Berikut ini dari milis lain. Semoga tidak terjadi juga di Mosa yang
juga sedang menuju ke Sekolah Bertaraf Internasional. Apa yang terjadi
di dalam cerita di bawah ini sangat mungkin bisa terjadi juga di
sekolah-sekolah lain, termasuk Mosa. Mungkin nantinya ada yang bisa
dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini.
wassalam,
a.alhadath
Sekolah Bertaraf Internasional : Pengakuan Seorang Pendamping
<http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/91631;_ylc=X3oDMTJzbjcyc2lwBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzEzMDA2NzAyBGdycHNwSWQDMTcwNTA0MzY5NQRtc2dJZAM5MTYzMQRzZWMDZG1zZwRzbGsDdm1zZwRzdGltZQMxMjE1NTIyNTE2>
Tue Jul 8, 2008 3:25 am (PDT)
Dear all,
Berikut ini saya sampaikan sebuah pengakuan dari seorang pendamping
sekolah rintisan SBI di Jakarta yang mengeluhkan betapa kacaunya suasana
pembelajaran di kelas rintisan SBI tersebut.
Saya berharap agar surat ini dibaca oleh para petinggi Depdiknas agar
mereka segera mengevaluasi program yang salah konsep ini.
Tanggapan Anda saya tunggu.
Salam
Satria
Pak Satria, saya salut berat dengan Anda. Andaikan saja ada orang yang
berani menyampaikan semua ini ketelinga mentri pendidikan, semoga masih
bisa mendengar kami yang di lapangan.
Saya guru pendamping sekolah rintisan SBI di Jakarta. Mau nangis darah
rasanya menyaksikan pembodohan murid-murid saya yang tercinta ini oleh
ambisi nggak jelas decision maker pendidikan kita. Pengajaran dilakukan
oleh satu guru bidang dan satu guru pendamping bahasa Inggris. PAda
hari-hari pertama saya masuk di kelas ini, murid-murid dengan
antusiasnya berbahasa inggris dengan sesamanya dan dengan para guru.
Tetapi lama-kelamaan antusiasme mereka meredup manakala guru-guru bidang
(fis, kimi, mat, dan bio) ini tidak dapat merespon dalam Bahasa Inggris
yang baik. Kalau murid bertanya dalam Bahasa Inggris, maka saya harus
menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian guru menjawab dalam
Bahasa Indonesia yang kemudian saya terjemahkan ke dalam Bahasa Inggris.
Saya merasa ini semua knonyol sekali. Kami tidak sedang berada di kelas
bilingual di Canada tapi di Indonesia yang semua pihak mengerti bahasa
Indonesia. Lama-kelamaan anak-anak malas bertanya
dalam Bahasa Inggris. Saya harus seringkali mengingatkan mereka, tapi
saya paham betul mengapa mereka jadi enggan berbahasa Inggris. Tambahan
lagi, sukar bagi para guru senior ini untuk berbahasa Inggris yang baik
karena faktor usia. Ketika mereka berbahasa Inggris sepatah dua patah
kata, murid-murid tersenyum-senyum dan melirik saya. Bahkan salah satu
murid mendekati saya usai pelajaran dan berkata, "Bapak dan ibu guru itu
sudah deh berbahasa Indoneisa saja, bahasa Inggrisnya nggak becus...kacau.
..membingungkan...!" Para guru ini bukannya tidak menyadari hal ini.
Mereka seringkali mengeluhkan perasaan ketersinggungan mereka
ditertawakan murid. Para guru yang sejatinya digugu dan ditiru malah
jadi bahan olok-olokan murid. Dan saya di tengah menyaksikan dagelan
yang sama sekali nggak lucu ini setiap hari, para guru dan murid yang
sama-sama frustasi korban ambisi yang nggak jelas.
Selain mendampingi murid di kelas, saya sempat juga mentraining mereka
dengan 'English for teaching survival' misalnya percakapan membuka dan
menutup kelas, kalimat-kalimat perintah di kelas, hingga masuk ke
istilah-istilah khusus untuk 4 mata pelajaran IPA> Wuih, saya merasa
'hebat' sekali (hebat dalam tanda kutip loh)mempelajari lagi persamaan
reaksi kimia, logaritma, tatanama makhluk hidup, dll. Saya merasa perlu
belajar dulu materi yang akan diajarakan para guru di kelas nanti supaya
saya bisa membantu mereka menerjemahkan ke Bahasa Inggris. Tapi jujur
aja pak, saya mabok! Tambahan lagi susah sekali mengajak para bapak dan
ibu guru untuk duduk dulu bersama saya merencanakan materi pengajaran.
Idealnya, sebelum mengajar, saya dan guru bidang duduk bersama
mendiskusikan materi ajaran dan cara penyampaiannya dalam Bahasa
Inggris,sehingga ketika berada di kelas mereka sudah bisa menggunakan
sendiri istilah-istilah khusus mata pelajaran yang
diajarkan. Tapi ini jarang sekali terjadi. Para guru yang terhormat ini
justru sibuk bermain game komputer di sela-sela waktu senggang mereka di
ruang guru.
Ketika akan ujian, mereka meminta saya menerjemahkan soal-soal ke dalam
Bahasa Inggris. Dan ketika mengoreksi, saya harus mendampingi mereka.
Hal ini harus saya lakukan karena beberapa kali murid-murid saya
komplain gurunya menyalahkan jawaban esai berbahasa inggris mereka
karena faktor keterbatasan para guru dalam memahami tulisan berbasa
Inggris. Asal tahu saja, hasil test TOEFL rata-rata murid jauh lebih
tinggi dari para guru bidang ini.
Saya ingin sekali berhenti jadi pendamping kelas kelinci percobaan ini.
Tapi saya sangat menyukai mengajar dan berada diantara murid-murid saya.
I love these young energetic people so much.
You can see all comments on this post here:
http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/#comments
<http://satriadharma.com/index.php/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/#comments>