Bagus ....

Thanks
Best Regards
 
Andy Wahyu Daryanto
Pfizer Indonesia
Off.   62-21 8710521 ext. 108
Cell. 62-812 1008325
 
Disclaimer - This message and any attachments are confidential and may
contain privileged information intended only for the use of the
addressee(s) named above. If you are not the intended recipient or the
person responsible for delivering this message to the intended
recipient, you are hereby notified that any use, dissemination,
distribution or reproduction of this message is prohibited. If you have
received this message in error, please notify sender immediately by
return e-mail and destroy any electronic or paper copy of this message.
Sender advises that this email and any attached files should be scanned
to detect viruses and accepts no liability for loss or damage resulting
from the use of any attached files.
 
-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, April 01, 2009 10:35 AM
To: [email protected]
Subject: Siapa sebetulnya Mario Teguh


Petikan Wawancara Mario Teguh dengan
 SUFINEWS, untuk menjawab siapa

 sebetulnya beliau..



Pak Mario, saat memberikan terapi atau memotivasi, di antara Ilmu

 Kejiwaan Barat dan Ilmu Kejiwaan dalam agama, mana yang anda gunakan?



Kalau Anda perhatikan penjelasan saya diatas, sebenarnya "peta" yang

 ada dalam Kecerdasan Emosional yang saya tawarkan merupakan gugusan

 pilar dari kebenaran, keindahan dan kebaikan. Hal ini didasari oleh

 fitrah kehidupan bahwa manusia dalam hidup itu tak lepas dari

 menginginkan kebaikan, menyukai keindahan dan mencari kebenaran. Tapi

 dalam realitas kehidupan, tiga hal ini lebih sering dirasakan oleh

 manusia sebagai tiga hal yang berdiri sendiri-sendiri. Misalnya

 kebenaran yang dicari ternyata malah membawa kepedihan, keindahan yang

 disukainya ternyata tidak membawa kebaikan, atau kebaikan yang

 diusahakan malah bertentangan dengan kebenaran. Pada saat yang demikian

 manusia tidak dapat menikmati keadaan itu secara sempurna lalu mengidap

 split personality atau kepribadian yang terpecah belah. Nah kira-kira

 melalui apa manusia dapat menemukan dan merasakan kebenaran, keindahan

 dan kebaikan sejati (haqiqi; red)? Dalam beragama bukan?!



Wah penjelasan Anda nyufi banget loh ?!



Ha...ha...ha...terimakasih, Mas. Tapi terus terang. Dalam

 menjalankan tugas (baik sebagai pembicara publik maupun motivator) saya

 menghindari komponen-komponen komunikasi yang terlalu mengindikasikan

 agama Islam secara formal atau verbal.



Kenapa ?



Buat saya, ketika kita betul-betul dengan sadar sesadarnya mengatakan

 "ya !" terhadap keberadaan dan keesaan Allah (laa ilaaha illallaah;

 red) kita tak perlu repot-repot lagi memikirkan lebel-lebel formal

 ketuhanan. Pokoknya terus berlaku jujur, menjaga kerahasiaan klien,

 menganjurkan yang baik, menghindarkan perilaku, sikap dan pikiran

 buruk, saya rasa ini semua pilihan orang-orang beriman. Itu alasan

 pertama.

 Alasan kedua, Islam itu agama rahmat untuk semesta alam loch. Berislam

 itu mbok yang keren abis gitu loch ! Maksudnya jadi orang Islam mbok

 yang betul-betul memayungi (pemeluk) agama-agama lain. Agama kita itu

 sebagai agama terakhir dan penyempurna bagi agama-agama sebelumnya.

 Agama kita puncak kesempurnaan agama loch. Dan karenanya kita harus

 tampil sebagai pembawa berita bagi semua. Kita tidak perlu

 mengunggul-unggulka n agama kita yang memang sudah unggul dihadapan

 saudara-saudara kita yang tidak seagama dengan kita. Bagaimana Islam

 bisa dinilai baik kalau kita selaku muslim lalu merendahkan agama (dan

 pemeluk) agama lain.



Apakah dalam pandangan Anda semua agama itu sama ?



Ha...ha...ha...ya jelas tidak sama toch, Mas. Tapi oleh Tuhan

 manusia diberi kebebasan memilih diantara ketidak samaan itu. Saya
tidak

 akan mengatakan bahwa perbedaan itu rahmat, tapi saya akan menunjukkan

 Windows Operating System yang dikeluarkan Microsof. Masih ada toch Mas

 orang yang masih menggunakan Windows 95? Masih ada juga kan orang yang

 menggunakan Windows 98 atau Windows 2000? Dan Anda sendiri sekarang

 menggunakan Windows XP kan?. Begitu juga dengan agama-agama Tuhan, Mas.

 Ada versi-versi yang sesuai untuk zamannya, untuk kelengkapan fikiran

 di zaman itu dan disana ada jenis kemampuan masing-masing orang dalam

 menyikapinya. Masak Anda mau memaksa orang lain untuk memakai XP pada

 orang yang kemampuannya cuma sebatas memiliki Windows 95? Tidak toch!?

 Alangkah indahnya kalau semua orang Islam ketika bicara dapat diterima

 semua pemeluk agama lain.



Contohnya seperti apa pembicaraan yang dapat diterima semua pemeluk

 agama ?



"Anda adalah direktur utama dari perusahaan jasa milik Anda sendiri.

 Anda adalah CEO dari kehidupan Anda sendiri. Anda sebenarnya,

 sepenuhnya bertanggungjawab atas bisnis kehidupan Anda dan apapun yang

 akan terjadi pada diri Anda sendiri. Anda bertanggungjawab atas
semuanya

 antara lain, produksi, pemasaran, keuangan, RND dan lain sebagainya

 diperusahaan kehidupan Anda. Demikian pula Anda sendirilah yang

 menentukan berapa besar gaji Anda, berapa income Anda. Bila Anda tidak

 puas dengan penghasilan yang Anda terima, Anda bisa melihat didekat

 cermin Anda dan menegosiasikan pada bos Anda, yakni Anda sendiri yang

 ada didalam cermin," begitu kira-kira. Nah, menurut saya etos demikian

 tak dapat dibantah oleh semua ajaran agama-agama yang ada didunia.



Apa yang anda contohkan bukan malah menujukkan bahwa manusia adalah

 segala-segalanya. Terkesan, seolah-olah Tuhan tak memiliki peran
apa-apa

 disana ?



Di atas saya mengatakan bahwa alasan kita tersenyum di pagi hari kepada

 isteri dan anak-anak, menyambut mereka dengan santun, berusaha datang

 tepat waktu untuk memenuhi janji, itu semua bukan semata-mata karena

 didasari atas kesantunan kita sebagai manusia, melainkan kita ingin

 mengabdi kepada-Nya. Begitu juga dengan contoh barusan, itu sebenarnya

 merupakan cermin atas pesan agama yang meminta totalitas kita dalam

 menjalankan sebuah amanah.. Apalagi jika kita bicara tentang "cermin",

 akan sangat panjang pembicaraan kita. Dan setiap spirit tidak selalu

 harus ada embel-embel nama surat atau ayat dari kitab suci tertentu.

 Bukankah seorang jenderal paling ateis pun ketika melepaskan pasukannya

 ke medan perang tak dapat menghindarkan diri dari ucapan, "Semoga

 kalian sukses!". Kalimat "Semoga" disitu menyimpan harapan campur

 tangan kekuatan dari Yang Maha Kuat. Biarlah Tuhan menjadi sesuatu yang

 tersembunyi dikedalaman relung hati kita yang paling dalam.



Apa arti sukses menurut anda ?



Perjalanan 50 tahun hidup yang sudah saya jalani menyimpulkan bahwa

 sukses itu tidak selalu berarti mendapat piala atau pujian, meski tak

 ada salahnya jika kita mendapatkan keduanya. Hanya saja itu semua bukan

 kriteria dari sukses itu sendiri. Karenanya tak jarang orang kemudian

 sulit menemukan kesuksesan-kesukses an yang pernah diraihnya

 Secara sederhana sukses adalah bagaimana kita keluar dari comfort zone

 kita dan mencoba menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan definisi

 ini Anda akan melihat begitu banyak kesuksesan yang bisa Anda lihat

 pada diri Anda. Kalau kemarin Anda baru bisa membantu satu orang, hari

 ini Anda bisa membantu dua dan besok Anda bisa membantu lebih banyak

 lagi, maka anda sukses. Dengan perasaan yang positif mengenai

 kesuksesan yang pernah Anda raih, maka Anda akan merasa semakin sukses

 dan semakin percaya diri dengan cita-cita, visi dan misi hidup Anda.

 Saya sangat tidak setuju dengan ungkapan, "Biarlah kita sekarang susah,

 asal nanti kita sukses". Ini jelas enggak pernah bakal sukses. Saya

 bertanya, dimana anak tangganya? Bukankah untuk meraih kesuksesan besar

 harus diawali dengan kesuksesan kecil dan sedang?. Ada pepatah yang

 mengatakan, "Sukses akan melahirkan sukses yang lain." Nah dari pepatah

 ini dapat diambil pelajaran, apabila kita semakin mudah untuk melihat

 kesuksesan kita dari hal-hal yang kecil, maka mudah bagi kita untuk

 mengumpulkan, mengakumulasikan dan melangkah mencapai sukses yang lebih

 besar. Percaya dech, dengan sukses kecil-kecil itu, cepat atau lambat

 sukses yang lebih besar akan menjemput Anda.



Penjelasan Anda mengingatkan saya akan nasehat Sufi Besar, Imam Ibnu

 'Atha'illah, yang mengatakan, "Tanamkanlah ujudmu dalam bumi yang sunyi

 sepi, karena sesuatu yang tumbuh dari benda yang belum ditanam, tidak

 sempurna hasilnya." Pertanyaannya, bagaimana memupuk rasa rendah hati

 dalam diri kita ?



O, ya ? Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk memupuk kerendahan

 hati diantaranya adalah dengan menyadari kembali bahwa seluruh yang

 kita punyai adalah anugerah-Nya, berkah-Nya atau rahmat-Nya. Karenanya

 katakan pada diri sendiri, "Aku masih ingin belajar", "Aku masih ingin

 mendapatkan input dari sekelilingku" , "Aku masih ingin mendapatkan

 pengetahuan- pengetahuan dari mana saja agar dapat lebih baik".



"Aku masih ingin belajar", "Aku masih ingin mendapatkan input dari

 sekelilingku" , "Aku masih ingin mendapatkan pengetahuan- pengetahuan

 dari mana saja agar dapat lebih baik". Jika ditilik dari kehidupan

 kita, umat Islam, nampaknya metode memupuk kerendahan hati yang Anda

 sampaikan masih menjadi problem besar tersendiri ya ?



Persis seperti yang saya perhatikan selama ini. Saudara-saudara kita

 sesama muslim masih terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan bergaul

 hanya pada lingkungannya sendiri. Malah yang lebih memprihatikan,

 dengan sesama muslim kalau ngundang pembicara dia tanya dulu, "Orang
itu

 madzhabnya apa ?." Dia tidak akan menerima orang yang tidak satu

 madzhab, satu aliran, dengannya. Padahal dinegara-negara maju sudah

 menjadi pemandangan yang biasa orang-orang Yahudi mengundang pembicara

 Islam, Hindu atau Kristiani, atau sebaliknya.

 Mereka sudah mantap dengan iman mereka sehingga mereka tidak khawatir

 dengan pembicara yang datang dari luar komunitas mereka. Mereka sangat

 yakin, bahwa dengan cara demikian (menghadirkan pembicara "orang
luar"),

 mereka dapat memperkaya wacana dan kehangatan batin. Kita, atau

 persisnya sebagian umat Islam, lupa bahwa salah satu cara mensyukuri

 perbedaan ditunjukkan bukan pada lisan akan tetapi dengan mendengarkan

 pendapat orang lain yang beda keyakinan agamanya.



Anda punya pengalaman keberislaman Anda yang inclusive itu?



Iya. Pernah beberapa peserta saya mengklaim materi yang baru saja

 selesai saya sampaikan menurut sudut pandang keyakinan agama mereka.

 Seorang peserta yang beragama Kristiani mengatakan bahwa materi saya
ada

 juga di ajarkan dalam Injil. Peserta lain yang beragama Islam mengaku

 bahwa materi yang saya sampaikan ada di Al-Quran surat al-Maidah.

 Peserta yang Budha menganggap bahwa materi saya itu penerapan dari

 Dharma-dharma Budha. Saya hanya mengembalikan semua apresiasi itu

 kepada-Nya.



Pengalaman lain ?



Masih banyak orang yang salah faham terhadap Islam. Ada satu pengalaman

 yang mengherankan sekaligus membuat saya prihatin. Dalam satu seminar

 di acara coffee break isteri saya didatangi salah seorang peserta

 penganut agama Kristen yang taat. Masih kepada isteri saya, orang itu

 memberi komentar bahwa saya menerapkan ajaran Injil dengan baik. Lalu

 dengan lembut, penuh kehati-hatian, isteri saya memberitahu bahwa saya

 seorang muslim. Sontak orang itu terperanjat saat mengetahui bahwa saya

 seorang muslim. Yang membuat isteri saya (dan kemudian juga saya)

 prihatin adalah ucapannya, "Loch, koq ada ya orang Islam yang baik

 macam Pak Mario !?" Saya pun terkekeh mendengarnya. Nah ini kritik dan

 sekaligus menjadi tugas kita semua untuk memperbaiki citra Islam.



JPurwanto

Paramadina Scholl of Business

Majoring Islamic Business and Finance

joko.purwanto@ metrodata. co.id

085284842204



      

Kirim email ke