masalah kaya gini pasti bakalan muncul..
apalagi guru2 udah sangat terbiasa menggunakan bahasa indonesia dalam mengajar 
dan dlm berkomunikasi dengan siswa.
(kecuali guru bhs inggris mungkin) 

Menurut saya, sekolah2 yg bakalan jd SBI, guru2 nya harus diberi pendidikan 
english, sulit memang (apalagi dengan factor usia para guru). 

Kalo soal nilai TOEFL siswa jauh lbh tinggi dr sang guru itu sendiri,
kayanya di mosa udah bbrapa kali terjadi .






----- Original Message ----
From: Ardian Alhadath <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, July 9, 2008 11:00:37 AM
Subject: [smu mosa] 'Tantangan' Sekolah Bertaraf Internasional


Berikut ini dari milis lain.  Semoga tidak terjadi juga di Mosa yang 
juga sedang menuju ke Sekolah Bertaraf Internasional.  Apa yang terjadi 
di dalam cerita di bawah ini sangat mungkin bisa terjadi juga di 
sekolah-sekolah lain, termasuk Mosa.  Mungkin nantinya ada yang bisa 
dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini.

wassalam,
a.alhadath

Sekolah Bertaraf Internasional : Pengakuan Seorang Pendamping
<http://groups. yahoo.com/ group/Forum- Pembaca-Kompas/ message/91631; 
_ylc=X3oDMTJzbjc yc2lwBF9TAzk3MzU 5NzE1BGdycElkAzE zMDA2NzAyBGdycHN 
wSWQDMTcwNTA0MzY 5NQRtc2dJZAM5MTY zMQRzZWMDZG1zZwR zbGsDdm1zZwRzdGl 
tZQMxMjE1NTIyNTE 2>

Tue Jul 8, 2008 3:25 am (PDT)

Dear all,
Berikut ini saya sampaikan sebuah pengakuan dari seorang pendamping 
sekolah rintisan SBI di Jakarta yang mengeluhkan betapa kacaunya suasana 
pembelajaran di kelas rintisan SBI tersebut.
Saya berharap agar surat ini dibaca oleh para petinggi Depdiknas agar 
mereka segera mengevaluasi program yang salah konsep ini.
Tanggapan Anda saya tunggu.
Salam
Satria

Pak Satria, saya salut berat dengan Anda. Andaikan saja ada orang yang 
berani menyampaikan semua ini ketelinga mentri pendidikan, semoga masih 
bisa mendengar kami yang di lapangan.
Saya guru pendamping sekolah rintisan SBI di Jakarta. Mau nangis darah 
rasanya menyaksikan pembodohan murid-murid saya yang tercinta ini oleh 
ambisi nggak jelas decision maker pendidikan kita. Pengajaran dilakukan 
oleh satu guru bidang dan satu guru pendamping bahasa Inggris. PAda 
hari-hari pertama saya masuk di kelas ini, murid-murid dengan 
antusiasnya berbahasa inggris dengan sesamanya dan dengan para guru. 
Tetapi lama-kelamaan antusiasme mereka meredup manakala guru-guru bidang 
(fis, kimi, mat, dan bio) ini tidak dapat merespon dalam Bahasa Inggris 
yang baik. Kalau murid bertanya dalam Bahasa Inggris, maka saya harus 
menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian guru menjawab dalam 
Bahasa Indonesia yang kemudian saya terjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. 
Saya merasa ini semua knonyol sekali. Kami tidak sedang berada di kelas 
bilingual di Canada tapi di Indonesia yang semua pihak mengerti bahasa 
Indonesia. Lama-kelamaan anak-anak malas bertanya
dalam Bahasa Inggris. Saya harus seringkali mengingatkan mereka, tapi 
saya paham betul mengapa mereka jadi enggan berbahasa Inggris. Tambahan 
lagi, sukar bagi para guru senior ini untuk berbahasa Inggris yang baik 
karena faktor usia. Ketika mereka berbahasa Inggris sepatah dua patah 
kata, murid-murid tersenyum-senyum dan melirik saya. Bahkan salah satu 
murid mendekati saya usai pelajaran dan berkata, "Bapak dan ibu guru itu 
sudah deh berbahasa Indoneisa saja, bahasa Inggrisnya nggak becus...kacau.
..membingungkan. ..!" Para guru ini bukannya tidak menyadari hal ini. 
Mereka seringkali mengeluhkan perasaan ketersinggungan mereka 
ditertawakan murid. Para guru yang sejatinya digugu dan ditiru malah 
jadi bahan olok-olokan murid. Dan saya di tengah menyaksikan dagelan 
yang sama sekali nggak lucu ini setiap hari, para guru dan murid yang 
sama-sama frustasi korban ambisi yang nggak jelas.

Selain mendampingi murid di kelas, saya sempat juga mentraining mereka 
dengan 'English for teaching survival' misalnya percakapan membuka dan 
menutup kelas, kalimat-kalimat perintah di kelas, hingga masuk ke 
istilah-istilah khusus untuk 4 mata pelajaran IPA&gt; Wuih, saya merasa 
'hebat' sekali (hebat dalam tanda kutip loh)mempelajari lagi persamaan 
reaksi kimia, logaritma, tatanama makhluk hidup, dll. Saya merasa perlu 
belajar dulu materi yang akan diajarakan para guru di kelas nanti supaya 
saya bisa membantu mereka menerjemahkan ke Bahasa Inggris. Tapi jujur 
aja pak, saya mabok! Tambahan lagi susah sekali mengajak para bapak dan 
ibu guru untuk duduk dulu bersama saya merencanakan materi pengajaran. 
Idealnya, sebelum mengajar, saya dan guru bidang duduk bersama 
mendiskusikan materi ajaran dan cara penyampaiannya dalam Bahasa 
Inggris,sehingga ketika berada di kelas mereka sudah bisa menggunakan 
sendiri istilah-istilah khusus mata pelajaran yang
diajarkan. Tapi ini jarang sekali terjadi. Para guru yang terhormat ini 
justru sibuk bermain game komputer di sela-sela waktu senggang mereka di 
ruang guru.

Ketika akan ujian, mereka meminta saya menerjemahkan soal-soal ke dalam 
Bahasa Inggris. Dan ketika mengoreksi, saya harus mendampingi mereka. 
Hal ini harus saya lakukan karena beberapa kali murid-murid saya 
komplain gurunya menyalahkan jawaban esai berbahasa inggris mereka 
karena faktor keterbatasan para guru dalam memahami tulisan berbasa 
Inggris. Asal tahu saja, hasil test TOEFL rata-rata murid jauh lebih 
tinggi dari para guru bidang ini.

Saya ingin sekali berhenti jadi pendamping kelas kelinci percobaan ini. 
Tapi saya sangat menyukai mengajar dan berada diantara murid-murid saya. 
I love these young energetic people so much.

You can see all comments on this post here:
http://satriadharma .com/index. php/2007/ 09/19/sekolah- bertaraf- 
internasional- quo-vadiz/ #comments 
<http://satriadharma .com/index. php/2007/ 09/19/sekolah- bertaraf- 
internasional- quo-vadiz/ #comments>
    


      

Kirim email ke