Masalah Pribadi
Tulisan ini bisa dikomentari dan dilihat di web:
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife/index.php?act=detail&p_id=358
Dan dapatkan artikel-artikel enerlife lainnya di:
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife
Oleh: Lisa Nuryanti
Rosa baru bekerja dua bulan di bagian
administrasi. Tugas utamanya adalah mengetik
proposal dan mengirimkannya ke berbagai
perusahaan. Mula-mula memang ia kelihatan
rajin, tapi selang seminggu kemudian ia
sering menganggur.
Banyak proposal yang belum dikirim, bahkan
belum diketik. Kalau ditegur oleh temannya,
ia rajin lagi. Tapi kerajinannya tidak tahan
lama, seminggu lagi ia mulai malas. Akhirnya
pada suatu hari jumat ia dipanggil oleh
atasannya dan ditegur mengenai hal itu. Pada
sabtu dan minggu Rosa sangat sedih. Ia merasa
sedih karena ditegur atasannya. Dua hari ia
tidak suka makan dan tidak bisa tidur nyenyak
karena memikirkan masalah itu.
Pada seninnya ia segera menghadap atasannya
dan mengatakan bahwa ia tidak bisa makan dan
tidak bisa tidur karena memikirkan teguran
jumat yang lalu. Tentu saja atasannya heran
melihat reaksi Rosa.
Bukannya menyadari kesalahannya dan berusaha
mengubahnya, ia malah menjadikan masalah ini
sebagai masalah pribadi. Rosa merasa
atasannya tidak menyukainya. Ia merasa sedih
karena dibenci atasannya. Ia tidak bisa
melihat betapa berlebihan sikapnya itu. Ia
mencampuradukkan masalah pekerjaan dengan
masalah pribadi.
Teguran atasannya sama sekali bukan tentang
pribadinya tapi tentang pekerjaannya yang
terbukti belum cukup baik. Tapi yang
dirasakan Rosa adalah bahwa atasannya
membencinya. Segera atasannya menjelaskan
bahwa ia tidak bermaksud menyakiti hati Rosa,
malah Rosa harus belajar melihat kesalahannya
dan memperbaikinya.
Dan atasannya tetap akan menegurnya lagi
kalau ia mengulang kesalahannya. Bukan
atasannya yang harus berhenti menegur, tapi
Rosa yang harus memperbaiki dirinya. Kalau ia
tidak melakukan kesalahan tentu atasannya
tidak akan menegurnya.
Sayang setelah beberapa bulan ia tetap tidak
mau memisahkan masalah kerja dan pribadi,
sehingga kemudian ia merasa dibenci oleh
atasannya dan semua rekan kerjanya. Ia pun
makin tersisih dan akhirnya mengundurkan diri
dari pekerjaannya.
Yusni seringkali melakukan kesalahan dalam
mengetik. Setiap kali ia disuruh membuat
surat, ia selalu harus membuatnya berulang-
ulang sehingga Yusni sangat stres. Apalagi
surat dalam bahasa Inggris, betul-betul
merupakan tugas berat baginya. Padahal ia
sudah bekerja satu bulan. Setiap menyerahkan
hasil ketikannya ke atasan, atasannya selalu
menegurnya karena menemukan kesalahan,
padahal tadi rasanya Yusni sudah memerika
ulang.
Jalan keluar
Lama-lama atasannya sering menyuruh orang
lain untuk mengetikkan suratnya, karena lebih
cepat selesai dan tanpa salah. Yuni hampir
saja sakit hati karena tidak disuruh membuat
surat lagi, tapi untung ia segera sadar bahwa
ia memang tidak mampu menyelesaikan
pekerjaannya dengan baik. Menyadari hal ini,
Yusni tidak mau bersedih hati berkepanjangan,
tapi ia segera mencari jalan keluar.
Di rumah dan di kantor ia berlatih mengetik.
Setiap hari. Bahkan ia kemudian mengikuti
kursus bahasa Inggris di malam hari untuk
menambah kemampuannya berbahasa asing.
Selang satu bulan, Yusni memberanikan diri
menemui atasannya dan menawarkan diri untuk
mengetikkan surat-surat. Atasannya langsung
berpesan agar ia tidak melakukan kesalahan
ketik. Sejam kemudian Yusni kembali dengan
membawa enam lembar surat hasil kerjanya.
Setelah diperiksa, atasannya hanya menemukan
satu kesalahan ketik.
Meskipun heran, tapi atasannya senang melihat
kemajuan yang dicapai Yusni. Yusni sendiri
juga heran melihat bahwa ia hanya melakukan
satu kesalahan. Baginya jelas ini suatu
kemajuan yang sangat berarti.
Perubahan yang dialami Yusni ini
menjadikannya semakin rajin berlatih
memperbaiki hasil pekerjaannya dan semakin
rajin belajar bahasa Inggris. Ia bisa
memanfaatkan teguran sehingga menjadikannya
lebih baik. Ia sudah berhasil membedakan
masalah kesalahan dalam pekerjaan dengan
masalah pribadi. Ia tidak lagi menangis kalau
ditegur, tapi ia berusaha memperbaiki
kesalahan yang menyebabkan ia ditegur.
Andika sangat kesal dengan Yudha, asistennya.
Ia melihat bahwa asistennya kurang aktif,
kurang bisa memberikan saran, dan tidak
sesuai dengan yang diharapkannya.
Menurut Andika seharusnya Yudha lebih giat
karena ia sudah berpengalaman kerja di tempat
lain sebelum bergabung di perusahaan tempat
Andika bekerja. Tapi ternyata Yudha selalu
menunggu perintah dari Andika, tidak memiliki
inisiatif sendiri. Andika mulai tidak
menyukai Yudha, bahkan ia mulai menjauhinya.
Ia tidak mau menegur langsung karena merasa
sungkan pada Yudha yang lebih tua.
Yudha merasakan perubahan sikap Andika, ia
mulai bertanya-tanya dan mencari penyebabnya.
Yudha memilih untuk tidak sakit hati atau
bersikap tidak peduli.
Sebaliknya ia menghadap Andika dan bertanya
terus terang mengenai penilaian Andika
terhadap dirinya. Melihat sikap Yudha yang
positif dan mau mendengarkan, maka Andika
berterus terang mengenai harapan dan
tuntutannya. Yudha mendengarkan dan berniat
untuk berubah agar dapat memenuhi harapan
perusahaan.
Ia tidak mencampuradukkan masalah kerja
dengan masalah pribadi. Ia tidak mau diliputi
oleh perasaan sakit hati atau rendah diri. Ia
ingin bersikap objektif. Do not take it
personal! Be objective!
~~~
Sumber: Masalah Pribadi
oleh Lisa Nuryanti, Pemerhati Etika dan
Kepribadian
(didapatkan dari forward-an di milis
internet)
Terima kasih
MYusuf.or.id
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sinar pagi hanya terlihat oleh orang yang terbuka mata indranya dan
cahaya kebenaran hanya terlihat oleh orang yang terbuka mata hatinya.
- [Pepatah] -
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[Non-text portions of this message have been removed]