Untuk Bung Asahan Aidit
dari Goenawan Mohamad

Terima kasih kepada Bung Asahan. Komentarnya tentang jawaban saya untuk A. 
Kohar Ibrahim bukan saja menjernihkan pikiran dan menyejukkan hati, tapi juga 
menumbuhkan perspektif yang selama ini ingin saya pelihara: Masa lalu penting, 
tetapi sejarah tidak bisa mandeg. Itu sebabnya kata-kata Bung Asahan, tentang 
"permusuhan" antara "Manikebu" dan Lekra, mengetuk hati: "mengapa segi-segi 
kesia-siaan atau debu-debu permusuhan itu musti dibangkitkan ketika hal itu 
sudah tak perlu."

A Kohar Ibrahim hidup jauh dari Indonesia bertahun-tahun, dan saya bisa 
mengerti bila ia tak punya informasi apapun tentang yang terjadi di sini – 
detailnya, ketegangan dialetik antar pelbagai laku dan suara, perubahan dan 
pergeserannya, keaneka-ragamannya.

Tapi yang saya sayangkan adalah bahwa ia, yang tak asing dengan Marxisme, 
melihat sejarah sebagai batu. Sejarah tak pernah beku secara monolitik. Ia 
selalu bisa ditafsirkan kembali ketika kesadaran baru tumbuh.

Ada satu catatan lain. Siapa yang memandang diri ke cermin dan berkata, "la 
victime, c'est moi", akan segera jadi seorang narciss, sekaligus seorang yang 
ingin memonopoli heroisme dalam penderitaan. Ia tak melihat bahwa penderitaan 
bisa terjadi di tempat yang berlainan dan berlawanan. Seorang Lekra yang 
seperti itu tak akan jauh berbeda dengan seorang "Manikebu" yang menyusun buku 
(misalnya Prahara Budaya) untuk memperlihatkan luka-luka masa lalunya sendiri 
dan dengan itu tak hendak memperlihatkan bahwa luka-luka telah dan akan terjadi 
di tempat lain.

"La victime, c'est moi" – dengan itu sang korban tak melihat bahwa jadi korban 
bukanlah sebuah lisensi untuk tetap berada di atas penilaian baik dan buruk.

Ada sebuah kalimat yang bagus dari Injil, "Jangan menghakimi, agar kelak kita 
tak dihakimi". Pesan yang arif itu bagi saya mengingatkan bahwa untuk 
menghakimi kita memerlukan satu postur tersendiri – yakni postur dalam 
kedaifan, dengan kemungkinan bersalah, keterbatasan informasi dan kondisi 
bahasa. Politik, yang memang harus dimulai dengan membuat garis 
kawan-dan-lawan, pada akhirnya akan merupakan politik dalam keterbatasan: kita 
tak bisa berpegang pada satu garis kawan-lawan selama-lamanya, karena sejarah 
bukanlah batu. Kita tak bisa untuk "tumpas kelor", menghabisi sehabis-habisnya 
pihak lawan. Kita memandang lawan bukan sebagai musuh.

Hanya dendam dan kebencian saja yang akan bersikap "tumpas kelor" dalam serang 
menyerang. Saya kira, buat mengenang yang terjadi setelah 1965 – kekejaman yang 
terbesar dalam sejarah Indonesia modern, ketika ribuan orang dibunuh, disiksa 
dan dibuang -- harus disertai kemauan mengingat bahwa pada mulanya adalah 
sebentuk bahasa kebencian. Dari sini "lawan" berubah jadi "musuh". Jarak antara 
saat itu dan pembantaian (termasuk pembungkaman total) hanya beberapa 
sentimeter.

Empat puluh tahun lebih setelah semua itu lewat seharusnya waktu cukup untuk, 
kalau pun hendak menengoknya kembali, menengoknya dengan tanpa hasrat "tumpas 
kelor". Di masa lalu, ganyang mengganyang dilangsungkan disertai hasrat 
"pembersihan", sebab itu berbareng dengan mobilisasi kekuatan politik. Tapi 
sekarang, buat apa? Siapa yang sekarang akan membrangus ide-ide "Manikebu" dan 
juga ide-ide Lekra?

Dengan demikian, seperti dikatakan Bung Asahan, "tidak perlu" mengulang bahasa 
"pengganyangan" di masa lalu.

Maka bagi saya penting bila A. Kohar Ibrahim menunjukkan benarkah, seperti 
dikatakannya, Manifes Kebudayaan "mem-panglima-kan politik kaum militeris 
dengan pangkat Jenderal Jenderal"? Bagaimana pula "Manikebu", seperti kata 
Kohar Ibrahim, "menjalani politik yang paling kotor dan keji"?

Kohar perlu (malah wajib) menjawab, sebab dengan demikian akan jelas, apakah ia 
hanya memamah-biak bahasa "pengganyangan" di masa lalu ataukah ia mau 
menyumbangkan informasi baru agar kita belajar dengan lebih seksama dari 
sejarah.

Dalam tiga postingnya yang terbaru, ia belum menjawab. Ia malah menambah 
tuduhan baru. Misalnya ia mengutip pernyataan bahwa H.B. Jassin adalah "pegawai 
Belanda" – dengan implikasi bahwa kritikus ini pernah berkhianat kepada 
Republik.

Saya akan menggunakan kesempatan ini untuk menunjukan, bahwa informasi itu 
sangat meragukan. Silakan buka Kesusastraan Indonesia dalam Kritik dan Esei, 
Jilid I, halaman 68-71. Dalam suratnya buat Aoh Kartahadimadja yang dimuat di 
kumpulan kaya Jassin itu, di tahun 1948, Jassin mengecam Chairil Anwar, Asrul 
Sani, dan Rivai Apin. Mereka bertiga bekerja untuk majalah Gema Suasana yang 
mengritik api nasionalisme yang berkobar waktu itu. Jassin melihat bahwa dalam 
majalah itu ada "beberapa orang Belanda di belakang layar", di antaranya 
pejabat tinggi dalam tentara pendudukan. Seraya mengecam Chairil, Asrul, dan 
Rivai, di sini pula H.B. Jassin menampik "humanisme universil" macam ini – 
sebuah penolakan yang juga kita dapatkan dalam naskah Manifes Kebudayaan.

Bagaimana mungkin Jassin jadi "pegawai Belanda" di masa revolusi itu, kalau ia 
menolak sikap politik redaksi Gema Suasana? Contoh di atas menunjukkan, bahwa 
ketika kita tak lagi dalam panasnya api "pengganyangan", sebuah perdebatan 
seharusnya bisa lebih disusun dengan penalaran yang lebih masak, dengan data 
yang lebih sahih.

Kini waktunya untuk menelaah argumen-argumen dalam Manifes Kebudayaan maupun 
dalam asas Lekra serta "realisme sosialis" dengan lebih analitis. Seperti 
halnya kini sudah mulai terbuka peninjauan kembali tuduhan "Orde Baru" tentang 
hubungan PKI dan "G-30-S", kini sudah waktunya juga untuk menyimak kembali, 
benarkah "Manikebu," seperti dituduhkan A. Kohar Ibrahim, "menjalani politik 
yang paling kotor dan keji", mengapa ia dicap "kontra revolusioner" dan harus 
dilarang.

Dengan begitu, para peminat sejarah Indonesia modern, juga peminat ide-ide 
sastra dan politik, akan mendapatkan lebih banyak manfaat ketimbang hanya 
mendengarkan ulangan teriak orang-orang tua yang telah parau.

***

Salam,


Goenawan Mohamad

_____________________________

Dari: Asahan Aidit, Holland
E-mail: [EMAIL PROTECTED]

Tulisan Kohar maupun tanggapan Sdr. Goenawan Mohamad ini sangat menarik untuk 
diperhatikan dan dibaca. Saya sangat berharap Kohar juga memberikan tanggapan 
kembali atas tanggapan Goenawan Mohamad yang teramat penting ini. Pembaca akan 
banyak belajar dan menerima informasi yang berharga dari masa lalu yang masih 
banyak keburaman dan ketidak pastian informasi dan pengetahuan yang memadai. 
Jadi hendaknya jangan sampai cuma terjadi dialog satu jalur dan begitu saja 
selesai.Tentu saja banyak tergantung pada bung Kohar apakah komunikasi verbal 
ini tidak cuma terputus hingga di sini saja.

Salam,

BISAI

----------------------

Hingga saat ini kita belum melihat tanggapan dari Kohar. Mungkin dia sibuk, 
mungkin juga dia sedang menyiapkan jawabannya, mungkin juga dia sedang tidak 
ada di rumah, atau mungkin juga ia sedang berpikir dan bahkan mungkin juga ia 
akan berdiam diri saja. Kita tidak tahu dan kita tidak menuduh alasan yang 
manapun karena akhirnya menjawab atau tidak menjawab terpulang kepada yang 
bersangkutan, tidak ada keharusan dan juga tidak ada paksaan.

Tapi saya menjadi tidak sabar atau kurang sabar mungkin, karena dunia Internet 
memang untuk reaksi cepat yang bila tidak, menjadi cepat basi dan dilewatkan 
dari ingatan para pemilis. Dan kemungkinan salah reaksi dalam internet tentu 
tidak akan sebahaya "sokongan" surat kabar "Harian Rakyat"yang dibilang 
sementara orang bisa jadi bukti keterlibatan PKI dalam G30S.

Saya sangat tertarik akan pikiran-pikiran Sdr. Goenawan Mohamad dalam 
menanggapi berbagai soal yang ditulis oleh Kohar Ibrahim. Pengetahuan saya 
sekitar "Manikebu"atau untuk selanjutnya saya akan menggunakan istilah "Manifes 
Kebudayaan"( MK) saja untuk tidak memberikan warna tabu masa lalu dan juga 
perdebatan antara Pramoedya Ananta Toer(PAT) kontra MK sangat sedikit saya 
ketahui karena pada masa-masa itu saya sudah berada di Moskow sedang 
melanjutkan pelajaran. Selama kegiatan kehidupan Partai saya di Moskow, grup 
Partai saya tidak pernah membicarakan apalagi mendiskusikan soal MK atau 
perdebatan sengit antara PAT dengan MK. Padahal hampir semua peristiwa politik 
dan juga Kebudayaan selalu jadi tema diskusi Partai. Tapi dari ingatan, memang 
pernah terdengar teman-teman saya menyebut "Manikebu"yang dalam waktu cukup 
lama tidak saya ketahui dari singkatan apa "Manikkebu"dan baru belakangan saya 
ketahui yang entah sejak kapan.

Tapi itu sekedar itermezzo yang mungkin bukan hal yang terpenting untuk 
dibicarakan. Saya setuju apabila ada pikiran yang tidak mau mengorek-ngorek 
masa lalu yang bisa membangkitkan memori kengerian, kebencian apalgi kekotoran 
sejarah yang dimiliki bangsa ini. Tapi itu tentu saja tidak mutlak. Dalam 
kasus-kasus tertentu di mana satu pihak bersikap agressif terhadap pihak 
lawannya dan kembali mengais-ngais pengalaman traumatis untuk membangkitkan 
kembali kebencian dan dendam masa lalu, ketidak setujuan saya menjadi batal.
  
Tapi sekali lagi inipun tidak mutlak, karena harus juga melihat per kasus, 
waktu dan suasana. Bila seseorang dari lawan politik kita telah menunjukkan 
pemikiran positipnya dan meningglkan pemikiran lama yang kita anggap berlawanan 
dengan pemikiran kita, mengapa kategori lama masih harus dipertahankan. Di 
manapun seseorang pernah berada, tapi bila dia telah memisahkan pemikiran 
lamanya dari pemikiran barunya yang positip, kita tak bisa terikat darimana dia 
berasal. Pemikiran baru yang positif adalah selalu sebuah kemenangan bukan 
hanya untuk satu pihak yang diuntungkan tapi untuk semua pemikiran positif yang 
akan menguntungkan kemanusiaan yang wajar, yang berobah maju ke arah perbaikan 
dan perubahan. Persetan dia dari Karang Teritis atau dari Tanjung Karang, yang 
penting seseorang sudah berangkat dari asal mula yang dulunya tak menyenangkan 
hati kita, ke kediaman baru yang bertetangga dengan kita dan membawa kedamaian 
dan bukan pertengkaran.

PAT adalah seorang pengarang besar yang hingga pernah dinominasi sebagai calon 
penerima hadiah Nobel meskipun hingga dia wafat, nominasinya tak pernah menjadi 
hadiah yang sesungguhnya. Saya pernah bertanya pada Ajip Rosidi yang selama 
berkunjung ke rumah saya di Belanda, yang asal dia bicara soal Pram lalu dia 
bilang, "Pram itu nganggapku musuh bebuyutan, dia nggak punya temen, abis 
sombongnya bukan main, kasian tu orang".

Lalu saya tanya, tapi kan kau selalu bilang kau nyokong dia supaya bisa dapat 
hadiah Nobel. Ajip menjawab cepat: Ya, dong, Pram itu kan milik Indonesia".

Pram bukan hanya milik Indonesia, tapi juga ia pernah anti Komunis. Bacalah 
"SUBUH" ,bukunya yang terkenal itu. Dan Pram pernah anti Komunis tidak 
tanggung-tanggung. Tapi juga ketika pemikirannya berubah ke arah yang positif, 
dia tinggalkan pikiraan anti Komunisnya yang terdokomentasi dan juga merupakan 
hasil sastra yang begitu berbobot. Sekarang setelah Pram berubah pikiran dan 
menyuarakan dengan lantangnya suara LEKRA, apakah bukunya yang "SUBUH" itu kita 
tunjuk-tunjukkan kepadanya sebagai peringatan seperti kita menunjuk-nunjuk 
"MANIKEBU"kepada seseroang yang sudah tidak berpikir seperti tempat asalnya 
lagi atau telah berpikir lebih positif dan bahkan konstruktif bagi masa depan 
dan pembaharuan yang lebih cerah.

Perdebatan Pram dengan pihak MK, meskipun pikirannya mewakili pikiran Lekra, 
tapi perdebatan itu tetap saja perdebatan antara satu orang Pram dengan pihak 
MK ( memang sastrawan selalu berjuang sendiri, dimaki beramai ramai tapi sangat 
sedikit atau sama sekali tak mendapat dukungan dari teman-temannya sendiri). 
Dan dalam kenyataan, PKI tidak pernah dan bukan yang membubarkan MK dan bung 
Nyoto sendiri sangat menyayangkan bahwa MK dibubarkan, perdebatan terhenti 
(sifat dramatis bangsa Indonesia, suka melerai atau menghentikan perdebatan 
atau perselisihan dengan cara merugikan satu pihak dan menguntungkan pihak 
lain).

Sekarang MK dan LEKRA sudah masa lalu tapi rasa perseteruan ternyuata masih 
ujud meskipun kedua-duanya ahirnya juga korban Orde Baru. Itu barangkali juga 
manusiawi, tapi mengapa segi-segi kesia-siaan atau debu-debu permusuhan itu 
musti dibangkitkan ketika hal itu sudah tak perlu atau dengan kata lain yang 
lebih merakyat seperti dalam pepatah, untuk apa sih "MEMBANGUNKAN LALAT TIDUR".

Saya sangat mengerti akan kemasygulan Goenawan Mohamad.


Asahan Aidit.

-------------------------

From: Hasan MA Udin 
To: [EMAIL PROTECTED] com 
Sent: Wednesday, November 07, 2007 11:34 PM
Subject: Balasan: Tanggapan untuk A. Kohar Ibrahim

Mengganyang Manikebu adalah salah satu politik cari musuh dari PKI almarhum, 
orang yang mesti dipersatukan malah dimusuhi, difitnah....

Sungguh menyedihkan, sampai hari ini Kohar Ibrahim masih membawa langgam lama, 
main fitnah..

Kenapa sih? Nah saya tunggu penjelasan dari Kohar.

Hasanudin


blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com 
   

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke