Note: forwarded message attached.
 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 
--- Begin Message ---
                     LELAKI YANG SELALU BERBAGI
   
  Temannya menulis: Ia seorang lelaki yang sangat baik, istrinya pun sangat 
baik. Setiap bulan kami gajian, ia menghitung-hitung uang di rekening 
tabungannya. Lalu mulailah membagi seperti ini: sekian rupiah untuk istri dan 
rumah tangga, sekian rupiah untuk ibu yang sudah janda, sekian rupiah untuk 
biaya kuliah adik kembarnya,. Lalu dia berhenti menghitung dan masih ada sisa 
uang yang tak dihitungnya. Saya heran dan saya tanya, kenapa sisa itu tak 
dihitungnya. Dia bilang itu bukan uangya. Itu hak orang lain. Saya bertanya 
padanya : apakah selalu begitu caramu menghitung uang? Dia menjawab “ya.” Bukan 
saya tak tahu kalau dalam rizki ada bagian dan hak orang lain. Tapi baru kali 
ini saya melihat ada orang yang memang membaginya sejak awal dalam jumlah yang 
dianggarkan, bukan sekedar mengeluarkannya berapa saja atau sekadarnya ketika 
bertemu pengemis di jalan, menyumbang ke mesjid, dll.  Dia selalu memilih kata: 
“itu bukan uang saya.” Saya lihat, amplop untuk orang lain sama
 tebalnya dengan amplop untuk biaya rumah tangganya. Saya tanya: yang jadi hak 
orang lain itu terdiri dari apa saja? Dia jawab: sekian rupiah untuk teman saya 
yang sedang kuliah, sekian rupiah untuk beberapa anak yatim dan sekian rupiah 
untuk jaga-jaga kalau ada orang lain yang butuh bantuan. 
   
  Lelaki yang diceritakan oleh seorang teman di atas, juga menjadi teman saya. 
Dia bekerja di sebuah perusahaan tembaga emas. Dari cerita-cerita lelaki itu 
pada saya, saya bisa bisa menyimpulkan bahwa dia memang begitu sangat peduli 
terhadap orang-orang di sekiarnya, terutama orang yang tidak mampu. Dia punya 
banyak anak katanya. Ada kali belasan anak yang dia punya. Saya heran, umur dia 
cuma beberapa tahun lebih tua dari saya. Kalau lelaki itu cepet menikah dan 
punya banyak anak, tentulah tak sampai belasan jumlahnya. Anak-anak yang dia 
maksud itu memang bukan anak kandungnya, melainkan anak angkat yang dia biayai 
sekolah bahkan sampai mereka kuliah. Selain itu dia juga dia punya teman yang 
mengelolan panti asuhan yang saya yakin sumber dana panti asuhan tersebut juga 
berasal dari lelaki itu. 
   
  Saya pernah berkata padanya; “Mas, saya sangat jarang menjumpai orang seperti 
dirimu. Saya heran.”
  Pada saya dia bercerita begini: 
  “Sister Eqi, dulu keluarga saya sangat miskin. Aku pernah satu hari tidak 
makan karena tidak ada yang dimakan. Suatu hari, orang tua saya pulang dengan 
tangan kosong. Tanpa membawa uang sepeserpun setelah lelah seharian mencari. 
Esoknya, mereka kembali menyambut hari dengan satu harapan semoga mereka 
menemuan uang. Dan aku ditinggalkan bersama adik-adikku tanpa ada sesuatu pun 
yang dapat dimakan. Kemudian aku gorengkan adikku sisa nasi kemarin yang telah 
dikeringkan dengan goreng sangrai tanpa minyak. Beberapa waktu kemudian, adikku 
menyerah pada nasib. Mereka meninggal karena kekurangan gizi pada hari yang 
bersamaan. Aku bersekolah atas belasan kasihan saudara-saudaraku yang juga sama 
miskinnya. Waktu SMP ayahku meninggal. Aku melanjutkan SMA dan kuliah dari 
dengan beasiswa. Aku tak pernah membayar sedikitpun karena nilaiku yang 
memuaskan. Selesai kuliah, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan tambang 
terkemuka dengan gajinya yang lumayan. Sekarang aku bisa membiayai
 ibuku, menyekolahkan adik-adikku dan sedikit-sedikit membayar kasih sayang 
dari orang-orang yang menyayangiku. Aku tidak membayar tunai kepada mereka. 
Tapi aku membayar hutangku kepada orang-orang yang tidak mampu. Aku sangat 
paham, alangkah sakitnya menjadi orang yang tidak mapu dan alangkah manisnya 
bantuan uluran dari orang-orang yang peduli. Inilah hutangku yang harus aku 
bayar. Hutang terima kasih, hutang budi sampai dibawa mati. Maka Sister Eqi, 
aku ingin kau tularkan kasih sayangmu kepada sesama.”
   
  Airmata saya menitik. Saya menangis sejadi-jadinya dengan cerita lelaki itu. 
Untuk satu hal yang membuat saya  terlalu sombong:  sudah pedulikah saya 
terhadap orang lain selain diri saya? Sungguh, saya merasa tidak ada 
apa-apanya. 
   
  Saya pernah membaca entah dimana yang intinya begini: kita tidak akan pernah 
merasakan manisnya manis kalau tidak pernah merasakan pahitnya pahit. Dan 
lelaki itu, saya kira telah merasakan pahit yang begitu pahit dalam hidupnya. 
   
  Melalui lelaki itu pula, saya sering minta tausiah kala saya merasa sedang 
futur. Dia dengan senang hati akan mengabulkannya. Bukan hanya tausiah agama. 
Terkadang dia mengirim beberapa kisah bijak dan puisi yang sampai saat ini 
masih tersimpan dengan manisnya di inbox email saya.*
   
   

 
---------------------------------
Bored stiff? Loosen up...
Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.

--- End Message ---

Kirim email ke