--- In [email protected], frans icoes <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> low tara apa sapa lam knl dulu sependapat sama rekan
> mahasiswa 2 d indo tapi nyambung omongan lu lu bs
> lihat intelektual mahasiswa dari man? segi mana?
> banyak sekarang mahsiswa ngangap intelek mereka dari
> ideologi dan golongan2 tertentu...
> " contoh saaat pemilihan calon presiden eksekutif
> kampus seperti di tempat gw ITS sby mereka berkoar2
> masalah intelektualitas mereka dihadapan ribuan
> mahasiswa , tp dibelakang dari itu mereka da
> kepentingan2 sendiri2...?"
> apakah itu layak untuk dibanggakan
> kemana jiwa 2 soehokgie bwt mahasiswa Indonesia
> sekarang ini dan gw cuma mw blg BULSIT atas ideologi
> dan idealisme mahasiswa INDONESIA
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>


Menurut gw...ketika kita berbicara tentang "ke-intelektualan
mahasiswa", maknanya cukup luas dan komplek, kita bisa melihatnya
dari beberapa sisi, tapi pada dasarnya tetap ada benang merahnya.

Ke-intelektual-an mahasiswa menurut gw ga semata-mata orangnya musti
pinter aja, tahu ini tahu itu, menguasai banyak skill trus bisa
ngomong dengan sedemikian rupa dan berapi-api didepan mimbar, tapi
dibalik itu semua, apa bener-bener dia menyadari... dari ilmu yang
dia pelajarinya dan dia kuasai, apa yang akan dia perbuat dengan
ilmunya tersebut...apakah hanya sekedar untuk mencapai nilai akademis
yang tinggi, apakah hanya sekedar untuk mencari kerja...ato sekadar
untuk sebuah gelar sarjana. Menurut gw, mereka harus tahu dan sadar
akan pertanggungjawaban atas semua yang telah dia pelajari untuk
diaplikasikan kembali ke masyarakat, negara dan bangsa.

Salah satu faktor utama yang membikin dari ilmu pengetahuan yang udah
kita pelajari jadi ga berguna adalah karena kita sudah ga peduli lagi
terhadap arah perkembangan bangsa kita. Kita sudah masa bodoh dengan
apa yang terjadi di sekitar kita. Kita hanya melulu memikirkan
kepentingan pribadi semata...nilai2 kekritisan, kepekaan memandang
kehidupan sosial kemasyarakatan pelan-pelan menjadi nol besar. Kita
belajar hanya untuk supaya bisa mendapat gelar dan dapat bekerja,
ketika sudah keterima kerja ya udah...cuek aja..toh yang penting
tujuan dari kita sekolah dari TK sampe kuliah udah kesampaian yaitu
bekerja...ato paling ga kita punya title lah..biar dilihat masyarakat
ada gengsinya, nah dogma-dogna seperti yang pelan-pelan telah
membudaya dimasyarakat kita. Segala sesuatu tindakan selalu diikuti
dengan pikiran "ada gunanya ga buat kita"...tanpa mau berpikir "ini
berguna buat orang banyak". Akhirnya kita hanya mau bertindak karena
itu ada manfaatnya buat kita pribadi, kalo ga ada ya udah masa
bodoh..emang gw pikirin. Nah kalo pola berpikir kita sudah demikian,
gimana kita bisa berpikir kritis...gimana kita bisa
mengaktualisasikan diri dengan iptek yang telah kita pelajari, gimana
kadar ke-intelektual kita bisa teruji....kita pinter..menguasai ilmu,
punya gelar tapi ga ada gunanya selain sekadar untuk mencari kerja
saja. Artinya apa..ilmu kita itu nilainya hanya sebatas nominal uang
aja


Gw yakin koq sekarang ini di Indonesia sekarang ini banyak mahasiswa
pinter-pinter...ada yang kutu buku, ada yang jago Computer, jago
Fisika, jago terhadap hal-hal yang laen, termasuk juga jago main cewek
(cewek satu kampus udah pernah dikencani semua)...tapi yang masih
punya sikap kritis, peka, peduli mau memperhatikan lingkungannya
mungkin sedikit aja...kalopun toh ada yang masih peduli dengan
kehidupan sosial bernegara..itu hanya sekedar memperhatikan
aja...tapi real actionnya ga ada... sebuah ilmu ga akan ada artinya
kalo tidak bermanfaat bagi orang banyak ( sory bukannya gw sok bijak
tapi ini nasehat dari Pakde gw dikampung sono...dan setelah lama-lama
gw renungkan, gw hayati, gw rasakan..eh ternyata bener  )






SPONSORED LINKS
Corporate culture Corporate culture change Business culture of china


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke