Sukses disimak para pecinta sastra di Jerman, tak lama lagi novel "Saman" 
  karya Ayu Utami bakal diterjemahkan ke dalam  bahasa Prancis dan Ceko. 
Menurut rencana, novel yang kental bernuansa Indonesia tersebut akan 
diluncurkan di  kota Praha dan Paris pada awal Desember 2007, tepatnya 
menjelang Natal tahun  ini. 
   
  Kalau pengalih bahasa edisi bahasa Jerman adalah Peter Sternagel, untuk 
  "Saman" edisi Ceko diterjemahkan oleh Libor Havranek. Pemuda Ceko yang  
bermukim di sebuah kota perbukitan nan indah di Provinsi Bohemia Timur, saat  
ini juga sedang menerjemahkan buku Ayu Utami berikutnya, sebuah  sambungan 
bebas dari Saman. Sebagai catatan, Libor pernah mukim setahun  lamanya di 
Indonesia untuk mempelajari seni budaya Nusantara. 
   
Menurut Bismo DG KUsumo, warga negara Indonesia yang mukim di Praha, dalam  
pertemuan dengan mantan Dubes Ceko untuk RI J. Olsa yang juga penerjemah  belum 
lama ini dan Presiden Asosiasi Penterjemah Ceko dikatakan komunitas  pembaca 
Ceko, yang jumlahnya sangat banyak, haus dengan prosa dan puisi  Indonesia. 
Namun sayangnya, Indonesia sebagai negeri keempat terbesar di dunia ini 
sastranya hampir tidak dikenal di Ceko. "Entah karena salah siapa." ungkap 
Bismo melalui email.
 
  Link "Saman" edisi Jerman (dari Mas Teddy Sunardi): 
  
http://www.libri.de/shop/action/productDetails/6607620/ayu_utami_saman_3895022438.html
   
   
   
   
  ____________________________________________
  
Kiriman: Sigit Susanto, Jerman 
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
  
Sigit Susanto (SS) memberikan informasi di milis Apresiasi Sastra yang 
  dimoderatorinya tentang novel "Saman" terbitan Jerman: 
  "Ini ada masukan dari Shiho, kawan Jepang di Jogja. Bagaimana rasa bahasa  
Indonesia dari kawan yang tidak beribu bahasa indonesia. Komentarku menyusul," 
tulis Sigit.
   
Shiho:
Saya baru membaca posting mas Sigit tentang kritikannya terhadap karya Ayu  
Utami dan Oka  dalam bahasa Jerman. Sangat menarik. Saya kira itu masalah umum  
buat semua karya sastra terjemahan, sebab terjemahan bisa memindahkan bahasa 
tetapi tak bisa langsung memindahkan konteks dan logika sosial. Saya bayangkan 
di dalam bahasa  Indonesia, aturan terhadap titik pandang/narator dalam cerita 
tak seketat bahasa Jerman, sehingga ketika diterjemahan ke bahasa Jerman, hal 
itu  membingungkan para pembaca berbahasa Jerman.
 
  Bagi saya, hal itu tak terlalu mengganggu meski secara teknis Saman itu 
terasa agak bermasalah dalam menentukan narator. Mungkin itu karena di dalam 
bahasa Jepang  pun kadang bisa terjadi ambiguitas semacam itu...saya bahkan 
merasa kritik sastralah yang seharusnya mengambil peran untuk menjembatani 
kebingungan semacam  itu, dengan menjelaskan perbedaan bahasa dan nilai sosial 
di masyarakat yang berbeda..
   
  shiho   



blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com 
   

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke