jakarta pada banyak hal memang membuat kita (saya ding) benci. tapi mau pergi darisini susah nyari alternatifnya.
ngomong omong soal penataan kota, rasa rasanya hampir semua kota di indonesia tak ada yang namanya perencanaan. bukttinya, tempat belanja ada dimana-mana. di kota mana pun. intinya... intinya apa ya? hehehe 2009/1/7 Sugiri Pandu Murti <[email protected]> > Hahaha.. maksud hati ngirim artikel serius, tp malah bikin bingung... > seakan ndak ada ujan ndak ada angin kok ngirim beginian.. sorry, my > bad.. > > Eniwey, awal muasalnya saya sering baca poro sedherek suka nyinggung > membangun jombang, memajukan jombang, etc... Terakhir disinggung pak > jalal lg masalah memajukan jombang ini.. Saya hidup 10 th di jkt yg > katanya kota 'termaju' di endonesia gak ngerasa ok tuh dg > 'pembangunan' & 'kemajuan' tadi.. > > Thus, saya kirim artikel yg ditulis org bule ttg perasaannya ketika di > jkt.. > > Intinya seh, jombang harus maju, tp bukan 'ala' jakarta.. Mumpung > jombang belum 'diapa2in', ada baiknya berkaca pd jakarta, the capital > city of our beloved indonesia.. Begitu pak saat & sedherek sedoyo... > > On 1/7/09, Saat Prihartono <[email protected]> wrote: > > sorry, maksud artikel ini apa yah?? saya ga' mudheng... > > > > Best regards, > > > > > > > > Saat Prihartono > > > > > > > > > > > > ________________________________ > > Dari: Sugiri Pandu Murti <[email protected]> > > Kepada: [email protected] > > Terkirim: Rabu, 7 Januari, 2009 17:25:31 > > Topik: [smu2jombang] Ngomong2 tentang pembangunan.... > > > > kita salah kaprah bgt mendefinisikan pembangunan... makanya jombang > jangan > > dibangun kayak jakarta.... > > dari: http://www.asiananews.org/?q=node/117 > > > > JAKARTA, INDONESIA A SINKING GIANT? > > > > Andre Vitchek > > > > Pada saat ini, gedung pencakar langit, jalanan macet dipadati oleh > ratusan > > ribu kendaraan, dan mal-mal raksasa telah menjadi pusat kebudayaan > Jakarta , > > yang notabene merupakan kota terbesar ke-4 di dunia. Terjepit diantara > > gedung tinggi, terhampar perkampungan dimana bermukim sebagian besar > > penduduk Jakarta yang tidak memiliki akses sanitasi dasar, air bersih > atau > > pengelolaan limbah. > > > > Disaat hampir semua kota-kota utama lain di Asia Tenggara > menginvestasikan > > dana besar-besaran untuk transportasi publik, taman kota, taman bermain, > > trotoar besar, dan lembaga kebudayaan seperti museum, gedung konser, dan > > pusat pameran, Jakarta tumbuh secara brutal dengan berpihak hanya pada > > pemilik modal dan tidak peduli akan nasib mayoritas penduduknya yang > miskin. > > > > Kebanyakan penduduk Jakarta belum pernah pergi ke luar negeri, sehingga > > mereka tidak dapat membandingkan kota Jakarta dengan Kuala Lumpur atau > > Singapura, Hanoi atau Bangkok . Liputan dan statistik pembanding juga > jarang > > ditampilkan oleh media massa setempat. Meskipun bagi para wisatawan asing > > Jakarta merupakan neraka dunia, media massa setempat menggambarkan > Jakarta > > sebagai kota "modern", "kosmopolitan", dan "metropolis". > > > > Para pendatang/wisatawan seringkali terheran-heran dengan kondisi Jakarta > > yang tidak memiliki taman rekreasi publik. Bangkok, yang tidak dikenal > > sebagai kota yang ramah publik, masih memiliki beberapa taman yang > menawan. > > Bahkan, Port Moresby, ibukota Papua Nugini, yang miskin, terkenal akan > taman > > bermain yang besar, pantai dan jalan setapak di pinggir laut yang indah. > > > > Di Jakarta kita perlu biaya untuk segala sesuatu. Banyak lahan hijau > diubah > > menjadi lapangan golf demi kepentingan orang kaya. Kawasan Monas seluas > > kurang lebih 1 km persegi bisa jadi merupakan satu-satunya kawasan publik > di > > kota berpenduduk lebih dari 10 juta ini. Meskipun menyandang predikat > kota > > maritim, Jakarta telah terpisah dari laut dengan Ancol menjadi > satu-satunya > > lokasi rekreasi yang sebenarnya hanya berupa pantai kotor. > > > > Bahkan kalau mau jalan-jalan ke Ancol, satu keluarga dengan 4 orang > anggota > > keluarga harus mengeluarkan uang Rp 40.000 untuk tiket masuk, satu hal > yang > > tak masuk akal di belahan lain dunia. Beberapa taman publik kecil > kondisinya > > menyedihkan dan tidak aman. > > > > Sama sekali tidak ditemui tempat pejalan kaki di seluruh penjuru kota > > (tempat pejalan kaki yang dimaksud adalah sesuai dengan standar > > "internasional" ). Nyaris seluruh kota-kota di dunia (kecuali beberapa > kota > > di AS, seperti Houston dan LA) ramah terhadap pejalan kaki. Mobil > seringkali > > tidak diperkenankan berkeliaran di pusat kota. Trotoar yang lebar > merupakan > > sarana tr ansportasi publik jarak pendek yang paling efisien, sehat, dan > > ramah lingkungan di daerah yang padat penduduk. > > > > Di Jakarta, nyaris tidak dijumpai bangku untuk duduk dan rileks, tidak > ada > > keran air minum gratis atau toilet umum. Ini memang remeh, tapi sangat > > penting, merupakan suatu detil yang menjadi simbol kehidupan perkotaan di > > bagian lain dunia. > > > > Sebagian besar kota-kota dunia, ingin dikunjungi dan dikenang akan > > kebudayaannya. Singapura sedang berupaya mengubah ci tr a kota belanjanya > > menjadi jantung kesenian Asia Tenggara. Esplanade Theatre yang monumental > > telah mengubah wajah kota Singapura, dimana ia menawarkan konser musik > > klasik, balet, dan opera internasional kelas satu, disamping pertunjukan > > artis kontemporer kawasan. Banyak pertunjukan yang disubsidi dan > seringkali > > gratis atau murah, bila dibandingkan dengan pendapatan warga kota yang > > relatif tinggi. > > > > Kuala Lumpur menghabiskan $100 juta untuk membangun balai konser > > philharmonic yang terletak persis dibawah Petronas Tower , salah satu > gedung > > tertinggi di dunia. Balai konser prestisius dan impresif ini > mempertunjukkan > > grup orkes tr a lokal dan internasional. Kuala Lumpur juga sedang > > menginvestasikan beberapa juta dolar untuk memugar museum dan galeri, > dari > > Museum Nasional hingga Galeri Seni Nasional. > > > > Hanoi bangga akan budaya dan seninya, yang dipromosikan guna menarik > jutaan > > turis untuk mengunjungi galeri-galeri lukisan yang tak terhitung > jumlahnya, > > dimana lukisan tersebut merupakan salah satu yang terbaik di Asia > Tenggara. > > Gedung Operanya yang dipugar secara reguler mempertunjukkan pagelaran > musik > > Asia dan Barat. > > > > Candi-candi dan istana kolosal di Bangkok eksis berdampingan dengan > teater > > dan festival film internasional, klub jazz yang tak terhitung jumlahnya, > dan > > juga pilihan kuliner otentik dari segala penjuru dunia. Kalau bicara > musik > > dan kehidupan malam, tak ada kota di Asia Tenggara yang semeriah Manila . > > > > Nah, sekarang balik ke Jakarta . Siapapun yang bernah berkunjung ke > > "perpustakaan umum" atau gedung Arsip Nasional pasti tahu bedanya. Tak > > heran, dalam pendidikan Indonesia, budaya dan seni tidak dianggap > > "menguntungkan" (kecuali musik pop), sehingga menjadi tidak relevan. > > Indonesia merupakan negara dengan anggaran pendidikan terendah nomor 3 di > > dunia (menurut The Economist, hanya 1,2% dari PDB) setelah Guyana > > Khatulistiwa dan Ekuador (di kedua negara tersebut keadaan sekarang > > berkembang cepat berkat pemerintahan baru yang progresif) > > > > Museum di Jakarta berada dalam kondisi memprihatinkan, sama sekali tidak > > menawarkan eksibisi internasional. Museum tersebut terlihat seperti > berasal > > dari zaman baheula dan tak heran kalau Belanda yang membangun kesemuanya. > > Tidak hanya koleksinya yang tak terawat, tapi juga ketiadaan unsur-unsur > > modern seperti kafe, toko cinderamata, toko buku atau perpustakaan > publik. > > Kelihatannya manajemen museum tidak punya visi atau kreativitas. Bahkan, > > meskipun mereka punya visi atau kreativitas, pasti akan terkendala dengan > > ketiadaan dana. > > > > Sepertinya Jakarta tidak punya perencana kota, hanya ada pengembang > swasta > > yang tidak punya respek atau kepedulian akan mayoritas penduduk yang > miskin > > (mayoritas besar, tak peduli apa yang dikatakan oleh data statistik yang > > seringkali dimanipulasi pemerintah). Kota Jakarta praktis menyerahkan > > dirinya ke sektor swasta, yang kini nyaris mengendalikan semua hal, mulai > > dari perumahan hingga ke area publik. > > > > Sedangkan beberapa dekade yang lalu di Singapura, dan baru-baru ini di > > Kualalumpur, mereka berhasil menghilangkan total perkampungan kumuh dari > > wilayah kota, namun Jakarta tidak mampu atau tidak mau memberikan > warganya > > perumahan bersubsidi dengan harga terjangkau yang dilengkapi dengan air > > ledeng, listrik, sistem pembuangan limbah, taman bermain, trotoar dan > sistem > > tr ansportasi massal. > > > > Selain Singapura, Kualalumpur dengan berpenduduk hanya 2 juta jiwa > memiliki > > satu jalur Metro (Putra Line), satu monorail, beberapa jalur LRT Star > yang > > efisien, dan jaringan keretaapi kecepatan tinggi yang menghubungkan kota > > dengan ibu kota baru Putrajaya. Sistem "Rapid" memiliki ratusan bus > modern, > > bersih, dan ber-AC. Tarifnya disubsidi, tiket bus Rapid hanya sekitar 2 > > Ringgit (kuranglebih Rp 4600) untuk penggunaan tak terbatas sepanjang > hari > > di jalur yang sama. Tiket abonemen bulanan dan harian yang sangat murah > juga > > tersedia. > > > > Bangkok menunjuk kontraktor Siemens dari Jerman untuk membangun 2 jalur > > panjang "Sky Train" dan satu jalur metro. Bangkok juga memanfaatkan > sungai > > dan kanal sebagai tr ansportasi publik dan objek wisata. Pemerintahan > kota > > Bangkok juga mengklaim bahwa mereka sedang membangun jalur tambahan > > sepanjang 80 km untuk sistem tersebut guna meyakinkan penduduk untuk > > meninggalkan mobil mereka di rumah dan memanfaatkan transportasi umum. > > Bus-bus kuno yang berpolusi sudah sepenuhnya dilarang beroperasi di > Hanoi, > > Singapura, Kualalumpur, dan Bangkok. Jakarta ? Berkat korupsi dan pejabat > > pemerintahan yang tak kompeten, Jakarta tenggelam dalam kondisi yang > > berkebalikan dengan kota-kota tersebut. > > > > Mercer Human Resource Consulting, dalam laporannya tentang kualitas > hidup, > > menempatkan Jakarta di posisi setara dengan kota-kota miskin di Afrika > dan > > Asia Selatan, bahkan dibawah kota Nairobi dan Medellin. > > > > Walaupun Jakarta menjadi salah satu ibukota terburuk di dunia, hidup > disana > > tidaklah murah.Menurut Survey Mercer Human Resource Consulting tahun > 2006, > > Jakarta menduduki peringkat 48 kota termahal di dunia untuk ekspa triat, > > jauh diatas Berlin (peringkat 72), Melbourne (74) dan Washington DC (83). > > Nah, kalau untuk ekspatriat saja mahal, apalagi buat penduduk lokal yang > > pendapatan perkapita di bawah $1000? > > > > Anehnya, orang Jakarta diam seribu bahasa. Mereka pasrah akan kualitas > udara > > yang jelek, terbiasa dengan pemandangan pengemis di perempatan jalan, > dengan > > kampung kumuh di bawah jalan layang dan di pinggir sungai yang kotor dan > > penuh limbah beracun, dengan kemacetan berjam-jam, dengan banjir dan > tikus. > > > > Kalau saja ada sedikit harapan, kebenaran pasti akan terucap, dan semakin > > cepat semakin baik. Hanya diagnosis kejam dan realistis yang bisa > mengarah > > pada obat. Betapapun pahitnya kebenaran, tetap saja lebih baik ketimbang > > dusta dan penipuan. Jakarta telah tertinggal jauh dibelakang ibukota lain > > negara tetangga dalam hal estetika, pemukiman, kebudayaan, tr ansportasi, > > dan kualitas dan higiene makanan. Sekarang Jakarta telah kehilangan > > kebanggaan dan mesti belajar dari Kualalumpur, Singapura, Brisbane, dan > > bahkan dalam beberapa hal dari tetangganya yang lebih miskin seperti Port > > Moresby, Manila, dan Hanoi. > > > > Data statistik harus transparan dan tersedia luas. Warga harus belajar > > bertanya dan bagaimana untuk memperoleh jawaban dan akuntabilitas. Hanya > > kalau mereka memahami seberapa dalamnya kota mereka telah terperosok, > maka > > barulah ada harapan. "Kita harus berhati-hati," kata produser film > Malaysia > > dalam perayaan tahun baru di Kualalumpur. "Malaysia punya banyak masalah. > > Kalau kita tidak hati-hati, dalam 20-30 tahun Kualalumpur akan bernasib > sama > > seperti Jakarta!" > > > > Dapatkah pernyataan ini dibalik? Mampukah Jakarta menemukan kekuatan dan > > solidaritas untuk mobilisasi sehingga dapat menyaingi Kualalumpur? > Mampukah > > kecukupan mengatasi keserakahan? Dapatkah korupsi diberantas dan diganti > > dengan kreatifitas? Akankah ukuran vila pribadi mengecil, dan kawasan > hijau, > > perumahan publik, taman bermain, perpustakaan, sekolah dan rumah sakit > > berkembang pesat? > > > > Orang luar seperti saya hanya dapat mengamati, bercerita, dan bertanya. > Dan > > hanya masyarakat Jakarta yang punya jawaban dan solusinya. > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > ------------------------------------ > > > > ----Hapus qoute yang tidak relevan jika me-reply!---- > > Arsip milis ada di: > > http://www.mail-archive.com/[email protected]/ > > Situs sekolah ada di: > > http://www.smun2-jbg.sch.id | http://www.smadajo.org > > Blog tidak resmi ada di: > > http://http://smun2jombang.wordpress.com/Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > > ___________________________________________________________________________ > > Dapatkan alamat Email baru Anda! > > Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain! > > http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/ > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > -- > Sent from my mobile device > > ------------------------------------ > > ----Hapus qoute yang tidak relevan jika me-reply!---- > Arsip milis ada di: > http://www.mail-archive.com/[email protected]/ > Situs sekolah ada di: > http://www.smun2-jbg.sch.id | http://www.smadajo.org > Blog tidak resmi ada di: > http://http://smun2jombang.wordpress.com/Yahoo! Groups Links > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ ----Hapus qoute yang tidak relevan jika me-reply!---- Arsip milis ada di: http://www.mail-archive.com/[email protected]/ Situs sekolah ada di: http://www.smun2-jbg.sch.id | http://www.smadajo.org Blog tidak resmi ada di: http://http://smun2jombang.wordpress.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://uk.groups.yahoo.com/group/smu2jombang/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://uk.groups.yahoo.com/group/smu2jombang/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://uk.docs.yahoo.com/info/terms.html
