http://www.sinarharapan.co.id/berita/0507/22/opi02.html
Moralitas Soe Hok Gie dan
Ahmad Wahib
Oleh
Ismatillah A.
Nuad
Pemutaran perdana film Gie di Jakarta pada 14 Juli menyedot
perhatian banyak aktivis mahasiswa. Bahkan sebelum film itu diluncurkan,
diskursus tentang Catatan Seorang Demontsran kembali menyemarakkan
diskusi-diskusi lesehan di kalangan aktivis. Lembaran-lembaran kisah dalam buku
itu di reimagining, suatu pembacaan yang mungkin telah ditelaah empat atau lima
tahun silam.
Satu hari sebelum peluncuran film Gie, terbetik di hati suatu
pertanyaan: Apakah film itu benar-benar akan menggambarkan kisah yang otentik
dalam Catatan Seorang Demonstran? Terutama gambaran-ideal antara pemikiran Soe
Hok Gie dalam buku dan peran Nicholas Saputra yang bermain dalam Gie.
Mungkin si sutradara Riri Riza akan menjawab: Yang dituangkan dalam scene
paling tidak ingin menggambarkan hiruk-pikuk sosok aktivis mahasiswa dekade
60-an dengan segala kritisisme dan keresahannya. Komentator yang kritis bisa
bilang banyak kisah di film dan di buku Catatan Seorang Demonstran tak
sinkron, namun sungguh benar film Gie menunjukan gambaran aktivis Indonesia yang
kritis, gigih dalam idealisme dan moralitasnya.
Soe Hok Gie kemudian
disandingkan dengan Ahmad Wahib. Keduanya suka menulis (Wahib yang wartawan
majalah Tempo dan Gie sang kolomnis suratkabar), keduanya kekeuh dalam
idealisme, tak jauh dengan kisah romantisme, dan sama-sama aktivis mahasiswa.
Yang mungkin membedakan, jika Wahib bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam
(HMI), meskipun keluar karena alasan perbedaan ideologis, maka Gie menolak
bergabung dengan Perhimpunan Mahasiswa Katolik (PMKRI) karena merasa
aktivismenya sebagai mahasiswa tidak harus dimunculkan dengan idiom agama. Gie
lebih senang menjadi seorang pengembara yang membela keadilan atas tirani.
Semenjak pertama kali diterbitkan LP3ES pada dekade 80-an, antologi
kumpulan keresahan pemikiran Gie dan Wahib sudah memunculkan polemik yang
melebar. Pemikiran Wahib dalam Pergolakan Pemikiran Islam tak disukai kalangan
fundamentalis-muslim, karena dianggap sesat dan berbahaya. Maka pemikiran Gie,
khususnya dalam Catatan Seorang Demonstran, tak disukai penguasa Orde Baru.
Dalam bacaan penguasa, Catatan Seorang Demonstran mengajarkan
doktrin-doktrin Marxisme-Leninisme yang mengancam ideologi Pancasila.
Kegairahan dan Kegelisahan
Meskipun kedua buku itu sangat
kontroversial, namun paling tidak pemikiran-pemikiran di dalamnya banyak menebar
virus yang menggairahkan anak-anak muda yang sedang dalam masa pencarian. Jika
pemikiran Wahib mengantarkan pada pembacanya suatu diskursus pemikiran keagamaan
dan ketuhanan yang liar, tapi mencerahkan. Maka pemikiran Gie mengantarkan
pembacanya kepada kegelisahan seorang anak muda yang mencari identitas namun
tetap dalam idealismenya sebagai seorang yang memihak dan membela rakyat kecil
dari penguasa yang tiranik.
Pada masanya, Gie disinyalir turut
berpartisipasi melengserkan kekuasaan Soekarno. Tapi Gie juga tetap kritis pada
masa-masa awal pemerintahan Soeharto lewat tulisan-tulisannya di koran. Wahib
mengkritik senior-seniornya di HMI karena mungkin senang berhubungan dengan
kekuasaan dan ia juga pelontar fikiran-fikiran keagamaan dengan sangat tajam,
terutama kepada aktivis HMI yang literal dan taklid pada satu paham keagamaan.
Gie mengkritik sahabatnya, Jaka (dalam film diperankan Doni Alamsyah) yang sudah
duduk di kursi parlemen.
Apa kamu mampu memperjuangkan suara rakyat ketika
kamu takut kehilangan jabatan di parlemen. Kata-kata Gie yang dilontarkan pada
Jaka yang baru saja memarirkan mobilnya. Jaka yang pernah jadi teman kuliah Gie,
meniti karir politik melalui PMKRI. Dia menawarkan supaya Gie juga masuk ke
organisasi mahasiswa itu. Namun Gie menolak dengan dua kata: buat apa? Bagi Gie,
aktivisme politik yang ideal justru harus berdemarkasi dengan kekuasaan politik
itu sendiri, dan juga dengan jargon agama seperti PMKRI.
Cinta Platonik
Dalam kisah-kisah di buku Soe Hok Gie dan Ahmad
Wahib, ada satu hal yang mungkin tak akan dilewatkan pembacanya: soal perempuan.
Dalam film Gie, sang sutradara rupanya jeli melihat persoalan itu. Sosok
pacar-pacar Gie dimunculkan di situ, termasuk Ira yang dalam film diperankan
Sita RSD.
Banyak analisis di seputar perempuan yang diajukan komentator
ketika membaca buku Gie dan Wahib: Jika Wahib bercinta a la platonik, dalam arti
mencintai perempuan namun cintanya dipendam perasaan hatinya, Gie bercinta a la
Aristotelian, yang perasaan cintanya dituangkan tanpa ada rasa nervous dan
tedeng aling-aling. Gie dan Wahib hampir memiliki moralitas yang sama. Keduanya
mewakili anak muda religius yang masing-masing menandai jamannya, seperti
pepatah Arab: al-Rajul Ibn bi atihi, anak muda adalah penanda dari
jamannya.
Seperti kata-kata Soe Hok Gie sendiri, Nasib terbaik pertama
adalah tak dilahirkan, yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda, dan yang
tersial adalah umur tua. Kata-kata itu terungkap tak jauh sebelum Gie
menghadapi ajal. Gie meninggal sehari menjelang ulang tahunnya ke-27 ketika
mendaki Gunung Semeru. Nasib yang bernas juga dialami Ahmad Wahib, yang
meninggal tertabrak motor di depan kantor majalah Tempo. Mungkin itu takdir
terbaik dari Tuhan bagi orang-orang baik, seperti pepatah orang baik tak
berumur panjang, karena Tuhan mengasihinya.
Penulis adalah mahasiswa
jurusan Teologi dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta