A. Bencana bisa datang tanpa diharapkan. Seperti bencana di Jogja yg
sangat mendadak. Indonesia diperkirakan ke depan juga mungkin untuk
mengalami bencana2 yg besar.

Sementara, saya melihat animo masyarakat untuk membantu/ menjadi
relawan dari daerah sekitar lokasi bencana amat besar.

Tapi kendala yg ada adalah kebanyakan dari kami (yg tulus ingin
membantu) adalah kurangnya profesionalisme. Selain itu, dari yg
ternyata di lapangan, banyaknya bantuan materil tidak disepadani
dengan kenyataan di lapangan.

Dari laporan kawan2 dari kota saya (di Jateng), mereka yg
diberangkatkan ke lokasi, amat banyak. Tapi setibanya di lokasi,
banyak juga yg akhirnya hanya liat2, bahkan malah muntah2 karena
ternyata tidak siap melihat kondisi korban yg mengenaskan.

B. Selain itu, dari pengalaman bencana di Aceh, saya melihat banyak
penanganan bantuan yg tidak terwujud seperti yg diharapkan. Kendala2
tersebut antara lain:

1. jumlah bantuan (materil) begitu banyak, namun pengoperasian di
lapangan begitu kurang. Penumpukan bantuan terjadi karena birokrasi yg
rumit.

2. Kurangnya kerjasama antar lembaga, yg mengakibatkan proses
pemberian bantuan dilakukan secara sendiri2, koordinasi antar lembaga
terbilang parah. Terkesan bekerja sendiri2. Akhirnya, proporsi bantuan
yg diberikan juga mengalami ketersendatan.

3. Kurangnya koordinasi dengan aparat berwenang. Bila ada koordinasi,
misalnya dari seluruh jaringan (baik independen, internasional, maupun
pemerintah), niscaya bantuan dapat diberikan dengan lebih cermat,
sehingga menjangkau daerah yg seringkali terlupakan.

4. masalah birokrasi di lapangan, sering mempersulit pemberian bantuan
pada tangan yg sedang benar2 membutuhkan. Seperti di Jogja, dimana
penerima bantuan menjadi sulit karena harus melewati urusan surat ini
dan itu.

5. saya melihat urgensi dari masyarakat sekitar yg ingin membantu
namun belum memiliki kapasitas yg terpadu dan terorganisir.

6. pengorganisasian relawan yg telah ada masih bisa terus diperbaiki.
Contoh, relawan dari negeri tetangga memiliki 'shift' kelompok. Secara
psikologis pergantian 'shift' ini dapat menyegarkan mereka yg sudah
bekerja berhari2 dengan (maaf) mayat2. Sehingga mereka tidak terlalu
lama terpapar dengan mayat dan korban yg mengenaskan - serta memiliki
psikologis yg di-refresh untuk bekerja lagi.

C. Oleh karena itu, saya mengusulkan:

1. pembentukan pelatihan relawan antisipasi bencana alam secara
nasional. Tujuannya agar niat baik setiap org yg ingin jadi relawan,
bisa terujud dengan baik. Konkritnya, pelatihan2 dimulai untuk
mahasiswa atau instansi swasta maupun negri.

2. koordinasi antar lembaga mulai disiapkan untuk kebaikan kita
bersama. Pemerintahan, NGO, maupun sipil. Misalnya, dibentuk badan
koordinasi penanggulangan bencana yg meluas, meliputi semua komponen,
termasuk sipil, BMG, PMI, ABRI, Mahasiswa, parpol, dan badan2 kajian
geografis.

3. koordinasi berada pada satu lembaga yg ditangani bersama, dan dapat
menyelesaikan persoalan pada satu atap. koordinatif, meluas dan efektif.

4. koordinasi termasuk dengan berbagai kalangan profesi: dokter,
arsitek, pengamat meteorologi dan geofisika, pengusaha, tim SAR,
masyarakat awam yg menjadi relawan.

D. Visualisasi yang saya bayangkan mengenai ide ini adalah:

Suatu hari, bila terjadi bencana alam di lokasi terdekat anda. Anda yg
berniat membantu sudah siap untuk membantu. Hal itu, dikarenakan anda
telah mengikuti pelatihan relawan yg terpadu. Anda memiliki semacam
"kelayakan" untuk menjadi relawan, meskipun anda awam.

Anda telah dilatih oleh suatu lembaga, yg akan anda temui di lokasi
sebagai koordinator utama anda.

Di benak anda, anda sudah cukup cermat untuk membayangkan bentuk
tindakan yg tepat untuk jenis bencana yg terjadi(contoh, ada bencana
akibat Tsunami, gempa bumi, tanah longsor, banjir, topan) dan dapat
memperkirakan keadaan geografis terkini akibat bencana tersebut. Serta
dapat memperkirakan kondisi korban berdasarkan jenis bencana
(tertimbun reruntuhan, tertimbun tanah, tenggelam, trauma, dst)

Sementara itu, tim pemantauan, telah memantau lokasi2 yg penting untuk
diberikan perhatian. Tim geografis telah mengkaji terlebih dahulu
daerah2 yg perlu prioritas. Mereka telah memantau rumah sakit, sumber2
tenaga (listrik, air, bahan bakar), jalur komunikasi, di tempat lokasi
yg masih bisa digunakan. Dan mereka selalu siap untuk memberikan
panduan terhadap setiap relawan maupun lembaga.

Setibanya di lokasi, anda sudah bisa langsung bekerja, karena titik2
posko telah ditetapkan secara merata oleh badan koordinasi
penanggulangan bencana.

Dan tim 'pembuka jalur transportasi' telah memungkinkan anda mencapai
daerah2 yg tersulit. Tim 'pembuka jalur transportasi' bisa terdiri
dari ABRI dan perusahaan swasta, yg bertugas membuka jalur2 lintas
transportasi yg mungkin terputus oleh bencana.

Sementara bantuan materil ditangani oleh tim pendistribusian yg
senantiasa berkoordinasi dengan tim geografis dan lembaga kemanusiaan
serta relawan. Letak Posko2 telah ditetapkan dan dibangun, dititik2
tersebut.

Saluran komunikasi tersedia selalu oleh kerjasama dengan perusahaan
komunikasi yg bertugas membangun pemancar darurat diposko2.

kalangan profesi bisa langsung bekerja melalui jaringan yg telah
terbentuk. Kebutuhan akan Dokter2 bisa diperkirakan lewat koordinasi
dengan anda yg berada di lapangan. Entah di rumah2 sakit, maupun di
tenda2 darurat.

Psikolog2 telah ada untuk memberikan trauma healing.

Ahli2 tata bangunan mulai mereka2 tatanan bangunan baru untuk korban
dan daerah bencana.

E.  Saya tahu, ide2 diatas mungkin terasa terlalu 'ideal' atau terlalu
'polos' untuk diwujudkan. Namun, jikalau kenyataan sekarang belum
menunjukkan harapan2 tersebut, kapan lagi harus diwujudkan?

Sekiranya ada lembaga atau perorangan yg memiliki ide yg sama dengan
saya. Atau Sekiranya ada lembaga atau perorangan yg sudah menuju ke
arah itu, saya minta informasinya. Tiada politik atau golongan, tiada
sipil atau non-sipil, awam atau profesional, siapa saja.

Saya sungguh berminat untuk bergabung.

[EMAIL PROTECTED]
(atau hubungi saya di nomor 0813 1559 7037)




 






SPONSORED LINKS
Corporate culture Corporate culture change Business culture of china


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke