Hallo bu siti... kangen.... ikutan nimbrung nih... 
mudah-mudahan ibu inget saya ya... saya dulu pernah jadi asdos ama grader ibu 
di kelas Manajemen operasional tahunnya sekitar 95/6 gitu...
sekarang sih dari pada suntuk jadi ibu rumah tangga beranak 3, saya ngajar juga 
deh....

ibu masih kinclong kan? kulitnya masih putih bersih gitu... he.. he...he... ibu 
kan rajin gitu urusan perawatan....

  ----- Original Message ----- 
  From: Siti Al Fajar 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, November 13, 2008 9:50 AM
  Subject: [STIE YKPN Mailing List] Re: halo bu siti


        Halo juga, terimaksaiha atas perhatiannya

        Siti Al Fajar

        --- On Wed, 8/27/08, Ajeng Dhita Melati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

          From: Ajeng Dhita Melati <[EMAIL PROTECTED]>
          Subject: [STIE YKPN Mailing List] halo bu siti
          To: [email protected]
          Date: Wednesday, August 27, 2008, 6:52 AM


          Halo bu siti.
          Alhamdulillah, ibu suka dengan artikel yang saya kirimkan mengenai 
bersahabat dengan mertua di mailing list ini. 
          Kalo ibu berkenan, nanti saya kirimkan lagi artikel-artikel islamiah 
dari mailing list KPII (keluarga pelajar islam indonesia) sydney 
          ke email pribadi ibu. 

          Cheers,
          Dhita
          Alumni ykpn angkatan 2002

           


          ----- Original Message ----
          From: Siti Al Fajar <[EMAIL PROTECTED]>
          To: [email protected]
          Sent: Wednesday, August 27, 2008 7:59:24 PM
          Subject: [STIE YKPN Mailing List] Re: Bersahabat dengan mertua? Yuuukk

                Mbak Dhita!
                Artikel yang Mbak muat bagus sekali,saya sampai menitikkan 
airmata. Mengapa? Waktu mertua saya masih hidup kami adalah dua sahabat yag 
saling curhat tentang pasangannya. Ibu mertua saya ceritakan tentang Bapak 
mertua n saya bercerita tentang kekurangan suami saya.  Beliau tidak marah dan 
juga tidak merasa jengkel, padahal saya mengeluh tentang putranya. Beliau malah 
berpesan, " baik-baik dengan suami ya, ingat anak2".   Itulah kalimat yang 
selalu saya ingat sampai sekarang dan beliau sangat menyayangi saya seperti ibu 
kandung saya sendiri.


                Salam dari 
                Siti Al Fajar
                Dosen STIE YKPN

                --- On Wed, 8/20/08, Ajeng Dhita Melati <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:

                  From: Ajeng Dhita Melati <[EMAIL PROTECTED]>
                  Subject: [STIE YKPN Mailing List] Bersahabat dengan mertua? 
Yuuukk
                  To: [email protected]
                  Date: Wednesday, August 20, 2008, 10:49 PM


                  Halo temen-temen semua,
                  Saya dhita..
                  Berikut ini ada email forward an dari temen sesama anggota 
kpii australia..
                  Mudah2 an artikel di bawah ini bermanfaat bagi yang sudah 
menikah, yang mau menikah dan yang belum menikah..
                  Amin... 

                  O iya, menginjak bulan ramadhan yang sebentar lagi akan tiba..
                  Dhita mau ngucapin "Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, buat 
rekan-rekan semua yang menunaikan nya dan Mohon Maaf Lahir Batin"

                  Cheers, 
                  Dhita



                              Bersahabat dengan Mertua? Yyuuuuk!
                              16 mar '8  


                        Sebelum menikah, saya sering mendengar banyak orang 
bercerita tentang mertua mereka. Setelah menikah, makin banyak lagi 
cerita-cerita seperti itu saya dengar. Ya, apalagi kalau bukan soal interaksi 
antara menantu dan mertua! 

                        Seorang ibu yang masih kerabat jauh pernah bercerita 
pada saya tentang menantunya. “Dulu waktu belum dapat anak saya, dia baiiiiiik 
sekali. Ramah, suka senyum, suka cerita. Kalau datang selalu ada saja yang 
dibawa. Bukannya saya mengharap, tapi dia betul-betul perhatian. Dia juga rajin 
telepon, memperhatikan saudara-saudara…,” cerita si Ibu.
                        Saya mendengarkan seksama.

                        “Eh pas udah dapat anak saya, dia berubah! Kalau 
ngomong ketus, nyelekit. Terus kalau anak saya beliin saya apa-apa, dia juga 
ngotot minta dibelikan. Anak saya harus ngumpet-ngumpet kalau mau kasih uang 
sama saya. Dia juga tidak mau kalau saya tinggal bersama mereka….”

                        Cerita Tiwik, teman saya, lain lagi. “Mertua saya itu 
orangnya dominan. Maunya menguasai. Jadi meski kami sudah menikah sekian lama, 
semuanya Ibu mertua saya yang mengatur. Kami mau tinggal dimana, ngontrak atau 
beli rumah juga dia yang menentukan. Saya jadi kesal. Suami seolah tak berdaya 
kalau di hadapan ibunya. Pokoknya ibunya bilang apa, dia nurut. Ibunya juga 
turut campur dalam mendidik anak kami. Apa yang saya larang, ia perbolehkan. 
Apa yang saya perbolehkan untuk anak-anak, ia larang. Kan kasihan anak-anak 
saya jadi bingung. Udah itu saya merasa ia benar-benar nggak percaya sama 
saya…. Pokoknya yang paling bagus dan mengerti apa saja di dunia ini ya cuma 
dia!”

                        “Kalau saya lain lagi,” tutur Ira, teman saya yang juga 
sahabat Tiwik. “Ibu mertua saya sangat perfeksionis tapi pelitnya luar biasa. 
Udah gitu, dia selalu bilang saya pelit. Di depan anaknya ia ngomong gini, tuh 
kan nak, coba kalau kamu belum menikah, kamu bisa lebih memperhatikan dan 
membiayai ibu dan adik-adikmu…, sedih kan?” Mata Ira memerah.

                        “Kalau yang saya alami lebih gila,” kata Indah dengan 
suara serak. “Kalau di depan anaknya, mertua sangat baik pada saya. Tapi begitu 
di belakang suami, waduh ampun deh. 
                        Kata-katanya nyelekit dan suka sekali menyindir. Ia 
suka mengadu domba saya dan suami. Ia juga sering mengobral cerita apa saja 
yang memalukan tentang saya. Padahal saya kan menantunya sendiri. Kok tega ya?”

                        Saya jadi teringat masa-masa awal saya bertemu Mas 
Tomi. Saya tahu ia pasti sangat mencintai ibunya. Dan bagi saya, mencintai Mas 
Tomi berarti mencintai Ibu, adik-adik, keluarga besarnya....

                        “Ceritakan pada saya tentang Ibu…,” pinta saya.

                        Sambil terenyum ia menceritakan banyak hal tentang Sang 
Ibu. Seorang perempuan tradisional yang lembut, sangat perasa dan betul-betul 
menikmati peran sebagai ibu rumah tangga. Beliau jago memasak, pintar menjahit, 
ahli dalam mengurus taman dan kebun di belakang rumah mereka. “Ibu punya 
koleksi anggrek yang cantik, juga beternak gurame kecil-kecilan di rumah,” kata 
Mas.

                        Hmmm menarik, pikir saya. Perempuan hebat.

                        “Ibu sangat njawani,” tambah Mas.

                        Dalam hati, saya menambahkan: Itu berarti saya harus  
memperhatikan perbedaan kultur di antara kami. Saya yang Sumatera, Ibu yang 
sangat Jawa (Ibu dari Yogyakarta, Bapak Mas dari Solo, namun sudah meninggal 
ketika Mas kuliah tingkat III). Saya bertekad, dalam pertemuan pertama dan 
selanjutnya, saya akan menampilkan diri saya sebagaimana adanya, dengan tetap 
menghormati kultur beliau. Apalagi nih, Mas Tomi itu anak pertama, tulang 
punggung keluarga. Pasti banyak harapan ibu bertumpu  padanya.

                        Begitulah. Sebelum bertemu untuk pertamakalinya dengan 
Ibu Mas Tomi, saya sudah mulai menitipkan salam. Saya kirimkan bahan yang saya 
pilih sendiri untuk beliau. Kadang oleh-oleh lainnya.

                        Ketika akhirnya bertemu, kami berdua tahu bahwa kami 
adalah dua pribadi yang sangat bertolak belakang. Tetapi apakah itu membuat 
kami tak bisa cocok?

                        “Ibu baik, tapi bukan tipe orang yang mudah 
mengekspresikan perasaannya. Bahkan bila ia menyayangi seseorang,” kata Mas 
pada saya.

                        Karena Ibu Mas Tomi memang cenderung pendiam, maka saya 
mencoba lebih aktif mendekati beliau. Pada pertemuan pertama misalnya, saya 
merangkulnya sambil berkata, “Ibu, nanti kalau aku nikah sama Mas, aku tidak 
akan menganggap ibu sebagai mertuaku….”

                        Ibu mengerutkan keningnya. “Kenapa?” Tanya beliau tak 
mengerti.

                        “Saya rangkul beliau lebih erat, “Ya, sebab aku akan 
menganggap Ibu sebagai ibuku sendiri! Pokoknya, Ibu bertambah anak, aku 
bertambah Ibu!”

                        Kami berdua tersenyum.

                        Setelah saya dan Mas menikah, saya berusaha memberi 
atensi sebisa saya pada Ibu. Mulai dari hal-hal kecil membawakannya sesuatu 
setiap kami mengunjunginya (bukan soal harga, tapi perhatian), hingga mengingat 
momen-momen penting dalam hidup Ibu. Saya pun berinisiatif membenahi semua 
album keluarga mereka—terutama saat bersama almarhum Bapak---agar tersusun 
lebih rapi dan terhindar dari jamur.

                        Ibu sering sekali memberi masukan, terutama soal 
kepiawaian sebagai istri dan bagaimana mendidik anak. Tahu sendiri, saya sama 
sekali tak pintar masak seperti ibu. Barangkali saya juga tak setelaten beliau 
dalam  mengurus anak dan semacamnya. Setidaknya begitulah saya dalam pandangan 
Ibu.

                        Seringkali saya merasa sudah melakukan sesuatu secara 
maksimal, namun seolah masih saja “salah” di mata ibu.. Awalnya hal itu membuat 
saya sedikit “geregetan”, agak tersinggung dan sedih…, sering saya berusaha 
menyampaikan apa yang sudah saya lakukan yang saya rasakan baik padanya. Saya 
bahkan memberikan argumen terbaik yang saya miliki hingga Ibu hanya menjawab, 
“O…begitu….”

                        Namun lama kelamaan, saya pikir kenapa sih saya? Apa 
sih gunanya “melawan” ibu, menganggap saya sudah melakukan semua  dengan baik. 
Memang apa salahnya kalau Ibu menasehati panjang lebar, lalu saya tinggal 
tersenyum, berterimakasih dan bilang, “Ya, Ibu. Saya akan coba, atau saya akan 
melakukan saran Ibu. Terimakasih ya, Bu….” Bukankah kalau ibu menasehati 
berarti ibu sedang memperhatikan saya. Bukankah memperhatikan berarti bentuk 
dari sebuah cinta?

                        Akhirnya itu yang saya lakukan, dan ternyata asyik! 

                        “Terimakasih, Bu. Saya senang sekali dapat pengetahuan 
baru.”
                        “Alhamdulillah Ibu memberi tahu, jadi lain kali aku 
bisa lebih baik….”
                        “Terus, kalau kasusnya begini, baiknya aku bagaimana 
ya, Bu?”
                        “Wah Bu, saran dari Ibu aku pakai. Alhamdulillah Bu, 
berhasil!”

                        Saya juga yang selalu mengingatkan Mas bila ia sibuk 
dan kami lama tak mengunjungi Ibu di Sukabumi. “Mas, minggu depan ke Sukabumi 
yuk.  Kan kita dah kangen sama Ibu….”
                        Selain itu kami sepakat, kalau mau ngasih sesuatu untuk 
ibu Mas, sayalah yang melakukan, dan kalau mau ngasih sesuatu ke mama saya, Mas 
yang akan memberikannya. ..

                        Lambat laun saya merasa ibu makin sayang pada saya. Ibu 
bahkan mulai mengurangi memberi tahu saya apapun dengan gaya para mertua pada 
umumnya. Ibu mulai menjadikan saya sahabat tempat curhat beliau mengenai apa 
saja! Kami sering menangis dan tertawa bersama. Alhamdulillah. Saya bahagia 
sekali.

                        Saya jadi ingat beberapa kali saya mendapat hadiah usai 
mengisi ceramah di berbagai tempat. Selain uang, kadang saya diberi peralatan 
rumah tangga, bahan, atau souvenir lain yang menarik. Biasanya kalau ada dua 
macam, pasti saya minta Ibu mertua saya untuk memilihnya lebih dulu, baru 
kemudian Mama. Mengapa?

                        “Mama kan masih ada Papa. Papa bisa belikan Mama yang 
lebih bagus…. Ibu kan sudah nggak ada Bapak? Nggak apa ya, Ma?” kata saya pada 
Mama. 

                        Di luar dugaan, Mama memeluk saya dan mengatakan bangga 
sekali punya anak seperti saya. Mama bahkan bilang tak akan pernah iri pada apa 
yang saya lakukan terhadap Ibu.

                        Begitulah. Saya merasa saya memang tak memiliki dan tak 
memerlukan seorang Ibu mertua. Ibu dari suami saya adalah Ibu, adalah sahabat 
saya. Dan oh, sungguh kangen, bila sebulan saja tak bertemu beliau setelah 14 
tahun perkenalan kami. 

                        I love you much, Bu!
                       


--------------------------------------------------------------
                  Win a MacBook Air or iPod touch with Yahoo!7- Find out more. 
                  __._,_.___ 
                  Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new 
topic 
                  Messages | Files | Photos | Polls | Calendar 
                   
                  Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
                  Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | 
Switch format to Traditional 
                  Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe 
                  Visit Your Group 
                  Need traffic?
                  Drive customers
                  With search ads
                  on Yahoo!
                  Y! Messenger
                  PC-to-PC calls
                  Call your friends
                  worldwide - free!
                  All-Bran
                  Day 10 Club
                  on Yahoo! Groups
                  Feel better with fiber.. 
                  __,_._,___ 





                  
               
       

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Sekolah Tinggi Ilmu 
Ekonomi YKPN Yogyakarta" Google Groups.
 Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [email protected]
 Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
 Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di 
http://groups.google.com/group/stieykpn?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke