Sumber : Yayasan Puter

Sabtu, 3 Juni 2006

Tiga hari menjelajah wilayah yang tertimpa bencana di Klaten (terutama
Wedi dan Bayat), saya dan relawan Tim Yayasan Puter mencatat beberapa
perkembangan sebagai berikut.

Secara umum, distribusi bantuan sudah membaik. Posko-posko memadati
dan membuat macet jalanan di sepanjang Wedi – Bayat. Berbagai bendera
perusahaan dan lembaga bertaburan, termasuk Posko Puri Cikeas yang
berasal dari perumahan Presiden SBY. Namun demikian, masih saja ada
titik-titik yang terlampaui karena susahnya akses transportasi.
Umumnya desa yang terabaikan terletak di balik bukit dan di seberang
persawahan. Butuh usaha ekstra keras untuk menjangkau wilayah
terpencil semacam ini.

Beberapa problem distribusi yang teridentifikasi di lapangan:

   1.
      LSM, asing maupun lokal, serta berbagai lembaga pemberi bantuan
umumnya datang dengan kendaraan roda empat dan jarang ditemani
penduduk lokal yang paham situasi lapangan. Akibatnya, posko cenderung
didirikan di dekat jalan besar. Pedusunan kecil, yang hanya bisa
dijangkau dengan sepeda motor, sering terabaikan.
   2.
      Sebagian penduduk lokal di pedusunan masih menampakkan karakter
orang Jawa yang pasrah namun tetap menegakkan harga diri. Apabila
prosedur di Posko sedikit susah, mereka menganggap lebih baik tidak
usah mencari bantuan. "Kalau memang ada yang memberi, ya, kami terima.
Tapi, kalau tidak, kalau kami mesti ngurus surat-surat, ya....tidak
usah saja," demikian komentar seorang ibu yang saya jumpai di Desa
Pacalan, Wedi, Klaten.
   3.
      Rendahnya tingkat pendidikan penduduk juga memperparah situasi.
Pendataan tertulis sangat susah dilakukan.  Pertanyaan tentang
database sering ditanggapi dengan jawaban  "Kathah... (banyak)," atau
"mboten nate ngitung, je (belum pernah ngitung, je)", atau "sampun
dikinten-kinten mawon (sudah dikira-kira saja)".
   4.
      Penduduk dengan karakter orang Jawa asli ini juga memilih
kelaparan daripada harus repot mengurus bantuan ke posko, apalagi jika
harus mengemis di jalanan. Pada hari keempat, misalnya, saya menjumpai
warga yang baru menerima nasi bungkus dua kali. "Bantuan sudah habis
dibagikan buat orang-orang di dekat Posko," katanya.
   5.
      Ada dusun (persisnya di atas perbukitan di dekat Makam Sunan
Pandanaran, Bayat) yang penduduknya sangat miskin sehingga warganya
sehari-hari menyantap tiwul (singkong yang dihaluskan dan
dikeringkan). Bantuan berupa beras terasa aneh bagi mereka. "Kulo
mboten saget nedo sekul," kata simbah-simbah di desa ini. Bisa
dibayangkan bagaimana orang-orang tua lagi miskin ini harus mencerna
mi siap saji dan sarden. "Mumet kulo, ngelu," begitu kata seorang simbah.
   6.
      Mengingat sebagian survivors adalah orang-orang tua yang masih
berpakaian ala Jawa, dengan kain-stagen-kebaya lengkap. Jujur saja,
apa pernah ada di antara kita yang pernah memikirkan kebutuhan simbah
yang seperti ini. Pakaian pantas pakai sumbangan para dermawan tidak
ada yang cocok buat simbah. Ibu Sugiharti, 60-an tahun, yang saya
jumpai di Desa Brangkal, Wedi, berhari-hari hanya mengenakan pakaian
di badan. Dia mengais-ngais reruntuhan rumahnya demi mendapatkan baju
kebaya yang mungkin masih bisa diselamatkan. Alhamdulillah, pada hari
kelima, Ibu Sugiharti menemukan sepotong kebaya merah. "Oalah,
Alkamdulillah, aku entuk ganti. Klambiku isih wutuh," katanya
bersyukur. Segera si ibu menuju sungai untuk mencuci bajunya.
   7.
      Patut kita sadari bahwa banyak kantung-kantung kemiskinan di
wilayah Klaten. Penduduk miskin di wilayah ini sekitar 30 persen
dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terendah di seluruh Jawa Tengah.
Tahun 2002, misalnya, PAD Klaten bernilai Rp 11 miliar dan 90 persen
APBD wilayah ini dipasok dari pusat.
   8.
      Masih terkait dengan poin di atas, kita dengan mudah menyaksikan
wujud kemiskinan di Klaten. Bayat, misalnya, sebagian warganya
berjualan nasi yang biasa dikenal sebagai "sego kucing" di Yogya.
Seminggu atau dua minggu sekali barulah mereka pulang ke Bayat,
menengok anak dan istri. Penghasilan yang dibawa pulang oleh para
suami yang bakul sego kucing ini tidak mencukupi kebutuhan hidup
layak. "Pakne kalo pulang, paling-paling bawa uang Rp 50 ribu. Itu
buat kebutuhan dapur selama dua minggu," kata seorang ibu.







SPONSORED LINKS
Corporate culture Corporate culture change Business culture of china
Corporate culture training


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke