"\"Raldi A. Koestoer\"" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  To: [EMAIL PROTECTED]
From: "\"Raldi A. Koestoer\"" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wed, 11 Jul 2007 15:40:17 +0700 (WIT)
Subject: [alumni_ftui] Hati2 thd kelas unggulan

        Dear All,

Sekarang lagi musimnya pendaftaran masuk sekolah baru baik di SMU maupun SMP. 
Banyak sekolah yang menyediakan KELAS UNGGULAN dengan bayaran yang lebih tinggi 
kelas ber-AC dan waktu belajar yang berlebihan.

Seorang 'mantan anak cerdas' memaparkan kisahnya yang diambil dari milis 
tetangga dibawah ini.

Kalau sudah pernah baca delete saja. Semoga manfaat.

****

To: [EMAIL PROTECTED] com

Subject: [cfbe] Tentang "mantan" orang-orang cerdas

Entah keberuntungan atau malapetaka, tahun 1980 saya
digabungkan ke dalam kelas "anak-anak cerdas' di
sebuah sekolah yang kini berpredikat Sekolah Unggulan
Nasional, di kawasan Bukitduri Jakarta Selatan.
Saat itu sekolah tersebut belum berpredikat sekolah
unggulan, karena saat itu yang memegang predikat ini
adalah SMA "Teladan" Negeri 3, Setiabudi, Jakarta
Selatan. Tapi depdiknas memang sedang mempersiapkannya
untuk menjadi SMA Unggulan Nasional (kalo nggak salah
bersama SMA Negeri 1 Samarinda).
Maka strategi mengejar predikat itupun di buat. Sejak
kelas 1 kami dihimpun dan tak dipisahkan lagi
sebagaimana kelas-kelas lainnya. Beban belajar
ditingkatkan dua kali lipat. Setiap minggu pengawas
dari Depdiknas datang memantau perkembangan langsung
di dalam kelas. Hari demi hari dilewati dengan tekanan
yang nyaris depresif (ini yang juga mempengaruhi saya
ingin mendalami psikologi). Akhirnya, depdiknaspun
puas, dan predikat itu diraih oleh sekolah kami.
Alhamdulillah.
Kini, setelah 24 tahun berselang sejak kami lulus di
tahun 1983, kami tetap berkumpul dalam keakraban dan
persaudaraan yang kental, buah dari kebersamaan selama
3 tahun dalam "penderitaan" . Kami kini punya sebuah
yayasan dan beberapa aktivitas.
Tapi jangan bayangkan kami sebagai sosok intelektual
yang memiliki gairah keilmuan dan akademik yang
kental. Tak satupun diantara kami bergelar doktor dan
hanya dua orang bergelar master. Tak satupun yang
menjadi akademisi secara tetap (sayapun hanya dosen
tamu di beberapa kampus).
Ranking satu di kelas kami (sekaligus di sekolah) saat
ini menjadi seorang marketing manager. Ranking dua
saat ini menjadi ibu rumahtangga. Ranking tiga adalah
manajer di sebuah majalah perempuan. Ranking empat
bekerja di selandia baru. Sedangkan ranking lima
adalah kepala produksi sebuah pabrik makanan siap
saji.
Kami adalah orang-orang yang kelelahan belajar.
Pelajaran, tugas dan PR yang bertubi-tubi mungkin
telah membuat bawah sadar kami menjadi bosan dan muak
dengan yang namanya sekolah dan belajar. Semuanya
telah membuat kami seolah memutuskan bahwa dunia
akademik adalah bagian dari masa lalu. Yang "tersisa"
tinggallah kebersamaan dan keakraban sebagai mantan
orang-orang senasib, yang dulu mrnjadi sapi perah
pembelajaran.
Semoga ini menjadi pelajaran, bahwa beban akademik
yang terlalu berat di masa dini, tanpa disertai
motivasi dan gairan akademik yang tinggi, hanya akan
menghasilkan mantan-mantan.

Wassalam,

Aad

========================================================
Raldi Artono Koestoer
http://koestoer.blogspot.com/
==========================================================


         

       
---------------------------------
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! 
FareChase.

Kirim email ke