Semangat Kerja
Tulisan ini bisa dikomentari dan dilihat di web:
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife/index.php?act=detail&p_id=347
Dan dapatkan artikel-artikel enerlife lainnya di:
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife
Oleh: Lisa Nuryanti *
Pagi ini Murti sedang asyik bermain game di
komputernya, di kantor. Dari tadi gagal
melulu, sekarang sudah hampir menang. Tanpa
disangka, ada orang yang berdiri di
belakangnya dan memandangi game tersebut.
Murti tetap konsentrasi penuh. Paling-paling
Yudi yang berdiri di belakangnya, pikirnya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Murti
menang. Aduh senangnya. Sampai-sampai dia
berteriak, "Yes!!!", sambil mengepalkan
tangan kanannya.
Orang yang berdiri di belakangnya tertawa
lalu berkata, "Kalau semangat kerjamu seperti
ini, wah perusahaan akan sangat maju". Murti
tertegun. "Celaka," pikirnya. Itu bukan suara
Yudi, tapi suara Pak Yanto, sang direktur
utama. "Mati aku". Murti segera mengambil
napas dan menengok ke arah Pak Yanto sambil
tertawa malu. Betul-betul malu.
Pak Yanto tersenyum dan berkata, "Betul.
Kalau semangat kerjamu sama seperti
semangatmu bermain game. Wah! Hebat sekali.
Keinginanmu untuk menang sangat tinggi. Tidak
mudah menyerah. Berkali-kali gagal, kau coba
lagi dan coba lagi. Cobalah mempraktekkannya
dalam pekerjaan. Dalam segala hal. Okay?"
Sambil berjalan pergi, beliau masih sempat
berkata, "Tapi jangan main game melulu."
Aduh! Tambah malu lagi. Murti hanya bisa
tersenyum nyengir.
Cepat-cepat dia mematikan game komputernya
dan kembali menghadapi pekerjaannya yang tadi
sedang dikerjakan sebelum main game. Tadi dia
sedang membuat laporan mingguan. Sebagai
supervisor bagian penjualan, dia harus
membuat laporan perkembangan kinerja tim yang
dipimpinnya.
Dipandanginya layar komputer yang berisi
laporan yang sedang dibuatnya. Aduh,
malasnya. Setiap minggu itu-itu saja.
Kalimatnya juga mirip begitu-begitu lagi.
Paling-paling hanya angka penjualan saja yang
berubah. Lagipula laporan dari dua anak
buahnya belum masuk. Dari kemarin sudah
diminta tapi belum juga diserahkan. Murti
kesal. Tidak setiap minggu ada hal baru yang
perlu dilaporkan.
Tak bersemangat
Sambil termenung-menung di depan komputer,
Murti mengakui bahwa perkataan Pak Yanto tadi
memang benar. Tadi Murti bisa bermain dengan
sepenuh hatinya. Semangatnya menggebu. Dia
ingin menang. Pokoknya harus menang. Tapi
begitu menghadapi pekerjaan membuat laporan,
wah seluruh semangatnya hilang. Jadi malas.
Murti jadi heran sendiri. Mengapa dia bisa
bersikap seperti itu? Kalau sikapnya sebagai
penyelia seperti itu, bagaimana dia bisa
memberi teladan kepada anak buahnya?
Murti mencari apa penyebab semangatnya
menurun. Mungkin karena pekerjaan tersebut
tidak menyenangkan. Game lebih menyenangkan.
Tapi membuat laporan terasa membosankan dan
seperti formalitas saja. Padahal, dia tahu
bahwa laporan itu penting bagi atasan. Bukan
sekadar formalitas. Murti sadar dia tidak
mungkin bersikap seperti ini terus menerus.
Dia ingin mengubah keadaan. Membuat laporan
yang selama ini menjadi beban, harus diubah.
Kalau tidak, bisa repot sendiri.
Murti merasa lega karena Pak Yanto tidak
memarahinya. Memang dia ditegur, tapi tidak
dengan marah. Beliau memang bijaksana. Satu
hal yang dipelajarinya dari Pak Yanto adalah,
beliau selalu mengerjakan segala sesuatu
dengan senang dan penuh semangat. Jadi,
siapapun yang berada dekat beliau, selalu
merasa bersemangat. Beliau bisa menularkan
semangat kerjanya. Murti ingin seperti
beliau. Murti ingin lebih bersemangat. Kalau
semangat kerjanya sama dengan semangatnya
bermain game, wah, asyik juga. Dia sudah bisa
seperti Pak Yanto dong.
Murti segera mengambil keputusan. Dia
langsung menghapus semua game yang ada di
komputernya. Tidak ada game lagi. Sama
sekali. Kemudian dia mencoba mencari hal yang
dapat membuatnya menyukai pekerjaan lain
seperti membuat laporan, mencatat penjualan,
mencatat setiap perkembangan pelanggan, dan
sebagainya.
Murti baru sadar, catatan data pelanggan
sudah dua bulan tidak diperbarui. Jadinya
pekerjaannya menumpuk. Akibatnya, dia semakin
malas. Akhirnya jadilah lingkaran setan yang
membuatnya selalu menunda pekerjaan yang
tidak menyenangkan itu.
Hari ini Murti berniat meluangkan waktu untuk
memperbarui semua data pelanggan. Memang
cukup banyak sih. Habis, sudah dua bulan.
Tapi kalau tidak dilakukan sekarang, kapan
lagi. Semakin ditunda, semakin menumpuk.
Semakin menumpuk, semakin membuatnya malas.
Semakin malas, semakin ingin menunda.
Lingkaran setan ini harus dipatahkan.
Sampai sore, ternyata belum selesai juga.
Tapi Murti menemukan kesenangan baru. Dia
jadi asyik bekerja. Dengan tidak adanya game
di komputernya, dia tidak tergoda untuk main
game lagi. Seluruh waktu kerjanya bisa
dimanfaatkan secara lebih efisien. Ternyata
enak juga. Malah lebih enak rasanya. Besok
tinggal membereskan sisa datanya lalu mulai
memperbaiki hal-hal lainnya yang selama ini
diabaikan. Do your job! Never run away! Never
delay!
~~~
Sumber:
Potensi Diri - Semangat Kerja oleh Lisa
Nuryanti, Director Expands Consulting &
Training Specialist
Terima kasih
MYusuf.or.id
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Seorang yang berakal hendaknya:
1. Rendah hati dan rendah diri seperti bumi.
2. Dermawan seperti lautan.
3. Menutupi (menjaga) aibnya seperti malam hari.
4. Bermanfaat seperti matahari.
- [Ulama] -
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[Non-text portions of this message have been removed]