Oleh Adlil Umarat *
Mahasiswa (Setengah) Dewa! Begitulah kira-kira kata yang
tepat untuk disematkan kepada sosok Soe Hoek Gie. Dia mahasiswa dengan
kepribadian luar biasa. Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang
lebih dikenal sebagai demonstran dan pecinta alam itu booming kembali namanya
dalam pemberitaan nasional.
Come back-nya dalam pemberitaan nasional tak
terlepas dari adanya produksi film yang diprakarsai insan perfilman nasional
yang sedang naik daun, Mira Lesmana dan Riri Reza.
Gie bisa memberikan
inspirasi yang mendalam bagi saya pribadi dan mungkin juga ratusan, ribuan, atau
bahkan ratusan ribu mahasiswa di Indonesia. Sosok Gie memberikan pembelajaran
bagi kita sebagai mahasiswa untuk selalu bersikap sederhana, apa adanya, serta
tetap kritis dan menjalankan fungsi kita sebagai kalangan intelektual muda yang
peduli kepada permasalahan bangsa ini.
Ada tiga hal yang, menurut saya,
dapat dijadikan poin penting pembelajaran dari sosok Gie ini. Pertama, dari segi
perannya sebagai mahasiswa yang berfungsi sebagai kaum intelektual muda nan
cerdas dan kritis. Kedua, peran di Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) Universitas
Indonesia, dan yang ketiga, peran sebagai sosok minoritas (Tionghoa
peranakan).
Nan Kritis
Kepedulian dan kepekaan sosialnya yang
begitu tinggi terbukti dengan adanya tulisan-tulisan yang sifatnya berperan
sebagai kritikan bagi penguasa yang menurut hati nuraninya melakukan kesalahan.
Argumentasi-argumentasi yang make sense di dalam tulisannya pada masa
hidupnya menjadi mahasiswa telah memberikan pengaruh yang cukup besar bagi
perkembangan pemikiran di masyarakat Indonesia yang mengonsumsi tulisan berbobot
pada waktu itu.
Dalam bahasa yang lebih simple, saya menggambarkan Gie
sebagai salah satu manusia pilihan dengan diberi kelebihan di dalam kekuatan
mental. Tidak banyak mahasiswa yang mampu berkecimpung di dalam kegiatan
demonstrasi dan sekaligus menulis secara kritis serta melakukan berbagai
ekspedisi turun-naik gunung. Semuanya dilakukannya dalam rentang waktu yang
sama, saat menjadi mahasiswa.
Dia memiliki karakter sebagai pemimpin yang
kuat. Keliarannya dalam bereksperimen dalam melakukan apa yang menurutnya harus
dilakukan telah menjadikan dirinya sebagai sosok yang tidak nyaman berada di
comfort zone (zona nyaman). Hidupnya harus selalu diisi dengan berbagai
tantangan dan hiruk pikuk dinamika pemikiran.
Coba kita lihat salah satu
cuplikan dari bukunya yang berjudul Catatan Harian Seorang Demonstran produksi
LP3ES, "Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti
monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya
ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti
pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang
seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur."
Melalui tulisannya
yang kritis dan dicetak di koran-koran nasional itulah, Gie mengeluarkan
pendapatnya yang sederhana, namun mampu "membius" banyak orang pada waktu itu.
Hal ini pun diakui banyak orang di berbagai pelosok tanah orang.
Bahkan,
seorang sosiolog jebolan Australia National University, Department of Political
and Social Change Canberra, John Maxwell pun menaruh respek dan kagum terhadap
sosok anak muda yang terkenal kalem itu.
Tetapi, terlepas dari sikap
kritis dan segenap mimpinya yang sangat besar, Gie pada akhirnya merasa tidak
"berharga" bagi orang lain. Hal ini disebabkan banyak pemikirannya yang tidak
mengubah situasi perpolitikan saat itu. Perubahan yang dia gembar-gemborkan
tidak bisa terwujud.
Menurut saya, ini disebabkan dia terlalu menjaga
idealisme yang sangat tinggi dalam menjaga netralitas (baca: tidak kiri, tidak
kanan) dan objektivitas sebagai akademisi.
Di satu sisi, hal ini akan
berdampak baik. Namun di sisi lain, ada kelemahannya. Jika dia tidak "terjun" ke
tataran praksis, maka cita-cita dan pemikiran besarnya tidak akan pernah
terwujud. Jadi, butuh sebuah keberanian besar untuk "turun gunung" ke tataran
yang lebih riil supaya pemikirannya tidak menjadi sekadar hal yang
utopis.
Pendiri Mapala UI
Kecintaannya terhadap alam adalah
sisi lain dari Gie yang menarik untuk dibahas. Baginya, alam merupakan salah
satu sarana untuk melatih mental agar tetap survive di dunia yang serba rimba
dan untuk selalu bersyukur atas penciptaan mahakarya dari Yang
Mahakuasa.
Menjadi pelopor berdirinya Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) UI
tidaklah mudah. Dibutuhkan sebuah keberanian, pemikiran yang visioner, dan
kesungguhan hati.
Dalam hal ini, sebenarnya, Gie secara tidak langsung
menunjukkan betapa dia berjiwa besar layaknya seorang pemimpin. Dia mampu
mendobrak kebosanan dan membuat hidup di kampus menjadi lebih dinamis. Kata
dinamis inilah yang membuat hidup di dunia mahasiswa menjadi "lebih
hidup".
Di dunia Mapala UI, Gie juga melepas segala beban pikirannya yang
tidak bisa tersalurkan. Ide-ide cemerlangnya muncul ketika travelling bersama
Mapala UI.
* Adlil Umarat, mahasiswa Sosiologi FISIP UI. Peneliti Senior
pada Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya UI Periode
2005-2006
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Soe_Hok_Gie" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
