Title: Message
Gie dan Buku Harian
Oleh Zen Rachmat Sugito*)

Anne Frank punya prestasi hebat. Tak kepalang tanggung, dia satu-satunya gadis kecil yang masuk senarai 100 Tokoh Abad 20 versi majalah Times. Namanya berada satu shaf dengan profil macam Lenin, Stalin, Roosevelt hingga Gandhi. Padahal Anne bukan peneliti hebat macam Einstein, bukan pula pemimpin besar yang kharismatik apalagi panglima perang pemberani. Namanya bertengger di senarai Times berkat aktivitas yang kerap dianggap sepele: menulis buku harian!
 
Kesuksesan buku harian Anne Frank adalah puncak dari keberhasilan sebuah buku harian sebagai monumen kemanusiaan yang tak bisa dianggap sepele. Di Barat sendiri, telah banyak buku harian yang diterbitkan. Mulai catatan hariannya Samuel Peppys (seorang prajurit Angkatan Laut Inggris di abad 17), Virginia Wolf (novelis yang masyhur lewat novel Mrs. Dalloway), hingga Zlata Filipovich, gadis Sarajevo seumuran Anne Frank yang catatannya menjadi rujukan ihwal perang Bosnia di awal 1990-an.
 
Dunia pustaka Indonesia pun tak ketinggalan. Sejumlah buku harian pernah diterbitkan. Yang paling masyhur tentu saja Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Harian Ahmad Wahib dan Catatan Harian Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie. Ketika terbit pertama pada 1980, buku harian Wahib langsung menyulut kontroversi. Wahib dicap kafir. Beberapa organisasi Islam menuntut buku itu ditarik dari peredaran. Tak tanggung-tanggung, MUI pun memberikan fatwa yang sama.
 
Di bukunya, Wahib banyak mempersoalkan Tuhan, bagaimana "sejarah" Tuhan di muka bumi ini, tentang Islam yang ia yakini "warna-warni", tentang bagaimana pemeluk Islam sebaiknya membangun hubungan baik dengan pemeluk agama lain. Wahib menuliskan renungan-renungannya itu secara terbuka, terus terang, terkadang tanpa tedeng aling-aling.
 
Kita juga mengenal Catatan Harian Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie, seorang aktivis mahasiswa yang terlibat dan melibatkan diri dalam arus sejarah Indonesia pada dekade 1960-an yang penuh gejolak dan pageblug. Catatan harian Gie inilah yang menjadi sumber utama film Gie besutan Riri Reza dan Mira Lesmana yang sebentar lagi mampir dilayar lebar. Berbeda dengan buku harian Wahib yang bertolak dari renungan kamar yang sophisticated, buku harian Hok Gie lebih sering bertolak dari aktivitas yang dilakukannya, baik sebagai demonstran yang gigih, pemamah buku yang rakus, pendaki gunung yang fanatik, pemuda yang juga menyukai pesta dan hura-hura, maupun sebagai keturunan Tionghoa yang punya banyak pengalaman diskriminatif.
 
Membaca buku harian Gie demikian mengasyikkan. Bahasanya bernas, laporan dan kesaksiannya detail. Ada konflik (dengan lawan politiknya, kekasih-kekasihnya, ayahnya dan dengan dirinya sendiri). Terkadang ada klimaksnya. Membaca catatan harian Gie tak ubahnya membaca sebuah novel sejarah bersetting Indonesia di tahun 1960-an yang begelora itu.
 
Buku harian yang saya sebutkan di atas adalah jenis buku harian yang tak melulu mengisahkan penderitaan dan kebahagiaan penulisnya. Buku harian tadi bisa mengguncang dan punya faedah dibaca orang lain disebabkan penulisnya juga menyentuh sesuatu yang berada di luar dirinya: ihwal kemanusiaan dan segala yang terjadi di sekelilingnya. Dengan cara itulah, sebuah buku harian kemudian memiliki --pinjam istilah Talcott Parson-- aura "keberartian sosial". Tanpa aura itu, buku harian hanya berarti bagi penulisnya, keluarga dan orang yang mengenal penulisnya.
 
Yang juga penting adalah "jujur" dan "konsisten". Bicara jujur, buku harian Gie bisa diacu. Karena kejujurannya, maka buku harian Gie bisa jadi rujukan (semacam monografi ringan) bagi siapa pun yang ingin tahu gaya dan pola hidup anak muda dan aktivitas mahasiswa kala itu.
 
Adapun konsistensi adalah persoalan yang jauh lebih berat. (Belajar) menulis memang membutuhkan konsistensi dan persistensi tinggi, dan karenanya mungkin membutuhkan sebentuk asketisme, sesederhana apa pun itu. Menurut Ignas Kleden (1999) untuk membangun tradisi (membaca dan) menulis, kita perlu "wawasan budaya" sebagai provokasi awal. Sebab, kata dia, dorongan wawasan budaya inilah yang mampu menyebabkan seseorang rela menyendiri untuk membaca, meneliti dan menuliskan pikiran dan penemuan-penemuan dari penelitian dan perenungan, yang tentu saja mau tak mau pasti terhindar dan tersingkir dari pergaulan sosial untuk sementara waktu.
 
Tak banyak yang tahan. Orang sekelas Gus Dur, Cak Nur atau Soedjatmoko pun tak mampu melahirkan buku (mereka hanya melahirkan kumpulan tulisan). Banyak orang pintar di Indonesia, tapi berapa yang tahan menyendiri tak bertemu publik, baik tatap muka di seminar atau godaan menulis pendek di koran?
 
Menulis catatan harian secara jujur dan terus menerus terbukti bukanlah pekerjaan sepele, apalagi sia-sia.[]
*) Zen Rachmat Sugito, mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta.


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke