terima kasih mbak Esti, negara industri maju seperti Inggris memang
layak memiliki sistem yg sudah mapan, namun di negara agraris seperti
Indonesia masih banyak yang dilupakan, kembali ke topik asuransi,
asuransi sebenarnya hanya salah satu sistem untuk mengelola risiko
jangka panjang, karena itulah asuransi bersama industri keuangan lain
seperti perbankan berfungsi untuk mengelola aset keuangan yang
sifatnya saling melengkapi, asset dan liabilities asuransi jangka
panjang memungkinkan negara punya cadangan devisa yang kuat, sehingga
sudah sepantasnyalah industri ini mendapat prioritas sebagai mana
industri yang lain. Seandainya ada waktu saya ingin sekali
menyampaikan data-data konkret, tapi yang pasti prioritas untuk negara
agraris seperti Indonesia berbeda, plus asuransi kesehatan dan jaminan
pendidikan kita sangat jauh tertinggal dibanding Inggris. Masih ada
ruang yang luas bagi industri asuransi untuk berkembang, mas Helmy dan
mbak Hanik bisa cerita lebih banyak ttg ini, asuransi pertanian
hanyalah salah satu produk untuk memberikan rasa aman pada petani
sekaligus sarana untuk mengembangkan industri. masalahnya bagaimana
sistem ini bisa berjalan bagi petani, apa yang patut dilakukan
pemerintah, sekali lagi semangatnya adalah melindungi bukan untuk
meraup premi seperti di negara tempat Esti.

On 5/18/10, nayarini estiningsih <[email protected]> wrote:
> untuk nambah bacaan dan renungan :-)
>
> ---------------------------------------------------------------------------------
>
>
> Subject: Re: [PPIUK] Ekonomi Islam di Inggris
>
> http://koran. republika. co.id/koran/ 24
> Senin, 17 Mei 2010
>
> Ekonomi Islam di Inggris
>
> Oleh Rifki Ismal
> (Mahasiswa Program Doktoral Perbankan Syariah Durham University, Inggris)
>
> Tak dapat dimungkiri, Inggris adalah salah satu negara maju dengan
> jumlah penduduk Muslim minoritas. Terdapat kurang lebih dua juta
> populasi Muslim dari sekitar 60 juta penduduk Inggris. Sementara itu,
> Indonesia adalah negara Muslim paling besar di dunia dengan jumlah
> penduduk Muslim kurang lebih 185 juta dari sekitar 206 juta jumlah
> penduduknya. Apakah betul negara yang berideologi non-Islam dan
> berpenduduk Muslim minoritas, seperti Inggris, telah menerapkan
> ekonomi Islam? Bagaimana dengan Indonesia?
>
> Secara konsep, ekonomi Islam bertujuan mencapai falah, yaitu
> kemenangan dan kesejahteraan abadi manusia di dunia ataupun akhirat.
> Di dunia, falah diwujudkan melalui pencapaian kondisi maslahah, yaitu
> kebahagiaan dalam beragama, keselamatan jiwa, kebebasan
> berintelektual, kebahagiaan berkeluarga, dan berharta benda
> (Al-Ghazali) . Namun, sangat disayangkan, tujuan ekonomi Islam tersebut
> belum dapat sepenuhkan diwujudkan oleh negara-negara berpenduduk
> mayoritas Muslim, seperti Indonesia. Setidaknya, ada tiga masalah
> pokok dari waktu ke waktu yang selalu dihadapi Indonesia, yaitu
> kemiskinan, kebodohan, dan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat.
> Penerapan ekonomi Islam yang benar melalui pencapaian kondisi maslahah
> sejatinya akan mengatasi ketiga masalah klasik tersebut.
>
> Bagaimana dengan di Inggris? Secara ideologi, Inggris memang bukanlah
> negara Islam, apalagi secara legal menerapkan ekonomi Islam. Namun,
> dalam kebijakan dan praktik ekonominya, Inggris menerapkan kebijakan
> ekonomi yang merupakan perwujudan kondisi maslahah. Apa buktinya?
> Setidaknya, ada tiga hal yang membuktikannya.
>
> Pertama, negara (pemerintah) menjalankan fungsi utama untuk
> menyejahterakan masyarakat. Perekonomian Inggris secara umum hidup
> dari sektor jasa, khususnya jasa keuangan (73 persen dari total GDP),
> seperti perbankan, asuransi, dan sebagainya. Sementara itu, sisanya
> adalah sektor manufaktur, otomotif, dan tekstil. Penerimaan negara
> dilakukan oleh dua otoritas: pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
> Pemerintah pusat mendapatkan penerimaan dari pajak penghasilan,
> asuransi nasional, pajak pertambahan nilai, pajak perusahaan, dan
> pajak bahan bakar. Pemerintah daerah mendapatkan penerimaan dari dana
> limpahan pemerintah pusat, pajak pemerintah daerah (council tax), dan
> pajak bagi kegiatan/aktivitas bisnis yang dilakukan di daerah.
>
> Menariknya, pajak di Inggris terbilang sangat tinggi, bahkan pajak
> penghasilan dikenakan hingga 40 persen bagi setiap individu yang
> bekerja dan sifatnya progresif. Akibatnya, penerimaan negara dari
> pajak mencapai 46 persen dari GDP (2005-2006) dan 37 persen dari GDP
> (2007-2008). Apabila kita bandingkan dengan Indonesia yang penerimaan
> pajak tahun 2009 senilai Rp 565.7 triliun dan GDP harga berlaku tahun
> 2009 sebesar Rp 5613.4 triliun; penerimaan negara dari pajak hanya 10
> persen dari GDP. Itu sangat jauh jika dibandingkan perolehan pajak
> Pemerintah Inggris.
>
> Lantas, bagaimana Inggris mewujudkan kondisi maslahah? Dengan
> penerimaan dana pajak yang cukup besar, Pemerintah Inggris
> menyejahterakan rakyatnya dengan memberikan tiga fasilitas. Fasilitas
> pertama adalah pendidikan gratis dari tingkat taman kanak-kanak
> (nursery) hingga sekolah menengah umum. Fasilitas ini berlaku bagi
> semua warga negara Inggris, bahkan termasuk penduduk yang bukan warga
> negara (para pendatang). Untuk level pendidikan di atas SMU,
> pemerintah memberikan dana pengajaran, riset, dan aktivitas akademis
> kepada semua universitas. Untuk tahun anggaran 2009-2011, Pemerintah
> Inggris mengalokasikan dana bantuan pendidikan sebesar 7,3 miliar
> pounds atau kurang lebih Rp109 triliun.
>
> Terpenuhinya kebutuhan pendidikan merupakan salah satu jalan untuk
> membangun intelektualitas dan menurunkan tingkat kemiskinan yang
> bersumber dari kebodohan. Dikaitkan dengan penerapan ekonomi Islam,
> fasilitas Pemerintah Inggris kepada rakyatnya di bidang pendidikan ini
> merupakan pemenuhan dua unsur maslahah, yaitu kebebasan (pengembangan)
> intelektual dan kesejahteraan materi (harta benda) karena dapat
> bekerja dengan bekal pendidikan yang cukup.
>
> Fasilitas kedua adalah kesehatan gratis bagi semua warga negara
> Inggris, termasuk penduduk yang bukan warga negara. Setiap orang yang
> bermukim di Inggris hanya tinggal mendaftarkan dirinya kepada sistem
> kesehatan (National Health Service). Kemudian, secara online ia telah
> terdata. Apabila sakit, ia akan mendapatkan fasilitas layanan
> kesehatan (pengobatan) di rumah sakit atau klinik kesehatan di mana
> pun di Inggris, apa pun jenis penyakit yang dideritanya, dan apa pun
> langkah pengobatan yang harus diambil oleh tim medis. Semua ini tanpa
> dipungut biaya sepeser pun karena biaya kesehatan sepenuhnya
> ditanggung oleh pemerintah (negara). Bahkan, anak-anak di atas lima
> tahun tidak akan dikenakan biaya apabila berobat gigi dan mata,
> termasuk bebas biaya membeli kacamata di optik. Dikaitkan dengan
> penerapan ekonomi Islam, fasilitas kesehatan gratis ini merupakan
> pemenuhan dua unsur maslahah lainnya, yaitu keselamatan jiwa dan
> kebahagiaan berkeluarga karena adanya jaminan layanan kesehatan.
>
> Fasilitas ketiga adalah tunjangan bagi para manula (manusia usia
> lanjut), balita, janda-janda, dan orang miskin. Setiap orang yang
> berusia lanjut (di atas 60 tahun) mendapatkan kartu lansia yang
> membebaskannya dari membayar ongkos transportasi umum (bus) dan
> kemudahan-kemudahan lainnya. Setiap balita di Inggris, dari keluarga
> mana pun ia berasal, mampu ataupun tidak mampu, akan mendapatkan
> tunjangan bulanan dari pemerintah, yaitu berupa makanan bergizi,
> sayur-sayuran, dan susu, termasuk popok (nappies). Bahkan, pemerintah
> juga memberikan uang santunan bagi ibu-ibu yang baru melahirkan untuk
> meringankan beban awal mereka membeli barang-barang keperluan bayi.
>
> Tidak hanya itu, setiap orang yang berstatus janda di Inggris
> mendapatkan tunjangan hidup dari pemerintah untuk meringankan beban
> menghidupi anak-anaknya. Hal ini karena pertimbangan mereka telah
> kehilangan suami yang merupakan sumber nafkah bagi keluarganya.
> Terakhir, setiap orang miskin mendapatkan santunan dari pemerintah,
> bahkan tempat tinggal yang sederhana untuk mereka. Karena itu, hampir
> tidak ada pengemis atau gelandangan di pinggir-pinggir jalan atau
> pertokoan. Artinya, pemerintah memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan
> dasar manusia untuk hidup layak. Untuk hidup lebih makmur, itu
> berpulang kepada setiap pribadi untuk rajin belajar, bekerja, dan
> berusaha.
>
> Sekali lagi, dikaitkan dengan penerapan ekonomi Islam, fasilitas
> ketiga ini merupakan perwujudan keselamatan jiwa dan kebahagiaan
> berkeluarga, dua unsur dari maslahah.
>
> Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New Topic
> Messages in this topic (1)
> .
>
>
>
>
>

Kirim email ke