He3x...wah ririn ternyata juga suka nulis juga yach,,,,
Thanks Best Regards Andy Wahyu Daryanto Pfizer Indonesia Off. 62-21 8710521 ext. 108 Cell. 62-812 1008325 You can't change the past, and you can ruin a perfectly good present, by worrying about future. Respect for people, Innovation, Integrity, Leadership, Team work, Customer focus & Performance Disclaimer - This message and any attachments are confidential and may contain privileged information intended only for the use of the addressee(s) named above. If you are not the intended recipient or the person responsible for delivering this message to the intended recipient, you are hereby notified that any use, dissemination, distribution or reproduction of this message is prohibited. If you have received this message in error, please notify sender immediately by return e-mail and destroy any electronic or paper copy of this message. Sender advises that this email and any attached files should be scanned to detect viruses and accepts no liability for loss or damage resulting from the use of any attached files. ________________________________ From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Waryn Korinta Sent: Thursday, January 15, 2009 7:54 AM To: [email protected] Subject: RE: [SMUN 1 Demak] To Esti from Jakarta yang duingin... Pagi teman-teman.. Pagi Esti, Maaf baru menyapa sapaan dari UK. Tadinya sih pengen balas emailnya dari rumah saja. Cuman kok beberapa hari ini Depok (tempat kami tinggal) berikut Jakarta diguyur hujan yang gak ada habis-habisnya, jadi bawaannya pengen cepet tidur, pake selimut tebal (ah...untung masih di Depok, bukan di UK, jadi gak perlu pemanas ruangan, selimut saja cukup). Pagi ini sampe kantor masih pagi banget, 6.40 dari jam kerja normal 7.00, jadi masih sempat jawab dari meja kerja. Tentu saja saya masih ingat Esti, teman dari sejak SMP 1. Saya masih ingat soal ke D3 Nuklir itu, soalnya saya sendiri sempat ingin daftar kesitu, cuma orangtua tidak terlalu setuju, dan berhubung saya sendiri lebih berminat untuk studi Ilmu Perpustakaan, jadi ya OK aja untuk sejalan dengan ketidaksetujuan orangtua. Saya jatuh cinta setengah mati pada program studi yang rasanya terdengar aneh, apalagi pada saat itu, tahun 1993. Beruntung orangtua saya tidak kolot (atau entah saya yang dengan enteng bilang, yang sekolah kan aku), jadi saya dilepas, untuk pertama kalinya keluar dari rumah ortu, tinggal di Bandung, yang satu kenalanpun tidak ada, untuk belajar sebuah ilmu yang sepertinya tidak menjanjikan untuk cari duit (belakangan berpapasan secara tidak sengaja dengan Indrasanjaya di Kampus Unpad Dipati Ukur pas mau pelajaran agama). SPP Unpad masih terbilang murah, 120rb/semester (dibandingkan dengan Undip yang saat itu sudah 280-an). Berhubung ortu saya juga cuma PNS ! biasa, bedanya dengan Esti mungkin hanya karena saya dan adik-adik berjarak usia cukup jauh, jadi orang tua saya hanya ngos-ngosan mikir satu orang kuliah, saya berusaha keras mendapatkan beasiswa. Praktis ortu membayar uang sekolah saya hanya setahun, selebihnya saya bisa membayar sendiri dari beberapa kali beasiswa, bahkan saat sudah lulus masih punya tabungan, yang nantinya dipakai untuk ongkos daftar kuliah S2 Ilmu Perpustakaan di UI (berhubung saya masih ingin sekolah lagi, dan ortu tidak mungkin dong dimintai ongkos, jadi sadar dong...), sekaligus berburu beasiswa berikutnya yang akhirnya membawa saya tinggal dan bekerja di Jakarta sampai sekarang. Beasiswa itu pula yang membuat saya serasa sudah bekerja, kerjanya disuruh sekolah, bahkan masih bisa dipakai untuk membayari kuliah adik saya yang saat itu sudah masuk Brawijaya, Malang. Lumayan sih duitnya he..he.. dan tanpa ikatan dinas. Saya menikah dengan Krist Haksa tahun 2000, resepsi di Gedung SKB yang sekarang jadi universitas itu. Mestinya Esti masih di rumah Perumnas saat itu, tapi saya tidak ingat lagi apakah undangannya sampai juga ke Esti atau tidak, dan sampai sekarang masih berdua saja, belum berencana untuk memiliki keturunan. Membaca email Esti-Andy soal selonjor di kereta, saya jadi ingat, dulu menjelang kami menikah, kami harus sering bolak-balik Demak-Jakarta dengan kereta butut itu, berhubung kami manikah di Gereja dan catatan sipil, jadi prosedur agak ribet. Kalau dipikir-pikir, kok ya tahan ya... Kalau Esti dan Andy cuma dengar koor di Cirebon, eh malah Mas Krist sempat ketumpahan nasi gorengnya restorasi pas lagi enak tidur gara-gara petugas keretanya kesandung orang yang pada selonjor itu tadi (untung nasi goreng, bukan nasi rawon ha..ha..). Kalau Krist Sapta alias adik iparku yang dulu pernah pacaran sama Erik, Kauman, sekarang sudah menikah dengan 2 anak, tinggal di Sidoarjo, ke! rja di Surabaya (sempat kerja di Jakarta dan Bogor tahun 2000-an, malah pernah ketemu suaminya Puji Hastuti Tanubayan). Saya sendiri bekerja di the Library of Congress, Jakarta mulai saat tengah-tengah bikin thesis (soalnya beasiswa sempat nyangkut entah dimana saat UI mulai otonomi kampus, jadi harus kerja dong biar kuliah jalan terus. Ndilalah kersaning Gusti Allah kok ya pas cari kerjaan karena kepepet, saya diparingi kesempatan untuk bekerja di perpustakaan, sesuai dengan cita-cita, mana perpustakaannya yang sudah mbah-nya perpustakaan, dan di bagian yang sangat saya sukai, yang tidak akan mungkin ditemukan di perpustakaan manapun di Indonesia. Mungkin yang nonton National Treasure-nya Nicholas Cage akan tahu seperti apa tempat saya kerja). Saya masih ingin melanjutkan studi, tetapi sayang, masih kepentok karena di Indonesia belum ada program doctoral degree-nya. Jadi mesti keluar dari Indonesia. Cuma kalau untuk keluar sekarang kok masih sayang, soalnya kami masin! g-masing sedang enjoy dengan pekerjaan. Ya... hidup kan harus ada prioritas, dan saat ini kami masih asyik kerja dan jalan-jalan. Esti, kalau pulang ke Perumnas, kontak lah. Karena orangtuaku sekarang tinggal di Perumnas, tapi di Perumnas II, sejak ibuku pensiun tahun lalu. Kalau soal Fahmi Hartari, yang puteranya Pak Mustari, sekarang ikut suaminya di Solo kalo gak salah. Ibunya Amik (nama panggilan Fahmi) sekarang di rumah saja, berhubung habis kena stroke. Jadilah Ibunya Amik yang tidak pernah punya pembantu sekarang dibantu rewang. Aku dapat cerita ini dari ibuku, yang sempat nengok ke rumahnya. Barangkali pas kami pulang, bisa ketemu. Ketemuan di Jakarta juga boleh kalau pas transit. Kami pasti pulang saat Natal. Tapi diluar Natal sering pulang juga, kapanpun kami pengen he..he... (cuma gak sanggup lagi dengan kereta butut itu). Esti bisa juga visit di facebook, cuma aku nebeng aja pakai nama Krist Haksa. Kami berdua masih punya mimpi keliling Eropa, mungkin baru bisa tahun depan. Pasti kami kontak Esti, setidaknya untuk cari info lokasi wisata yang wajib dikunjungi dan hotel mana yang lokasinya baik (soalnya kami gak suka pake group tour dari sini, sukanya pake seat in coach kalo sudah sampai di tujuan aja). Jadi, ceritanya tahun ini menambah tabungan, baik tabungan uang maupun tabungan cuti, dan memperpanjang paspor dulu. Ya...berhubung orang perpustakaan, jadi sebelum pergi ya baca dulu, biarpun kalau sekarang yang dibaca bukan cuma buku. Ditunggu kabar selanjutnya ya... Salam, Ryrin (Waryn Korinta) ________________________________ Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger <http://get.live.com/messenger/overview>
