iya tuhh...........banyak banget parkiran mobil skrang di lingkar UI.....dari model lawas sampai model masa kini berjejer mentereng kaya jakun nya gt......yg sering ditenteng2 waktu demo atau ospek gt
bukannya gw so' anti kemapanan nehh....tp asli berubah abis aj gt.....dl waktu maseh kul msh jarang tuh parkiran gak sampe deh di bela2in nebang pohon cm buat parkiran aj...........masih asri deh....masih AMAN gak ada rampok di UI klu pulang malem blk ke 'kukel' paling yg ditakutin anjing gila di sekitar FKM-MIPA bukan rampok ky berita yg dikompas. Masih solid abis jg, kul masih cukup murah.....
Duh jaman dah berubah banyak.....pada kemana tuh pendukung DPKP.....???
pd kemana tuh anak2 BEM banci.....???
pd tidur terlena kali y sama kebesaran JAKUNNYA.....????
 
Untung gw bukan anak UI, gw cuma anak POLTEK......
 
piss...........
 
NS
Pernah kuliah di sekitar lingkar UI....
Skrg aktif bekerja.....jd buruh
 
  


tHea Arabella <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Re: Surat seorang Mahasiswa UI (yang miskin) untuk rektornya

Posted by: "rahmad budi" [EMAIL PROTECTED]com   maxbud99

Mon Sep 4, 2006 10:51 pm (PST)

Saya punya kawan dari Tegal yang nekat kuliah di ITB
Saya bilang nekat karena dia tahu ortunya tak bisa membayari uang kuliahnya.
Apalagi membiayai kos. Jadi, dia datang dengan keyakinan untuk bisa bertahan
hidup
dengan segala cara.
Tanpa mengenal malu dia pun menggalang dukungan dari para warga Tegal yang
sukes di Bandung.
Akhirnya ada yang bantu dia, bahkan ada yang membelikan komputer.
Beruntung juga masih ada dosen2 yang tergerak untuk membantu mahasiswanya.
Ada yang memberi beasiswa, ada yang memberi tumpangan hidup.

Itu bagian bagusnya.
Tapi, bagian sedih dari sistem pendidikan ini jauh lebih banyak

Seorang rektor ITB pernah ngomong :
'Jangan takut masuk ITB, kalau gak ada duit akan dicariin beasiswa.'

Kecap memang nomor satu.
Terbukti masih saja ada mahasiswa baru yang tidak daftar ulang karena miris
melihat angka2 rupiah
yg tak bisa mereka tanggungkan. Masih ada juga mahasiswa yang DO karena tak
bisa bayar.
Mahasiswa yang telat bayar SPP ada yang mendapat jatah nol SKS

Rektor ngomong begitu semenjak ITB menjadi BHMN (Badan Hukum Milik Negara)
yang mengakibatkan uang kuliah melonjak drastis.
Dari semula Rp 475 ribu pada tahun 1998, sekarang menjadi Rp 2,5 juta per
semester
Itu masih lebih murah dari UI-lah.

Sejak pemerintah mengartikan otonomi kampus = pengurangan subsidi pendidikan
Maka sejak itu pula makin banyak mahasiswa miskin yang DO.

Ketika SPP masih murah, di parkiran kampus hanya sedikit mobil mahasiswa
Namun beberapa tahun setelah otonomi kampus,
ruang parkir makin sempit karena makin banyak mobil mahasiswa
Akhirnya, lapangan kampus pun sebagian diubah menjadi lahan parkir mobil

Ketika SPP masih murah, masih saya dengar ada mahasiswa miskin tak kuat
bayar SPP
Kini setelah otonomi jarang terdengar cerita itu, karena yang masuk sebagian
besar adalah mahasiswa kaya. Yang gak kuat bayar SPP saya pikir sudah kena
DO duluan sebelum sempat mengeluh kepada teman2nya.

Kampus2 membuka program jalur khusus dengan biaya puluhan juta rupiah.
Apalagi kedokteran, bisa ratusan juta sumbangannya hanya untuk program S-1.

Apa artinya?
Apakah anak2 orang kaya itu tak berhak kuliah di PT bergengsi
macam ITB, UGM, UI, IPB yang kini jadi otonomi itu?

Diakui, jalur khusus 300 kursi di ITB dengan biaya masuk minimal
Rp 45 juta itu banyak diisi anak2 kaya berotak cerdas.
Prestasi akademik mereka tak kalah dengan mahasiswa miskin asal kampung.
Maklum, gizi mereka cukup dan dipastikan mempunyai fasilitas
pendidikan yang lebih dari memadai.

Ya, kalau berpikir sederhana, hak azasi untuk akses pendidikan seharusnya
hanya didiskriminasikan dengan kemampuan otak.
Namun di negeri ini, ada satu diskriminasi lagi yaitu kemampuan modal.
Otak cerdas dan tak berduit akan kalah dengan yang sama cerdas tapi berduit.

Teman saya dari ITB bercerita, salah satu orang tua mahasiswa itu ada yang
PNS (bokap dan nyokap)
di pemda Riau. Dia heran darimana PNS punya duit Rp 45 juta untuk kuliah?
Lalu ada lagi yang
bokapnya PNS di Depag. Dari mana PNS dapat duit segitu banyak?

Saya hanya bisa berkata :
Mungkin konsep otonomi kampus ini diciptakan oleh para borjuis komprador
di birokrasi yang takut anak2nya akan kalah bersaing dengan para otak cerdas
yang miskin itu.

Kini, borjuis komprador itu berkonspirasi lagi dengan menaikkan pajak buku.
Buku2 kini dibuat makin mahal sehingga mahasiswa miskin pun semakin tertutup
aksesnya dari sumber2 ilmu.

Kalau begini caranya, bagaimana presiden kita yang suka bersolek itu bisa
mengubah statistik kemiskinan di BPS?
Bagaimana kita bisa mengurangi angka kemiskinan kalau salah satu jalan
tradisional untuk memutus lingkaran setan itu, dengan pendidikan, sudah
demikian
tak terjangkau?

Apa bedanya para birokrat borjuis komprador itu dengan Kolonial Belanda yang
membatasi pendidikan pribumi hanya untuk kaum ningrat?

Kita belum merdeka selama pendidikan masih mahal !!

On 9/4/06, Satrio Arismunandar <satrioarismunandar@yahoo.com> wrote:
>
> (dari milis tetangga)
>
> Ini adalah surat seorang mahasiswa Universitas
> Indonesia kepada
> rektornya yang dikirim kemarin siang. Anak tersebut
> mengundurkan diri
> karena kesulitan biaya.
>
> # Posted: 31 Aug 2006 16:14
> Quote
>
> Kepada
> Bapak Rektor UI
> yang Saya Hormati
>
> Asalamaualaikum Wr. Wb
>
> Semoga Bapak Rektor dan semua staf, teman-teman
> mahasiswa dan semua
> simpatisan
> UI dalam keadaan baik dan sehat selalu. Dengan berat
> hati dan sedih
> saya harus
> menulis email dan semoga ada manfaatnya.
>
> Saya Suroto Mahasiswa Reguler Program Studi Arkeologi
> NIM 0705030473
> Fakultas
> Ilmu Budaya dengan ini MENYATAKAN BERHENTI sebagai
> mahasiswa UI sejak
> terhitung mulai tidak bisa membayar uang kuliah.
>
> Saya ini yatim piatu. Punya 2 orang kakak dan mereka
> berkeluarga.
> Mereka tidak
> bisa bantu saya. Orang-orang yang potensial membantu
> saya ternyata belum
> merealisasikan kesanggupannya membayari SPP saya. Saya
> tidak habis
> pikir betapa
> susahnya saya mendapat pendidikan yang layak demi
> kelayakan saya sebagai
> manusia.
>
> Jelas saya minta dibantu tapi ternyata tidak ada yang
> sanggup
> membantu. Maka
> dengan ini saya menyatakan berhenti dari UI dan akan
> mencari uang dengan
> bekerja. Email bukan bermaksud agar saya dikasihani
> dan bukan pula
> bermaksud
> mengemis. Saya tahu siapa saya dan siapa yang lainnya.
>
> Email ini saya tulis semata-mata hormat saya pada Pak
> Rektor dan
> stafnya serta
> ucapan terima kasih atas diterima dan dilayaninya saya
> di UI. Tentu
> saya pernah
> bangga sebagai mahasiswa UI karena saudara Bapak Saya
> ternyata pengin
> masuk UI
> dan meminta bantuan saya. Wah... saya aja perlu
> dibantu. Begitu kata saya
> kepada mereka.
>
> Memang terlambar email ini saya sampaikan. Namun
> seorang mahasiswa
> tentu perlu
> dan harus sopan santun ketika meninggalkan tempat.
> Oleh karena itu
> email ini
> sekaligus sebagai pamitan saya kepada civitas
> akademika UI karena
> sejauh yang
> saya tahu saya belum bisa membayar uang kuliah.
>
> Demikian email saya. Semoga Allah SWT memberkahi dan
> saya mendoakan
> semogan
> orang-orang miskin seperti saya bisa mendapatkan
> "durian runtuh" agar bisa
> kuliah di UI. Terima kasih
>
> Wasalaamualaiku WR WB
>
> Suroto
> 0705030473
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>
>
>

--
Si vis pacem Parabellum ---

Rahmad Budi H
Republika
Jl Warung Buncit Raya 37 Jaksel
0856 711 2387

NEU: Fragen stellen - Wissen, Meinungen und Erfahrungen teilen. Jetzt auf Yahoo! Clever.


Stay in the know. Pulse on the new Yahoo.com. Check it out. __._,_.___


SPONSORED LINKS
Corporate culture Corporate culture change Tissue culture
Plant tissue culture Corporate culture training

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke