http://www.sinarharapan.co.id/berita/0507/23/opi02.html


"Gie", Sejarah dalam Pandangan Anak Muda

Oleh
Yogi W Utomo

Film Gie telah diputar di bioskop. Film tentang aktivis mahasiswa dan penulis kritis di era 1960-an ini memancing minat mereka yang mengalami hidup di zaman itu. Sebab mereka tahu siapa Soe Hok Gie dan memahami betul situasi sosial politik menjelang akhir Orde Lama dan dimulainya Orde Baru. Buat mereka, menonton film ini seperti menyimak album kenangan.

Hal berbeda dirasakan generasi yang dibesarkan atau lahir setelah 1970-an. Mereka tak kenal Soe Hok Gie, dan surprise jika dijelaskan bahwa dia adalah adik kandung sosiolog kondang, Arief Budiman. Mungkin tidak sedikit anak muda yang bertanya, siapa dan apa ketokohannya dalam sejarah dan perubahan besar politik negeri ini sehingga dianggap begitu penting?

Pertanyaan itu wajar mengingat nama Gie memang tak banyak disebut ketika orang bicara tentang pergulatan politik tahun 1960-an. Apalagi mereka yang kurang suka membaca. Nampaknya hal itu disadari betul oleh produser film ini, Mira Lesmana, dan sutradara sekaligus penulis skenarionya, Riri Riza. Maka, bintang-bintang yang akrab di telinga anak muda saat ini pun ditarik sebagai pemain utama.

Begitu juga musik pengiring. Dilibatkannya antara lain Eross dari grup "Sheila on Seven" dan Andi/rif sebagai pengisi lagu-lagu soundtrack membuat "Gie" kian menarik sebagai sebuah produk hiburan. Namun seperti kata Riri Riza, ini adalah film biografi bernuansa politik. Titik berat cerita pada penggambaran Gie sebagai sosok humanis. Kepeduliannya pada kondisi sekitar tampil dalam adegan-adegan film itu.

Juga sikapnya yang kritis sejak kecil dan remaja (diperankan Jonathan Mulia). Ia tak ragu mendebat gurunya di kelas. Ia senang membaca buku-buku karya penulis besar dunia. Hal itu ikut membentuk pola pikir dan sikapnya atas kondisi sosial politik yang ia rasa tidak tepat.

Mapala dan Sinar Harapan

Ayahnya, Soe Lie Piet (Robby Tumewu) adalah penulis di beberapa surat kabar. Melihat aktivitas ayahnya, Gie terpecut menuangkan pandangan dan sikapnya dalam tulisan. Ia pun mulai menulis. Selulus SMA Kanisius, Gie dewasa (Nicholas Saputra) kuliah di Fakultas Sastra UI. Di sini, ia aktif dalam kegiatan pemutaran film dan menggelar diskusi mahasiswa. Ia juga senang mendaki gunung dan bersama teman-temannya mendirikan organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) UI.

Perkembangan politik masa itu juga merambat ke kehidupan kampus. Persaingan ideologi mewarnai aktivitas mahasiswa. Gie pun diminta bergabung oleh beberapa organisasi pergerakan. Dari sana, ia berkenalan dengan banyak tokoh penting sampai sempat bertemu Presiden Soekarno (Sultan Saladin).

Di kampus, Gie berusaha mencairkan persaingan politik di kalangan mahasiswa dengan mengadakan kegiatan berbeda. Karena itu, ia membujuk sahabatnya, Herman Lantang (Lukman Sardi) mencalonkan diri sebagai Ketua Senat dan mengisi aktivitas mahasiswa dengan kegiatan mendaki gunung dan pemutaran film.

Ketika Orde Lama mendekati masa kejatuhannya, Gie pun turut turun ke jalan menggelar demonstrasi bersama teman-temannya. Ia juga menulis banyak artikel di surat kabar. Aktivitas itu membawanya berkenalan dengan tokoh-tokoh pers seperti Aristides Katoppo dari Sinar Harapan yang juga senang mendaki gunung.

Tidak Ganti Nama

Ketika Orde Lama tumbang dan berganti Orde Baru, Gie yang tetap teguh memegang prinsipnya itu kecewa melihat rekan-rekannya tak lagi sejalan dalam arah perjuangan. Ia pun kian sendiri. Keteguhan hatinya ditunjukkan juga ketika bertemu Soe Hok Djin, kakaknya. Ketika itu, Djin sedang mengurus pergantian nama menjadi Arief Budiman. Gie sama sekali tidak ingin mengikuti kakaknya dan tetap menggunakan nama aslinya.

Nicholas Saputra terlihat cukup berhasil menghidupkan tokoh Soe Hok Gie, demonstran itu. Tatapan mata, cara berjalan, dan gerak tubuh sudah sedikit menghapus citra dirinya sehari-hari. Akting memikat juga ditunjukkan Robby Tumewu. Kendati nyaris tak ada kata yang diucapkannya, Robby cukup sukses menghadirkan sosok Soe Lie Piet di film ini.

Penonton pun dihibur dengan penampilan Sita Nursanti dan Wulan Guritno yang masing-masing berperan sebagai Ira dan Sinta, teman-teman dekat Gie. Juga menikmati suara bening Sita - sebagai Ira - yang melantunkan lagu "Donna Donna" milik Joan Baez. Sayang, tidak ditampilkan secara jelas keterangan tentang tokoh-tokoh dalam cerita. Nama tokoh yang disebut dalam "Gie" sebagian adalah nama-nama panggilan (samaran-red). Padahal, penting juga anak muda mengenal tokoh-tokoh tersebut.

Kendati tak sempurna benar, setidaknya film ini menghadirkan sesuatu yang lain. "Gie" adalah film tentang pergulatan pemikiran dan ideologis anak manusia. Ia menghadirkan satu pemahaman baru tentang sejarah bangsa dilihat dari sudut pandang anak muda yang menjadi saksi dan pelaku sejarah. Anak muda sangat perlu memahami sejarah bangsanya.

Penulis adalah peminat Seni dan Budaya
 


SPONSORED LINKS
Organizational culture


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke