Title: Message
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=183627
 
 
Gie; Mahasiswa (Setengah) Dewa!
Oleh Adlil Umarat *


Mahasiswa (Setengah) Dewa! Begitulah kira-kira kata yang tepat untuk disematkan kepada sosok Soe Hoek Gie. Dia mahasiswa dengan kepribadian luar biasa. Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang lebih dikenal sebagai demonstran dan pecinta alam itu booming kembali namanya dalam pemberitaan nasional.

Come back-nya dalam pemberitaan nasional tak terlepas dari adanya produksi film yang diprakarsai insan perfilman nasional yang sedang naik daun, Mira Lesmana dan Riri Reza.

Gie bisa memberikan inspirasi yang mendalam bagi saya pribadi dan mungkin juga ratusan, ribuan, atau bahkan ratusan ribu mahasiswa di Indonesia. Sosok Gie memberikan pembelajaran bagi kita sebagai mahasiswa untuk selalu bersikap sederhana, apa adanya, serta tetap kritis dan menjalankan fungsi kita sebagai kalangan intelektual muda yang peduli kepada permasalahan bangsa ini.

Ada tiga hal yang, menurut saya, dapat dijadikan poin penting pembelajaran dari sosok Gie ini. Pertama, dari segi perannya sebagai mahasiswa yang berfungsi sebagai kaum intelektual muda nan cerdas dan kritis. Kedua, peran di Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) Universitas Indonesia, dan yang ketiga, peran sebagai sosok minoritas (Tionghoa peranakan).


Nan Kritis

Kepedulian dan kepekaan sosialnya yang begitu tinggi terbukti dengan adanya tulisan-tulisan yang sifatnya berperan sebagai kritikan bagi penguasa yang menurut hati nuraninya melakukan kesalahan.

Argumentasi-argumentasi yang make sense di dalam tulisannya pada masa hidupnya menjadi mahasiswa telah memberikan pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan pemikiran di masyarakat Indonesia yang mengonsumsi tulisan berbobot pada waktu itu.

Dalam bahasa yang lebih simple, saya menggambarkan Gie sebagai salah satu manusia pilihan dengan diberi kelebihan di dalam kekuatan mental. Tidak banyak mahasiswa yang mampu berkecimpung di dalam kegiatan demonstrasi dan sekaligus menulis secara kritis serta melakukan berbagai ekspedisi turun-naik gunung. Semuanya dilakukannya dalam rentang waktu yang sama, saat menjadi mahasiswa.

Dia memiliki karakter sebagai pemimpin yang kuat. Keliarannya dalam bereksperimen dalam melakukan apa yang menurutnya harus dilakukan telah menjadikan dirinya sebagai sosok yang tidak nyaman berada di comfort zone (zona nyaman). Hidupnya harus selalu diisi dengan berbagai tantangan dan hiruk pikuk dinamika pemikiran.

Coba kita lihat salah satu cuplikan dari bukunya yang berjudul Catatan Harian Seorang Demonstran produksi LP3ES, "Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur."

Melalui tulisannya yang kritis dan dicetak di koran-koran nasional itulah, Gie mengeluarkan pendapatnya yang sederhana, namun mampu "membius" banyak orang pada waktu itu. Hal ini pun diakui banyak orang di berbagai pelosok tanah orang.

Bahkan, seorang sosiolog jebolan Australia National University, Department of Political and Social Change Canberra, John Maxwell pun menaruh respek dan kagum terhadap sosok anak muda yang terkenal kalem itu.

Tetapi, terlepas dari sikap kritis dan segenap mimpinya yang sangat besar, Gie pada akhirnya merasa tidak "berharga" bagi orang lain. Hal ini disebabkan banyak pemikirannya yang tidak mengubah situasi perpolitikan saat itu. Perubahan yang dia gembar-gemborkan tidak bisa terwujud.

Menurut saya, ini disebabkan dia terlalu menjaga idealisme yang sangat tinggi dalam menjaga netralitas (baca: tidak kiri, tidak kanan) dan objektivitas sebagai akademisi.

Di satu sisi, hal ini akan berdampak baik. Namun di sisi lain, ada kelemahannya. Jika dia tidak "terjun" ke tataran praksis, maka cita-cita dan pemikiran besarnya tidak akan pernah terwujud. Jadi, butuh sebuah keberanian besar untuk "turun gunung" ke tataran yang lebih riil supaya pemikirannya tidak menjadi sekadar hal yang utopis.


Pendiri Mapala UI

Kecintaannya terhadap alam adalah sisi lain dari Gie yang menarik untuk dibahas. Baginya, alam merupakan salah satu sarana untuk melatih mental agar tetap survive di dunia yang serba rimba dan untuk selalu bersyukur atas penciptaan mahakarya dari Yang Mahakuasa.

Menjadi pelopor berdirinya Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) UI tidaklah mudah. Dibutuhkan sebuah keberanian, pemikiran yang visioner, dan kesungguhan hati.

Dalam hal ini, sebenarnya, Gie secara tidak langsung menunjukkan betapa dia berjiwa besar layaknya seorang pemimpin. Dia mampu mendobrak kebosanan dan membuat hidup di kampus menjadi lebih dinamis. Kata dinamis inilah yang membuat hidup di dunia mahasiswa menjadi "lebih hidup".

Di dunia Mapala UI, Gie juga melepas segala beban pikirannya yang tidak bisa tersalurkan. Ide-ide cemerlangnya muncul ketika travelling bersama Mapala UI.
* Adlil Umarat, mahasiswa Sosiologi FISIP UI. Peneliti Senior pada Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya UI Periode 2005-2006



YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke