kita salah kaprah bgt mendefinisikan pembangunan... makanya jombang jangan
dibangun kayak jakarta....
dari: http://www.asiananews.org/?q=node/117

JAKARTA, INDONESIA — A SINKING GIANT?

Andre Vitchek

Pada saat ini, gedung pencakar langit, jalanan macet dipadati oleh ratusan
ribu kendaraan, dan mal-mal raksasa telah menjadi pusat kebudayaan Jakarta ,
yang notabene merupakan kota terbesar ke-4 di dunia. Terjepit diantara
gedung tinggi, terhampar perkampungan dimana bermukim sebagian besar
penduduk Jakarta yang tidak memiliki akses sanitasi dasar, air bersih atau
pengelolaan limbah.

Disaat hampir semua kota-kota utama lain di Asia Tenggara menginvestasikan
dana besar-besaran untuk transportasi publik, taman kota, taman bermain,
trotoar besar, dan lembaga kebudayaan seperti museum, gedung konser, dan
pusat pameran, Jakarta tumbuh secara brutal dengan berpihak hanya pada
pemilik modal dan tidak peduli akan nasib mayoritas penduduknya yang miskin.

Kebanyakan penduduk Jakarta belum pernah pergi ke luar negeri, sehingga
mereka tidak dapat membandingkan kota Jakarta dengan Kuala Lumpur atau
Singapura, Hanoi atau Bangkok . Liputan dan statistik pembanding juga jarang
ditampilkan oleh media massa setempat. Meskipun bagi para wisatawan asing
Jakarta merupakan neraka dunia, media massa setempat menggambarkan Jakarta
sebagai kota "modern", "kosmopolitan", dan "metropolis".

Para pendatang/wisatawan seringkali terheran-heran dengan kondisi Jakarta
yang tidak memiliki taman rekreasi publik. Bangkok, yang tidak dikenal
sebagai kota yang ramah publik, masih memiliki beberapa taman yang menawan.
Bahkan, Port Moresby, ibukota Papua Nugini, yang miskin, terkenal akan taman
bermain yang besar, pantai dan jalan setapak di pinggir laut yang indah.

Di Jakarta kita perlu biaya untuk segala sesuatu. Banyak lahan hijau diubah
menjadi lapangan golf demi kepentingan orang kaya. Kawasan Monas seluas
kurang lebih 1 km persegi bisa jadi merupakan satu-satunya kawasan publik di
kota berpenduduk lebih dari 10 juta ini. Meskipun menyandang predikat kota
maritim, Jakarta telah terpisah dari laut dengan Ancol menjadi satu-satunya
lokasi rekreasi yang sebenarnya hanya berupa pantai kotor.

Bahkan kalau mau jalan-jalan ke Ancol, satu keluarga dengan 4 orang anggota
keluarga harus mengeluarkan uang Rp 40.000 untuk tiket masuk, satu hal yang
tak masuk akal di belahan lain dunia. Beberapa taman publik kecil kondisinya
menyedihkan dan tidak aman.

Sama sekali tidak ditemui tempat pejalan kaki di seluruh penjuru kota
(tempat pejalan kaki yang dimaksud adalah sesuai dengan standar
"internasional" ). Nyaris seluruh kota-kota di dunia (kecuali beberapa kota
di AS, seperti Houston dan LA) ramah terhadap pejalan kaki. Mobil seringkali
tidak diperkenankan berkeliaran di pusat kota. Trotoar yang lebar merupakan
sarana tr ansportasi publik jarak pendek yang paling efisien, sehat, dan
ramah lingkungan di daerah yang padat penduduk.

Di Jakarta, nyaris tidak dijumpai bangku untuk duduk dan rileks, tidak ada
keran air minum gratis atau toilet umum. Ini memang remeh, tapi sangat
penting, merupakan suatu detil yang menjadi simbol kehidupan perkotaan di
bagian lain dunia.

Sebagian besar kota-kota dunia, ingin dikunjungi dan dikenang akan
kebudayaannya. Singapura sedang berupaya mengubah ci tr a kota belanjanya
menjadi jantung kesenian Asia Tenggara. Esplanade Theatre yang monumental
telah mengubah wajah kota Singapura, dimana ia menawarkan konser musik
klasik, balet, dan opera internasional kelas satu, disamping pertunjukan
artis kontemporer kawasan. Banyak pertunjukan yang disubsidi dan seringkali
gratis atau murah, bila dibandingkan dengan pendapatan warga kota yang
relatif tinggi.

Kuala Lumpur menghabiskan $100 juta untuk membangun balai konser
philharmonic yang terletak persis dibawah Petronas Tower , salah satu gedung
tertinggi di dunia. Balai konser prestisius dan impresif ini mempertunjukkan
grup orkes tr a lokal dan internasional. Kuala Lumpur juga sedang
menginvestasikan beberapa juta dolar untuk memugar museum dan galeri, dari
Museum Nasional hingga Galeri Seni Nasional.

Hanoi bangga akan budaya dan seninya, yang dipromosikan guna menarik jutaan
turis untuk mengunjungi galeri-galeri lukisan yang tak terhitung jumlahnya,
dimana lukisan tersebut merupakan salah satu yang terbaik di Asia Tenggara.
Gedung Operanya yang dipugar secara reguler mempertunjukkan pagelaran musik
Asia dan Barat.

Candi-candi dan istana kolosal di Bangkok eksis berdampingan dengan teater
dan festival film internasional, klub jazz yang tak terhitung jumlahnya, dan
juga pilihan kuliner otentik dari segala penjuru dunia. Kalau bicara musik
dan kehidupan malam, tak ada kota di Asia Tenggara yang semeriah Manila .

Nah, sekarang balik ke Jakarta . Siapapun yang bernah berkunjung ke
"perpustakaan umum" atau gedung Arsip Nasional pasti tahu bedanya. Tak
heran, dalam pendidikan Indonesia, budaya dan seni tidak dianggap
"menguntungkan" (kecuali musik pop), sehingga menjadi tidak relevan.
Indonesia merupakan negara dengan anggaran pendidikan terendah nomor 3 di
dunia (menurut The Economist, hanya 1,2% dari PDB) setelah Guyana
Khatulistiwa dan Ekuador (di kedua negara tersebut keadaan sekarang
berkembang cepat berkat pemerintahan baru yang progresif)

Museum di Jakarta berada dalam kondisi memprihatinkan, sama sekali tidak
menawarkan eksibisi internasional. Museum tersebut terlihat seperti berasal
dari zaman baheula dan tak heran kalau Belanda yang membangun kesemuanya.
Tidak hanya koleksinya yang tak terawat, tapi juga ketiadaan unsur-unsur
modern seperti kafe, toko cinderamata, toko buku atau perpustakaan publik.
Kelihatannya manajemen museum tidak punya visi atau kreativitas. Bahkan,
meskipun mereka punya visi atau kreativitas, pasti akan terkendala dengan
ketiadaan dana.

Sepertinya Jakarta tidak punya perencana kota, hanya ada pengembang swasta
yang tidak punya respek atau kepedulian akan mayoritas penduduk yang miskin
(mayoritas besar, tak peduli apa yang dikatakan oleh data statistik yang
seringkali dimanipulasi pemerintah). Kota Jakarta praktis menyerahkan
dirinya ke sektor swasta, yang kini nyaris mengendalikan semua hal, mulai
dari perumahan hingga ke area publik.

Sedangkan beberapa dekade yang lalu di Singapura, dan baru-baru ini di
Kualalumpur, mereka berhasil menghilangkan total perkampungan kumuh dari
wilayah kota, namun Jakarta tidak mampu atau tidak mau memberikan warganya
perumahan bersubsidi dengan harga terjangkau yang dilengkapi dengan air
ledeng, listrik, sistem pembuangan limbah, taman bermain, trotoar dan sistem
tr ansportasi massal.

Selain Singapura, Kualalumpur dengan berpenduduk hanya 2 juta jiwa memiliki
satu jalur Metro (Putra Line), satu monorail, beberapa jalur LRT Star yang
efisien, dan jaringan keretaapi kecepatan tinggi yang menghubungkan kota
dengan ibu kota baru Putrajaya. Sistem "Rapid" memiliki ratusan bus modern,
bersih, dan ber-AC. Tarifnya disubsidi, tiket bus Rapid hanya sekitar 2
Ringgit (kuranglebih Rp 4600) untuk penggunaan tak terbatas sepanjang hari
di jalur yang sama. Tiket abonemen bulanan dan harian yang sangat murah juga
tersedia.

Bangkok menunjuk kontraktor Siemens dari Jerman untuk membangun 2 jalur
panjang "Sky Train" dan satu jalur metro. Bangkok juga memanfaatkan sungai
dan kanal sebagai tr ansportasi publik dan objek wisata. Pemerintahan kota
Bangkok juga mengklaim bahwa mereka sedang membangun jalur tambahan
sepanjang 80 km untuk sistem tersebut guna meyakinkan penduduk untuk
meninggalkan mobil mereka di rumah dan memanfaatkan transportasi umum.
Bus-bus kuno yang berpolusi sudah sepenuhnya dilarang beroperasi di Hanoi,
Singapura, Kualalumpur, dan Bangkok. Jakarta ? Berkat korupsi dan pejabat
pemerintahan yang tak kompeten, Jakarta tenggelam dalam kondisi yang
berkebalikan dengan kota-kota tersebut.

Mercer Human Resource Consulting, dalam laporannya tentang kualitas hidup,
menempatkan Jakarta di posisi setara dengan kota-kota miskin di Afrika dan
Asia Selatan, bahkan dibawah kota Nairobi dan Medellin.

Walaupun Jakarta menjadi salah satu ibukota terburuk di dunia, hidup disana
tidaklah murah.Menurut Survey Mercer Human Resource Consulting tahun 2006,
Jakarta menduduki peringkat 48 kota termahal di dunia untuk ekspa triat,
jauh diatas Berlin (peringkat 72), Melbourne (74) dan Washington DC (83).
Nah, kalau untuk ekspatriat saja mahal, apalagi buat penduduk lokal yang
pendapatan perkapita di bawah $1000?

Anehnya, orang Jakarta diam seribu bahasa. Mereka pasrah akan kualitas udara
yang jelek, terbiasa dengan pemandangan pengemis di perempatan jalan, dengan
kampung kumuh di bawah jalan layang dan di pinggir sungai yang kotor dan
penuh limbah beracun, dengan kemacetan berjam-jam, dengan banjir dan tikus.

Kalau saja ada sedikit harapan, kebenaran pasti akan terucap, dan semakin
cepat semakin baik. Hanya diagnosis kejam dan realistis yang bisa mengarah
pada obat. Betapapun pahitnya kebenaran, tetap saja lebih baik ketimbang
dusta dan penipuan. Jakarta telah tertinggal jauh dibelakang ibukota lain
negara tetangga dalam hal estetika, pemukiman, kebudayaan, tr ansportasi,
dan kualitas dan higiene makanan. Sekarang Jakarta telah kehilangan
kebanggaan dan mesti belajar dari Kualalumpur, Singapura, Brisbane, dan
bahkan dalam beberapa hal dari tetangganya yang lebih miskin seperti Port
Moresby, Manila, dan Hanoi.

Data statistik harus transparan dan tersedia luas. Warga harus belajar
bertanya dan bagaimana untuk memperoleh jawaban dan akuntabilitas. Hanya
kalau mereka memahami seberapa dalamnya kota mereka telah terperosok, maka
barulah ada harapan. "Kita harus berhati-hati," kata produser film Malaysia
dalam perayaan tahun baru di Kualalumpur. "Malaysia punya banyak masalah.
Kalau kita tidak hati-hati, dalam 20-30 tahun Kualalumpur akan bernasib sama
seperti Jakarta!"

Dapatkah pernyataan ini dibalik? Mampukah Jakarta menemukan kekuatan dan
solidaritas untuk mobilisasi sehingga dapat menyaingi Kualalumpur? Mampukah
kecukupan mengatasi keserakahan? Dapatkah korupsi diberantas dan diganti
dengan kreatifitas? Akankah ukuran vila pribadi mengecil, dan kawasan hijau,
perumahan publik, taman bermain, perpustakaan, sekolah dan rumah sakit
berkembang pesat?

Orang luar seperti saya hanya dapat mengamati, bercerita, dan bertanya. Dan
hanya masyarakat Jakarta yang punya jawaban dan solusinya.


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

----Hapus qoute yang tidak relevan jika me-reply!----
Arsip milis ada di:
http://www.mail-archive.com/[email protected]/
Situs sekolah ada di:
http://www.smun2-jbg.sch.id | http://www.smadajo.org
Blog tidak resmi ada di:
http://http://smun2jombang.wordpress.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://uk.groups.yahoo.com/group/smu2jombang/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://uk.groups.yahoo.com/group/smu2jombang/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://uk.docs.yahoo.com/info/terms.html

Kirim email ke