Untuk pelajaran bagi kita semua
Tulisan ini bisa dikomentari dan dilihat di web:
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife/index.php?act=detail&p_id=352
Dan dapatkan artikel-artikel enerlife lainnya di:
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife
25 tahun yang lalu,
Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan
pilihan. Tapi aku dan Kania harus tetap
menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor
Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim.
Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan
kami selesai. Tanpa sungkem dan tabur melati
atau hidangan istimewa dan salam sejahtera
dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur
karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi
saksi. Umurku sudah menginjak seperempat abad
dan Kania di bawahku. Cita-cita kami
sederhana, ingin hidup bahagia.
22 tahun yang lalu,
Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup
untuk biaya makan keluargaku. Ya, keluargaku.
Karena sekarang aku sudah punya momongan.
Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku
berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna,
maksudku kaya akan budi baik hingga dia
tampak sempurna. Kulitnya masih merah,
mungkin karena ia baru berumur seminggu.
Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan
aku merasa prihatin. Aku harus bisa terima
nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania
tak mau menerima kami. Ya sudahlah. Aku tak
berhak untuk memaksa dan aku tidak membenci
mereka. Aku hanya yakin, suatu saat nanti,
mereka pasti akan berubah.
19 tahun yang lalu,
Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang
sedang senang berlari-lari, melompat-lompat
atau meloncat dari meja ke kursi lalu dari
kursi ke lantai kemudian berteriak, "Horeee,
Iya bisa terbang". Begitulah dia memanggil
namanya sendiri, 'Iya'. Kembang senyumnya
selalu merekah seperti mawar di pot halaman
rumah. Dan Kania tak jarang berteriak, "Iya
sayaaang," jika sudah terdengar suara
"Prang". Itu artinya, ada yang pecah, bisa
vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca.
Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu
dia melompat dari tempat tidur ke lantai,
boneka kayu yang dipegangnya terpental. Dan
dia cuma bilang, "Kenapa semua kaca di rumah
ini selalu pecah, Ma?"
18 tahun yang lalu,
Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja
pulang lebih awal dari pekerjaanku agar bisa
membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia
merengek minta dibelikan bola. Kania tak
membelikannya karena tak mau anaknya jadi
tomboy apalagi jadi pemain bola seperti yang
sering diucapkannya. "Nanti kalau sudah
besar, Iya mau jadi pemain bola!" tapi aku
tidak suka dia menangis terus minta bola,
makanya kubelikan ia sebuah bola. Paling
tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu
sore. Dan seperti yang sudah kuduga, dia
bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola
itu. "Horee, Iya jadi pemain bola."
17 Tahun yang lalu,
Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main
bola di jalan. Mainnya di rumah aja. Coba
kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti
ini. Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa
tidak tahu Iya menyembunyikan bola di tas
sekolahnya. Yang aku tahu, hari itu hari
sabtu dan aku akan menjemputnyanya dari
sekolah. Kulihat anakku sedang asyik
menendang bola sepanjang jalan pulang dari
sekolah dan ia semakin ketengah jalan. Aku
berlari menghampirinya, rasa khawatirku
mengalahkan kehati-hatianku dan "Iyaaaa".
Sebuah truk pasir telak menghantam tubuhku,
lindasan ban besarnya berhenti di atas dua
kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku sudah
diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-
bayang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa
kaki, bagaimana aku bekerja sementara
pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan
ke rumah konsumen. Kulihat Kania menangis
sedih, bibir cuma berkata, "Coba kalau kamu
tak belikan ia bola!"
15 tahun yang lalu,
Perekonomianku morat marit setelah
kecelakaan. Uang pesangon habis untuk ke
rumah sakit dan uang tabungan menguap jadi
asap dapur. Kania mulai banyak mengeluh dan
Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya bisa
membelainya. Dan bilang kalau Mamanya sedang
sakit kepala makanya cepat marah. Perabotan
rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku
tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak
mencari nafkah ke luar negeri. Dia ingin
penghasilan yang lebih besar untuk mencukupi
kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak
diizinkan dia akan tetap pergi. Begitu
katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke
Malaysia.
13 tahun yang lalu,
Setahun sejak kepergian Kania, keuangan
rumahku sedikit membaik tapi itu hanya
setahun. Setelah itu tak terdengar kabar
lagi. Aku harus mempersiapkan uang untuk
Kamila masuk SMP. Anakku memang pintar dia
loncat satu tahun di SD-nya. Dengan segala
keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa
melanjutkan sekolah. Aku bekerja serabutan,
mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan
dengan dua tanganku. Aku miris, menghadapi
kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh
remaja dan aku tahu dia ingin menikmati
dunianya. Tapi keadaanku mengurungnya dalam
segala kekurangan. Tapi aku harus kuat. Aku
harus tabah untuk mengajari Kamila hidup
tegar.
10 tahun yang lalu,
Aku sedih, semua tetangga sering mengejek
kecacatanku. Dan Kamila hanya sanggup berlari
ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar.
Dia sering jadi bulan-bulanan hinaan teman
sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya.
"Biar cantik kalo kere ya kelaut aje."
Mungkin itu kata-kata yang sering kudengar.
Tapi anakku memang sabar dia tidak marah
walau tak urung menangis juga. "Sabar ya,
Nak!" hiburku. "Pak, Iya pake jilbab aja ya,
biar tidak diganggu!" pintanya padaku. Dan
aku menangis. Anakku maafkan bapakmu, hanya
itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku.
Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari
kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku,
ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia
selalu tersenyum padaku. Dia tidak pernah
menunjukkan kekecewaannya padaku karena
sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.
7 tahun yang lalu,
Aku merenung seharian. Ingatanku tentang
Kania, istriku, kembali menemui pikiranku.
Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya.
Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri,
jika aku masih menyimpan rindu untuknya. Dan
itu pula yang membuat aku takut. Semalam
Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke
Malaysia. Sulit baginya mencari pekerjaan di
sini yang cuma lulusan SMP. Haruskah aku
melepasnya karena alasan ekonomi. Dia bilang
aku sudah tua, tenagaku mulai habis dan dia
ingin agar aku beristirahat. Dia berjanji
akan rajin mengirimi aku uang dan menabung
untuk modal. Setelah itu dia akan pulang,
menemaniku kembali dan membuka usaha kecil-
kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku
tak kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya
berdoa agar Kamilaku baik-baik saja.
4 tahun lalu,
Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang.
Hampir tiga tahun dia di sana. Dia bekerja
sebagai seorang pelayan di rumah seorang
nyonya. Tapi Kamila tidak suka dengan laki-
laki yang disebutnya Datuk. Matanya tak
pernah siratkan sinar baik. Dia juga dikenal
suka perempuan. Dan nyonya itu adalah istri
mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah
ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia
sering diganggu. Lebaran tahun ini dia akan
berhenti bekerja. Itu yang kubaca dari
suratnya. Aku senang mengetahui itu dan
selalu menunggu hingga masa itu tiba. Kamila
bilang, aku jangan pernah lupa shalat dan
kalau kondisiku sedang baik usahakan untuk
shalat tahajjud. Tak perlu memaksakan untuk
puasa sunnah yang pasti setiap bulan Ramadhan
aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat
hingga beduk manghrib berbunyi. Kini anakku
lebih pandai menasihati daripada aku. Dan aku
bangga.
3 tahun 6 bulan yang lalu,
Inikah badai? Aku mendapat surat dari
kepolisian pemerintahan Malaysia, kabarnya
anakku ditahan. Dan dia diancam hukuman mati,
karena dia terbukti membunuh suami
majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini.
Aku menangis, aku tak percaya. Kamilaku yang
lemah lembut tak mungkin membunuh. Lagipula
kenapa dia harus membunuh. Aku meminta
bantuan hukum dari Indonesia untuk
menyelamatkan anakku dari maut. Hampir
setahun aku gelisah menunggu kasus anakku
selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku
habis. Aku hanya bisa memohon agar anakku
tidak dihukum mati andai dia memang bersalah.
2 tahun 6 bulan yang lalu,
Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku
terbukti bersalah. Dan dia harus menjalani
hukuman gantung sebagai balasannya. Aku tidak
bisa apa-apa selain menangis sejadinya. Andai
aku tak izinkan dia pergi apakah nasibnya tak
akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia
bola apakah keadaanku pasti lebih baik? Aku
kini benar-benar sendiri. Wahai Allah kuatkan
aku. Atas permintaan anakku aku dijemput
terbang ke Malaysia. Anakku ingin aku ada di
sisinya disaat terakhirnya. Lihatlah, dia
kurus sekali. Dua matanya sembab dan bengkak.
Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya
kakiku tak ada. Aku masuk ke dalam ruangan
pertemuan itu, dia berhambur ke arahku,
memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan
aku. "Bapak, Iya Takut!" aku memeluknya lebih
erat lagi. Andai bisa ditukar, aku ingin
menggantikannya. "Kenapa, Ya, kenapa kamu
membunuhnya sayang?" "Lelaki tua itu ingin
Iya tidur dengannya, Pak. Iya tidak mau. Iya
dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia
jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya
tidak salah kan, Pak!" Aku perih mendengar
itu. Aku iba dengan nasib anakku. Masa
mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa
apa, istri keempat lelaki tua itu menuntut
agar anakku dihukum mati. Dia kaya dan lelaki
itu juga orang terhormat. Aku sudah berusaha
untuk memohon keringanan bagi anakku, tapi
menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku
tinggal di Malaysia selama enam bulan untuk
memohon hukuman pada wanita itu.
2 tahun yang lalu,
Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan
wanita itu akan hadir melihatnya. Aku
mendengar dari petugas jika dia sudah datang
dan ada di belakangku. Tapi aku tak ingin
melihatnya. Aku melihat isyarat tangan dari
hakim di sana. Petugas itu membuka papan yang
diinjak anakku. Dan 'blass" Kamilaku kini
tergantung. Aku tak bisa lagi menangis.
Setelah yakin sudah mati, jenazah anakku
diturunkan mereka, aku mendengar langkah kaki
menuju jenazah anakku. Dia menyibak kain
penutupnya dan tersenyum sinis. Aku
mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang
samar oleh air mata aku melihat garis wajah
yang kukenal. "Kania?" "Mas Har, kau ... !"
"Kau ... kau bunuh anakmu sendiri, Kania!"
"Iya? Dia.. dia.. Iya?" serunya getir
menunjuk jenazah anakku. "Ya, dia Iya kita.
Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah
besar." "Tidak ... tidaaak ... " Kania
berlari ke arah jenazah anakku. Diguncang
tubuh kaku itu sambil menjerit histeris.
Seorang petugas menghampiri Kania dan
memberikan secarik kertas yang tergenggam di
tangannya waktu dia diturunkan dari tiang
gantungan. Bunyinya "Terima kasih Mama." Aku
baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah tahu
wanita itu ibunya.
Setahun lalu,
Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia
masih istriku. Yang aku tahu, aku belum
pernah menceraikannya. Terakhir kudengar
kabarnya dia mati bunuh diri. Dia ingin
dikuburkan di samping kuburan anakku, Kamila.
Kata pembantu yang mengantarkan jenazahnya
padaku, dia sering berteriak, "Iya sayaaang,
apalagi yang pecah, Nak." Kamu tahu Kania,
kali ini yang pecah adalah hatiku. Mungkin
orang tua kita memang benar, tak seharusnya
kita menikah. Agar tak ada kesengsaraan untuk
Kamila anak kita. Benarkah begitu Iya sayang?
Terima kasih
MYusuf.or.id
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Orang-orang yang berakal menarik keuntungan dan
memperoleh manfaat dari kesalahan-kesalahan orang lain.
- [Pepatah] -
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[Non-text portions of this message have been removed]