Moral bangsa tidak dapat diperbaiki lewat RUU. Diperlukannya RUU
Sebagai alat untuk memperbaiki moral bangsa menunjukkan kerapuhan
kekuatan adat yg selama ini kita bangga2kan. Itu juga menunjukkan
kerapuhan agama sebagai penjaga moral. Agama yg mayoritas, tidak dapat
membuat umat jadi bermoral, oleh karena itu dimasukkan dalam RUU.

Pemasukan RUU untuk menunjang moral adalah suatu kebodohan. Tidak
pernah ada dalam sejarah, org akan taat pada agama yg diformalkan.
Kenapa? karena pelacur2 di Padang juga mengenakan Jilbab. Jadi bila
RUU untuk menunjang moral diberlakukan, org akan dengan senang hati
menuruti tuntutannya secara luaran tapi menolak menaati dalam hati.  

Memulai dari diri sendiri untuk mengedepankan moral itu baik sekali.
Mulai dengan mengkritik diri juga amat baik, karena pada intinya
"every human kind is a corrupted being"

Salam.





--- In [email protected], "destracalm" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Menjadi orang yang independen sekaligus teguh dalam memegang prinsip
> adalah hal yang amat sulit, apalagi sebagai seorang remaja. Dunia
> remaja adalah dunia yang sarat akan hedonisme dan konsumerisme yang
> cederung menjadi candu bagi remaja. Ketika remaja mulai terjerumus
> dan tenggelam dalam hedonisme dan konsumerisme, sulitlah ia berenang
> ke permukaan untuk melihat dunia secara lebih jernih lagi. Tak
> jarang komunitas yang kita diami memberikan situasi kondusif untuk
> ikut tenggelam. Bila kita mencoba melawan arus, kitalah yang akan
> dijauhi oleh komunitas. Dan remaja yang tidak ingin kesepian dan
> terasing dalam komunitasnya, selalu mencoba mencari jalan keluar
> untuk menunjukkan eksistensi dirinya, entah itu melakukan hal baik
> ataupun hal buruk. 
> Seorang sahabat penulis adalah orang yang selalu berpegang pada
> prinsip kebenaran dan kejujuran. Saat kumpul-kumpul bersama teman-
> teman hanya dialah yang kelihatan `suci'. Kerap kali dia
> mengingatkan penulis ketika penulis kembali tergiur dengan dunia
> hedon. Hingga saat ini dia menjadi inividu berkualitas, secara
> kepribadian, yang under popular di di dalam komunitas Pada zaman ini
> kita tidak akan lagi menjumpai manusia seperti ini dengan mudah.
> Kehadiran aura sosok Gie ke dalam kehidupan penulis jelas memberikan
> dampak yang cukup berarti. Penulis makin sadar bahwa dunia tidak
> hanya membutuhkan orang-orang pintar dan jenius. Dunia membutuhkan
> pribadi-pribadi yang teguh dalam prinsip-prinsip hidup yang selaras
> dengan kebenaran.
> Keadaan moral Indonesia saat ini amatlah memperihatinkan. Kita lihat
> latarbelakang disusunnya Rancangan Undang-Undang  Anti Pornografi
> dan Pornoaksi (RUU APP). Data-data yang disajikan terus terang
> membuat hati penulis miris. "Wah, parahnya negara ini".
> Kalau sudah demikian, kita, saya, spontan menyatakan penyesalan dan
> aduhan yang tidak memberikan perubahan. Lalu bagaimana kita
> memperbaiki moral indonesia?
> Tidak mungkin kita membuat peraturan yang mengatur kepribadian.
> Salah-salah malah menimbuahkan kontradiksi baru setelah perdebatan
> pengesahan RUU APP. Perbaikan kepribadian haruslah di mulai diri
> pribadi. Manusia menghidupi nilai-nilai luhur dan tidak mudah
> terpengaruh oleh hedonisme dan konsumerisme. Kalau kepribadian diri
> sendiri sudah tertata dengan rapi, penulis jamin kehidupan akan
> lebih mudah tertata dengan rapi pula. Dan bila seluruh generasi muda
> terbiasa berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran dan kejujuran,
> para pemimpin nantinya pasti akan memiliki pribadi yang unggul dan
> berkualitas. Mungkin pembaca yang budiman mengatakan "Ah, Cuma
> idealisme, tuh!". OK. Itu adalah idealisme. Tetapi, bukankah lebih
> baik bila kita mengawalinya?
> Ingat!! Harapan dan tujuan hidup Gie hingga saat ini belum
> terpenuhi. Jadi, beranikah kita menjadi pioneer perbaikan moral
> Indonesia?
> Karya tulis ini bukanlah semata-mata merumuskan tujuan hidup dan
> cerita besar dari Soe Hok Gie. Penulis lebih berharap para pembaca
> dapat menjadi pribadi independen namun berprinsip.  Ini juga tidak
> mengartikan bahwa saya memaksa pembaca untuk menjadi seperti Gie.
> Siapkah Anda untuk sebuah perubahan?
> Ketika Anda ditanya siapa yang akan memulainya katakanlah …
>
> WHY NOT ME?
>






SPONSORED LINKS
Corporate culture Corporate culture change Business culture of china


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke