Kohar, akan diteruskan dengan dendam?
  
DendamÂ…DendamÂ….Ah, membaca posting A Kohar Ibrahim aku merasakan betul 
dendamnya kepada Manikebu. Aku, kelahiran tahun 1970-an, bertanya, ngapain sih, 
kok sengit banget?
   
  Terutama kepada Wiratmo Sukito, yang sekarang tidak dikenal sama sekali, 
membikin uraian Kohar makin membingungkan. Kebetulan paman ayahku pernah 
mengenal pengarang ini, yang sama-sama bekerja di RRI Jakarta di tahun 
1950-1960-an. Dari padanya aku mendapatkan gambaran yang lain sama sekali. 
Menurut cerita yang aku dengar, Wiratmo tokoh yang hidup sederhana sekali, kutu 
buku banget, pegawai yang tidak pernah mangkir tugas dan bukan aktivis. Sayang 
bahwa Pak Wiratmo sudah meninggal dan tidak dapat menjawab sendiri tuduhan 
Kohar Ibrahim.
   
  Tetapi aku tidak akan menggambarkan lebih lanjut bagaimana Wiratmo Sukito, 
akan tetapi akan menyoal pernyataan-pernyataan Kohar. Kata Kohar, Wiratmo 
Sukito menganggap Manifes berbau "politik pragmatisme". Dari kalimat ini lalu 
Kohar menyimpulkan, "Dahsyat! Betapalah kekejian ke-pura-pura-an kaum 
Manikebuis itu".
   
  Kata Kohar, Manikebu menarik karena di satu pihak kaum Manikebuis "koar-koar" 
sebagai "seniman, intelektual dan karyawan pengarang yang a-politik" tapi di 
lain pihak Wiratmo mengatakan Manifes "berbau politik pragmatisme".
   
  Tanya aku: di mana Wiratmo "koar-koar" sebagai seniman/intelektual yang 
"a-politik"? Dalam teks Manikebu yang dikutip E. Harikumara dalam ACI, nggak 
ada pernyataan itu. Dalam teks itu Manikebu menolak "politik sebagai panglima", 
akan tetapi tidak menyatakan seniman harus "a-politik."
   
  Menurutku, itu nggak sama. Aku bisa saja menolak "ekonomi sebagai panglima" 
akan tetapi aku tetap ber-ekonomi. Kohar juga menghubungkan kaum Manikebuis 
dengan pembantaian terhadap orang PKI dan lain-lain, seakan-akan mereka 
(termasuk Wiratmio, H.B. Yassin, Goenawan Mohamad, dan lain-lain) terlibat 
dalam pembantaian itu. Tidak ada dokumen atau kesaksian tentang itu, dan 
menurut aku juga tidak masuk akal.
  Kalau dalam masa pengganyangan terhadap PKI itu mereka diam, tidak memprotes, 
apakah itu berarti mereka setuju dengan pembantaian? Kalau begitu, banyak 
sekali dong orang yang harus dianggap setuju pembantaian, termasuk Yap Thiam 
Hien, Romo Mangunwijaya, Gus Dur, dan
lain-lain pendekar hak-hak asas manusia.
   
  Posting Kohar Ibrahim yang bertubi-tubi itu aku duga hanya akan menimbulkan 
kembali saling gebuk, dan meneruskan dendam, sebab ia tidak juga mengatasi 
pandangan "hitam-putih" sama seperti pandangan orang "Orde Baru", termasuk 
Taufiq Ismail, yang menerbitkan "Prahara
Budaya" dengan dendam pula. Mau ke mana?
   
   
  Pertanyaan untuk A. Kohar Ibrahim
   
   
  Sampai hari ini yang saya harap-harapkan belum terpenuhi. Dalam membahas 
persoalan "Manikebu vs. Lekra", saya berharap orang seperti Asahan Aidit dan 
Goenawan Mohamad mengulas prinsip-prinsip utama atau penting baik dalam 
Manikebu maupun dalam asas "realisme sosialis" Lekra. Sebuah ulasan yang 
dikaitkan dengan konteks zamannya maupun dengan relevansinya bagi generasi 
sekarang.

Ataukah ada posting yang tidak saya baca?

Yang saya dapatkan hanya posting A. Kohar Ibrahim, yang, maaf, bertele-tele, 
berulang-ulang argumennya dan membingungkan. Tentunya saya maklum bahwa bapak 
(atau kakek) yang sudah di atas 60 tahun cenderung mengulang-ulang masa lalu. 

Kalau boleh saya mengemukakan pandapat kepada Pak Kohar Ibrahim, dalam posting 
Bapak

(1) Bapak menyebut tulisan Wiratmo Sukito di Majalah Horison Mei 1967, sebagai 
bukti ke-munafik-an Manikebu. Akan tetapi Bapak tidak mengutip isi tulisan itu 
sama sekali. Mohon kutipannya ditunjukkan kepada kami.

(2) Bapak menyebut tulisan Wiratmo Soekito itu contoh ke-munafik-an Manikebu. 
Apakah Pak Soekito itu dapat dianggap sama dengan Manikebu? Bukankah Manikebu 
terdiri dari banyak orang penandatangan, dan bukan organisasi? Kalau PKI yang 
merupakan Partai saja menunjukkan perbedaan dalam dirinya, sehingga Aidit tidak 
otomatis sama dengan PKI, tentulah jauh lebih salah lagi melihat Manikebu 
sebagai kesatuan.

(3) Bapak tidak menjelaskan, apakah ke-munafik-an seorang Wiratmo Soekito sudah 
cukup menghalalkan pembrangusan Manikebu? 

(4) Bapak hanya menyebut dari teks Manikebu bagian awal dari teks itu. Seperti 
yang pernah saya postingkan, saya pernah menemukan bagian lain dari Manikebu 
yang ternyata tidak cocok dengan yang selama ini dianggap sebagai prinsip 
Manikebu (misalnya "Humanisme Universil"). Mengapa Pak Kohar tidak membahas 
bagian itu?

Sekian dulu, Pak. Mudah-mudahan saya akan ada waktu menggali dokumen 
tahun-tahun itu, terutama majalah Horison yang Bapak sebut.

Salam,

Farida Wardhani
   
   
   


blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com 
   

       
---------------------------------
Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it now.

Kirim email ke