--- Pada Ming, 1/3/09, Newsletter Oase <[email protected]> menulis:
Dari: Newsletter Oase <[email protected]>
Topik: [oase] [resend] Kisah Kehidupan: Senyum di senja hari
Kepada: [email protected], [email protected]
Tanggal: Minggu, 1 Maret, 2009, 9:07 PM

Arsip artikel ini telah diupdate pada: Ahad, 21 September 2003, oleh: abufaiz97
http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=15

Kisah Kehidupan: Senyum di senja hari

Annida No.12 Th.XI
April 1984
Menjelang Ujian Akhir SMP
Gempa hebat melanda keluargaku, dan telah memporakporandakan bangunan hatiku.
Allahu Robbi, kenapa Bapak tega melakukan semua ini? Tak tega melihat ibu yang
diam mematung dengan air mata berlelehan. Sementara Pak Jono, Pak Dodi, teman
sekantor Bapak menjelaskan dengan bahasa yang dibuat sehalus mungkin. Aku
mengintip takut-takut dari lubang kunci, raut wajah Ibu yang tiba-tiba menegang,
lalu air mata yang tumpah bak banjir bandang. Bapak dipecat, karena
menyelewengkan dana kantor dan terbukti melakukan tindakan asusila dengan rekan
wanitanya di kantor. Bahkan, wanita itu telah diberinya rumah di Kecamatan Pare,
tiga puluh kilometer dari rumah kami. Bapak dipenjara atas tuduhan korupsi dan
berselingkuh dengan istri orang.
Aku tahu, bukan sekali ini saja Bapak mengkhianati Ibu. Sebagai anak tertua aku
sudah bisa membaca hubungan kedua orang tuaku. Namun baru kali ini kulihat Ibu
begitu terpukul. Tentu, dengan dipecatnya Bapak, berarti asap tak akan mengepul
lagi di tungku keluarga kami. Sementara lima orang anak perempuan setiap hari
membutuhkan jatah nasi yang tidak sedikit. Melihat Ibu bermuram durja, semangat
belajarku hilang seketika.
 
Mei 1984
Ujian Akhir, 03.00 Pagi
Suara lantunan ayat-ayat suci membangunkanku dari lelap. Ibu! Begitu biasanya
beliau membangunkan kami untuk shalat lail. Segera kutepuk Tini untuk menyusul
Ibu. Mata adikku masih memerah menahan kantuk. Tapi kusemangati dia, “Ayo,
katanya ingin berdoa, Tini ingin minta apa?” Malam begini dingin menyambut
kami di kamar mandi. Air terasa seperti butiran es. Kuusap mataku dan mata Tini
sambil tersenyum, sekejap kemudian kesegaran mengaliri seluruh tubuh. Lenyap
sudah kantuk yang memberati mata. Ibu menyambut kami dengan senyum, tapi….
Matanya begitu sembab, pasti Ibu habis menangis. “Mana adik-adikmu yang lain,
Nduk?” kami saling berpandangan, lalu menggeleng dan tersenyum malu. Habis,
sulit sekali membangunkan Lastri dan Tinah, bisa ditendang aku nanti, maklum,
mereka masih kecil. Usai tahajud, aku terus mengambil buku dan belajar. Ibu
menemani sambil meneruskan tadarus Qur’an-nya. Ibu…. Bagaimana orang sealim
Ibu bisa mendapatkan orang seperti Bapak. Ah, ngelantur aku ini, kalau tidak ada
Bapak, berarti aku juga tidak ada.
 
Akhir Mei 1984
Akhirnya, selesai sudah ujian akhirku. Alhamdulillah leganya. Setidaknya aku
mulai bisa memikirkan yang lain untuk membantu mengurangi beban Ibu. Yah, mau
bagaimana lagi, Ibu memutuskan menjual sebagian tanah warisannya untuk menebus
Bapak dari penjara. “Bagaimana pun dia bapakmu, Wuk, sejahat dan sebejat apa
pun kelakuannya, darahnyalah yang mengalir di tubuhmu.” Aku juga tak tahu
musti harus bagaimana. Rasanya kaget tiba-tiba ikut terlibat dalam permasalahan
rumit ini. Tapi Ibu butuh teman bicara. Dan aku, anak sulungnyalah yang bisa
melakukan itu. Ya, mesti cuman sebatas mendengarkan. Menanti Bapak pulang
seperti menunggu datangnya makhluk asing dari planet lain. Ada rindu, ada benci,
ada juga rasa asing yang tak bisa kumengerti. Entahlah, dari dulu kami memang
tak bisa dekat. Bapak menginginkan anak laki-laki, sementara kelima anaknya
perempuan. Barangkali itulah yang membuat sulit sekali diajak bermanja. Suatu
sore, saat matahari senja merah saga memenuhi langit, Bapak benar-benar pulang.
Sosoknya yang tinggi besar memenuhi pintu rumah. Dan Ibu menyambutnya seperti
biasa, dengan mencium tangan Bapak, dan menyuruh kami melakukan hal yang sama.
Tanpa beban, seolah tak terjadi apa pun yang pernah mengguncang keluarga kami.
Kucari dendam di mata Ibu, tapi ya Rabbi, mata itu begitu ikhlas dan tabah.
Sementara hatiku sudah mulai tertorehi luka.
 
Agustus 1984
Perekonomian keluarga kami benar-benar terpuruk. Aku tak bisa melanjutkan
kuliah. Jangankan untuk mendaftar SMA, untuk makan sehari-hari pun mulai
kesulitan. Bapak berpamitan untuk mencari kerja di Bogor. Memang di kota kecil
seperti Kediri, mencari pekerjaan baru bukanlah hal mudah, apalagi untuk orang
yang namanya sudah cacat seperti Bapak. Ibu mengambil alih perekonomian dengan
membuka warung pecel di depan rumah. Pagi buta sampai siang, Ibu mengurus warung
pecelnya. Sore hingga malam membuat krecek, makanan ringan dari irisan singkong
kering yang digoreng dan dibumbuhi gula merah serta cabai. Aku membantu Ibu
sekuatnya. Aku punya kewajiban moral untuk membantunya, kalau bukan aku, siapa
lagi? Bangun pukul empat pagi kini tak terasa dingin lagi. Sepagi itu aku dan
Ibu mulai ke pasar. Tiba di rumah, kami berbagi tugas. Aku mencuci baju, Tini
membersihkan rumah. Setelah beres, kami membantu Ibu menyaingi sayuran. Ketika
adik-adikku berangkat sekolah aku mulai menyiapkan potongan-potongan singkong
untuk digoreng. Bila malam tiba, sambil mengajari mereka, aku dan Ibu membungkus
krecek ke dalam plastik agar esok pagi bisa kuedarkan ke warung-warung dan pasar
Kandat. Ya Allah, Pengatur nasib umat, aku sangat bangga pada Ibu. Di tengah
himpitan ini beliau masih terus berkhusnudzan kepada-Mu, terus mengajari kami
bersabar, dan terus membimbing kami dengan cintanya. Ya Allah, berikanlah segala
kebaikan-Mu untuk Ibu dan kami sekeluarga. Dan berilah kesadaran untuk Bapak, ya
Allah, bahwa kami adalah putri-putri yang juga mengharap cintanya. Amin.
 
Agustus 1986
Bapak datang. Datang! Setelah sekian lama tanpa kabar dan kiriman apa pun.
Datang dengan sederet tuntutan dan lecehan pada Ibu. Tuntutan atas kehadiran
anak laki-laki yang tak mampu dilahirkan Ibu. Dan satu pelecehan lagi yang
membuat darahku berpacu ke ubun-ubun, beliau mengaku sudah menikah di Bogor dan
mempunyai seorang anak laki-laki. Tuntutan untuk menjual sisa tanah, dengan
alasan anak laki-laki lebih berhak memperoleh daripada kami. Semua dikatakan
Bapak saat kami kesulitan untuk sekedar mengisi perut. Entah keberanian apa yang
membuatku lancang kepada Bapak. Kupukul dan kucakar lelaki yang kusebut bapak
itu sehingga sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Ibu yang tersimpuh di
atas tubuhku dengan isak pelan, dan umpatan kasar Bapak, “Perempuan sialan,
perempuan pincang! Seperti ini kau didik anakmu? Huh, dari dulu aku memang malu
punya istri seperti kamu, dasar pincang!” Kali ini giliran Ibu yang mendapat
tamparan Bapak. Sakit…. Sakit hatiku mendengar Ibu diumpat seperti itu.
Kaki Ibu memang tidak normal, terserang polio sedari kecil. Tapi bukan berarti
ia tidak sempurna mendidik kami. Sungguh ia satu-satunya wanita yang membetot
habis rasa cinta dan hormatku lebih dari apa pun. Satu lagi luka tertoreh.
Kupandang Bapak dengan mata menyala. Biar….. biarlah Bu, Bapak mengambil tanah
itu. Kita buktikan bahwa kita bisa hidup tanpa bantuannya bila itu yang Bapak
mau. Aku berjanji, aku bertekad, akan kulakukan apa pun untuk Ibu dan
adik-adikku.
 
Januari 1990
Rumah Makan Padang “Siang Malam”, Gringsing, Kendal
Aku membawa truk bermuatan kelapa memasuki pelataran rumah makan. Sisa setengah
perjalanan lagi menuju Jakarta. Ahmad dan Pak Gono membuka mata. Dengan sopan
aku menyilahkan mereka untuk beristirahat. Sementara aku harus berburu waktu
mencari musholla, shalat Isya’. Celana hitam, jaket gombrang coklat, dan
jilbab kaos hitam telah menyulapku menjadi sosok yang cukup dikenal di rumah
makan ini. Pemiliknya Pak Haji Yassin juga kenal denganku. Karena itu aku
memilih tempat ini sebagai tempat istrirahat bila nyopir ke arah barat. Selain
lingkungannya apik, baik, juga ada musholla yang nyaman tempat aku istirahat
sejenak. Sesekali bahkan Bu Haji menyuruhku istirahat di ruang belakang mereka.
Sementara aku istirahat, Ahmad biasa mencuci kaca depan truk, mengisi air
radiator, mengecek mesin, dan ban, serta tak lupa menyiapkan sebotol kecil kopi
hangat di samping jok untuk persiapan nanti. 
Truk ini milik Pak Jono, teman Bapak. Aku yang dipercaya mengelolanya dengan
sistem sewa. Dulu, hampir tiap hari aku keluar masuk desa untuk menawarkan jasa
transportasi ini. Kini tinggal memetik hasilnya. Para petani dan pedaganglah
yang datang apabila membutuhkan truk sekaligus sopirnya. Aku tak pernah
bercita-cita menjadi seorang sopir. Tidak, tidak karena itu dunia laki-laki yang
keras dan penuh bahaya. Tapi aku tak punya pilihan lain. Hanya pekerjaan ini
yang bisa menghasilkan uang paling banyak. Sekali nyopir aku bisa mengantongi
uang lima puluh ribu sampai seratus ribu. Bahkan bila musim panen, aku bisa
memegang hingga satu juta rupiah sebulan. Alhamdulillah. Karena selain menyopir,
aku juga memasok beberapa komoditi pasar seperti kelapa, pisang, semangka ke
beberapa kota sekeliling Kediri. Tentu, dengan bagi hasil dengan Pak Jono. 
Ibu terus berjualan pecel dan membuat krecek. Kini hanya dibantu Sundari karena
Sutini dan Sulastri sudah kuliah di Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.
Sedang Partinah memilih ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Bahagia rasanya
melihat mereka terus sekolah, lebih bahagia karena mereka tak pernah
mengecewakan lelehan keringatku. Mereka belajar keras, bahkan sangat keras untuk
membahagiakan Ibu dan kakaknya yang sopir truk ini. Sekali waktu, Tini pernah
marah padaku, ia minta diijinkan bekerja untuk ikut membantu ekonomi keluarga.
Tapi adikku itu mengkeret begitu melihatku memandang tajam ke arahnya.
Adikku…. Maafkan Mbak Tiwuk. Biar Mbak Tiwuk saja yang berkorban, satu saja!
Kalian semua jadilah manusia yang berhasil. Dengan lulus UMPTN, dengan kuliah
yang benar, dengan cepat lulus, itu sudah cukup membantu Mbak Tiwuk. Sudah
membuat Mbak bahagia. Jangan pikirkan yang lain. Doa Mbak untuk kalian semua.
 
Juli 1993
Rumah Makan “Ayem Tentrem”, Pelabuhan Ketapang
Sudah larut malam ketika aku beristirahat, menunggu kapal yang akan berangkat
ke Pulau Bali. Ini rute pertamaku. Agak gamang juga. Tapi Ahmad, kenekku
meyakinkan bahwa ia pernah ke Denpasar sebelumnya, jadi aku tak perlu khawatir
tersesat. Deretan truk terparkir dalam keremangan pelabuhan. Aku turun, mencari
musholla dan tempat nyaman untuk menyantap rantang makanan bekal dari Ibu.
Menjelang pukul dua, kudengar keributan di sekitar trukku. Ahmad
berteriak-teriak, aku tertegun. Segerombolan preman tengah merubungnya. Tukang
palak rupanya. Sementara Pak Sabar, pemilik kayu gelondongan yang kuangkut
tergigil pucat pasi di sisi truk. Pemalakan tidak tanggung-tanggung karena kami
orang baru, diharuskan membayar biaya keamanan sebesar seratus ribu. Sejenak
mereka melongo begitu tahu sopirnya wanita. Tapi tak pernah kugunakan sebutan
itu untuk bersikap lemah, terlebih ini menyangkut hak untuk mencari penghidupan
halal, hak asasi setiap umat untuk meneruskan hidupnya.
Setelah gertakan untuk melapor polisi tak ditanggapi, terpaksa kuladeni
tantangannya. Ahmad satu tingkat di bawahku di perguruan Perisai Diri. Jadi aku
bisa mengandalkannya. Seratus ribu bukan jumlah yang sedikit. Apalagi Sulastri
membutuhkan biaya untuk praktikumnya. Perkelahian berjalan tak seimbang, dua
lawan tujuh. Kami bertarung sengit, tiga orang berhasil kami buat jatuh, seorang
yang bertindak sebagai pemimpinnya berbuat nekad, saat tendangan kaki kiriku
kuarahkan ke si brewok, ia menohok dari samping. Cras… kaki berbalut sepatu
kets-ku berlumuran darah. Perih, darah keluar dengan deras. Aku masih bisa
menangkis dua, tiga serangan, setelah itu gelap. Saat sadar aku telah berada
dalam salah satu bangsal di RSU Banyuwangi. Menurut dokter, setelah sembuh nanti
kemungkinan aku akan mengalami sedikit pincang. Sejumlah memar juga menghiasi
leher dan punggung. Rupanya saat aku sudah jatuh mereka masih menendangiku.
Untunglah Pak Sabar datang tepat pada waktunya dengan dua orang polisi
pelabuhan. Aku bersyukur karena Ahmad dan Pak Sabar tak terluka. Ah, peristiwa
pahit. Tapi tak akan melemahkan semangatku untuk terus mencari nafkah, karena
lima bulan lagi Sundari lulus SMA.
 
Februari 1995
Kutuntun Ibu ke dalam ruangan penuh spanduk dan karangan bunga. Subhanallah,
matahari pagi pucuk-pucuk pinisium ikut tersenyum memandang kami. Hari ini
Sutini disumpah menjadi seorang dokter. Map hitam berlogo almamater diserahkan
kepada Ibu dan aku sambil menahan tangis. “Ini…. Untuk Ibu dan Mbak
Tiwuk.”
Kupeluk adikku, kuusap keningnya.
“Seandainya setiap kakak di dunia ini seperti Mbak Tiwuk…..,” ujarnya
dengan mata basah.
“Seandainya semua adik di dunia seperti kalian, tidak akan ragu seorang kakak
melakukan apa pun,” kami berpelukan, kurengkuh bahu adikku, Tini yang bulan
depan akan mengakhiri masa lajangnya, disunting oleh teman seangkatan, pemuda
soleh yang bulan kemarin bersama keluarganya mengkhitbah Tini di rumah kecil
kami. Jemputlah masa depanmu Adikku…. Mbak Tiwuk ikhlas kau langkahi.
 
Mei 1997
Rumah Makan “Baranangsiang”, Bogor
Menyebut kota ini menimbulkan luka lagi yang menganga, Bapak….. pelan kueja
namanya. Nama laki-laki yang seharusnya menanggung beban di atas pundakku.
Pernikahan Tini kemarin beliau hadir, juga saat Tinah diakadkan. Semanis apa pun
wajah kupasangkan, tak bisa membangun jembatan kemesraan anak beranak di antara
kami. Hati ini terlanjur sakit. Pada saat kupandang wajah Ibu, masih dengan
tulus yang sama menyambut kepulangan Bapak. Alangkah luas telaga maafmu, Ibu.
Sementara hanya setitik hormat yang masih kupunya. Menurut berita yang kudengar,
usaha Bapak di Bogor maju pesat, dengan seorang istri dan dua anak laki-laki
yang diidamkannya. Syukurlah jika Bapak bahagia. Semoga waktu akan mengurai
kebekuan hati ini hingga terbentuk maaf yang tulus untuknya. Karena aku tak mau
selamanya jadi anak durhaka. Bukankah Allah telah begitu adil dengan apa yang
telah kami terima selama ini? Sungguh aku bersyukur…….
 
Mei 2000
Rumah berdinding setengah bata setengah bambu kami terasa bertambah tua, atap
dapur bahkan nyaris dorong. Seperti juga kerut pada Ibu, juga wajahnya yang
makin mengental. Jika ada kesempatan untuk bernafas, inilah saatnya. Keempat
adikku sudah mentas semua. Tinggal Sundari, itu pun sudah hampir mandiri, karena
selain menyelesaikan S2, ia juga mengajar di sebuah yayasan. Kini perhatianku
beralih ke Ibu. Ibu yang membesarkan kami dengan kedua tangannya, dengan kakinya
yang terseok, yang selalu membentengi kami melalui doa yang rutin dipanjatkan di
setiap malam, melalui puasa Senin-Kamis, dengan keprihatinannya, juga dengan
sabar dan cintanya.
“Wuk, bisa nggak ya niat Ibu kesampaian. Ibu ingin sekali melihat
Baitullah.” Satu kata itulah yang menjadi perhatianku kini. Maka, ketika Tini,
Tinah, dan Lastri menawarkan diri untuk merenovasi rumah, kalimat itu kuulang
pada ketiga adikku. Dengan sisa tabungan dan sumbangan mereka, aku berharap bisa
memenuhi permintaan Ibu.
 
Juli 2000
“Dunia begitu indah karena kami memiliki kakak seperti engkau. Terima kasih,
Mbak….” Kueja kalimat itu berulang. Sebuah cincin permata berlian menyertai
kertas itu. Ah, aku lupa, hari ini aku berulang tahun. Aku memang selalu lupa
dan tak pernah memikirkannya. Setitik air membasahi pipi, sudah berapa lama aku
tidak menangis? Kucium kertas itu. Adik-adikku, dunia pun sangat indah karena
aku memiliki kalian, juga Ibu. Terima kasih ya Alah.
 
Februari 2001
Garuda Indonesia, Boeing 737, Jamaah Haji Kloter 12
Pada Allah semua tujuan hidup bermuara. Tak pernah kubenci dan kusesali
hidupku. Karena aku telah memandang semuanya dengan syukur dan karenanya sepahit
apa pun kenyataan akan tetap terasa indah. Inna ma’al ‘usri yusro,
sesungguhnya dibalik kesulitan itu ada kemudahan. Allah akan memberi kemudahan
itu pada setiap hambanya yang sabar. Sering aku tak percaya bisa melakukan semua
ini, karena tugas itu nyaris usai. Allah Yang Maha Pemurah, telah memberiku
kesempatan hidup lebih panjang dari yang divonis dokter. Gadis dengan cacat
jantung bawaan seperti aku…… rasanya tak percaya. Allah, jika Engkau
ijinkan, berilah hamba waktu lagi minimal untuk bisa berjumpa dengan Bapak, agar
kebekuan ini mencair. Untuk sebuah kata maaf yang belum pernah bisa kukeluarkan,
karena aku, Tiwuk Hartati, pernah mempunyai doa yang sangat jelek untuknya.
Biarlah maaf itu tumbuh seperti sejuta telaga kasih milik Ibu.
Awan putih menyembul di balik kaca, bararak meniupkan simponi syahdu. Seolah
aku sedang duduk di antaranya, membaca tanpa gerak bibir, bahasa yang santun dan
dewasa, mengantarku dalam kedalaman rasa tiada tara. Ibu memejamkan mata di seat
sebelah, tenang dan damai. Oh Ibu, akhirnya penantianmu usai sudah. Lihatlah Bu,
lihat awan itu. Ia akan mengantar kita ke suatu tempat yang paling Ibu dambakan.
Kuusap lembut jemari kisut dan kasar itu. Ibu…. Lelah guratan hidupmu,
membayang pada raut wajah itu, tapi tak bisa mengurangi keagungan cinta milikmu.
Kukecup lembut dan kubawa tangan itu ke atas dada. Di bandara tadi,
harta-hartamu mengantar kepergian kita dengan haru: Dokter Sutini, Dokter
Sulastri, Insinyur Partinah, dan calon guru kita Sundari, juga suami-suami
mereka dan keponakanku yang lucu-lucu: Hanif, Asfa, dan Abdus. Tawamu jernih dan
tulus ketika mencium mereka satu per satu, mutiara hidupmu. Wajah damaimu Ibu,
adalah bentuk kepasrahan seorang hamba dalam menjalani garis hidup Sang
Pencipta, tanpa keluh dan putus asa. Kepasrahan dalam ketegaran yang senantiasa
yakin akan pertolongan Khaliknya. Kurasakan burung besi ini semakin meninggi,
memecah udara, diiringi senyum hangat pramugari-pramugari anggun berbaju
muslimah yang menawarkan makanan. Kuambilkan satu untukmu, Ibu….
Garuda pun membelah angkasa menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Semakin
jauh meninggalkan Jakarta, meninggalkan Kediri. Dan satu harapan lagi, dengan
izin-Mu akan terwujudkan. Allah Maha Besar!





------------------------------------

Untuk berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseislam.com/modules.php?name=Oase_Subscribe
Untuk berhenti berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseislam.com/modules.php?name=Oase_Subscribe&op=Unsubs
Yahoo! Groups Links






      Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan mereka 
dari email atau jaringan sosial Anda sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke