|
Mahasia
Ariel Heryanto Pembunuh itu pria. Korbannya perempuan. Usia pembunuh itu 24 tahun. Korbannya 20 tahun. Pembunuh itu penghuni kompleks ruko Pelita Marga Mas. Korbannya berasal dari Kabupaten Sinjai. Keduanya di Sulawesi Selatan. Pembunuh itu bernama Wandi Tandiawan. Yang terbunuh namanya Hasniati. Pembunuh itu majikan korbannya, seorang pembantu rumah tangga. Ketika berita pembunuhan awal Mei 2006 itu beredar, sebagian masyarakat setempat marah. Bisa dipahami jika mereka yang merasa "sekaum" dengan si korban marah terhadap mereka yang dianggap "sekaum" dengan si pembunuh. Secara nalar di kepala, atau teoretis di atas kertas, beberapa kemungkinan berikut ini bisa terjadi. Kaum perempuan di Sulawesi bangkit marah dan beramai-ramai melabrak kaum lelaki. Bisa juga, semua warga berusia 20 tahun atau kurang berbondong-bondong menggugat penduduk berusia 24 tahun ke atas. Bisa jadi kaum pembantu rumah tangga se-Makassar mogok kerja selama seminggu. Atau warga Kabupaten Sinjai menulis petisi mengutuk para penghuni kompleks ruko Pelita Marga Mas. Mereka yang punya nama dengan awalan "Has-" berdemonstrasi dan membakar patung kertas orang-orang yang namanya berawalan "Wan-". Semua itu tidak terjadi. Yang terjadi serombongan orang merasa sesama "pribumi" dengan korban beramai-ramai menyerang warga setempat yang dianggap "warga keturunan Tionghoa". Harta benda kaum minoritas ini dirusak. Sebagian warganya disandera. Yang lain dipukuli. Media massa cenderung "membenarkan" kerusuhan itu dengan melaporkannya sebagai reaksi yang wajar, logis, nalar, masuk akal. Tidak ada yang mempertanyakan mengapa reaksi marah harus bersosok rasial dan bukan yang lain. Mengapa identitas pembunuh dan korbannya yang beraneka ragam (jenis kelamin, usia, alamat, nama, pekerjaan, kebangsaan, agama, etnisitas) diabaikan? Mengapa hanya satu identitas (rasial) yang dipilih dan ditonjolkan? Tidak ada rasialisme yang bersifat spontan atau alamiah. Rasialisme merupakan hasil pelatihan berjangka panjang. Baik secara formal (lewat diskriminasi kebijakan negara, pidato pejabat, peraturan pemerintah, berita media massa) dan nonformal (gosip, pengalaman pribadi sehari-hari, selebaran gelap). Sikap bangsa Indonesia untuk membebaskan atau mengadili para algojo jutaan manusia di masa Orde Baru juga ditentukan oleh berhasil tidaknya 30 tahun cuci otak Orde Baru. Peristiwa di Makassar awal Mei itu bukan yang pertama atau kedua. Peristiwa serupa terjadi berkala di sejumlah kota lain di Indonesia. Termasuk yang terjadi pada bulan yang sama delapan tahun lalu di Jakarta dan Solo. Namun, ada yang khusus di Makassar kali ini. Berbeda dari kebanyakan kerusuhan anti-Tionghoa, pelaku kerusuhan di sini eksklusif, terdiri dari beberapa kelompok yang telanjur disebut "mahasiswa". Bukan "warga pribumi" pada umumnya. Gelar "siswa" mungkin layak diragukan untuk mereka. Apalagi "mahasiswa". Dipandang dari investasi nasional bagi sumber daya manusia, ini merupakan bukti nyata kegagalan pendidikan. Sebuah kemahasia-siaan. Yang namanya mahasiswa telanjur dianggap cendekia. Keistimewaan mereka diduga berada pada kekuatan nalar dan kecerdasan intelektual. Sementara warga republik lain kembang kempis menanggung krisis ekonomi, mereka menikmati kemewahan bertahun-tahun mengolah ilmu di tempat terhormat yang tertutup bagi mayoritas warga negara seusia. Jika premanisme atau rasialisme melanda masyarakat, dari kaum terpelajar kita layak mengharapkan pencerahan intelektual untuk memahami persoalan dan mencari pemecahannya. Yang terjadi di Makassar kali ini justru sebaliknya. Sebagai kaum rasialis, perilaku kaum mahasia-sia itu layak menjadi obyek untuk dianalisis. Di mana mereka belajar menjadi perusuh dan melakukan kekerasan terhadap warga yang tidak bersangkut paut dengan pembunuhan? Pasti bukan dari bangku kuliah. Diskusi macam apa yang berlangsung di ruang kelas "mahasiswa" seperti itu? Buku macam apa yang dibaca? Skripsi macam apa yang mereka hasilkan? Beberapa hari setelah melancarkan kerusuhan rasial anak-anak muda itu saling lempar batu dengan para sopir angkutan kota. Di kampus sendiri sebagian dari mereka saling tinju dengan dosennya. Ternyata yang mereka musuhi bukan hanya suatu sosok rasial, tetapi siapa saja yang tidak setuju dengan tindakan mereka. Sementara itu, nun jauh di Jakarta, terdengar suara-suara merindukan kembalinya gerakan mahasiswa. Mereka diharapkan berjuang "kembali" menyelamatkan negara dan tugas mulia bernama Reformasi. Seakan-akan itulah tugas mahasiswa. Supaya kita-kita yang lain berpangku tangan dan menonton? Lalu apa kerja parlemen, kabinet negara, departemen kehakiman, kepolisian? Apa kerja presiden dan wakilnya? Mahasiswa sebagai tokoh perubahan sejarah? Emang-nya film?
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
