan cuma buku.
 
Ditunggu kabar selanjutnya ya...
 
Salam,
Ryrin (Waryn Korinta)





_________________________________________________________________
Join the Fantasy Football club and win cash prizes here!
http://fantasyfootball.id.msn.com

Kirim email ke