Mas Luthfi,
 
Terima kasih telah memberikan komentar yang cukup 'membuka.  Tetapi,
mari kita berangkat dari prasangka baik, bukan saling mencurigai, ya ...
:) komentar saya di bawah, Mas ...
 
Sebenarnya saya udah dapet lama tulisan ini, hanya mau posting ke milis
kok merasa kurang pas - jadinya batal.  Karena Mas Andy udah terlanjur,
ya udah, hehe ...
 
Untuk diskusi selanjutnya via japri ya, Mas ...  dengan semangat
ukhuwwah tentunya ...
 
Piss ...  (Bos Indra, sorry kalau sudah spesifik - setuju kalau thread
ditutup saja :))
 
Salam,
ma2k
 

________________________________

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Luthfi Hakim
Sent: Thursday, April 02, 2009 11:16 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [SMUN 1 Demak] FW: Siapa sebetulnya Mario Teguh




Mungkin saya tidak sepenuhnya setuju dengan artikel di bawah ini....dan
bahkan saya akan mengatakan kepada pembaca yang muslim untuk
berhati-hati dalam menafsirkan setiap kalimat dan kata-katanya.......ini
merupakan salah satu bentuk perang pemikiran untuk membelokkan islam
yang benar......

Kalimat yang perlu diwaspadai :

1. "Buat saya, ketika kita betul-betul dengan sadar sesadarnya
mengatakan
"ya !" terhadap keberadaan dan keesaan Allah (laa ilaaha illallaah;
red) kita tak perlu repot-repot lagi memikirkan lebel-lebel formal".

komentar : apa yang dimaksud dengan lebel-lebel formal ? (apakah dengan
menyakini Allah itu satu, kita tak perlu sholat, puasa, zakat, tak perlu
pake jilbab (bagi muslimah)....? sama dengan syetan dunk...setan
menyakini bahwa Allah itu satu (syetan hanya beriman tapi tidak
bertaqwa...) 
--->  maksudnya bukan itu, tetapi menurut saya adalah tidak perlu
melabeli nama menjadi Ustadz Mario Teguh, tidak perlu pakai baju koko
saat siaran, atau atribut lain yang berkonotasikan label Islam.  Ini
juga menurut saya sebagai sebuah 'strategi' agar bisa diterima oleh
semua pihak ...
2. Begitu juga dengan agama-agama Tuhan, Mas.
Ada versi-versi yang sesuai untuk zamannya, untuk kelengkapan fikiran
di zaman itu dan disana ada jenis kemampuan masing-masing orang dalam
menyikapinya

komentar : Agama islam adalah agama yang terakhir....walaupun zaman
berubah seperti apapun, Islam tidak pernah berubah...jadi agama versi
mana lagi maksudnya...????ahmadiyah? kerajaan tuhan???satrio piningit
weteng bawono???atau JIL kah maksudnya ?sesuai dengan
zamannya??????????? 
--> Mas Luthfi, lebih dalam 'melihat', Mas ...  maksudnya bukan itu,
tetapi beliau mengibaratkan versi OS komputer itu dengan agama2 samawi
lainnya ...  yang nota bene 'tepat' pada zamannya.  Jelasnya gini
mungkin; kitab zabur, tauratm dan injil adalah untuk masa2 sebelumnya
...  dan kita meyakini Al-Qur'an adalah yang the latest, karena kita
ummat akhir zaman di bawah Rasulullah SAW.  begitu lho ... :)

3. Dan setiap spirit tidak selalu
harus ada embel-embel nama surat atau ayat dari kitab suci tertentu.
Bukankah seorang jenderal paling ateis pun ketika melepaskan pasukannya
ke medan perang tak dapat menghindarkan diri dari ucapan, "Semoga
kalian sukses!". Kalimat "Semoga" disitu menyimpan harapan campur
tangan kekuatan dari Yang Maha Kuat. Biarlah Tuhan menjadi sesuatu yang
tersembunyi dikedalaman relung hati kita yang paling dalam.

Komentar : justru setiap spirit itu harus ada embel-embel nama surat dan
ayat dari alqur'an...bukankah islam mengajarkan untuk berdoa kepada
Allah dimanapun, kapanpun, dan siapapun orangnya. harusnya mencontohkan
rosulullah saat berdoa  pada waktu berperang......bukannya malah
mencontohkan seorang atheis.... 
-->  sekali lagi, yang saya tangkap kok bukan begitu ya .. ini kembali
ke 'strategi' yang di atas tadi ... bukan pula kita diajak mencontoh
atheis.  Itu kan gambaran saja - lha kalau atheis saja begitu, apalagi
kita (yang muslim) ...  

Biarlah tuhan menjadi sesuatu yang tersembunyi dikedalaman relung hati
.....apa maksudnya????? jelas-jelas Allah bersemayam di Atas
Arsy'.....kenapa harus mengatakan tuhan itu tersembunyi????takutkah
tuhan????atau punya maksud lain dengan kalimat ini....????
 -->  maksudnya, sekali lagi yang saya tangkap, bahwa lebih penting
adalah selalu merasakan Dia ada di kedalaman hati yang terdalam, tidak
perlu terekspresikan dengan label formal - dan ini tentunya dalam
konteks Pak Mario Teguh siaran lho ...
Saya yakin kok kalau Pak Mario hadir dalam forum yang homogen (Muslim
misalnya), tentu beliau akan tersurat menyitir dalil, hujjah dsb -
karena memang pada tempatnya.
 
hmm ..  Allah berada di atas arsy? benarkah? berarti Dia perlu ruang,
dong? lha katanya juga Dia lebih dekat daripada urat leher ...  terus
dimanapun kita menghadap, selalu ada Wajah-Nya? bagaimana ini?  Kita
diskusi di 'luar' milis saja, yah .. :)

mohon maaf jika ada yang tidak berkenan...
Wallahu'alam...
 --> sama2, Mas ... mohon maaf juga 

Luthfi 



________________________________

From: "Daryanto, Andy Wahyu" <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, April 2, 2009 8:51:04 AM
Subject: [SMUN 1 Demak] FW: Siapa sebetulnya Mario Teguh



Bagus ....

Thanks
Best Regards

Andy Wahyu Daryanto
Pfizer Indonesia
Off. 62-21 8710521 ext. 108
Cell. 62-812 1008325

Disclaimer - This message and any attachments are confidential and may
contain privileged information intended only for the use of the
addressee(s) named above. If you are not the intended recipient or the
person responsible for delivering this message to the intended
recipient, you are hereby notified that any use, dissemination,
distribution or reproduction of this message is prohibited. If you have
received this message in error, please notify sender immediately by
return e-mail and destroy any electronic or paper copy of this message.
Sender advises that this email and any attached files should be scanned
to detect viruses and accepts no liability for loss or damage resulting
from the use of any attached files.

-----Original Message-----
From: achmad_chandra@ yahoo.com <mailto:achmad_chandra%40yahoo.com>
[mailto:achmad_chandra@ yahoo.com <mailto:achmad_chandra%40yahoo.com> ] 
Sent: Wednesday, April 01, 2009 10:35 AM
To: adhara.gusdianto@ allianz.co. id
<mailto:adhara.gusdianto%40allianz.co.id> 
Subject: Siapa sebetulnya Mario Teguh

Petikan Wawancara Mario Teguh dengan
SUFINEWS, untuk menjawab siapa

sebetulnya beliau..

Pak Mario, saat memberikan terapi atau memotivasi, di antara Ilmu

Kejiwaan Barat dan Ilmu Kejiwaan dalam agama, mana yang anda gunakan?

Kalau Anda perhatikan penjelasan saya diatas, sebenarnya "peta" yang

ada dalam Kecerdasan Emosional yang saya tawarkan merupakan gugusan

pilar dari kebenaran, keindahan dan kebaikan. Hal ini didasari oleh

fitrah kehidupan bahwa manusia dalam hidup itu tak lepas dari

menginginkan kebaikan, menyukai keindahan dan mencari kebenaran. Tapi

dalam realitas kehidupan, tiga hal ini lebih sering dirasakan oleh

manusia sebagai tiga hal yang berdiri sendiri-sendiri. Misalnya

kebenaran yang dicari ternyata malah membawa kepedihan, keindahan yang

disukainya ternyata tidak membawa kebaikan, atau kebaikan yang

diusahakan malah bertentangan dengan kebenaran. Pada saat yang demikian

manusia tidak dapat menikmati keadaan itu secara sempurna lalu mengidap

split personality atau kepribadian yang terpecah belah. Nah kira-kira

melalui apa manusia dapat menemukan dan merasakan kebenaran, keindahan

dan kebaikan sejati (haqiqi; red)? Dalam beragama bukan?!

Wah penjelasan Anda nyufi banget loh ?!

Ha...ha...ha. ..terimakasih, Mas. Tapi terus terang. Dalam

menjalankan tugas (baik sebagai pembicara publik maupun motivator) saya

menghindari komponen-komponen komunikasi yang terlalu mengindikasikan

agama Islam secara formal atau verbal.

Kenapa ?

Buat saya, ketika kita betul-betul dengan sadar sesadarnya mengatakan

"ya !" terhadap keberadaan dan keesaan Allah (laa ilaaha illallaah;

red) kita tak perlu repot-repot lagi memikirkan lebel-lebel formal

ketuhanan. Pokoknya terus berlaku jujur, menjaga kerahasiaan klien,

menganjurkan yang baik, menghindarkan perilaku, sikap dan pikiran

buruk, saya rasa ini semua pilihan orang-orang beriman. Itu alasan

pertama.

Alasan kedua, Islam itu agama rahmat untuk semesta alam loch. Berislam

itu mbok yang keren abis gitu loch ! Maksudnya jadi orang Islam mbok

yang betul-betul memayungi (pemeluk) agama-agama lain. Agama kita itu

sebagai agama terakhir dan penyempurna bagi agama-agama sebelumnya.

Agama kita puncak kesempurnaan agama loch. Dan karenanya kita harus

tampil sebagai pembawa berita bagi semua. Kita tidak perlu

mengunggul-unggulka n agama kita yang memang sudah unggul dihadapan

saudara-saudara kita yang tidak seagama dengan kita. Bagaimana Islam

bisa dinilai baik kalau kita selaku muslim lalu merendahkan agama (dan

pemeluk) agama lain.

Apakah dalam pandangan Anda semua agama itu sama ?

Ha...ha...ha. ..ya jelas tidak sama toch, Mas. Tapi oleh Tuhan

manusia diberi kebebasan memilih diantara ketidak samaan itu. Saya
tidak

akan mengatakan bahwa perbedaan itu rahmat, tapi saya akan menunjukkan

Windows Operating System yang dikeluarkan Microsof. Masih ada toch Mas

orang yang masih menggunakan Windows 95? Masih ada juga kan orang yang

menggunakan Windows 98 atau Windows 2000? Dan Anda sendiri sekarang

menggunakan Windows XP kan?. Begitu juga dengan agama-agama Tuhan, Mas.

Ada versi-versi yang sesuai untuk zamannya, untuk kelengkapan fikiran

di zaman itu dan disana ada jenis kemampuan masing-masing orang dalam

menyikapinya. Masak Anda mau memaksa orang lain untuk memakai XP pada

orang yang kemampuannya cuma sebatas memiliki Windows 95? Tidak toch!?

Alangkah indahnya kalau semua orang Islam ketika bicara dapat diterima

semua pemeluk agama lain.

Contohnya seperti apa pembicaraan yang dapat diterima semua pemeluk

agama ?

"Anda adalah direktur utama dari perusahaan jasa milik Anda sendiri.

Anda adalah CEO dari kehidupan Anda sendiri. Anda sebenarnya,

sepenuhnya bertanggungjawab atas bisnis kehidupan Anda dan apapun yang

akan terjadi pada diri Anda sendiri. Anda bertanggungjawab atas
semuanya

antara lain, produksi, pemasaran, keuangan, RND dan lain sebagainya

diperusahaan kehidupan Anda. Demikian pula Anda sendirilah yang

menentukan berapa besar gaji Anda, berapa income Anda. Bila Anda tidak

puas dengan penghasilan yang Anda terima, Anda bisa melihat didekat

cermin Anda dan menegosiasikan pada bos Anda, yakni Anda sendiri yang

ada didalam cermin," begitu kira-kira. Nah, menurut saya etos demikian

tak dapat dibantah oleh semua ajaran agama-agama yang ada didunia.

Apa yang anda contohkan bukan malah menujukkan bahwa manusia adalah

segala-segalanya. Terkesan, seolah-olah Tuhan tak memiliki peran
apa-apa

disana ?

Di atas saya mengatakan bahwa alasan kita tersenyum di pagi hari kepada

isteri dan anak-anak, menyambut mereka dengan santun, berusaha datang

tepat waktu untuk memenuhi janji, itu semua bukan semata-mata karena

didasari atas kesantunan kita sebagai manusia, melainkan kita ingin

mengabdi kepada-Nya. Begitu juga dengan contoh barusan, itu sebenarnya

merupakan cermin atas pesan agama yang meminta totalitas kita dalam

menjalankan sebuah amanah.. Apalagi jika kita bicara tentang "cermin",

akan sangat panjang pembicaraan kita. Dan setiap spirit tidak selalu

harus ada embel-embel nama surat atau ayat dari kitab suci tertentu.

Bukankah seorang jenderal paling ateis pun ketika melepaskan pasukannya

ke medan perang tak dapat menghindarkan diri dari ucapan, "Semoga

kalian sukses!". Kalimat "Semoga" disitu menyimpan harapan campur

tangan kekuatan dari Yang Maha Kuat. Biarlah Tuhan menjadi sesuatu yang

tersembunyi dikedalaman relung hati kita yang paling dalam.

Apa arti sukses menurut anda ?

Perjalanan 50 tahun hidup yang sudah saya jalani menyimpulkan bahwa

sukses itu tidak selalu berarti mendapat piala atau pujian, meski tak

ada salahnya jika kita mendapatkan keduanya. Hanya saja itu semua bukan

kriteria dari sukses itu sendiri. Karenanya tak jarang orang kemudian

sulit menemukan kesuksesan-kesukses an yang pernah diraihnya

Secara sederhana sukses adalah bagaimana kita keluar dari comfort zone

kita dan mencoba menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan definisi

ini Anda akan melihat begitu banyak kesuksesan yang bisa Anda lihat

pada diri Anda. Kalau kemarin Anda baru bisa membantu satu orang, hari

ini Anda bisa membantu dua dan besok Anda bisa membantu lebih banyak

lagi, maka anda sukses. Dengan perasaan yang positif mengenai

kesuksesan yang pernah Anda raih, maka Anda akan merasa semakin sukses

dan semakin percaya diri dengan cita-cita, visi dan misi hidup Anda.

Saya sangat tidak setuju dengan ungkapan, "Biarlah kita sekarang susah,

asal nanti kita sukses". Ini jelas enggak pernah bakal sukses. Saya

bertanya, dimana anak tangganya? Bukankah untuk meraih kesuksesan besar

harus diawali dengan kesuksesan kecil dan sedang?. Ada pepatah yang

mengatakan, "Sukses akan melahirkan sukses yang lain." Nah dari pepatah

ini dapat diambil pelajaran, apabila kita semakin mudah untuk melihat

kesuksesan kita dari hal-hal yang kecil, maka mudah bagi kita untuk

mengumpulkan, mengakumulasikan dan melangkah mencapai sukses yang lebih

besar. Percaya dech, dengan sukses kecil-kecil itu, cepat atau lambat

sukses yang lebih besar akan menjemput Anda.

Penjelasan Anda mengingatkan saya akan nasehat Sufi Besar, Imam Ibnu

'Atha'illah, yang mengatakan, "Tanamkanlah ujudmu dalam bumi yang sunyi

sepi, karena sesuatu yang tumbuh dari benda yang belum ditanam, tidak

sempurna hasilnya." Pertanyaannya, bagaimana memupuk rasa rendah hati

dalam diri kita ?

O, ya ? Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk memupuk kerendahan

hati diantaranya adalah dengan menyadari kembali bahwa seluruh yang

kita punyai adalah anugerah-Nya, berkah-Nya atau rahmat-Nya. Karenanya

katakan pada diri sendiri, "Aku masih ingin belajar", "Aku masih ingin

mendapatkan input dari sekelilingku" , "Aku masih ingin mendapatkan

pengetahuan- pengetahuan dari mana saja agar dapat lebih baik".

"Aku masih ingin belajar", "Aku masih ingin mendapatkan input dari

sekelilingku" , "Aku masih ingin mendapatkan pengetahuan- pengetahuan

dari mana saja agar dapat lebih baik". Jika ditilik dari kehidupan

kita, umat Islam, nampaknya metode memupuk kerendahan hati yang Anda

sampaikan masih menjadi problem besar tersendiri ya ?

Persis seperti yang saya perhatikan selama ini. Saudara-saudara kita

sesama muslim masih terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan bergaul

hanya pada lingkungannya sendiri. Malah yang lebih memprihatikan,

dengan sesama muslim kalau ngundang pembicara dia tanya dulu, "Orang
itu

madzhabnya apa ?." Dia tidak akan menerima orang yang tidak satu

madzhab, satu aliran, dengannya. Padahal dinegara-negara maju sudah

menjadi pemandangan yang biasa orang-orang Yahudi mengundang pembicara

Islam, Hindu atau Kristiani, atau sebaliknya.

Mereka sudah mantap dengan iman mereka sehingga mereka tidak khawatir

dengan pembicara yang datang dari luar komunitas mereka. Mereka sangat

yakin, bahwa dengan cara demikian (menghadirkan pembicara "orang
luar"),

mereka dapat memperkaya wacana dan kehangatan batin. Kita, atau

persisnya sebagian umat Islam, lupa bahwa salah satu cara mensyukuri

perbedaan ditunjukkan bukan pada lisan akan tetapi dengan mendengarkan

pendapat orang lain yang beda keyakinan agamanya.

Anda punya pengalaman keberislaman Anda yang inclusive itu?

Iya. Pernah beberapa peserta saya mengklaim materi yang baru saja

selesai saya sampaikan menurut sudut pandang keyakinan agama mereka.

Seorang peserta yang beragama Kristiani mengatakan bahwa materi saya
ada

juga di ajarkan dalam Injil. Peserta lain yang beragama Islam mengaku

bahwa materi yang saya sampaikan ada di Al-Quran surat al-Maidah.

Peserta yang Budha menganggap bahwa materi saya itu penerapan dari

Dharma-dharma Budha. Saya hanya mengembalikan semua apresiasi itu

kepada-Nya.

Pengalaman lain ?

Masih banyak orang yang salah faham terhadap Islam. Ada satu pengalaman

yang mengherankan sekaligus membuat saya prihatin. Dalam satu seminar

di acara coffee break isteri saya didatangi salah seorang peserta

penganut agama Kristen yang taat. Masih kepada isteri saya, orang itu

memberi komentar bahwa saya menerapkan ajaran Injil dengan baik. Lalu

dengan lembut, penuh kehati-hatian, isteri saya memberitahu bahwa saya

seorang muslim. Sontak orang itu terperanjat saat mengetahui bahwa saya

seorang muslim. Yang membuat isteri saya (dan kemudian juga saya)

prihatin adalah ucapannya, "Loch, koq ada ya orang Islam yang baik

macam Pak Mario !?" Saya pun terkekeh mendengarnya. Nah ini kritik dan

sekaligus menjadi tugas kita semua untuk memperbaiki citra Islam.

JPurwanto

Paramadina Scholl of Business

Majoring Islamic Business and Finance

joko.purwanto@ metrodata. co.id

085284842204







This message and any attached files may contain information that is 
confidential and/or subject of legal privilege intended only for use by the 
intended recipient. If you are not the intended recipient or the person 
responsible for delivering the message to the intended recipient, be advised 
that you have received this message in error and that any dissemination, 
copying or use of this message or attachment is strictly forbidden, as is the 
disclosure of the information therein. If you have received this message in 
error please notify the sender immediately and delete the message.

Kirim email ke