Saut Situmorang menulis:

hahaha...

penyair besar kok ngambek!

udah baca ini belum?

http://kububuku.blogspot.com/2007/05/binhad-nurrohmat-has-got-no-balls.html

hahaha...

Jawaban dari Binhad:

PARA JAMAAH SEKALIAN,

SAUT MENGGONGGONG, KAFILAH BERLALU.

GUK, GUK, GUK...

SALAM,

BINHAD NURROHMAT


Komentar dari M. Guntur Romli:

Wah, kenapa pakai Guk guk segala Had, kelaparan dia ya?

  Tenang, lehernya udah dirantai kok... he he he

Guntur


_____________________________

Binhad Nurrohmat menanggapi Anugerah Sastra Terburuk: Kakus-Litiwa Award

Jurnal sastra Boemipoetra yang dikelola Wowok Hesti Prabowo dan Saut Situmorang 
akan menggelar Kakus-Litiwa Award, sebuah parodi untuk menyindir acara tahunan 
bergengsi Khatulistiwa Award. Disebutkan dalam siaran pers yang dikirimkan oleh 
Anuv Chaviddy dari kelompok "sastrawan bermoral", bahwa Binhad Nurrohmat bakal 
meraih anugerah sastra terburuk untuk buku berjudul "Bau Betina". Uniknya, 
karya Binhad itu sendiri masuk nominasi dalam Khatulistiwa Award yang 
pemenangnya akan diumumkan dalam waktu dekat ini. 

Menurut Wowok, sebagai pemenang Binhad berhak mendapatkan tropi berupa miniatur 
kakus dan uang sebesar seratus rupiah. "Buku Bau Betina berhasil menyingkirkan 
sepuluh nominator buku terburuk tahun ini yang diseleksi oleh para sastrawan 
Boemipoetra di berbagai kota di Indonesia," ungkap Wowok selaku pemrakarsa 
Kakus-litiwa Award. Penggunaan istilah "kakus" itu sendiri kemungkinan besar 
terilhami dari paparan Goenawan Mohamad yang menyebut ledekan-ledekan jurnal 
Boemipoetra - ditujukan untuk sosok-sosok di Komunitas Utan Kayu - mirip 
coretan-coretan di tembok kakus.

Berikut tanggapan dari Binhad melalui e-mail:

PARA JAMAAH SEKALIAN,

DENGAN PENUH RASA BANGGA, SAYA MENYEDEKAHKAN ANUGERAH DAN HADIAHNYA UNTUK 
PANITIA PENYELENGGARANYA...

SALAM,


BINHAD NURROHMAT

________________________


  Jurnal Sastra Boemipoetra gelar Kakus-Litiwa Award:
Anugerah Sastra Terburuk

From: Anuv Chaviddy
E-mail: [EMAIL PROTECTED]

DISKUSI MEDIA MASSA ALTERNATIF & PENGANUGERAHAN
KAKUS-LITIWA AWARD

Diskusi bertajuk "Media Massa Alternatif sebagai Media Perjuangan" akan digelar 
di Perpusda Banten Jl. Saleh Baimin No. 6 Serang-Banten pada Sabtu, 24 November 
2007 pukul 13.30. Diskusi yang diadakan oleh Bulletin Teater ActinG dan Jurnal 
Sastra Boemipoetra ini melibatkan beberapa Media Massa Alternatif lain yang ada 
di Banten seperti: Banten Muda, Titik Nol, Banten Link.

Akan tampil sebagai pembicara adalah Lee Birkin (ActinG), Wowok Hesti Prabowo 
(Boemipoetra), Irfan (Banten Muda), Suryadi Sali dan Iman Nur Rosyadi (Banten 
Link).

     
  Menurut Lee Birkin, tema diskusi ini menarik untuk dibicarakan karena adanya 
keterlibatan 'wong cilik' yang sedang berbuat sesuatu bagi masyarakat. Lewat 
media massa wong cilik ini, masyarakat bisa mengetahui kondisi pojok-pojok 
kehidupan yang tak terberitakan oleh media massa lainnya.

Rencananya, sesudah diskusi akan diadakan penyerahan Anugerah Kakus-litiwa 
kepada buku sastra terburuk tahun 2007 yang jatuh pada buku berjudul Bau Betina 
karya Binhad Nurrohmat. "Pemenang Kakus-litiwa Award akan mendapatkan tropi 
berupa miniatur kakus dan uang sebesar seratus rupiah. Buku Bau Betina berhasil 
menyingkirkan sepuluh nominator buku terburuk tahun ini yang diseleksi oleh 
para sastrawan Boemipoetra di berbagai kota di Indonesia," ungkap Wowok selaku 
pemrakarsa Kakus-litiwa Award.

____________________________

TANGGAPAN

From: Asep Sambodja
E-mail: [EMAIL PROTECTED]

Apa pun penghargaan yang diberikan kepada seorang sastrawan atau sebuah karya 
sastra, harus disyukuri oleh penerimanya. Stempel apa pun yang diberikan, 
apakah sebagai karya terbaik atau karya terburuk, maka dapat dikatakan buku itu 
telah berhasil mencuri perhatian pembaca. Buku itu telah berhasil mempengaruhi 
pembacanya. Cap baik atau buruk itu relatif. Secara sadar atau tidak sadar, 
eksistensi Binhad Nurrohmat ataupun Bau Betina telah terangkat. Jadi, selamat 
buat Binhad Nurrohmat.

Sejarah mencatat cerpen Langit Makin Mendung yang dihujat atau dilecehkan oleh 
pembaca hingga saat ini pun masih terus dibicarakan orang. Kita mungkin sadar 
bahwa pada tahun 1960-an akhir itu banyak sekali cerpen yang ditulis orang, 
tapi yang terus dibicarakan hingga kini hanya Langit Makin Mendung. Justru 
karena karya itu dihujat. Jadi, sekali lagi, selamat buat Binhad.

Sukses sampeyan!!!

:) asep sambodja

____________________________

From: Yonathan Rahardjo
E-mail: [EMAIL PROTECTED]

betul-betul sakit perutku melihat semua ini.
bukan, bukan karena melihatmu. namun karena aku telah membuahinya. .
dan menjadi sebuah mimpi buruk sepanjang hari.
telah datang ia, masa sakitku yang seperti dulu.
kini ia makin merambat seperti benalu.
makin meludah pada perut,
makin meludah pada mulut,
makin menelan segala akal sehatku entah pergi ke mana.
aku makin tak tahu arah.
gulita menjadi kegelapan panjang.
gelap menjadi sebuah tanda mata di bawah jembatan.
air sungai itu masih meringkuk dalam pelukan kaki-kaki.

kaki apa?

kaki tangan.

salam saya,

____________________________

From: Ifan, Yogyakarta
E-mail: [EMAIL PROTECTED]

Dunia ini terlalu sempit untuk berpikir kerdil, Bung. Jangan contohi kami yang 
muda ini dengan lelucon konyol. Saya melihat jiwa-jiwa yang takut berkompetisi, 
dan membuat tameng berupa award sastra terburuk "Kakus". Seperti sudah paling 
hebat saja.

Saya rasa memang benar ungkapan Goenawan Mohamad bahwa mereka hanya corat-coret 
di tembok kakus - dalam wawancara dengan Boni Triyana dari harian Jurnas.

Tunjukkan kehebatan Anda dengan karya, bukan mencela. Bangsa ini tidak perlu 
dididik bagaimana cara mencela, tapi ajari kami yang muda ini bagaimana 
berkarya dengan baik, berkompetisi dengan sehat dan menghargai karya.

Salam.


Ifan
____________________________

From: Hasan Aspahani
E-mail: [EMAIL PROTECTED]


Nah, sambil kita melanjutkan cengengesan, dan berbalas makian (serta ancaman), 
kita tunggu penjelasan dari Jurnal Boemipoetera yang menggagas Kakus-Litiwa 
Award ini.

Siapa saja yang masuk nominasinya? Kenapa "Bau Betina" menang? Wah, saya yakin 
penjelasan ini akan banyak manfaatnya buat kebaikan sastra Indonesia.

Mas Wowok? Mas Viddy?

HAH
____________________________

From: Bima Putra 
E-mail: [EMAIL PROTECTED]


Binhad, minta tanda tangannya dong, he..he..


Y. Thendra BP

____________________________


  From: Warta Banten
E-mail: [EMAIL PROTECTED]

Assalamu ‘alaikum …
  
  
  Rekan-rekan yang terhormat, adakah yang bisa membantu menjelaskan lebih jauh 
dan lebih detail kepada kami apa yang dimaksud dengan Anugrah Kakus-litiwa 
kepada buku sastra terburuk tahun 2007 yang diberikan miniatur kakus dan uang 
sebesar seratus rupiah. 
  
  
  Apa tujuan dan adakah manfaatnya, kenapa tidak diadakan penyerahan anugerah 
kepada buku sastra terbaik saja misalnya, tanpa harus ada yang terburuk dengan 
hadiah seperti diatas.
  
  
  Mohon bantuan pencerahan dasar pemikiran dan latar belakangnya. Atas bantuan 
dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.
  
  
  Wassalam,
  
  
  Irfan ~ Banten Muda
  







blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com 
   

       
---------------------------------
Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.

Kirim email ke