SEJAK dulu, memang sejak dulul, Aceh itu, selalu perang, pokoknya perang. Setelah merdeka, ada DI-TII, perang Cumbok, DOM, Operasi Jaring Merah, Darurat Militer dan Darurat Sipil kemudian di sapu tsunami 26 Desember 2006, munculah Aceh baru. Aceh damai.

Aceh yang damai, sedamai Nyak-nyak pulang dari kebun menenteng pisang dan hasil kebun lainnya. Kalau di zaman darurat militer–kemungkinan besar–nyak itu sudah almarhum karena tuduhan membawa bom rakitan. Begitulah perbedaan situasi sebelum tsunami 2006.

Masa darurat sipil, tak heran dalam hitungan bulan, rumah, sekolah dan bangunan lain jadi arang. Kemudian disapu lagi oleh tsunami yang maha dasyat yang mengisakan lantai dari sebuah bangunan, tak tau itu milik siapa, tak kenal itu gedung pemerintah. Semua sama rata dengan tanah, hanya menyisakan puing dan sampah.

Semua mata di dunia terpana dibuatnya. Semua orang di dunia singgah di bumi Iskandar Muda. Semua orang turut menyumbang memabangun Aceh kembali. Setelah itu, muncul Aceh baru.

Rumoh Aceh Escape Building Hill

Tiap tahun tanggal 26 Desember selalu dikenang. Setelah empat tahun tsunami semua kenangan itu di simpan dalam sebuah musium tsunami Aceh, bernama ‘Rumoh Aceh Escape Building Hill’. Kelak anak cucu bisa mengingat kembali sejarah yang maha pahit di abad modern setalah 25, 50 sampai 100 tahun ke dapan.

READ MORE...







Kirim email ke