Barang Milikku yang Paling Berharga Adalah Kamu
Tulisan ini bisa dikomentari dan dilihat di web:
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife/index.php?act=detail&p_id=339
Dan dapatkan artikel-artikel enerlife lainnya di:
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife
Rasulullah bersabda, sabar adalah menahan
amarah pas di saat puncak. Kadang kalau kita
bersabar, pertengkaran bahkan perpecahan
tidaklah perlu terjadi. Karenanya lebih baik
kita diam saja bila pasangan kita mulai
marah. Karena kalau sudah terjadi, penyesalan
tidaklah berguna. Cerita di bawah bisa
dijadikan pelajaran.
~~~
Aku sangat menyukai ucapan mama, "Barang
milikku yang paling berharga adalah kamu!"
Ucapan yang sangat menyejukkan hati. Dan
sampai sekarang aku masih mengingatnya terus!
Papa dan mama menikah karena dijodohkan orang
tua, demikianlah yang dialami para muda-mudi
dizaman itu. Tapi hal ini sudah umum. Tapi
dizaman sekarang peristiwa itu sudah jarang
terjadi, kebanyakan adalah hasil pilihan
sendiri.
Tapi mama sangat mencintai papa, demikian
juga dengan papa dan tampak selalu mesra,
akur bagaikan pasangan cinta sejoli. Sangat
sulit dibayangkan bahwa pernikahan mereka
pernah diterjang badai! Badai itu nyaris
memisahkan mereka. Hanya karena emosi sesaat
saja!
Papa dan mama bekerja di instansi yang sama.
Oleh karena itu setiap hari berangkat dan
pulang bersama. Suatu hari mereka kerja
lembur, mengadakan stock opname digudang
hingga pukul 2.00 dinihari dan baru pulang
kerumah.
Papa sangat letih dan lapar, sampai dirumah
tidak ada makanan maupun minuman yang siap
disaji. Papa yang lapar minta mama untuk
menyiapkan makanan dan minuman.
Beberapa hari belakangan ini emosi mama
memang tidak stabil, ditambah lagi dengan
adanya lembur, badan dan pikiran sungguh
melelahkan. Sehingga dengan kondisi yang
labil itu, mama spontan menjawab dengan nada
keras, "Mau makan dan minum, memangnya tidak
bisa masak sendiri? Apa tidak punya tangan
dan kaki lagi, ya?"
Karena papa juga terlalu capek, dan langsung
menjawab dengan acuh tak acuh, "Kamu ini
isteriku, memasak adalah sudah menjadi
kewajibanmu!"
Mama langsung merespon, "Tengah malam begini
mau masak apa? Sudah lewat waktunya makan,
orang laki seharusnya lebih kuat dari pada
perempuan!"
Mendengar itu, marahlah papa, beliau langsung
berteriak dengan emosi, "Kamu salah makan
obat apa kemarin? Mau sengaja cari ribut, ya?
Istri memasak untuk suami adalah wajar,
kenapa harus tergantung pada waktu? Kamu
tidak senang, ya? Kalau tidak senang, kamu
pergi saja sekarang dari rumah ini!!!"
Mama tidak menyangka akan menerima reaksi
yang begitu keras. Setelah terdiam sesaat,
mama kemudian berkata sambil menitikkan air
mata, "Kamu ingin aku pergi... Aku akan pergi
sekarang!" Mama segera kembali kekamar untuk
mengemasi barang-barangnya.
Melihat mama masuk kamar dan berkemas-kemas,
papa berkata kepada mama yang
membelakanginya, "Bagus! Pergi sana! Ambil
semua barang-barangmu dan jangan kembali
lagi!"
Beberapa saat kemudian suasana menjadi sunyi
senyap, tak ada kata-kata kebencian lagi yang
muncul, menit demi menit berlalu, tapi mama
tetap tak kunjung keluar dari kamar.
Merasakan keanehan itu, papa kemudian
menyusul masuk kamar dan melihat mama sedang
duduk diranjang penuh dengan linangan air
mata.
Sambil menatap koper kulit besar yang masih
tergeletak diatas ranjang. Melihat papa
datang, dengan terisak-isak mama berkata,
"Duduklah diatas koper kulit itu, supaya aku
boleh mengenang masa-masa perpisahan kita
yang terakhir."
Merasa aneh, maka dengan sendu papa akhirnya
tidak tahan juga untuk tidak bertanya, "Untuk
apa?"
Sambil menangis dengan terputus-putus mama
berkata, "Emas dan perak aku tidak
memilikinya, tapi milikku yang paling
berharga adalah kamu! Kamu dan anak-anakku.
Aku tidak memiliki apapun...."
Meskipun kejadian itu telah lewat lama
sekali, tapi aku masih mengingatnya terus
sampai sekarang. Apalagi ketika mama
mengucapkan kata-kata terakhir itu, papa
merasa sangat tergoncang. Sejak malam itu,
papa telah diubah dan telah menjadi sangat
hormat dan sayang kepada mama. Menggandeng
tangan anak-anak, merangkul mama serta
senantiasa saling berpelukan. Kelak aku juga
bercita-cita ingin mendapatkan pasangan yang
seperti papa.
Kehidupan apapun yang kita jalani ini, itu
tidaklah penting; tapi yang terpenting adalah
bagaimana sikap kita dalam menghadapi hidup
ini, terutama disaat-saat badai itu muncul.
Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Terima kasih
MYusuf.or.id
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ali bin Abi Thalib RA berkata,
"Islam ialah serah diri, serah diri adalah keyakinan,
keyakinan adalah pembenaran, pembenaran adalah ikrar,
ikrar (komitmen) adalah pelaksanaan, dan pelaksanaan adalah amal perbuatan."
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[Non-text portions of this message have been removed]