dari milis tetangga...   tentang pertanian, yang tanpa petani kita gak bisa 
hidup, tapi yang ngurusi petani termasuk juga orang kandang yang njagain 
ayam-ayam yang besoknya dimakan ama keluarga kitaa selalu.... 
dimusuhi...??????? (sorry ya agak ngebela tetanggaku) harus kita akui juga di 
tengah-tengah banyak dan amat banyak kelemahan dan kekurangan yang ada, kita 
tahun 2008-2009 swasembada beras.....walaupun terseok-seok sekali... dan tak 
tertutup banyak masukan serta omongan.. sampe saat ini kita masih bisa beli 
telur ayam sebutir (dengan protein asam amino lengkap 1005) yang harganya cuma 
kurang 1000 perak  atau tempe yang sepapan 1000 perak dengan asam amino 80% 
dibandingin harga rokok yang lebih dari 1000 perak..., namun kita lihat.. para 
bapak masih suka mbeliin 2000 perak buat sebutir rokok daripada 2 butir ayam 
buat makan anak-nya

by the way yang penting kita ikut bergerak,,, lewat tulisan kita, lewat ucapan 
kita, lewat tindakan kita ..lewat zakat kita .. lewat doa kita

irma



--- On Tue, 5/18/10, hefni effendi <[email protected]> wrote:

From: hefni effendi <[email protected]>
Subject: [ipbstaf] Pertanian (Tak) Diminati Remaja ?
To: "ipb milis" <[email protected]>
Date: Tuesday, May 18, 2010, 2:27 AM







 



  


    
      
      
      Dear IPB Netters,

 

Berikut artikel di Media Indonesia.  Moga bermanfaat bagi menambah informasi.  
Terima kasih.

 

Regards,

Hefni

__________________________________________________________

Media Indonesia, 18 Mei 2010

 

Pertanian (Tak) Diminati Remaja ?

  

Hefni Effendi 

Sekretaris Eksekutif PPLH-IPB 

  

Manakala seorang anak ditanya, ingin jadi apa kelak ? Jawabannya berkisar ingin 
jadi dokter, pilot, arsitek, bankir, dsb.  Mungkin tak ada yang menjawab, ingin 
jadi petani atau ahli pertanian ! Hal inipun juga terekam dengan jelas pada 
generasi muda, ketika 2894 kursi program studi pertanian, peternakan, 
perikanan, dan kehutanan di 47 universitas negeri tak berpeminat pada 
penerimaan mahasiswa baru tahun 2008 silam.   

  

Langkanya minat pendidikan pertanian ini tak lepas dari sepinya pencitraan yang 
baik terhadap produk pertanian kita saat ini.  Ketika ke supermarket, apel 
Malang kalah menarik dengan apel Washington, jeruk Pontianak diterabas jeruk 
Mandarin, durian Monthong tak mengenal musim.  Pisang Ambon dilibas pisang 
sunpride ? 

  

Potret petani yang kumuh, gurem, dan miskin/subsisten, karena 75% petani 
menggarap lahan <1Ha, langkanya agropreneurship, barangkali menjadi 
pelatarbelakang diemohinya pertanian oleh kawula muda !  Padahal sektor 
pertanian setidaknya memainkan tiga pilar utama yakni penyedia pangan, 
pengentas kemiskinan pedesaan, dan penghela awal kemakmuran. 

  

Setelah undangan Edouard Saouma, Direktur Jenderal FAO, kepada Presiden 
Soeharto untuk berpidato prestasi swasembada pangan (14 November 1985) di Roma, 
nyaris tak ada lagi khabar pertanian yang sespektakuler even tersebut.  

  

Bergabung dalam WTO (1995) menggiring terjadinya liberalisasi pertanian di 
Indonesia.  Proses liberalisasi itu diakselerasi lagi dengan tunduknya kita  
pada Letter of Intent IMF, ketika didera krisis multi dimensi (1997), dengan 
dicabutnya subsidi pertanian dan pengurangan  tarif impor serta non tarif 
(kuota, tata niaga dan pembatasan impor). 

  

AFTA (perdagangan bebas ASEAN) sejak 2003 telah menyepakati pengurangan tarif 
impor produk pertanian menjadi 0 – 5%, hanya beras sekitar 30%, gandum bea 
masuknya 0%.  

  

Hal demikian semakin membuat kita terjebak dalam perangkap pangan (food trap) 
negara maju. Komoditas pangan non beras (gandum, sapi, dan kedelai) masuk 
kategori kritis, dengan ketergantungan hingga 70-100%. 

  

Penyedia Pangan 

  

Ketika banyak orang di negara berkembang berdemontrasi akibat meroketnya harga 
pangan hingga 130% pada tahun 2008 silam, disinyalir merupakan konsekuensi 
peningkatan konsumsi, gagal panen akibat kondisi alam, dan konversi pangan ke 
biofuel. Beberapa negara berbasis pertanian dan net importer produk pertanian 
kelimpungan mengatur strategi ketahanan pangannya.  

  

Sekitar 800 juta manusia di jagat ini menghadapi ketidakstabilan pangan.  
Laporan Agriculture for Development (Word Bank, 2008) memprediksi pada 2030 
dibutuhkan peningkatan produksi pangan hingga 85% dari volume sekarang.  

  

Era lalu pertanian dihadapkan pada upaya eradikasi hama penyakit, pencarian 
bibit unggul, fertilisasi lahan, irigasi, dsb. Sekarang permasalahan pertanian 
makin kompleks, memerlukan inovasi iptek dalam mengatasi konsekuensi pemanasan 
global, intrusi air laut, El nino, munsoon tak menentu, dan liberalisasi 
pasar.  

  

Soekarno berujar, pertanian adalah masalah hidup matinya bangsa !  Mengingat 
strategisnya peran pertanian sebagai penyedia pangan, negara maju 
sungguh-sungguh membela petani (melalui Common Agricultural Policy di 
Masyarakat Eropah), dengan mengalirkan subsidi hingga ratusan persen dari biaya 
produksi, dan pemberlakuan tarif tinggi produk pertanian impor, demi melindungi 
petani mereka.  

  

Tak kurang dari $ 300 milyar/tahun, OECD mensubsidi petaninya, sehingga 
merangsang over produksi.  Dengan kecerdikannya, negara maju mengintroduksi 
konsep perdagangan bebas, agar dapat men-dumping over produksi pertanian 
tersebut ke negara berkembang dengan harga murah, implikasinya dapat 
memporakporandakan petani lokal. 

  

Pengentas Kemiskinan Pedesaan 

  

Pertanian berkonstribusi terhadap pengurangan setengah angka kemiskinan dunia 
pada 2015 (Millineum Development Goal),  mengingat pertanian menjadi sumber 
penghasilan bagi 86% penduduk pedesaan dan mempekerjakan 1,3 milyar pemilik 
lahan kecil dan petani penggarap.  

  

Terentaskannya orang miskin (berpendapatan $1/hari) dari 1,036 milyar (1993) 
menjadi 883 juta (2003) terutama di negara-negara Asia Timur dan Pasifik 
melalui peningkatan produktivitas pertanian.  

  

Di Tiongkok (1980 – 2001) tereduksinya 80% kemiskinan berasal dari pengurangan 
kemiskinan sektor pertanian di pedesaan, lebih besar 4 kali dari sektor 
industri dan jasa.  Di Amerika Latin, pertanian 2,7% lebih efektif dalam 
mereduksi kemiskinan dibanding sektor lainnya. 

  

Penghela Awal Kemakmuran 

  

Walaupun cuma 13% dari total area yang dapat ditanami, namun Jepang mengalami 
over produksi beras (1999). Meskipun hanya 2,7% angkatan kerja pertanian dan 
berkontribusi cuma 1,2% GDP, tetapi Jerman mampu memenuhi kebutuhan susu, 
daging, cereals, dan minyak goreng.  Tahun 1950 seorang petani Jerman hanya 
mampu menyediakan pangan untuk 10 orang, lalu produktivitasnya melonjak tinggi 
menjadi 108 orang (1996).   

  

Tahun 1790 tenaga kerja pertanian di USA mencapai 90%,  menurun menjadi 38% 
(1900), dan sekarang tinggal 1%, dan hanya berkontribusi 1% GDP.  Namun USA 
menjadi eksportir produk pangan tertentu. 

  

Pertumbuhan pesat industri di Tiongkok, India, Thailand, dan Vietnam diinisiasi 
dengan kesuksesan pertanian. Tiongkok dengan land reform dan household 
responsibility-nya Mao Zedong.  Meskipun terdapat 1,3 milyar perut yang harus 
diberi makan, tapi Tiongkok mampu memenuhi kebutuhan berasnya.  India dengan 
green revolution (aplikasi benih unggul, pupuk, dan sistem irigasi) sejak 1965, 
menjadi eksportir beras. 

  

Dengan kekonsistenan keberpihakan Raja Bhumibol Adulyadej pada pertanian 
melalui program Sufficiency Economy, Thailand sekarang memetik buah 
keberhasilan kebijakan tersebut, dan telah membanjiri negara tetangga dengan 
produk pertanian bermutu.  Produk pertanian tropis dari Thailand menghiasi 
etalase supermarket di Jerman, Belanda, Inggris, dsb. Thailand menjadi 
barometer negara berkembang yang sukses membangun kedaulatan pangan.  

  

Tahun 70-an Vietnam tercabik perang saudara.  Kita menyediakan Pulau Galang 
untuk penampungan sementara pengungsi, sekarang Vietnam (eksportir beras ketiga 
terbesar) sudah menyalip kita dibidang pertanian !  Brazil juga menjadi 
prototipe negara yang berhasil membangun pertaniannya, dan menjadi net 
eksportir produk pertanian, berkonstribusi 35% dari total barang ekspor.  
Bahkan Brasil juga sukses memanfaatkan lahan pertanian sebagai sumber 
bioenergi. 

  

Negara Makmur Berbasis Pertanian 

  

Adakah negara di dunia ini yang bisa makmur dengan berbasis pertanian?  
Jawabnya ada.  Selandia Baru menjadi negara makmur (GNP $ 25960/kapita) 
bertumpu peternakan (sapi dan domba) dan wisata alam.  Jumlah sapi dan domba di 
Selandia Baru bahkan melebihi jumlah penduduk. Sekitar 90% dari populasi domba 
dan 80% dari populasi sapi Selandia Baru diekspor setiap tahun.  Selandia Baru 
menghasilkan 10 juta ton susu/tahun, bandingkan dengan Indonesia hanya 635.000 
ton/tahun. 

  

Finlandia (GNP $ 37460/kapita) yang 2/3 wilayahnya hutan, makmur dari hutan 
tanaman industri untuk produksi kertas, bubur kertas, dan kayu.  Norwegia (GNP 
$ 59590/kapita) sebelum ditemukannya ladang minyak di lepas pantai, awalnya 
kemakmuran bertumpu perikanan laut.  Sebuah negara pulau vulkanik di Atlantik 
utara, Islandia (GNP $ 46320/kapita) sejahtera, juga salah satunya dengan 
industri perikanan laut.  

  

Di luar Jawa potensi lahan pertanian menganggur mencapai 12,3 juta ha. Sekitar 
24 juta ha perairan laut dangkal cocok untuk budidaya laut (ikan kerapu, 
baronang, gobia, kerang mutiara, teripang, abalone, dan rumput laut), potensi 
produksi 47 juta ton/tahun (Dahuri, 2008). Juga masih terhamparnya potensi 
perikanan tangkap tidak hanya di laut teritori tapi juga di ZEE. 

  

Paradoks, sebagai negara maritim terbesar, perusahaan perikanan BUMN Usaha Mina 
di Sorong telah lama gulung tikar, padahal potensi perikanan di Laut Arafuru 
luar biasa !  Praktisi perikanan yang mampu mengeksploitasi potensi tersebut 
sangat diidamkan.  

 

Mulai 1 Januari 2010 lalu, perdagangan bebas ASEAN dan China berlaku, pasar 
semakin dibuka lebar untuk produk pertanian China. Tak heran jika buah-buahan, 
sayuran, dan bumbu masak China berharga murah akan semakin merajalela, bahkan 
berpenetrasi hingga ke pasar tradisional dan sektor informal ! Moga tak akan 
semakin meluluhlantakan pertanian kita ! 

 

Kita harus mencontoh Selandia Baru atau Thailand yang sukses membangun 
pertanian. Dengan kebijakan pemerintah yang memihak pada keseluruhan rantai 
pertanian, dari on-farm hingga off-farm dan tidak tunduk begitu saja pada 
liberalisasi pertanian !  para petani dimungkinkan mengantongi pendapatan yang 
setara dengan sektor manufaktur dan jasa, sebagaimana di negara maju.  Jadi tak 
beralasan untuk emoh terhadap pertanian, karena menjadi petani-pun juga 
dimungkinkan untuk sejahtera ! kelak.  




 






      

Kirim email ke