ketika suatu kesempatan sudah tidak berguna...
ketika uang sudah tidak bisa menebus segalanya...
yang ada hanyalah penyesalan
penyesalan yang datangnya belakangan.


Bersahabat dekat dengan seseorang itu membutuhkan banyak pengertian, waktu dan 
rasa percaya. 
Dengan semakin dekatnya masa hidupku yang tidak pasti, 
Teman-temanku adalah hartaku yang paling berharga.

Thank's for your attention
Maaf bila ada kesalahan

   << Riestha >>

----- Original Message ----
From: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, April 10, 2007 9:15:04 AM
Subject: [sobatkental] Mandikan Aku Bunda....!









  


    
            Mandikan Aku Bunda....!



Sebagian wanita menganggap tugas wanita lebih sebagai manajer dirumahnya

tanpa perlu

dipusingkan urusan dapur dan merawat anak yang lebih pantas dilakukan oleh

para

bawahan, alias pembantu ataupun baby-sitter. Peran sosial dan aktualisasi

diri

menjadi lebih utama. Disisi lain, tidak sedikit akhwat yang tetap "teguh"

dan bangga

dengan

kesibukan seputar urusan dapur dan diaper ini. Mereka cukup puas dengan

imbalan

surga untuk jerih payahnya membenamkan muka di asap "sauna" mazola (minyak

goreng)

dan berparfumkan aroma popok bayi.



Saya tidak hendak membahas kekurangan dan kelebihan kedua sisi ini.

Seperti saya

tulis di muka. Saya hanya ingin bertutur tentang seorang sahabat saya.



Sebut saja Rani namanya.



Semasa kuliah ia tergolong berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang

tinggi.

Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik,

baik itu

dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya. Ketika

Universitas mengirim kami untuk mempelajari Hukum Internasional di University

Utrecht, di negerinya bunga tulip, beruntung Rani terus melangkah.

Sementara saya,

lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk

beluk

hukum dan perundangan.



Beruntung pula, Rani mendapat pendamping yang "setara " dengan dirinya,

sama-sama

berprestasi, meski berbeda profesi. Alifya, buah cinta mereka lahir ketika

Rani baru

saja diangkat sebagai Staf Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani

meraih

PhD.

Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Rani

semakin

menggila saja. Frekuensi terbang dari satu kota ke kota lain dan dari satu

negara ke

negara lain makin meninggi.



Saya pernah bertanya , " Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal ?"

Dengan

sigap Rani menjawab : " Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya."



Everything is ok." Dan itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan

perhatian anaknya

walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan.

Alif

tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian. Kakek neneknya selalu

memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu-bapaknya.



" Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti." Begitu selalu nenek

Alif,

ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng menjelang tidurnya. Tidak salah

memang.

Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang berhasil dalam bidang

akademis

dan pekerjaannya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif

minta adik.

Waktu itu Ia dan suaminya

menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum

memungkinkan

untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini "dapat

memahami" orang tuanya.



Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua

orang

tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Kisah Rani, Alif selalu

menyambutnya

dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh

keluarga

yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tua sibuk, Alif tetap tumbuh

penuh

cinta.

Diam-diam hati keci saya menginginkan anak seperti Alif.



Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak

dimandikan baby-sitternya. " Alif ingin bunda mandikan." Ujarnya. Karuan

saja Rani

yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar.

Tak urung

suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi dengan tante Mien,

baby-sitternya.

Persitiwa ini berulang sampai hampir sepekan," Bunda, mandikan Alif?"

begitu setiap

pagi. Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena Alif sedang dalam masa

peralihan ke

masa sekolah jadinya agak minta perhatian.



Suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. " Bu dokter,

Alif

deman dan kejang-kejang, Sekarang di Emergency". Setelah terbang saya pun

ngebut ke

UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana lain. Alif, si

Malaikat kecil

keburu dipanggil

pemiliknya.



Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor

barunya,shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah

memandikan anaknya. Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil

terbaring kaku. " Ini bunda, Lif. Bunda

mandikan Alif." Ucapnya lirih, namun teramat pedih.



Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri

mematung.

Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata," Ini sudah takdir,

iya kan ?

Aku disebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, dia

pergi juga kan

? ". Saya diam saja

mendengarkan. " Ini konsekuensi dari sebuah pilihan." lanjutnya lagi,

tetap tegar

dan kuat.



Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma kamboja. Tiba-tiba Rani

tertunduk. " Aku

ibunya !" serunya kemudian, " Bangunlah Lif. Bunda mau mandikan Alif. Beri

kesempatan bunda sekali lagi saja, Lif". Rintihan itu begitu menyayat. Detik

berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-kais tanah merah ?..



Sekali lagi, saya tidak ingin membahas perbedaan sudut pandang pembagian

tugas suami

isteri. Hanya saja, sekiranya si kecil kita juga bergelayut : "Mandikan

aku, Bunda

." Akankah kita menolak ? Ataukah menunggu sampai terlambat ?



Semoga bermanfaat, amin.



    
  

    
    




<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a {
text-decoration:none;}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc {
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o {font-size:0;}
.MsoNormal {
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq {margin:4;}
-->








      Get news delivered with the All new Yahoo! Mail.  Enjoy RSS feeds right 
on your Mail page. Start today at http://mrd.mail.yahoo.com/try_beta?.intl=ca

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke