Hai.... Kenalkan, aku Ardevi, pendatang baru di sobat kental... Aku dikenalkan milis ini oleh sobat ku Mad Zidan..... Diawal perkenalan ini aku mo nyumbang beberapa tulisan... Boleh kan... Mari Kita Belajar Mencintai
Jika cinta, pada semua jenisnya, adalah kesadaran, adalah perasaan, adalah tindakan, maka cinta pada akhirnya adalah kemampuan yang terintegrasi dalam seluruh aspek kepribadian kita. Kemampuan seseorang untuk mencintai adalah gambaran paling utuh dari seluruh kapasitas kepribadiannya. Hanya orang-orang dengan kepribadian kuat dan kapasitas besar yang mampu mencintai. Orang-orang yang lemah, yang setiap saat bisa kita saksikan di sekitar kita, tidak akan pernah mencintai. Bahkan untuk mencintai diri mereka sekalipun. Takdir mereka adalah menantikan cinta dan kasih sayang orang-orang kuat. Orang-orang kuat mencintai dengan segenap kesadarannya. Maka mereka terus menerus memproduksi kebajikan demi kebajikan. Sementara orang-orang lemah bahkan tidak memiliki kesadaran untuk mencintai. Maka mereka terus-menerus mengkonsumsi kebajikan orang-orang kuat. Itu sebabnya orang-orang kuat dalam masyarakat selalu merupakan faktor kohesi yang merekatkan masyarakat. Mereka merekatkan masyarakat dengan cinta dan kebajikan mereka. Makna inilah yang ditebarkan oleh Rasulullah saw begitu beliau tiba di Madinah dan memulai kerja membangun Negara baru itu: "Wahai sekalian manusia, tebarkan salam, berikan makan, bangun sholat malam saat orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan penuh damai." Ini merupakan penjelasan bagi keterangan selanjutnya. Bahwa untuk bisa mencintai, bahwa untuk menjadi pecinta sejati, kita harus mengembangkan kapasitas dan kepribadian kita untuk menjadi lebih baik secara berkesinambungan, pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang produktif untuk bisa memberi, pelajaran tentang bagaimana menjadi orang kuat yang penyayang, pelajaran tentang bagaimana melimpahruahkan kebajikan abadi bagi penumbuhan kehidupan orang-orang di sekitar kita yang kadang berujung tanpa sedikitpun rasa terima kasih, atau bahkan penolakan. Ini bukan pelajaran tentang teknik atau keterampilan mencintai seperti ketika belajar tentang teknik berkomunikasi dengan orang lain, atau bagaimana merebut hati seseorang untuk suatu hubungan cinta asmara . Bukan. Sama sekali bukan tentang itu. Ini adalah pelajaran tentang bagaimana membangun kembali dasar-dasar kepribadian yang kokoh dan tangguh, yang memungkinkan kita mencintai secara sadar, bertanggungjawab dan bertindak produktif untuk membuktikan cinta itu dalam kenyatan. Dan dengan begitu, cinta bukan saja berefek pada perbaikan berkesinambungan terhadap hubungan-hubungan kemanusiaan kita, tapi juga terutama pada perbaikan kehidupan kita seluruhnya secara berkesinambungan. Dan ini mungkin dan terbuka. Semua kita bisa mempelajarinya. Alasannya sangat sederhana. Rasulullah saw bersabda: "Ilmu diperoleh dengan belajar. Kesabaran diperoleh dengan belajar menjadi sabar. Kesantunan diperoleh dengan belajar menjadi santun." Ini menjelasakan bahwa di samping karakter-karakter bawaan yang melekat dalam diri kita sebagai warisan genetic, semua karakter lain bisa kita peroleh dengan mempelajari dan mengimplementasikannya dalam kehidupan kita. Begitu juga cinta. Semua kita bisa mencintai. Semua kita mungkin menjadi pecinta sejati. Asal kita mau belajar bagaimana mencintai. -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of M Yusuf Sent: 05 Maret 2007 12:07 To: [EMAIL PROTECTED] Subject: [sobatkental] Enerlife: Keikhlasan Hati Orang Kecil Dulu, kadang ketika saya beli koran dari anak- anak penjual koran yang keliling perumahan, sering tidak ada kembaliannya. Lalu saya bilang ke mereka untuk mencari uang kembalian dulu, baru uang saya akan berikan. Meski begitu koran tetap saya ambil. Karena pikiran saya, toh saya tidak kemana-mana. Sehingga mereka bisa mencari saya. Sebenarnya saya malah jarang beli ke mereka. Karena kalau saya mau jalan sekitar 100 m, ada kios depan perumahan, saya malah dapat harga lebih murah. Tidak banyak sih, cuma sekitar 500 perak. Namun kini setelah saya renungkan, tidak banyak arti nilai 500 perak itu dibanding bagi anak penjual koran. Mungkin nilai 500 perak itu akan lebih berarti bagi mereka. Sehingga saya sudah tidak beli lagi di kios depan perumahan. Bahkan kalau tidak ada kembalian, saya minta bawa saja uang saya. Kalau ada kembalian, baru boleh diberikan. Karena saya pikir, lebih baik saya menghutangi mereka, daripada saya berhutang dengan mereka. Iya, kalau ada kesempatan untuk bertemu, bagaimana kalau tidak ? Urusan uang yang tidak banyak ini bisa sampai ke akhirat, bahkan bisa menghambat masuknya ke surga. Seperti cerita di sebuah hadits. Toh selama ini tidak pernah ada kejadian, mereka membawa lari uang saya (yang tidak banyak itu). Bahkan sering tidak lama kemudian, mereka sudah kembali untuk mengembalikan uang kembalian. Ini ada cerita lain tentag hal itu. Bagaimana dengan Anda ? =========================== Keikhlasan Hati Orang Kecil Tulisan ini bisa dikomentari dan dilihat di web: http://www.myusuf. <http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife/index.php?act=detail&p_id=335> or.id/v20/enerlife/index.php?act=detail&p_id=335 Dan dapatkan artikel-artikel enerlife lainnya di: http://www.myusuf. <http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife> or.id/v20/enerlife Oleh: Harlina Alwi <[EMAIL PROTECTED] <mailto:lina.alwi%40gmail.com> com> Hari senin pagi 5 Februari 2007, perjalanan dari Lebak Bulus ke kawasan Blok M relatif lebih lancar daripada biasanya. Mungkin karena sebagian orang masih mendapat kesulitan untuk keluar rumah menuju kantor, akibat banjir besar yang melanda Jakarta sejak hari Kamis yang lalu. Biasanya, saya berangkat dari rumah ke kantor melalui jalan Tebah, di belakang Pasar Mayestik lalu masuk ke jalan Bumi dan jalan Kerinci lalu keluar di jalan Pakubuwono VI. Namun pagi ini, saya sengaja melintasi jalan Pati Unus untuk berbelok ke arah jalan Paukubuwono VI karena ingin membeli pisang terlebih dahulu. Di depan rumah makan Warung Daun ada penjaja pisang barangan. Di situlah saya biasa membeli pisang setiap minggu. Perempuan penjajanya sudah tahu bahwa saya akan membeli 3 sisir pisang. Satu sisir matang dan 2 sisir lainnya mengkal atau terkadang masih kehijauan. Begitu juga rencananya pagi ini. Saat saya menghentikan mobil, dengan sigap dia memilih-milih pisang dan menyodorkannya kepada saya. Saya mengeluarkan uang selembar 50 ribu. Itulah lembaran yang ada di dalam dompet di samping beberapa lembar ribuan di dalam kotak uang untuk pembayar ongkos parker, yang tak cukup untuk membayar 3 sisir pisang. Agak ragu perempuan itu menatap saya ; "Ibu, apa bisa diberikan uang pas saja?" tanyanya. Saya melihat isi dompet dan tas... ternyata sama sekali tidak ada. Maklum awal bulan begini, isi dompet sedang sekarat. Kosong setelah digunakan kewajiban rutin, dari belanja bulanan, membayar gaji pembantu sampai dengan uang sekolah anak. "Aduh maaf ... nggak ada uang pas...!" "Saya tukar di warung dulu ya bu..." pintanya, meminta kesediaan saya menunggu. Saya melirik di sekitar jalan raya tersebut. Tidak ada warung sama sekali. Tentu saya harus menunggunya agak lama, sampai dia kembali dengan uang tukarannya. Dan saya merasa enggan menunggunya. Apalagi jalan Pakubuwono VI di pagi hari cukup ramai. "Kalau nggak ada kembalinya, saya ambil dua sisir saja ya ... saya punya uang kecil untuk itu...", usul saya menutupi keengganan menunggunya mencari tukaran uang. Cepat saya hitung uang receh di mobil yang terdiri dari uang kertas dan koin. Semuanya berjumlah enam belas ribu. Masih kurang dua ribu. "Nah... lihat deh, uang saya nggak cukup. Saya ambil dua sisir saja ya..." "Jangan bu .... , ambil saja semuanya. Ibu kan besok lewat lagi, jadi besok saja bayar kekurangannya!" begitu katanya, seraya mengembalikan lembar uang 50 ribu kepada saya. "Aduh ... saya belum tentu lewat sini lagi lho besok. Jadi biar saya ambil 2 sisir saja. Saya bisa mampir kapan-kapan kesini." "Nggak apa-apa bu ... kapan ibu lewat saja, bayarnya......", sahutnya. Saya mengambil lembaran uang tersebut dan segera berlalu darinya. Di belakang sudah banyak mobil menunggu. Tiba di kantor, sambil menunggu komputer menyala baru saya sadari, betapa lugu dan naifnya penjaja pisang itu. Dia rela mengambil resiko "kehilangan" keuntungan sebesar dua ribu rupiah. Bayangkan seandainya saya tidak lagi lewat tempatnya berjualan. Dua ribu memang kecil nilainya dibandingkan dengan pengembalian uang sebesar 32 ribu yang harus diberikannya kepada saya. Tetapi saya yakin, uang dua ribu itu begitu besar artinya bagi seorang penjaja pisang di pinggir jalan. Toh dia rela dan ikhlas "kehilangan" sementara uang tersebut dan begitu mempercayai saya, perempuan yang kebetulan secara rutin membeli dagangannya. Sementara saya, tidak ikhlas menunggunya menukarkan uang atau bersikap seperti yang dilakukannya Apalah susahnya mengatakan .... "Ambil saja dulu uang itu. Besok saya lewat lagi dan kembalikan saja uang saya, besok" Ternyata saya sama sekali tidak memiliki keikhlasan dan kepercayaan kepadanya seperti apa yang diperlihatkannya kepada saya. Malu rasanya menyadari hal itu. Padahal dulu, sebelum pindah ke Lebak Bulus, saya selalu mempercayai penjaja sayur yang biasa datang ke rumah atau pembantu rumah. Setiap hari, saya selalu meletakkan uang di kotak yang tersimpan di atas lemari es, untuk belanja sehari-hari, yaitu sayuran dan bumbu dapur serta ongkos transport Muslimin ke sekolah. Tanpa sekalipun meminta rincian pengeluaran. Saya mempercayai mereka sepenuhnya. Kalau pembantu mengadu bahwa Muslimin mengambil uang lebih dari jatahnya, saya dengan enteng berkata, "Biar saja... uang itu tidak akan membuat Muslimin menjadi kaya raya mendadak atau saya menjadi jatuh miskin. Yang pasti, orang yang mengambilnya tidak akan mendapat berkah Allah SWT" Sekarang, saat tinggal di Lebak Bulus, saya menitipkan uang belanja sayuran kepada ibu saya. Entah bagaimana beliau mengurusnya. Saya tidak lagi menaruh uang di atas kulkas untuk belanja. Mungkinkah karena hal kecil itu saya menjadi kehilangan sensitifitas untuk mempercayai orang kecil? Astaghfirullah ... betapa picik dan sombongnya saya.... Ampun Tuhan..... Sungguh saya menyesal hari ini... saya sudah terjerat pada fenomena low trust society .... tidak memberikan kepercayaan kepada lingkungan sekitar. Selalu memandang curiga kepada orang lain. Besok saya harus lewat dan membayar kekurangan uang itu. Dua ribu yang relatif tidak bernilai buat saya, tapi betul-betul sudah membuat martabat saya "terjerembab" ke dasar jurang... Sungguh saya malu... selama ini saya selalu berpegang teguh untuk selalu menjaga martabat diri. Selalu berusaha untuk tidak berlaku dzalim atau mencurangi orang lain. Ternyata apa yang saya lakukan masih sebatas artificial yang dengan sangat mudah dipatahkan oleh perempuan sederhana itu.... Kalaupun esok*** saya ikhlas memberikan uang lebih besar daripada uang yang harus saya kembalikan, tetapi saya merasa yakin bahwa keikhlasan itu tidak lagi bernilai dimata Allah SWT. Saya sudah kehilangan momentum yang baik untuk meraih "nilai positif" di mata Allah SWT. Pada hari ini, saya sudah menampik kesempatan untuk meraih pahala dan berkah Allah. Sungguh, kesempatan itu selalu datang dalam bentuk dan pada waktu yang sama sekali tak terduga. Ampuni saya ya Allah.... Jadikan hal tersebut yang pertama dan terakhir. Sungguh, berikan saya kesempatan untuk selalu menjadi golongan orang-orang yang senantiasa rendah hati dan ikhlas serta dijauhkan dari kesombongan. Amien....! Lebak Bulus 5 februari 2007 jam 22.30 ~~~ *** Hari ini selasa, saya lewat jalan Pakubuwono dan berniat melunasi hutang saya. Seperti yang saya takuti sejak semalam, perempuan penjaja pisang itu tak terlihat. Dia tidak menggelar dagangannya. Duh. Itulah akibat dari "menampik kesempatan" yang diberikan oleh Allah SWT untuk memperoleh pahala dan berkah. Terima kasih MYusuf.or.id ---------------------------------------------------------- Dan bukanlah harta atau anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami; melainkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda atas apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tingi (dalam surga). - [Saba': 37] - ---------------------------------------------------------- [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
