Strategi Menabung

                Tulisan ini bisa dikomentari dan dilihat di web:
                
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife/index.php?act=detail&p_id=353
                Dan dapatkan artikel-artikel enerlife lainnya di:
                http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife


                Oleh: Lisa Nuryanti*

                Seperti biasa, setiap akhir bulan, Ayu merasa
                senang menerima gaji. Dia merasa jerih
                payahnya dalam bekerja ada hasilnya. Sudah
                terbayang apa yang akan dilakukannya dengan
                gajinya tersebut. Beli beras, bayar listrik,
                bayar telepon, belanja sehari-hari, dan lain-
                lain. Tapi setelah uang gajinya dipisah-
                pisahkan dalam beberapa amplop untuk setiap
                kebutuhan, sisanya tidak banyak lagi. Kalau
                melihat sisa gajinya, perasaan senangnya
                berkurang.

                Uang itu tidak cukup untuk membeli sepatu
                baru. Sepatunya memang sudah harus diganti.
                Sudah tidak layak pakai. Kemana pun dia
                pergi, Ayu selalu membawa lem untuk
                merekatkan sol sepatunya kalau-kalau lepas.
                Sudah dua kali dia mengalami lepas hak sepatu
                ketika sedang berjalan menuju kantornya.
                Kejadian pertama membuatnya pusing. Untung
                tak jauh dari tempat kejadian Ayu menemukan
                penjual lem. Sejak saat itu, dia selalu
                membawa lem dalam tasnya.

                Padahal, kalau dihitung, sudah tiga tahun Ayu
                bekerja. Tapi hasilnya belum terasa. Gajinya
                habis melulu. Setiap akhir bulan, dia
                berharap-harap cemas agar uang gaji diberikan
                tepat waktu. Terlambat sehari saja, bisa
                runyam deh. Dia pernah hanya makan tahu
                goreng untuk makan siang di kantor karena
                gaji baru dibagikan keesokan harinya,
                sedangkan uangnya pas-pasan untuk biaya
                pulang.

                Kemarin ada kejadian yang mengubah hidupnya.
                Reni teman sekantornya sedang dilanda
                musibah. Suaminya menderita penyakit usus
                buntu dan harus dioperasi. Pulang dari dokter
                sudah hari Sabtu malam. Segera Reni membawa
                suaminya ke rumah sakit. Reni tidak punya
                kartu kredit. Kartu ATM-nya juga baru saja
                hilang. Reni bingung karena keesokan harinya
                hari Minggu sedangkan besok dia harus
                membayar uang muka untuk rumah sakit. Senin
                dia baru akan pinjam uang ke kantor.

                Di rumah, Reni mengeluh karena dia tidak tahu
                bagaimana mendapat uang muka untuk rumah
                sakit. Pembantunya mendengar hal itu dan
                bertanya berapa yang dibutuhkan Reni. Reni
                mengatakan perlu dua juta rupiah. Tanpa
                disangka, pembantunya mengatakan, "Ibu pakai
                uang saya aja". Reni terkejut. "Kamu punya
                uang dua juta?", tanya Reni. "Ada Bu. Saya
                ambilkan sebentar", dan pembantunya mengambil
                dari dompetnya sejumlah dua juta lalu
                memberikannya kepada Reni. Reni sampai
                menangis karena terharu. Uang itu adalah uang
                tabungan pembantunya.

                Di kantor, Reni menceritakan kejadian itu
                pada Ayu. Ayu juga heran. Pembantu Reni punya
                tabungan sebesar lebih dari dua juta rupiah?
                Ayu malu, kalau dibandingkan dengan dirinya
                sendiri, sungguh jauh bedanya. Berapa gaji
                seorang pembantu rumah tangga? Gaji Ayu pasti
                lebih besar. Tapi berapa jumlah uang tabungan
                Ayu? Paling-paling dua ratus ribu. Itupun
                akan dipakainya sebagian untuk beli sepatu.
                Tapi, pembantu Reni bisa menabung dua juta
                rupiah? Benar-benar ajaib.

                Ayu penasaran. Dia bertanya kepada Reni
                bagaimana cara pembantunya menabung sehingga
                berhasil memiliki tabungan sebanyak itu. Reni
                juga penasaran, ingin tahu bagaimana caranya.
                Reni pun bertanya kepada pembantunya mengenai
                kiat menabung.

                Ternyata, cara pembantu Reni menabung sangat
                sederhana. Berapapun gaji yang diperolehnya,
                sepuluh persen selalu ditabung. Dia punya
                dompet khusus untuk menabung. Sekali uang
                sudah masuk ke dompet itu, maka pembantu Reni
                menganggap uang itu sudah hilang. Jadi
                betapapun dia tidak punya uang, sekalipun
                gajinya sudah habis, dia tidak pernah
                mengambil uang tabungannya. Karena baginya,
                uang itu sudah tidak ada. Sudah bukan
                miliknya lagi.

                Reni bertanya, bagaimana kalau sisanya memang
                tidak cukup untuk segala keperluannya. Dengan
                sederhana, pembantunya menjawab, "Cukup atau
                tidak, pokoknya sepuluh persen saya tabung.
                Saya anggap hilang." "Kamu tidak tergoda
                untuk memakai uang itu?", tanya Reni. "Kadang-
                kadang memang ingin pakai, tapi saya anggap
                bukan uang saya lagi kok."

                Ayu tergerak hatinya. Kejadian itu
                menimbulkan inspirasi baru. Ayu juga ingin
                meniru cara menabung sederhana yang
                diterapkan pembantu Reni. Dua bulan lalu Ayu
                menyisihkan sepuluh persen dari gajinya untuk
                ditabung. kemudian dia akan melupakannya. Dia
                akan menganggapnya hilang. Tapi ternyata di
                akhir bulan, uangnya habis. Untuk naik bis ke
                kantor saja tidak ada lagi. Akhirnya terpaksa
                uang tabungannya diambil lagi.

                Ternyata sulit ya menabung. Ayu mencoba lagi,
                bulan lalu dia kembali menyisihkan bukan
                sepuluh persen, tapi lima persen saja.

                Selain itu dia merubah gaya hidupnya.
                Biasanya setiap pagi Ayu sarapan di dekat
                kantornya. Tapi sejak bulan lalu, dia makan
                di rumah atau membawa makanan dari rumah. Ayu
                sempatkan membuat nasi goreng. Kadang
                dibawanya ke kantor. Malah ada beberapa
                temannya yang ingin pesan nasi goreng
                buatannya. Ayu tidak keberatan, lumayan untuk
                tambah biaya transport.

                Ternyata berhasil. Uang tabungannya tidak
                terganggu. Ayu berniat terus menabung lima
                persen dari gajinya tiap bulan. Yang penting
                niat. You can if you think you can!

                ~~~

                Sumber:
                Strategi Menabung oleh Lisa Nuryanti,
                Director Expands Consulting & Training
                Specialist



   Terima kasih
   MYusuf.or.id
   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
   Orang-orang yang berakal menarik keuntungan dan
   memperoleh manfaat dari kesalahan-kesalahan orang lain.
   - [Pepatah] -
   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke