bacaan bagus mas Hizbul, walaupun temanya klasik (karena kita semua sudah tahu 
dampak negatif globalisasi dan ekonomi liberal hehe), tapi bagus untuk menambah 
wawasan. 
mudah-mudahan FAIR TRADE adalah jawaban dari kegelisahan para petani miskin di 
seluruh dunia. 
mudah-mudahan juga bu Sri Mulyani bisa membawa perubahan dan angin segar dalam 
menerapkan kebijakan-kebijakan baru yg menguntungkan negara berkembang setelah 
beliau memulai kiprahnya di World Bank bulan depan. kita rakyat kecil cuma bisa 
berdoa :-)

salam


-----------------------

Kejamnya Liberalisme Ekonomi

Oleh Dina Sulaeman

Minggu, 16 Mei 2010

Pendahuluan: Bunuh Diri Para Petani

Dalam sidang WTO di Cancun (Meksiko), 9 September 2003, seorang petani dari
Korea Selatan, Lee Kyung Hae, melakukan aksi bunuh diri di depan gedung
tempat berlangsungnya sidang. Saat itu dia menggunakan pakaian bertuliskan
"WTO Membunuh Para Petani". Lee adalah seorang petani padi yang memiliki
lahan luas di Korsel, namun kemudian bangkrut karena negaranya dibanjiri
oleh beras impor yang harganya jauh lebih murah. Lee memperjuangkan nasib
petani di negaranya dengan berbagai cara, namun gagal. Sejak Korsel mematuhi
aturan liberalisasi perdagangan, jumlah petani di negara itu telah berkurang
setengahnya (dari sekitar 6 juta menjadi sekitar 3 juta petani). Padahal,
Korsel adalah negara agraris, persis Indonesia. Perjuangan Lee berakhir
dengan aksi bunuh diri di Cancun.[1]
Di India, pada tanggal 3 September 2009 lebih dari 50 ribu petani dari
berbagai penjuru India berkumpul di New Delhi dengan membawa poster
bertuliskan "WTO keluar dari pertanian". Mereka memrotes Pemerintah India
yang tidak melindungi petani lokal. Karena terikat perjanjian WTO, India
hanya bisa melindungi 5 persen dari produk pertaniannya dari pemotongan
tarif. Akibatnya, produk lokal India kalah bersaing dari produk pangan
bersubsidi dari AS dan Uni Eropa.

 



Kirim email ke