Note: forwarded message attached.
____________________________________________________
Start your day with Yahoo! - make it your home page
http://www.yahoo.com/r/hs
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Soe_Hok_Gie/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--- Begin Message ---
Soe Hok Gie : Kisah Lelaki dari Kebon Jeruk
Saatnya bangsa ini untuk diingatkan, bahwa negeri ini pernah memiliki Soe Hok-gie. Aktivis muda yang memilih diasingkan, ketimbang menjadi manusia munafik.
Ia memang pantas diidolakan karena kegigihannya dalam bersikap dan menuntun dirinya untuk jujur pada nilai-nilai yang diyakininya. Inilah saatnya, generasi muda dikenalkan pada sosoknya agar mau belajar padanya. Bukan kepada mereka yang melacurkan dirinya pada kekuasaan, jabatan dan kemewahan.
Di tangan sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana, usaha itu dicoba dirintis. Lewat film berbeaya Rp7 miliar itu, kedua sinaes muda ini menghadirkan kepada masyarakat Tanah Air, sebuah interpretasinya terhadap sosok Gie. Kalaupun banyak hal tak sesuai dengan apa yang dibayangkan orang-orang, terutama yang pernah dekat dengannya, toh kata Mira, itu karena film ini merupakan sebuah interpretasi Riri terhadap Gie. Bukan film dokumenter ataupun film biografi!
Cukup repot menggali informasi seputar kehidupan Gie. Apalagi yang menyangkut kehidupan pribadinya. Riri bahkan harus pergi ke luar negeri untuk menemui perempuan yang pernah dekat dengan Gie. Meski kisahnya bisa didapat, tak sedikit nara sumber yang keberatan untuk disebutkan namanya dalam film Riri tersebut.
Banyak tokoh fiktif yang dihadirkan. Kata Mira, itu menjadi referensi dari sejumlah tokoh yang pernah dekat dengan Gie, termasuk tokoh Ira (Sita Nursanti, mantan tri vokal RSD) dan Sinta (Wulan Guritno), juga Jaka (Doni Alamsyah).
Kalau pun ada tokoh nyata dalam film ini, mereka tak lain adalah kedua orang tua Gie, Soe Li Pet (Robby Tumewu) dan ibunya Nio (Tuti Kirana) dan abangnya Soe Hok-djin yang mengganti namanya menjadi Arief Budiman (Gino Korompis). Sementara, sahabat-sahabatnya yang muncul hanyalah Herman Lantang (Lukman Sardi) dan Aristides Katoppo (Surya Saputra).
Informasi yang didapat tentang Soe Hok-gie cukuplah menambah bahan. Meski pada akhirnya, Riri juga melakukan pijakan skenarionya pada desertasi doktoral pria kebangsaan Australia, John Maxwell, Soe Hok-gie, Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.
Dari sini lah, ia kemudian menyuguhkan film berdurasi 2 jam, 27 menit itu. Pidato Presiden RI Pertama Soekarno, mengawali rangkaian film Gie. Suara yang menggelegar seakan menandai periode waktu film itu berlangsung. Ya, inilah masa ketika bangsa ini memasuki babak kehidupan politik yang bergelora.
Soe Hok-Gie remaja, yang diperankan Jonathan Mulia, menjadi saksi akan hal itu. Tokoh-tokoh besar dunia, semacam Gandhi, Kennedy dan Soekarno, menjadi sosok yang diidolakannya. Meski kenyataan ia akhirnya memilih menentang Soekarno.
Namun dari Soekarno lah, ia belajar melawan tirani dan ketidakadilan. Gie remaja memperlihatkan gelagat itu. Ia menjadi "pembangkang" ketika masih duduk di SMP. Sang guru tak segan-segan dikritiknya. Lantaran sikapnya itulah, nilai ulangan ilmu buminya dikurangi sang guru. Ia dipanggil kepala sekolah agar meminta maaf pada sang guru. Tapi Gie menolaknya.
Dalam Catatan Harian Soe Hok-gie, ia menuliskan kekesalannya itu. "4 Maret 1957. Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu. Ulangan ilmu bumiku 8 tapi dikurangi 3 jadi tinggal 5..."
Tak terima dengan perlakuan itu, bersama karibnya Han (Christian Audy), ia malah berniat menghajar sang guru. Selepas mengajar, mereka membuntutinya, hingga akhirnya luluh juga hati Gie, ketika Pak Guru bercengkrama dengan sang anak dan menggendongnya ke sebuah gubuk.
Inilah sifat luhur seorang Gie, ia cepat tersentuh rasa kemanusiannya ketika melihat sebuah ketidakberdayaan. Gie bahkan rela bersitegang dengan orangtuanya demi menyelamatkan Han dari tantenya, yang suka memukulinya. Oleh Gie, Han dianjurkan untuk menginap di rumahnya. Tapi, ibu Gie melarangnya.
Sejurus kemudian, Tante Han bersama dua orang hansip datang menjemputnya. Di hadapan Gie, Han diseret dan dipukuli. Ia pun berontak dan berusaha menyelamatkan Han. Tapi gagal.
Cerita lain terjadi pada sebuah siang. Ketika Gie memasuki bangku kuliah--Gie, kali ini diperankan Nicholas Saputra. Ia melihat seorang pria tampak begitu kelaparan. Ia bukan pengemis, tapi karena tak punya uang untuk bisa dibelanjakan, si pria memungut mangga dari sampah untuk dimakannya. Gie dibuat kaget. Ia hampiri dan memberinya uang.
"...Inilah salah satu gejala yang mulai tampak di ibu kota. Dan keberikan Rp2,50 dari uangku... Ya, dua kilometer dari pemakan kulit, "paduka" kita mungkin lagi ketawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik. Dan kalau melihat gejala pemakan kulit itu, alangkah bangga hatiku. "Kita, generasi kita, ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua, seperti Iskak, Djodi, Dahjar dan Ibnu Sutowo. Kita lah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia." catatan Soe Hok-gie inilah yang dijadikan pengantar cerita lewat suara Nicholas Saputra.
Menyajikan film Soe Hok-gie tentu saja merupakan sebuah kerja besar yang tak bisa dianggap enteng. Usaha para sineas ini patutlah diacungi jempol. Setidaknya, karya mereka bukanlah film ecek-ecek yang kini banyak bermunculan di layar sinema kita.
Iri Supit, sang penata artistik, mampu menghadirkan suasana Jakarta di tahun 60-an. Ini jelas bukan pekerjaan gampang. Sejumlah pernak-pernik yang dihadirkan sudah tentu harus mewakili zamannya. Lihatlah sepeda dan mobil-mobil zaman baheula berseliweran di layar Gie dan mampu menghidupkan suasana kala itu.
Mengenai Jakarta yang kini sudah banyak berubah, para pekerja film ini akhirnya sepakat menjadikan kota Semarang sebagai lokasi syuting. Di sana lah setidaknya, suasana tempo doeloe masih terasa begitu tampak.
Beruntung, suasa Jalan Kebon Jeruk IX, Jakarta Barat, tempat Gie bermukim bersama orangtuanya dulu, berhasil ditemukan di sana, tepatnya di Jalan Layur. Mirip suasana Kebon Jeruk tahun 50-an, Jalan Layur dipenuhi tukang becak, pedagang dan sebuah masjid.
Menyaksikan Soe Hok-gie, berarti menyaksikan sebuah keteguhan dalam melakoni prinsip-prinsip yang diyakininya benar. Ia sempat menjadikan Soekarno sebagai idolanya, namun ia jugalah yang turut menggulingkan keperkasaan Soekarno sebagai penguasa Orde Lama.
Gie, adalah seorang yang selalu dipenuhi kegelisahan. Suara-suara kegelisahan itu lah yang dicurahkannya lewat tulisan-tulisan yang cukup tajam. Gie menjadi Semua dibabat habis, baik militer, rekan-rekan aktivis kampus yang telah lupa pada perjuangan awalnya, hingga kampusnya sendiri. "Inilah akhir bagi Gie, ketika ia mengkritik kampusnya sendiri. Dia seperti tak punya rumah lagi," kata Riri.
Kehidupan pribadi Gie, menjadi bagian yang menarik. Sosok Ira dan Sinta, setidaknya mewakili perempuan-perempuan yang dekat dengan Gie, semasa hidupnya. Meski Sinta telah membuatnya bergelora, namun sepertinya cinta matinya hanya untuk Ira, sahabat dekatnya.
Adegan yang menghadirkan pelacur bernama Sinta (Happy Salma), menjadi bagian yang menggelikan. Namun, ini menjadi penting dalam menghadirkan karakter Gie. Ia digerayangi, tapi Gie justru tak tergiur dan pergi. Alih-alih, ia justru sempat ngambek pada rekannya Denny (Indra Birowo) yang telah menjebaknya.
Takdir telah ditentukan padanya. Gie mati muda di pangkuan sahabatnya Herman Lantang, ketika ia mendaki Gunung Semeru, gunung tertinggi di Jawa. Sebuah akhir yang tragis. Namun, Riri sengaja tak memunculkan adegan itu sebagai penghujung cerita. Ia justru menghadirkan senyum dan kebahagian Riri bersama sahabatnya Han, saat bermain di pantai.
Ya, sebuah tempat yang dicita-citakan Han semasa hidupnya. Dan, hal itu justru terkabul ketika ia mengakhiri hidupnya. Ia dieksekusi tentara di sebuah pantai di Bali, karena menjadi anggota aktivis Partai PKI.
Menghadirkan Gie kembali dalam benak masyarakat saat ini, memang terasa perlu. Terlebih, ketika negeri ini telah kehilangan panutan dan cecurut-cecurut asyik menggerayangi aset-aset negara. Sosok-sosok Gie lah yang bisa menjadi jawabanya. "Kita, generasi kita, ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau..."
Penulis: Eko Hendrawan Sofyan
www.kompas.co.id
[Non-text portions of this message have been removed]
www.mapalaui.info
<*> Attachment tidak diperbolehkan tanpa seijin moderator.
---- LSpots keywords ?>
---- HM ADS ?>
--- End Message ---