saya sih setuju saja pak yoyokiswadi

--- On Thu, 11/20/08, yoyokiswadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: yoyokiswadi <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [smu2jombang] Re: Rencana Strategis Amerika Serikat untuk Menguasai 
Indonesia
To: [email protected]
Date: Thursday, November 20, 2008, 3:49 PM










    
            da dibaca belom???????



--- In smu2jombang@ yahoogroups. co.uk, "andreas susanto"

<kaka290801@ ...> wrote:

>

> buktinya bossss apaan??????? ? hehehehe.... ..yang otentik ya???? jangan

> argumen lagi......

> 

> 2008/11/20 Sugiri Pandu Murti <sugiri.p.murti@ ...>

> 

> >   Ampun deh pak'e, jd milis rohis neh kayaknya, hehe.. Kalo ada yg

> > posting artikel 'Jesus is the savior' boleh dong disini? Ato artikel

> > 'Doa Novena 3x Salam Maria Menyelamatkan Kami', misalnya.. :)

> >

> >

> > On 11/20/08, yoyokiswadi <yoyokiswadi@ ... <yoyokiswadi% 40yahoo.com> >

> > wrote:

> > > (Rekomendasi Militer AS untuk Indonesia)

> > >

> > > Disusun oleh: Lathifah Musa

> > >

> > > HTI-Press. Ideologi manapun di dunia ini memiliki metode

> > > (thoriqoh/jalan) untuk meluaskan pengaruhnya ke seluruh penjuru

dunia.

> > > Metode perluasan Kapitalisme sebagai sebuah ideologi yang saat ini

> > > masih mendominasi dunia, telah berkembang sesuai zaman. Meski

> > > demikian, penjajahan tetap menjadi hal mendasar dalam Kapitalisme.

> > > Baik untuk menyebarluaskan ideologi ataupun mengeksploitasi

> > > negara-negara lain demi kepentingan para Kapitalis. Amerika Serikat

> > > memaksakan dominasi politik, militer dan ekonomi di dunia Islam

dalam

> > > rangka mengeksploitasi manfaat-manfaat materialnya. Di samping

itu AS

> > > juga berusaha menyebarkan Kapitalisme pada banyak bidang, baik

> > > ekonomi, politik, pendidikan, budaya dan lain-lain.

> > >

> > > Khiththah Politik (Strategi Politik) didefinisikan sebagai politik

> > > umum yang dirancang untuk mewujudkan salah satu tujuan yang dituntut

> > > oleh penyebaran ideologi tertentu. Sedangkan uslub politik

(cara-cara

> > > politik) adalah politik khusus mengenai suatu bagian langkah yang

> > > mendukung perwujudan atau pengokohan khiththah politik. Strategi

> > > politik memungkinkan senantiasa berubah sesuai perubahan dan

> > > perkembangan konstelasi politik internasional.

> > >

> > > Hal yang penting difahami adalah, bahwa ketika upaya menancapkan

> > > hegemoninya belum berhasil maka negara-negara Barat tidak akan

> > > mengubah (fikroh dan thoriqoh) ideologinya, namun hanya akan

mengubah

> > > strategi (khiththah) dan cara-cara (uslub) politiknya untuk

merancang

> > > strategi dan cara-cara politik baru. Di sinilah kaum muslimin harus

> > > mengetahui dan memahami rancangan strategi politik dan cara-cara

> > > negara-negara Barat, khususnya AS dalam menancapkan hegemoninya di

> > > Indonesia. Jika sebuah cara (uslub) politik dapat digagalkan, akan

> > > hancurlah strategi (khiththah) politik dan akhirnya gagal pula

rencana

> > > musuh-musuh Islam. Hendaknya perjuangan politik kaum muslimin

> > > diarahkan untuk membongkar strategi politik dan cara-caranya

(kasyful

> > > khuththath), dan pada saat yang sama diarahkan untuk memerangi

> > > ideologi Kufur (yakni memerangi fikroh dan thoriqohnya) .

> > >

> > > Tulisan ini mengungkapkan temuan media massa terhadap Rancangan

> > > Strategi Politik AS di Asia Tenggara berikut cara-caranya. Sebagai

> > > wilayah muslim terbesar dengan jumlah penduduk muslim terbanyak,

> > > Indonesia menjadi perhatian dan sasaran penting dalam Rancangan

> > > Strategis ini.

> > >

> > > Dokumen Rencana Strategis

> > >

> > > Dokumen The National Security Strategy of USA September 2006

> > > menguraikan intisari sebuah konsep keamanan nasional AS yang

> > > menitikberatkan pada konsekuensi- konsekuensi kondisi internal

> > > negara-negara lain. Titik tekan yang dipandang sebagai akar masalah

> > > bagi AS pada negeri-negeri muslim adalah kurangnya demokrasi

(the lack

> > > of democracy). Perhatian terhadap keamanan fisik warga dan

teritori AS

> > > pada waktu yag sama harus diiringi pemahaman bahwa menghilangkan

> > > ancaman "terorisme" (Islam ideologis dipandang juga sebagai

inspirasi

> > > teror terhadap eksistensi AS) bukan hanya membawa persoalan tersebut

> > > ke pengadilan dan menghapuskan kapasitas operasi para teroris, namun

> > > juga harus menyelesaikan "akar penyebab" terorisme.

> > >

> > > Departemen Pertahanan Keamanan AS dalam Quadrennial Defense Review

> > > Report 2006, memandang bahwa keterlibatan AS dalam peperangan

tidaklah

> > > hanya di medan pertempuran sesungguhnya, namun juga dalam kancah

> > > perang ide/pemikiran. Dokumen RAND Corporation 2006 bertajuk

Building

> > > Moderate Muslim Networks menyebutkan kemenangan AS yang tertinggi

> > > hanya bisa dicapai ketika ideologi Islam (yang AS menyebut sebagai

> > > ideologi para ekstrimis. red) didiskreditkan dalam pandangan

mayoritas

> > > penduduk di tempat tinggal mereka dan di hadapan kelompok yang

> > > diam-diam menjadi pendukungnya. (Today, as recognized by the Defense

> > > Department in its Quadrennial Defense Review Report, the United

States

> > > is involved in a war that is "both a battle of arms and a battle of

> > > ideas," a war in which ultimate victory will be achieved only "when

> > > extremist ideologies are discredited in the eyes of their host

> > > populations and tacit supporters." )

> > >

> > > Memoderatkan Muslim Indonesia

> > >

> > > Strategi politik AS untuk menguasai Indonesia adalah dengan strategi

> > > menghidupkan kultur moderat yang kuat di negeri ini. Dengan cara

> > > inilah diharapkan akan muncul perlawanan terhadap Islam Ideologi dan

> > > menguatkan dukungan terhadap berbagai kebijakan Amerika yang

> > > menunggangi jargon-jargon Demokrasi-HAM dan Kesetaraan Gender.

> > >

> > > AS melakukan klasifikasi sekaligus karakterisasi sesuai

kepentingannya

> > > bahwa muslim-muslim moderat adalah mereka yang saling berbagi

> > > dimensi-dimensi kunci dari kultur demokrasi. Inilah yang akan

> > > menjadikan Indonesia terkendali di bawah AS. AS menentukan bahwa

> > > muslim moderat yang diinginkan AS memiliki sikap-sikap antara lain :

> > >

> > > 1. Mendukung demokrasi dan HAM yang difahami secara

internasional (HAM

> > > versi Amerika)

> > >

> > > 2. Menghargai perbedaan/keragaman terutama penghargaan terhadap

> > > kesetaraan gender dan minoritas relijius (Perbedaan dalam konteks

> > > pluralisme bukan pluralitas)

> > >

> > > 3. Penerimaan terhadap sumber hukum non sektarian (tidak menerima

> > > hukum yang bersumber dari syariat Islam karena disebutkan

intepretasi

> > > syariah tidak kompatibel dengan demokrasi)

> > >

> > > 4. Perlawanan terhadap terorisme dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya

> > > yang tidak legitimate (bentuk legitimate ini telah memiliki bingkai

> > > tersendiri, sebagaimana yang disahkan dalam konferensi dan konvensi

> > > internasional)

> > >

> > > Strategi untuk membangun Jaringan MuslimModerat

> > >

> > > Strategi umum untuk membangun Jaringan Muslim Moderat dilancarkan

> > > melalui 4 langkah yaitu pendidikan demokrasi, media, kesetraan

gender

> > > dan advokasi kebijakan.

> > >

> > > 1. Pendidikan Demokrasi

> > >

> > > Secara khusus diwujudkan dalam program-program dengan menggunakan

> > > teks-teks dan tradisi-tradisi Islam untuk pengajaran yang mendukung

> > > nilai-nilai demokrasi dan pluralistik. Perintah-perintah dalam agama

> > > dan politik yang dipandang sektarian, sangat sempit dan terbelakang

> > > disebarkan dengan radikal dan konservatif. Dengan demikian

> > > madrasah-madrasah harus dimasuki oleh sebuah kurikulum yang

> > > mempromosikan demokrasi dan nilai-nilai pluralistik. Sebagaimana di

> > > berbagai wilayah yang lain dimana agama dan masyarakat saling

> > > bersilangan (berhadapan) , Indonesia adalah pemimpin dalam pendidikan

> > > demokratis yang relijius. Universitas Islam Negeri dan sistem

> > > pendidikan Muhammadiyah telah mengembangkan teksbook untuk

mengajarkan

> > > pendidikan sipil dalam konteks Islami. Mata ajaran tersebut bersifat

> > > wajib untuk seluruh mahasiswa yang memasuki universitas- universitas

> > > ini. Beberapa pengajar muslim meskipun memiliki watak moderat,

kurang

> > > kemampuannya untuk mengkaitkan pengajaran Islam secara eksplisit

> > > dengan nilai-nilai demokrasi.

> > >

> > > Sebagai tanggapan terhadap kelemahan tersebut, Asia Foundations

telah

> > > mengembangkan sebuah program untuk membantu usaha-usaha ulama

moderat

> > > menggali teks dan tradisi bagi pengajaran yang otoritatif yang

> > > mendukung nilai-nilai demokratis. Hasilnya adalah sekumpulan bahan

> > > penulisan fiqih (hukum-hukum Islam) yang mendukung demokrasi,

> > > pluralisme dan kesetaraan gender. Teks-teks ini berada dalam jalur

> > > pemikiran muslim yang progresif dan sangat dibutuhkan secara

> > > internasional.

> > >

> > > Institusi-institusi seperti Lembaga Kajian islam Sosial (LKiS) yang

> > > berbasis Nahdlatul Ulama memegang suatu prinsip bahwa dibandingkan

> > > menciptakan sekolah-sekolah Islam secara khusus, muslim seharusnya

> > > menjamin bahwa semua institusi ditanamkan dengan nilai-nilai

keadilan

> > > sosial dan toleransi. "I" pada LKiS (yang bermakna islam) dengan

bebas

> > > ditulis dalam huruf kecil untuk menggarisbawahi bahwa LKiS melawan

> > > tipe-tipe islamisme yang menitikberatkan pada superioritas Islam

> > > diatas agama lainnya. LKiS secara khusus terlibat dalam

> > > training-training pesantren, sekolah-sekolah terpadu Islam. Dampak

> > > dari kerja ini adalah munculnya gerakan-gerakan demokrasi muslim

yang

> > > berhubungan erat di Indonesia dengan beberapa kriteria unik : (1)

> > > ulama pria yang berkampanye untuk kesetaraan gender dan (2)

organisasi

> > > yang berbasis akar rumput yang memberikan kapasitas bagi gerakan

untuk

> > > mencapai jangkauan yang luas pada tingkat akar rumput dalam satu

> > > langkah yang tidak bisa dicapai oleh kelompok-kelompok sekular

> > > berbasis perkotaan.

> > >

> > > 2. Media

> > >

> > > Dilakukan dengan mendukung media-media moderat. Hal ini sangat

penting

> > > untuk melawan dominasi media yang anti demokrasi dan didukung oleh

> > > elemen muslim konservatif (maksudnya muslim ideologis)

> > >

> > > Penyebaran/ diseminasi informasi pada sebagian besar dunia muslim

> > > didominasi oleh elemen- anti demokrasi yang radikal dan konservatif.

> > > Pada faktanya, tidak ada media-media moderat pada beberapa negara.

> > > Sebuah alternatif bagi media radikal adalah alat kritis dalam

perang ide.

> > >

> > > Indonesia menyediakan sebuah model dengan sejumlah contoh media

> > > moderat "agama dan Toleransi" yang mencapai hingga 5 juta pendengar.

> > > Program radio mingguan Jaringan Islam Liberal melalui 40 stasiun

> > > radio. Institut untuk Advokasi warga negara dan pendidikan

memproduksi

> > > radio talk mingguan yang mencapai pendengar hingga 1 juta

melalui lima

> > > stasiun radio di Sulawesi Selatan. Stasiun Televisi TPI, menampilkan

> > > opini mingguan dalam tema kesetaraan gender dan Islam yang mencapai

> > > 250.000 pemirsa di Jakarta. Talkshow TV bulanan tentang Islam dan

> > > Pluralisme yang mencapai 400.000 pemirsa di Jogjakarta. Media-media

> > > moderat ini telah menghasilkan dampak dalam perubahan suara

diskursus

> > > Islam di Indonesia.

> > >

> > > 3. Kesetaraan Gender.

> > >

> > > Isu hak-hak perempuan adalah sebuah medan pertarungan utama (major

> > > battleground) dalam perang ide di dunia Islam. Promosi kesetaraan

> > > gender adalah komponen kritis dari beberapa proyek untuk

memberdayakan

> > > muslim moderat. Nuriyah, istri Gusdur misalnya telah mempublikasikan

> > > studi exegetical yang bertujuan untuk menghapuskan poligami melalui

> > > reintepretasi konsep Al quran. Nuriyah menyimpulkan bahwa Qurani

ideal

> > > adalah monogami dan bahwa adalah hak perempuan untuk secara bebas

> > > memilih pasangan seharusnya tidak dibatasi. AS mendukung beberapa

> > > pesantren yang berafiliasi dengan NU- yang mendirikan crisis center

> > > untuk korban-korban kekerasan domestic, publikasi tulisan terkait

> > > isu-isu perempuan dalam fiqh serta membangun jaringan muslim moderat

> > > dari NGO-NGO yang mempromosikan keadilan gender seperti Rahima dan

> > > Fahmina. Beberapa isu potensial yang digarisbawahi antara lain

terkait

> > > status personal perkawinan, perceraian, penahanan anak-anak,

pewarisan

> > > dan tuduhan bahwa perempuan terancam perlakuan diskriminatif di

bawah

> > > syariah.

> > >

> > > 4. Advokasi kebijakan.

> > >

> > > Kelompok Islam memiliki agenda-agenda politik dan karenanya muslim

> > > moderat sekuler, liberal juga harus terlibat dalam advokasi

kebijakan

> > > sebagaimana kelompok Islam. Aktivitas advokasi sangat penting untuk

> > > membentuk lingkungan politik dan hukum dalam dunia Islam.

> > > Advokat-advokat kepentingan publik dan kelompok-kelompok advokasi

> > > (aktivis HAM, pemantau korupsi, think tanks dll) pada faktanya telah

> > > berkembang di dunia Islam dewasa ini dan peran mereka sangat

> > > diperlukan oleh AS.

> > >

> > > Pilar-pilar Jaringan Pengembangan Muslim Moderat

> > >

> > > Untuk mencapai keberhasilan strategi ini, diperlukan

jaringan-jaringan

> > > yang akan menanamkan dan mengembangkan kultur moderat ini. Di

wilayah

> > > Asia Tenggara, pilar-pilar jaringan ini meliputi:

> > >

> > > 1. Sekolah-sekolah Islam, Institusi pendidikan relijius moderat

> > > (Pesantren dan Madrasah)

> > > 2. Universitas- universitas Islam.

> > > 3. Media

> > > 4. Institusi-institusi pembangun Demokrasi (Democracy-Building

> > > Institutions)

> > > 5. Usaha pembangun jaringan regional (Regional Network-Building

> > > Efforts)

> > >

> > > Partner Kunci Keberhasilan Strategi

> > >

> > > Demi kesuksesan rencana, diperlukan partner-partner kunci yang

> > > mengemban ideologi atau mendukung pengembangan ideologi

> > > Kapitalisme- Sekularisme- Liberalisme. Mereka ini antara lain:

> > >

> > > 1. Intelektual dan akademisi muslim liberal dan sekuler (Liberal

> > > and secular muslim academic and intellectuals)

> > > 2. Kelompok terdidik muda yang moderat dan relijius (young moderate

> > > religious scholar)

> > > 3. Aktivis-aktivis komunitas (community activist)

> > > 4. Kelompok-kelompok perempuan yang terlibat dalam kampanye

> > > kesetaraan gender women (groups engaged in gender equality

campaigns)

> > > 5. Penulis dan jurnalis moderat (moderates journalist and writers)

> > >

> > > Upaya-upaya Membangun Jaringan Regional

> > >

> > > Dokumen RAND tersebut juga menyebutkan bahwa Asia Tenggara adalah

> > > panggung regional utama dalam upaya menghubungkan muslim moderat

lokal

> > > dan nasional dan organisasi dengan jaringan regional. Sebagai

pelopor

> > > dari usaha ini adalah International Center for Islam and Pluralism

> > > (ICIP) yang didirikan di Jakarta dengan dukungan Asia

Foundation. Misi

> > > ICIP adalah membangun jaringan NGO muslim dan aktivis muslim

progresif

> > > dan intelektual di Asia Tenggara (dan secepatnya di seluruh

dunia) dan

> > > bertindak sebagai kendaraan untuk menyebarluaskan ide-ide para

pemikir

> > > muslim moderat dan progresif secara internasional. ICIP telah

> > > melakukan workshop-workshop regional tentang Islam dan

Demokrasi, yang

> > > pertama di Manila bersama dengan PCID pada September 2005 dan yang

> > > kedua di Jakarta pada Desember 2005. Menteri Luar Negeri Thailand

> > > Surin Pitsuwan bahkan telah menyarankan untuk memanfaatkan ICIP

untuk

> > > menghubungkan komunitas pondok di Thailand Selatan dengan pesantren

> > > progresif di Indonesia.

> > >

> > > Penutup

> > >

> > > Pengkajian yang mendalam tentang khiththah politik negara-negara

> > > Kapitalis terhadap negeri-negeri muslim sangatlah penting dan

mendesak

> > > untuk dilakukan. Secara khusus bagi para pengemban dakwah di

Indonesia

> > > yang memiliki harapan dan cita-cita untuk menyelamatkan negeri ini

> > > dengan penegakan Khilafah Islamiyah. Dengan demikian, perjuangan

> > > politik menjadi lebih fokus untuk membongkar serta melawan strategi

> > > politik dan cara-cara yang dilancarkan musuh-musuh Islam.

> > >

> > > Penguasaan terhadap konstelasi politik internasional dan pengaruhnya

> > > dalam skala nasional akan memudahkan kita untuk merancang cara-cara

> > > baru dan kreatif dalam rangka mengubah pemikiran dan perasaan umat.

> > > Kemampuan membaca jaringan-jaringan musuh dan membangun

> > > jaringan-jaringan ideologis di tengah-tengah umat akan menghancurkan

> > > jaringan musuh yang sesungguhnya lebih rapuh daripada sarang

> > > laba-laba. Hal ini sekaligus akan memberi jalan untuk meraih

> > > kepemimpinan di tengah umat.

> > >

> > > Satu kunci keberhasilan bagi pengemban dakwah hanyalah senantiasa

> > > berpegang teguh pada fikroh dan thoriqoh di atas landasan aqidah

> > > Islam. Semoga Allah SWT akan memberikan kecemerlangan berfikir untuk

> > > menggulirkan strategi politik yang tinggi dengan cara-cara yang

benar

> > > dan tepat.

> > >

> > > Wallaahu a'lamu bish shawab.

> > >

> > >

> >

> > --

> > Sent from my mobile device

> >  

> >

> 

> 

> [Non-text portions of this message have been removed]

>




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke