Sastra di Sekolah Dihapus Saja?
MENGAPA orang tak pernah merasa jemu membicarakan
keluhan soal pengajaran sastra untuk para siswa? Tidakkah itu
sesungguhnya berlebihan dalam memandang persoalan yang dihadapi,
yang berkaitan dengan dunia pendidikan kita?
Di jagad yang paling "menguasai" kancah sastra
seperti Prancis maupun Inggris, ada orang bercerita, sesungguhnya
persentase pengajaran sastra di negeri itu tidaklah cukup banyak.
Namun, ada persoalan lain yang lebih penting yang berkaitan dengan
dunia sastra dan apresiasi di lingkungan remaja atau siswa maupun
universitas yang membuat mereka bisa begitu paham dan tahu
membedakan antara yang sastra dan nonsastra.
Ketika meledaknya novel-novel "pop" karya Marga T,
La Rose, Yudistira, Eddy D Iskandar, dan sejumlah pengarang lain
pada 1970-an, banyak pihak bergembira dengan minat para remaja yang
begitu getol dan melahap semua jenis terbitan novel "pop" itu. Dalam
bayangan saya, bukan tidak mungkin di antara puluhan ribu remaja
kita, peminat novel "pop" itu akan menggeser minat mereka, ketika
mereka lebih matang memandang kehidupan.
Ketika itulah sejumlah cacian disemburkan kepada
kalangan penulis "pop" yang dianggap "meracuni" remaja kita dengan
bahan yang tidak berguna, busa sabun kehidupan, dan menghilangkan
kesadaran sejarah sosial. Bertahun-tahun perdebatan ini tak pernah
memberikan sesuatu dalam produktivitasnya yang tinggi, kecuali
sejumlah tambahan "cacian", yang terus mengira bahwa "pop" adalah
biang keladi dari erosinya apresiasi sastra di kalangan remaja atau
pelajar kita.
Berhimpitan
Dugaan saya juga mungkin meleset, lantaran apa
yang saya pikirkan tidak cukup realistis dalam memandang gejolak
sosial yang tumbuh. Himpitan sosial-ekonomi dan politik membuat
orang tidak lagi cukup mampu untuk menelan apa yang disajikan oleh
kalangan sastra yang punya "beban" untuk senantiasa "mengkhotbahi"
pembacanya. Sementara itu, bacaan yang cukup bermutu hanya boleh
dihitung dengan jari yang kita miliki.
Jika Prancis, Inggris, sejumlah negara maju
lainnya yang selalu disebut "biang" dari negara sastra bisa
menciptakan suatu kondisi di mana sastra "berbicara" kepada
masyarakatnya, ternyata masalahnya bukan hanya terletak pada dunia
pendidikan, adanya perpustakaan yang canggih, pengajar yang paham,
namun lebih dari itu. Perkembangan jagad sastra berhimpitan dengan
dunia elektronika yang berkembang pesat. Dunia seluloid, film,
sampai teve adalah bagian yang tak terhindarkan dari dunia sastra.
Kita bisa melacak, bagaimana novel atau cerpen
menjadi sebuah film di teve atau pada layar lebar, sementara radio
dengan kecanggihan yang bukan main menyajikan play yang bisa orang
dengan tekun mendengarkan sambil mencuci piring, atau pakaian serta
menyiapkan makan malam.
Ketika teve menjadi bagian yang tak terhindarkan
dari kehidupan masyarakat di negara-negara technetronic, bacaan yang
semula diduga akan lenyap dari peredaran, ternyata justru makin
tumbuh dan pasarnya melesat jauh, seiring dengan makin merembesnya
hiburan elektronik ke dalam ruang-ruang pribadi.
Mengambil contoh beberapa buku kanak-kanak dalam
bentuk kartun (cartoon) yang populer di negara post-industri, yang
tampaknya berkaitan bukan hanya dengan hiburan, tapi juga
pendidikan, dan menciptakan sejarah sosial lingkungannya, sangat
berkaitan erat antara media cetakan dan elektronik. Buku yang
populer akan selalu dijadikan bahan sajian untuk media elektronik,
teve, film atau siaran dalam bentuk yang lain. Dan tampaknya,
pembaca yang semula mengetahui buku akan mencoba mengkonfirmasi
dengan sajian elektronik, dan sebaliknya.
Persoalan yang kita hadapi, tampaknya dunia sastra
masih saja berkutat dengan dunianya sendiri, sementara itu sajian
media elektronik tidak cukup canggih apresiasinya dalam memandang
dunia sastra untuk sebuah sajian, kecuali mungkin beberapa sinetron
yang mencoba mengangkat novel kita ke televisi. Soalnya, salah
satunya, pengelola di balik media elektronik, teve, film, selalu
memandang pertimbangan "ekonomis" dan mungkin tidak berkeinginan
untuk berpikir lebih jauh.
Misalnya, membeli film yang sudah siap putar siar,
adalah langkah yang paling gampang, dan tidak mengandung risiko
ekonomis, walaupun konsekuensi kultural yang terjadi akan berakibat
mendalam -- munculnya "heroisme" model Amerika, misalnya. Sastra di
dunia sekolahan kita, agaknya, sebaiknya dihapuskan, dan tidak lagi
menjadi beban para siswa. Sebab, masalah utama dunia pendidikan kita
yang sesungguhnya bukanlah menjadikan orang paham atau sedikit tahu
tentang sastra, tapi bagaimana dia bisa hidup dengan layak.
Kiranya, sejarah sosial menunjukkan, tidak pernah
menjadikan orang bisa hidup dan paham kepada sastra. Usaha yang
paling baik untuk menggantikan pengajaran sastra adalah dengan cara
memberikan pengajaran kesadaran kepada hak setiap orang, kesadaran
kepada human right, kesadaran kepada berdemokrasi. Jenis pendidikan
seperti ini yang paling berguna, ketimbang pengajaran sastra yang
hanya "buang-buang waktu".
Jenis pendidikan human right, hak bernegara, hak
untuk berdemokrasi, tidak membutuhkan bahan bacaan yang sulit.
Setiap hari bisa dikaji lewat koran, radio, teve, dan bahkan kasus-
kasus konkret di lingkungan para siswa maupun remaja. Inilah soal
yang paling mendesak dari dunia pendidikan kita, ketimbang terus
kita merintihi jagad sastra dalam kaitannya dengan sekolah. Jika
siswa menginginkan sastra, bisa didapatnya dari koran atau majalah,
berdialog langsung dengan sastrawan, bukan dari sekolahan. Dan
belajar dari media massa barangkali pilihan yang lebih menarik dan
murah.
* adi samekto
Bali Post - Minggu Kliwon, 4 Nopember 2007
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com