Wow tulisan yang berapi-api. Jadi inget jaman kuliah dulu. Meski bukan alumni UI, (sy alumni Unpad)fenomena seperti ini sudah merebak di semua PTN yang cepat dan pasti tidak lagi menjadi tempat prestise untuk dimasuki karena ketatnya persaingan. Bayangkanlah (kayak lagunya PADI)kalo rakyat kebanyakan akan masuk PTN meski belajar sungguh-sungguh agar bisa dapat kursi yang katanya terbatas. Tapi ternyata bagi mereka yang punya modal, kursi tersedia berapun jumlahnya asalkan harganya sesuai dengan yang di patok oleh Rektor.
Pendidikan sudah semakin tidak mencerdaskan, namun herannya masih dijadikan rebutan banyak orang. Memang benar kata Fraire, kalo sekolah itu candu. Seperti polisi, meski banyak masyarakat yang tidak menyukainya namun tetap banyak yang mendaftar menjadi polisi (tentu saja bayar), karena dengan menjadi polisi mereka tidak hanya menjadi candu bagi masyarakat namun juga bisa merasakan candu sebelum candu itu dibakar rame-rame di depan kamera TV. Yang jelas Kebanggan tak sebatas kata-kata (kijang-pen). Kuliah di PTN tidak lagi menjadi sebuah kebanggaan. Apa artinya mempunyai status sebagai mahasiswa UI, ITB, IPB, ITS kalo otaknya tak ada bedanya dengan otak udang. Yang begini akan menghasilkan sarjana-sarjana yang banyak di negeri ini, Tiada bedanya dengan roti (iwan fals) Masalah seperti ini kalo bisa diselesaikan dengan dialog, napa harus turun ke jalan? Kalo di Unpad dulu jarang yang berani demo ke rektorat karena rektornya barudak Persib dan siap nantang gelut siapa saja yang melawannya. Salam, zaInal #teringat beasiswa yang batal cair gara-gara ngelawan rektor# -----Original Message----- From: eskubikgirl [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, September 22, 2006 12:30 PM To: [email protected] Subject: [Soe_Hok_Gie] Re: Surat seorang Mahasiswa UI (yang miskin) untuk rektornya bicara soal pendidikan. sy ingat ma satu entry catatan harian SHG kalo ga salah Gie nulis gini " ....apakah yang lebih tidak adil, selain mendidik sebagian kecil anak-anak orang kaya dan membiarkan sebagian besar rakyat miskin tetap bodoh. kalau perlu turunkan sedikit mutu pendidikan yang penting pendidikan merata untuk semua golongan.... " kalo ga salah lagi, waktu itu gie mendebat pendapat seorang pakar, sy lupa siapa, yang mangatakan bahwa peningkatan biaya pendidikan adalah sesuatu yang mutlak untuk meningkatkan mutu pendidikan.jadi masalah pendidikan di Indonesia ini emang dari zaman 66 sampe sekarang masih berkutat pada hal-hal yang sama saja. kalau saya mah sepakat ma GIE. lebih baik bodoh rame-rame daripada memunculkan sekelompok elit yang cerdas. syukur kalo kelompok elitnya mikirin rakyat. kalo cuman jadi penindas baru yang menjadikan rakyat kebanyakan sebagai santapan lezat ketidakadilan dan kesewenang-wenangan....gawat bin kiamat namanya. "animal farm - nya George Orwell" mungkin bisa jadi bacaan yang tepat untuk menggambarkan kondisi ketidakmerataan pendidikan yang dikhawatirkan GIE. dalam kamus sy ga ada lagi d konsep pemerataan berdasarkan trickle down effect ( kesejahteraan yang menetes ke bawah ). Mencoba mendidik sekelompok kecil anak2 orang kaya agar menjadi cerdas dengan harapan kecerdasan mereka bisa memberikan kesejahteraan bagi rakyat kebanyakan bull shit bgt..!!! Pernah di suatu sesi wawancara "untuk pemberitaan majalah kampus" saya bertanya pada PR IV (bidang humas dan kerjasama Universitas) ttg alasan pengadaan jalur masuk kemitraan (jalur masuk PT yang secara teori merupakan hasil kerjasama dengan pemda , namun kenyataannya banyak peserta yang membayar bantuan yang nominalnya hingga 45 jt secara pribadi bukan dari pemda) Waktu itu PR IV berkata : " bantuan itu nantinya menjadi subsidi silang untuk pembiayaan pendidikan mahasiswa dari keluarga yang kurang mampu. subsidi pendidikan dari pemerintah mana cukup untuk menutupi biaya pendidikan setiap mahasiswa setiap tahunnya, makanya kami melakukan berbagai upaya termasuk pengadaan jalur kemitraan untuk menutupi biaya tersebut" wal hasil di kampuz ku kini banyak anak orang gede yang masuk lewat jalur tol tersebut, ujian untuk mereka diadakan hanya sbg formalitas belaka. jadi Biar ga kompeten asal punya duit bisa saja kuliah di PTN. uhg..!!!! Bukannya anti orang kaya sih, cuman keberadaaan mereka di kampus bukan lagi karena mereka memang punya kapasitas untuk menjadi mahasiswa. keberadaan mereka bukan lagi karena brain tapi money. ujung2nya kampus bukan lagi menjadi ajang untuk tawuran otak tapi jadi tawuran life style mulai dari mobil, hp, dlll. hal ini pastinya memberikan efek ga cuman ke suasana kampus yang tiba2 seperti mall dan tempat ngeceng, tapi juga perdampak pada kawan2 yang berasal dari keluarga yang pas-pasan. Mana ga ngaruh kalo teman lab-nya qta pada sepakat makan siang di KFC padahal uang kiriman dari kampung cuman 500 rb. mana ga minder kalo teman kelompok qta mau menghub-i trus qta-nya cuman bisa ngasih no telpon rumah. yah jawaban "hari gini ga ada HP, gimana bisa maju mba',bli dong biar komunikasi kelompoknya bs lancar. ga usah yang lagi in-modelnya yang harganya cmn 400 -an juga gpp ?. uhg...jangankan bli HP, uang makan saja susah, mesti ngatur sedemikian rupa biar bisa ckp u/bli buku or fotocopy .....he,3x. jadinya kita ga cuman mikirin kuliah tapi gimana cara bergaul dan bersosialisasi biar komunikasi dengan teman-teman kuliah enak. kalo orangnya muka tembok kayak sy sih ga masalah tapi kalo kawan2 yang tiap hari nonton sinteron "inikah rasanya ?" puyeng d. jadinya mahasiswa bukan mikirin kuliah lagi tapi bagaimana bisa di terima di lingkungan pergaulan kawan2 kampuz supaya bisa belajar bareng. memilih belajar sendiri juga ga ada salahnya sih tapi dikhwatirkan qta bakal anti sosial he..3x trus pimpinan universitas juga....koq mikir subsidi silang-nya githu. coba kalo memilih mendesak pemerintah untuk meningkatkan subsidi pendidikan dari hasil pajak barang-barang mewah yang di pake orang kaya. emang lagi-lagi subsidi silangnya dari orang kaya tapi khan efeknya lebih bagus, tidak memberatkan rakyat miskin kayak saya. (he...3x dah miskin egois lagi...tp gpp yach dari pada kaya truss egois..) Hasil pajak barang mewah itu mending dituntut untuk subsidi pendidikan dari pada digunakan untuk pembiayaan militer. syukur kalo uangnya untuk bli buku bacaan para tentara dan polisi, kalo cuman u/bli senjata..duh ampun (semboyan " rajin baca jadi pintar, malas baca jadi polisi"..bisa2 jadi kenyataan....he3x) pimpinan universitas qta itu emang mesti di demo sering2 biar sadar kalo telinga dan matanya tuh ada dua. trus juga punya mulut satu. menyadarkan kalo mereka itu bukan budak pemerintah yang kalo pemerintah bilang A ia juga harus bilang A dan melaksanakan A, kalo pemerintah bilang Subsidi pendidikan dicabut maka universitas nurut dan sepakat saja dan berupaya sebaik mungkin untuk mempersiapkan diri agar "siap" saat subsidi dicabut. mestinya mereka sadar bahwa mereka tidak hanya punya satu pilihan yaitu hanya menjadi anak manis dimata pemerintah tapi mereka juga punya pilihan sebagai anak arif di mata rakyat. anak yang berani bilang TIDAK saat pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tidak bijak bagi rakyat kebanyakan. anak yang berani menuntut hak rakyat akan pendidikan untuk semua golongan. " berjuang tak selamanya dengan turun ke jalan , tapi bila turun ke jalan sudah menjadi sebuah keharusan maka tak ada kata- kata lagi selain, mari merapatkan barisan kawan ! " --- In [email protected], "DiyonoDIOMoeripto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > woit...gw demen omongannye...tp tolong...utk kata2 ini... > > pd kemana tuh anak2 BEM banci.....??? > pd tidur terlena kali y sama kebesaran JAKUNNYA.....???? > > gw ga tau lo punya dendam kesumat apa sama anak2 ui...gw yakin org2 yg > masuk milist ini org2 yg cukup cerdas...gw yakin milist ini ga > memperbolehkan kata2 yg tidak senonoh...oke jek... > > *topikkemana...ehmalahngomongkemana,keepintopikbos... > > > > --- In [email protected], nurun setiawan <nr_setwan@> wrote: > > > > > > iya tuhh...........banyak banget parkiran mobil skrang di lingkar > UI.....dari model lawas sampai model masa kini berjejer mentereng kaya > jakun nya gt......yg sering ditenteng2 waktu demo atau ospek gt > > bukannya gw so' anti kemapanan nehh....tp asli berubah abis aj > gt.....dl waktu maseh kul msh jarang tuh parkiran gak sampe deh di > bela2in nebang pohon cm buat parkiran aj...........masih asri > deh....masih AMAN gak ada rampok di UI klu pulang malem blk ke 'kukel' > paling yg ditakutin anjing gila di sekitar FKM-MIPA bukan rampok ky > berita yg dikompas. Masih solid abis jg, kul masih cukup murah..... > > Duh jaman dah berubah banyak.....pada kemana tuh pendukung > DPKP.....??? > > pd kemana tuh anak2 BEM banci.....??? > > pd tidur terlena kali y sama kebesaran JAKUNNYA.....???? > > > > Untung gw bukan anak UI, gw cuma anak POLTEK...... > > > > piss........... > > > > NS > > Pernah kuliah di sekitar lingkar UI.... > > Skrg aktif bekerja.....jd buruh > > > > > > > > > > tHea Arabella <thea.arabella@> wrote: > > Re: Surat seorang Mahasiswa UI (yang miskin) untuk > rektornya Posted by: "rahmad budi" madbud@ maxbud99 Mon Sep > 4, 2006 10:51 pm (PST) Saya punya kawan dari Tegal yang nekat kuliah > di ITB > > Saya bilang nekat karena dia tahu ortunya tak bisa membayari uang > kuliahnya. > > Apalagi membiayai kos. Jadi, dia datang dengan keyakinan untuk bisa > bertahan > > hidup > > dengan segala cara. > > Tanpa mengenal malu dia pun menggalang dukungan dari para warga > Tegal yang > > sukes di Bandung. > > Akhirnya ada yang bantu dia, bahkan ada yang membelikan komputer. > > Beruntung juga masih ada dosen2 yang tergerak untuk membantu > mahasiswanya. > > Ada yang memberi beasiswa, ada yang memberi tumpangan hidup. > > > > Itu bagian bagusnya. > > Tapi, bagian sedih dari sistem pendidikan ini jauh lebih banyak > > > > Seorang rektor ITB pernah ngomong : > > 'Jangan takut masuk ITB, kalau gak ada duit akan dicariin beasiswa.' > > > > Kecap memang nomor satu. > > Terbukti masih saja ada mahasiswa baru yang tidak daftar ulang > karena miris > > melihat angka2 rupiah > > yg tak bisa mereka tanggungkan. Masih ada juga mahasiswa yang DO > karena tak > > bisa bayar. > > Mahasiswa yang telat bayar SPP ada yang mendapat jatah nol SKS > > > > Rektor ngomong begitu semenjak ITB menjadi BHMN (Badan Hukum Milik > Negara) > > yang mengakibatkan uang kuliah melonjak drastis. > > Dari semula Rp 475 ribu pada tahun 1998, sekarang menjadi Rp 2,5 > juta per > > semester > > Itu masih lebih murah dari UI-lah. > > > > Sejak pemerintah mengartikan otonomi kampus = pengurangan subsidi > pendidikan > > Maka sejak itu pula makin banyak mahasiswa miskin yang DO. > > > > Ketika SPP masih murah, di parkiran kampus hanya sedikit mobil mahasiswa > > Namun beberapa tahun setelah otonomi kampus, > > ruang parkir makin sempit karena makin banyak mobil mahasiswa > > Akhirnya, lapangan kampus pun sebagian diubah menjadi lahan parkir mobil > > > > Ketika SPP masih murah, masih saya dengar ada mahasiswa miskin tak kuat > > bayar SPP > > Kini setelah otonomi jarang terdengar cerita itu, karena yang masuk > sebagian > > besar adalah mahasiswa kaya. Yang gak kuat bayar SPP saya pikir > sudah kena > > DO duluan sebelum sempat mengeluh kepada teman2nya. > > > > Kampus2 membuka program jalur khusus dengan biaya puluhan juta rupiah. > > Apalagi kedokteran, bisa ratusan juta sumbangannya hanya untuk > program S-1. > > > > Apa artinya? > > Apakah anak2 orang kaya itu tak berhak kuliah di PT bergengsi > > macam ITB, UGM, UI, IPB yang kini jadi otonomi itu? > > > > Diakui, jalur khusus 300 kursi di ITB dengan biaya masuk minimal > > Rp 45 juta itu banyak diisi anak2 kaya berotak cerdas. > > Prestasi akademik mereka tak kalah dengan mahasiswa miskin asal kampung. > > Maklum, gizi mereka cukup dan dipastikan mempunyai fasilitas > > pendidikan yang lebih dari memadai. > > > > Ya, kalau berpikir sederhana, hak azasi untuk akses pendidikan > seharusnya > > hanya didiskriminasikan dengan kemampuan otak. > > Namun di negeri ini, ada satu diskriminasi lagi yaitu kemampuan modal. > > Otak cerdas dan tak berduit akan kalah dengan yang sama cerdas tapi > berduit. > > > > Teman saya dari ITB bercerita, salah satu orang tua mahasiswa itu > ada yang > > PNS (bokap dan nyokap) > > di pemda Riau. Dia heran darimana PNS punya duit Rp 45 juta untuk > kuliah? > > Lalu ada lagi yang > > bokapnya PNS di Depag. Dari mana PNS dapat duit segitu banyak? > > > > Saya hanya bisa berkata : > > Mungkin konsep otonomi kampus ini diciptakan oleh para borjuis komprador > > di birokrasi yang takut anak2nya akan kalah bersaing dengan para > otak cerdas > > yang miskin itu. > > > > Kini, borjuis komprador itu berkonspirasi lagi dengan menaikkan > pajak buku. > > Buku2 kini dibuat makin mahal sehingga mahasiswa miskin pun semakin > tertutup > > aksesnya dari sumber2 ilmu. > > > > Kalau begini caranya, bagaimana presiden kita yang suka bersolek itu > bisa > > mengubah statistik kemiskinan di BPS? > > Bagaimana kita bisa mengurangi angka kemiskinan kalau salah satu jalan > > tradisional untuk memutus lingkaran setan itu, dengan pendidikan, sudah > > demikian > > tak terjangkau? > > > > Apa bedanya para birokrat borjuis komprador itu dengan Kolonial > Belanda yang > > membatasi pendidikan pribumi hanya untuk kaum ningrat? > > > > Kita belum merdeka selama pendidikan masih mahal !! > > > > On 9/4/06, Satrio Arismunandar <satrioarismunandar@> wrote: > > > > > > (dari milis tetangga) > > > > > > Ini adalah surat seorang mahasiswa Universitas > > > Indonesia kepada > > > rektornya yang dikirim kemarin siang. Anak tersebut > > > mengundurkan diri > > > karena kesulitan biaya. > > > > > > # Posted: 31 Aug 2006 16:14 > > > Quote > > > > > > Kepada > > > Bapak Rektor UI > > > yang Saya Hormati > > > > > > Asalamaualaikum Wr. Wb > > > > > > Semoga Bapak Rektor dan semua staf, teman-teman > > > mahasiswa dan semua > > > simpatisan > > > UI dalam keadaan baik dan sehat selalu. Dengan berat > > > hati dan sedih > > > saya harus > > > menulis email dan semoga ada manfaatnya. > > > > > > Saya Suroto Mahasiswa Reguler Program Studi Arkeologi > > > NIM 0705030473 > > > Fakultas > > > Ilmu Budaya dengan ini MENYATAKAN BERHENTI sebagai > > > mahasiswa UI sejak > > > terhitung mulai tidak bisa membayar uang kuliah. > > > > > > Saya ini yatim piatu. Punya 2 orang kakak dan mereka > > > berkeluarga. > > > Mereka tidak > > > bisa bantu saya. Orang-orang yang potensial membantu > > > saya ternyata belum > > > merealisasikan kesanggupannya membayari SPP saya. Saya > > > tidak habis > > > pikir betapa > > > susahnya saya mendapat pendidikan yang layak demi > > > kelayakan saya sebagai > > > manusia. > > > > > > Jelas saya minta dibantu tapi ternyata tidak ada yang > > > sanggup > > > membantu. Maka > > > dengan ini saya menyatakan berhenti dari UI dan akan > > > mencari uang dengan > > > bekerja. Email bukan bermaksud agar saya dikasihani > > > dan bukan pula > > > bermaksud > > > mengemis. Saya tahu siapa saya dan siapa yang lainnya. > > > > > > Email ini saya tulis semata-mata hormat saya pada Pak > > > Rektor dan > > > stafnya serta > > > ucapan terima kasih atas diterima dan dilayaninya saya > > > di UI. Tentu > > > saya pernah > > > bangga sebagai mahasiswa UI karena saudara Bapak Saya > > > ternyata pengin > > > masuk UI > > > dan meminta bantuan saya. Wah... saya aja perlu > > > dibantu. Begitu kata saya > > > kepada mereka. > > > > > > Memang terlambar email ini saya sampaikan. Namun > > > seorang mahasiswa > > > tentu perlu > > > dan harus sopan santun ketika meninggalkan tempat. > > > Oleh karena itu > > > email ini > > > sekaligus sebagai pamitan saya kepada civitas > > > akademika UI karena > > > sejauh yang > > > saya tahu saya belum bisa membayar uang kuliah. > > > > > > Demikian email saya. Semoga Allah SWT memberkahi dan > > > saya mendoakan > > > semogan > > > orang-orang miskin seperti saya bisa mendapatkan > > > "durian runtuh" agar bisa > > > kuliah di UI. Terima kasih > > > > > > Wasalaamualaiku WR WB > > > > > > Suroto > > > 0705030473 > > > > > > __________________________________________________ > > > Do You Yahoo!? > > > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > > > http://mail.yahoo.com > > > > > > > > > > > > > -- > > Si vis pacem Parabellum --- > > > > Rahmad Budi H > > Republika > > Jl Warung Buncit Raya 37 Jaksel > > 0856 711 2387 > > > > Back to top > > Reply to sender | Reply to group | Reply via web post > > > > > > --------------------------------- > > NEU: Fragen stellen - Wissen, Meinungen und Erfahrungen teilen. > Jetzt auf Yahoo! Clever. > > > > > > > > > > --------------------------------- > > Stay in the know. Pulse on the new Yahoo.com. Check it out. > > > Yahoo! Groups Links Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Soe_Hok_Gie/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Soe_Hok_Gie/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
