Saya jadi inga' sama konsep pendidikan yang diterapkan oleh ulama, pejuang,
tokoh nas dan internas KH Agus Salim.

nurain wrote:

> Ok, ini saya resend, karena yang aslinya referensinya belon di delete
> tuh....
>
> Dear all,
> Konsep yang disampaikan MIZ ini memang sudah lama sekali beredar.
> Mungkin karena lamanya, perlu
> di "inga..inga" lagi. Salah satu kosep Ivan Illich yang paling top waktu
> itu (sekitar tahun
> 1973an menjelang peristiwa Malari) adalah konsep "deschooling sociaty".
> Artinya,
> orang/masyarakat yang tanpa makan sekolahan formal, tetapi makan
> sekolahan informal, bisa sama
> kualitasnya, tergantung apakah orang itu mau "long-life education", what
> ever education it
> issss!!!! Bisa formal (atau formil) atau informal (atau informil...
> suka-suka.. laaahhh.. akh
> banyaaak kali pertanyaanmuuu!, tunggu dulu kan rapat beluuum ditutup...
> akh..). Jadi tidak ada
> relevansinya dengan lama seseorang makan sekolahan dengan kemampuan
> berpikir. Kalau masih ada
> orang yang berfikir, bahwa lama sekolahan amat menentukan mutu
> seseorang, lhooo.... apa
> relevansinya, ya mas. Apalagi kalau S2 lulusnya 4 tahun lebih, kemudian
> S3 sampai 8-9 tahun.
> Kagak mutu. Mungkin mau cari cumlaude? Saya berpendapat, bahwa lebih
> orang cepat orang lulus,
> akan lebih cepat yang bersangkutan mengabdikan ilmunya. Buat apa
> cumlaude, tapi lulus langsung
> pensiun? Oleh karena itu, mari kita capai kemajuan dengan berdiskusi
> hangat di milis ini.
>
> Regards,
> NS


Kirim email ke