Dulu, kadang ketika saya beli koran dari anak-
                anak penjual koran yang keliling perumahan,
                sering tidak ada kembaliannya. Lalu saya
                bilang ke mereka untuk mencari uang kembalian
                dulu, baru uang saya akan berikan. Meski
                begitu koran tetap saya ambil. Karena pikiran
                saya, toh saya tidak kemana-mana. Sehingga
                mereka bisa mencari saya.

                Sebenarnya saya malah jarang beli ke mereka.
                Karena kalau saya mau jalan sekitar 100 m,
                ada kios depan perumahan, saya malah dapat
                harga lebih murah. Tidak banyak sih, cuma
                sekitar 500 perak.

                Namun kini setelah saya renungkan, tidak
                banyak arti nilai 500 perak itu dibanding
                bagi anak penjual koran. Mungkin nilai 500
                perak itu akan lebih berarti bagi mereka.
                Sehingga saya sudah tidak beli lagi di kios
                depan perumahan. Bahkan kalau tidak ada
                kembalian, saya minta bawa saja uang saya.
                Kalau ada kembalian, baru boleh diberikan.

                Karena saya pikir, lebih baik saya
                menghutangi mereka, daripada saya berhutang
                dengan mereka. Iya, kalau ada kesempatan
                untuk bertemu, bagaimana kalau tidak ? Urusan
                uang yang tidak banyak ini bisa sampai ke
                akhirat, bahkan bisa menghambat masuknya ke
                surga. Seperti cerita di sebuah hadits.

                Toh selama ini tidak pernah ada kejadian,
                mereka membawa lari uang saya (yang tidak
                banyak itu). Bahkan sering tidak lama
                kemudian, mereka sudah kembali untuk
                mengembalikan uang kembalian.

                Ini ada cerita lain tentag hal itu. Bagaimana
                dengan Anda ?


                ===========================
                Keikhlasan Hati Orang Kecil

                Tulisan ini bisa dikomentari dan dilihat di web:
                
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife/index.php?act=detail&p_id=335
                Dan dapatkan artikel-artikel enerlife lainnya di:
                http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife


                Oleh: Harlina Alwi <[EMAIL PROTECTED]>


                Hari senin pagi 5 Februari 2007, perjalanan
                dari Lebak Bulus ke kawasan Blok M relatif
                lebih lancar daripada biasanya. Mungkin
                karena sebagian orang masih mendapat
                kesulitan untuk keluar rumah menuju kantor,
                akibat banjir besar yang melanda Jakarta
                sejak hari Kamis yang lalu.

                Biasanya, saya berangkat dari rumah ke kantor
                melalui jalan Tebah, di belakang Pasar
                Mayestik lalu masuk ke jalan Bumi dan jalan
                Kerinci lalu keluar di jalan Pakubuwono VI.
                Namun pagi ini, saya sengaja melintasi jalan
                Pati Unus untuk berbelok ke arah jalan
                Paukubuwono VI karena ingin membeli pisang
                terlebih dahulu.

                Di depan rumah makan Warung Daun ada penjaja
                pisang barangan. Di situlah saya biasa
                membeli pisang setiap minggu. Perempuan
                penjajanya sudah tahu bahwa saya akan membeli
                3 sisir pisang. Satu sisir matang dan 2 sisir
                lainnya mengkal atau terkadang masih
                kehijauan. Begitu juga rencananya pagi ini.
                Saat saya menghentikan mobil, dengan sigap
                dia memilih-milih pisang dan menyodorkannya
                kepada saya. Saya mengeluarkan uang selembar
                50 ribu. Itulah lembaran yang ada di dalam
                dompet di samping beberapa lembar ribuan di
                dalam kotak uang untuk pembayar ongkos
                parker, yang tak cukup untuk membayar 3 sisir
                pisang. Agak ragu perempuan itu menatap saya
                ;

                "Ibu, apa bisa diberikan uang pas saja?"
                tanyanya.

                Saya melihat isi dompet dan tas... ternyata
                sama sekali tidak ada. Maklum awal bulan
                begini, isi dompet sedang sekarat. Kosong
                setelah digunakan kewajiban rutin, dari
                belanja bulanan, membayar gaji pembantu
                sampai dengan uang sekolah anak.

                "Aduh maaf ... nggak ada uang pas...!"

                "Saya tukar di warung dulu ya bu..."
                pintanya, meminta kesediaan saya menunggu.
                Saya melirik di sekitar jalan raya tersebut.
                Tidak ada warung sama sekali. Tentu saya
                harus menunggunya agak lama, sampai dia
                kembali dengan uang tukarannya. Dan saya
                merasa enggan menunggunya. Apalagi jalan
                Pakubuwono VI di pagi hari cukup ramai.

                "Kalau nggak ada kembalinya, saya ambil dua
                sisir saja ya ... saya punya uang kecil untuk
                itu...", usul saya menutupi keengganan
                menunggunya mencari tukaran uang. Cepat saya
                hitung uang receh di mobil yang terdiri dari
                uang kertas dan koin. Semuanya berjumlah enam
                belas ribu. Masih kurang dua ribu.

                "Nah... lihat deh, uang saya nggak cukup.
                Saya ambil dua sisir saja ya..."

                "Jangan bu .... , ambil saja semuanya. Ibu
                kan besok lewat lagi, jadi besok saja bayar
                kekurangannya!" begitu katanya, seraya
                mengembalikan lembar uang 50 ribu kepada
                saya.

                "Aduh ... saya belum tentu lewat sini lagi
                lho besok. Jadi biar saya ambil 2 sisir saja.
                Saya bisa mampir kapan-kapan kesini."

                "Nggak apa-apa bu ... kapan ibu lewat saja,
                bayarnya......", sahutnya.

                Saya mengambil lembaran uang tersebut dan
                segera berlalu darinya. Di belakang sudah
                banyak mobil menunggu.

                Tiba di kantor, sambil menunggu komputer
                menyala baru saya sadari, betapa lugu dan
                naifnya penjaja pisang itu. Dia rela
                mengambil resiko "kehilangan" keuntungan
                sebesar dua ribu rupiah. Bayangkan seandainya
                saya tidak lagi lewat tempatnya berjualan.
                Dua ribu memang kecil nilainya dibandingkan
                dengan pengembalian uang sebesar 32 ribu yang
                harus diberikannya kepada saya. Tetapi saya
                yakin, uang dua ribu itu begitu besar artinya
                bagi seorang penjaja pisang di pinggir jalan.
                Toh dia rela dan ikhlas "kehilangan"
                sementara uang tersebut dan begitu
                mempercayai saya, perempuan yang kebetulan
                secara rutin membeli dagangannya. Sementara
                saya, tidak ikhlas menunggunya menukarkan
                uang atau bersikap seperti yang dilakukannya
                Apalah susahnya mengatakan ....

                "Ambil saja dulu uang itu. Besok saya lewat
                lagi dan kembalikan saja uang saya, besok"

                Ternyata saya sama sekali tidak memiliki
                keikhlasan dan kepercayaan kepadanya seperti
                apa yang diperlihatkannya kepada saya. Malu
                rasanya menyadari hal itu. Padahal dulu,
                sebelum pindah ke Lebak Bulus, saya selalu
                mempercayai penjaja sayur yang biasa datang
                ke rumah atau pembantu rumah. Setiap hari,
                saya selalu meletakkan uang di kotak yang
                tersimpan di atas lemari es, untuk belanja
                sehari-hari, yaitu sayuran dan bumbu dapur
                serta ongkos transport Muslimin ke sekolah.
                Tanpa sekalipun meminta rincian pengeluaran.

                Saya mempercayai mereka sepenuhnya. Kalau
                pembantu mengadu bahwa Muslimin mengambil
                uang lebih dari jatahnya, saya dengan enteng
                berkata, "Biar saja... uang itu tidak akan
                membuat Muslimin menjadi kaya raya mendadak
                atau saya menjadi jatuh miskin. Yang pasti,
                orang yang mengambilnya tidak akan mendapat
                berkah Allah SWT"

                Sekarang, saat tinggal di Lebak Bulus, saya
                menitipkan uang belanja sayuran kepada ibu
                saya. Entah bagaimana beliau mengurusnya.
                Saya tidak lagi menaruh uang di atas kulkas
                untuk belanja. Mungkinkah karena hal kecil
                itu saya menjadi kehilangan sensitifitas
                untuk mempercayai orang kecil? Astaghfirullah
                ... betapa picik dan sombongnya saya....
                Ampun Tuhan..... Sungguh saya menyesal hari
                ini... saya sudah terjerat pada fenomena low
                trust society .... tidak memberikan
                kepercayaan kepada lingkungan sekitar. Selalu
                memandang curiga kepada orang lain.

                Besok saya harus lewat dan membayar
                kekurangan uang itu. Dua ribu yang relatif
                tidak bernilai buat saya, tapi betul-betul
                sudah membuat martabat saya "terjerembab" ke
                dasar jurang... Sungguh saya malu... selama
                ini saya selalu berpegang teguh untuk selalu
                menjaga martabat diri. Selalu berusaha untuk
                tidak berlaku dzalim atau mencurangi orang
                lain. Ternyata apa yang saya lakukan masih
                sebatas artificial yang dengan sangat mudah
                dipatahkan oleh perempuan sederhana itu....

                Kalaupun esok*** saya ikhlas memberikan uang
                lebih besar daripada uang yang harus saya
                kembalikan, tetapi saya merasa yakin bahwa
                keikhlasan itu tidak lagi bernilai dimata
                Allah SWT. Saya sudah kehilangan momentum
                yang baik untuk meraih "nilai positif" di
                mata Allah SWT. Pada hari ini, saya sudah
                menampik kesempatan untuk meraih pahala dan
                berkah Allah. Sungguh, kesempatan itu selalu
                datang dalam bentuk dan pada waktu yang sama
                sekali tak terduga.

                Ampuni saya ya Allah.... Jadikan hal tersebut
                yang pertama dan terakhir. Sungguh, berikan
                saya kesempatan untuk selalu menjadi golongan
                orang-orang yang senantiasa rendah hati dan
                ikhlas serta dijauhkan dari kesombongan.
                Amien....!

                Lebak Bulus 5 februari 2007 jam 22.30

                ~~~

                *** Hari ini selasa, saya lewat jalan
                Pakubuwono dan berniat melunasi hutang saya.
                Seperti yang saya takuti sejak semalam,
                perempuan penjaja pisang itu tak terlihat.
                Dia tidak menggelar dagangannya. Duh. Itulah
                akibat dari "menampik kesempatan" yang
                diberikan oleh Allah SWT untuk memperoleh
                pahala dan berkah.



   Terima kasih
   MYusuf.or.id
   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
   Dan bukanlah harta atau anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami;
   melainkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan,
   mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda
   atas apa yang telah mereka kerjakan;
   dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tingi (dalam surga).
   - [Saba': 37] -
   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke