Note: forwarded message attached.
 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 
--- Begin Message ---

    Assalamu'alaikum Wr Wb
   
   
  Dear All,
   
   
  Intan copy dari milis tetangga. Bagus. Mengajarkan kita akan arti kesetiaan
   
  Dari pada pusing dengan bacaan kuliah. he............
  ---------------------
   
  Pada hari pernikahanku,aku membopong istriku. Mobil pengantin
berhenti didepan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku 
menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia
memasuki rumah kami.

Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia.

Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.


Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir
air bening. Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan 
berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan 
kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi 
kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yang 
bersamaan.


Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. 
Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak 
kusangka-sangka.


Dew hadir dalam kehidupanku.


Waktu itu adalah hari yang cerah.


Aku berdiri di balkon dengan Dew yang sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi 
terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang kubelikan untuknya.

Dew berkata , "Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis."


Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru
menikah,istriku pernah berkata, "Pria sepertimu,begitu sukses, akan menjadi 
sangat menarik bagi para gadis."


Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalo aku
telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya.
Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, "Kamu harus pergi membeli
beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan dikantor"


Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat 
tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan 
tidak mungkin. Bagaimanapun,aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini 
pada istriku. Walau bagaimanapun kujelaskan, ia pasti akan sangat terluka. 
Sejujurnya,ia adalah seorang istri yang baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan 
makan malam. Aku duduk santai didepan TV.

Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama.
Atau aku akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dew. Ini adalah
hiburan bagiku.

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, "Seandainya kita bercerai, apa
yang akan kau lakukan? "


Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia
percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh darinya. Aku
tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa 
aku serius.


Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku. 
Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha 
untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia. Ia kelihatan 
sedikit kecurigaan. Ia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku 
membaca ada kelukaan di matanya.


Sekali lagi, Dew berkata padaku," He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan 
hidup bersama."

Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi.

Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya,"Ada 
sesuatu yang harus kukatakan"


Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka 
dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku 
terus berpikir.


"Aku ingin bercerai", ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.


Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secara 
lembut,"kenapa?"


"Aku serius."

Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah.
Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,"Kamu bukan laki- laki!".


Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu kalau 
ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak 
bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dew.


Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surat perceraian dimana 
istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku.
Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian. Aku merasakan 
sakit dalam hati. Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi 
seorang yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang 
telah kuucapkan.


Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak pernah 
kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide 
perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang 
sungguh-sungguh telah terjadi.


Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku.
Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran.
Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur
kembali.

Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya. Ia tidak menginginkan apapun 
dariku,tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya,dan dalam 
waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya.


Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikan pendidikannya 
dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat 
kehancuran rumah tangga kami.


Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya," He Ning, apakah kamu
masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan
kita?"


Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku.

Aku mengangguk dan mengiyakan. "Kamu membopongku dilenganmu", katanya,


"Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu 
perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus 
membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu."


Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan
indah yang telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana
romantis.


Aku memberitahukan Dew soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa 
keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. "Bagaimanapun trik yang ia lakukan, 
ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini," ia mencemooh.



Kata-katanya membuatku merasa tidak enak.


Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian 
itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari 
pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami,"Wah, 
papa membopong mama, mesra sekali"


Kata-katanya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke ruang duduk,
lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan 
mata dan berkata dengan lembut," Mari kita mulai hari ini, jangan 
memberitahukan pada anak kita."


Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi 
menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.


Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,kami begitu 
dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku menyadari bahwa aku 
telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita
ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya.


Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "Kebun diluar sedang dibongkar, hati-hati 
kalau kamu lewat sana."


Hari keempat,ketika aku membangunkannya,aku merasa kalau kami masih
mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku.


Bayangan Dew menjadi samar.


Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti, 
dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika, aku harus 
hati-hati saat memasak,dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin
erat.


Aku tidak memberitahu Dew tentang ini.


Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke
kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya,"Kelihatannya
tidaklah sulit membopongmu sekarang"


Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya
keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok.


Lalu ia melihat,"Semua pakaianku kebesaran".


Aku tersenyum.Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu 
sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. 
Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati.


Sekali lagi , aku merasakan perasaan sakit


Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut.

"Pa,sudah waktunya membopong mama keluar"


Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yang 
penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan
merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan
berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan 
dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara 
lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke 
hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.


Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan 
berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, "Sesungguhnya aku 
berharap kamu akan membopongku sampai kita tua".


Aku memeluknya dengan kuat dan berkata "Antara kita saling tidak menyadari 
bahwa kehidupan kita begitu mesra".


Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan 
akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga.


Dew membuka pintu. Aku berkata padanya," Maaf Dew, Aku tidak ingin bercerai. 
Aku serius".


Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku.


"Kamu tidak demam".


Kutepiskan tanganya dari dahiku "Maaf, Dew,Aku cuma bisa bilang maaf
padamu,Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan
disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan,bukan 
disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang aku mengerti sejak aku 
membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya 
sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu"


Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan 
menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak.


Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah 
toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku.


Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan?


Aku tersenyum, dan menulis " Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita 
tua..."




  Candidate of Masters of art in teaching
  School for International Training
  Brattleboro, Vermont
  http://duniaintan.multiply.com
  [EMAIL PROTECTED]
   
    
---------------------------------
  Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small Busine


Candidate of Masters of art in teaching
  School for International Training
  Brattleboro, Vermont
  http://duniaintan.multiply.com
  [EMAIL PROTECTED]
   

 
---------------------------------
Food fight? Enjoy some healthy debate
in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A.

--- End Message ---

Kirim email ke